Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28: Versus Keluarga
Dua hari setelah pertemuan yang menyakitkan dengan keluarga, Aluna masih belum pulih sepenuhnya. Ia sering melamun, sering menangis diam-diam saat mengira Arsen tidak melihat (tapi Arsen selalu melihat), dan sering menatap ponselnya berharap ada pesan dari ibu atau kakaknya.
Tetapi ponselnya tetap diam.
Arsen mencoba segalanya untuk mengalihkan perhatian Aluna membawanya jalan-jalan ke taman, memasak untuknya (meski hasilnya tidak sempurna), bahkan mencoba melukis bersama (yang berakhir dengan cat di mana-mana dan tawa yang dipaksakan).
Tetapi tidak ada yang benar-benar membantu. Luka dari memilih antara keluarga dan cinta terlalu dalam.
Arsen duduk di ruang kerjanya, menatap laptop tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi dengan wajah Aluna yang sedih, dengan air mata yang mengalir di pipi wanita itu setiap malam saat ia pikir Arsen sudah tidur.
Ini semua salahku, pikir Arsen dengan rasa bersalah yang menghancurkan. Aku yang membuatnya harus memilih. Aku yang merenggut keluarganya.
Ketukan di pintu ruang kerja membuyarkan lamunannya.
"Masuk," ucapnya tanpa mengangkat pandangan.
Pintu terbuka, dan Bu Sinta masuk dengan ekspresi khawatir.
"Tuan Arsen, ada... tamu. Nona Rara. Kakak Nona Aluna."
Arsen langsung mengangkat kepalanya, tubuhnya menegang.
"Rara? Di sini?"
"Ya, Tuan. Beliau bilang ingin bicara dengan Tuan. Tanpa Nona Aluna."
Arsen terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat. Lalu ia mengangguk.
"Antarkan dia ke sini. Dan pastikan Aluna tidak tahu. Dia sedang di perpustakaan, kan?"
"Benar, Tuan."
"Bagus. Tutup pintu perpustakaan dari luar. Aku tidak ingin Aluna terganggu."
Bu Sinta terlihat ragu, tetapi mengangguk dan pergi.
Beberapa menit kemudian, Rara masuk ke ruang kerja Arsen mengenakan pakaian kerja sederhana, wajahnya dipenuhi dengan kemarahan yang ditahan.
Arsen bangkit dari kursinya, berdiri dengan postur yang tegak siap untuk pertempuran verbal yang akan datang.
"Nona Rara," sapanya dengan sopan. "Silakan duduk."
"Aku tidak akan lama," balas Rara dengan dingin, tetapi tetap duduk di kursi di depan meja kerja Arsen. "Aku datang untuk bicara langsung denganmu. Tanpa Luna."
Arsen duduk kembali, melipat tangannya di meja posisi yang tampak santai tetapi penuh kewaspadaan.
"Aku mendengarkan."
Rara menatapnya dengan tatapan yang tajam, menilai.
"Aku mencari tahu tentangmu," ucapnya langsung pada intinya. "Lebih dalam dari sebelumnya. Dan yang aku temukan... mengerikan."
Ia mengeluarkan sebuah folder dari tasnya, membukanya, dan mengeluarkan beberapa printout artikel.
"Anjani Kartika. Tunanganmu yang meninggal tiga tahun lalu," Rara mulai membaca. "Investigasi polisi menemukan bahwa selang rem mobilnya dipotong. Ada bukti sabotase. Dan suspect utama adalah... kamu."
Arsen tidak bergeming, wajahnya tetap datar.
"Investigasi ditutup karena tidak ada bukti cukup," lanjut Rara sambil menatap Arsen tajam. "Tetapi bukan berarti kamu tidak bersalah. Hanya berarti kamu pintar menutupi jejak."
"Aku tidak membunuh Anjani," ucap Arsen dengan suara yang tenang terlalu tenang. "Jika itu yang kamu pikirkan."
"Mungkin tidak langsung," balas Rara. "Tetapi kamu membunuhnya dengan possessiveness mu. Dengan kontrol berlebihanmu. Sama seperti yang kamu lakukan pada adikku sekarang."
Ia bersandar di kursi, menatap Arsen dengan tatapan yang penuh dengan kebencian yang ditahan.
"Luna berubah sejak bersamamu," ucapnya dengan suara bergetar. "Dia tidak lagi gadis mandiri yang kami kenal. Dia tidak lagi punya mimpi sendiri. Dia hanya... bonekamu. Milikmu."
Arsen merasakan rahangnya mengeras mendengar kata-kata itu.
"Aluna membuat pilihannya sendiri," balasnya dengan tenang meski ada amarah yang mulai membangun di dadanya. "Dia dewasa. Dia..."
"Dia dimanipulasi!" potong Rara dengan suara yang meninggi. "Kamu memanfaatkan situasinya keluarga yang miskin, kebutuhan untuk kuliah dan kamu menjeratnya dengan kontrak yang mencekik!"
Ia bangkit dari kursinya, kedua tangannya bertumpu di meja Arsen, menatap pria itu dengan mata yang berapi-api.
"Aku datang ke sini untuk memberitahumu satu hal," ucapnya dengan suara yang bergetar karena amarah. "Lepaskan adikku. Biarkan dia pulang. Biarkan dia melanjutkan hidupnya tanpamu."
Arsen juga bangkit, menatap balik Rara dengan tatapan yang dingin.
"Tidak," jawabnya dengan tegas. "Aluna memilih untuk bersamaku. Dan aku tidak akan melepaskannya."
"Bahkan jika itu menghancurkannya?" tanya Rara dengan suara pecah. "Bahkan jika itu membuat dia kehilangan keluarganya? Kehilangan dirinya sendiri?"
"Aluna tidak kehilangan dirinya sendiri," balas Arsen, suaranya mulai meninggi juga. "Dia menemukan versi baru dari dirinya. Versi yang dicintai. Yang dilindungi. Yang..."
"Yang dikurung!" teriak Rara. "Yang dikontrol! Yang dijadikan properti!"
Keheningan yang berat turun di antara mereka, hanya terdengar napas mereka yang berat karena emosi.
Lalu Rara menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri.
"Dengarkan aku baik-baik, Arsen Mahendra," ucapnya dengan suara yang lebih tenang tetapi penuh ancaman. "Jika kamu tidak melepaskan Luna, aku akan melaporkanmu ke polisi. Aku akan membuka kembali kasus Anjani. Aku akan memastikan namamu hancur di media. Aku akan..."
"Kamu akan melakukan apa?"
Suara Arsen tiba-tiba berubah menjadi sangat rendah, sangat berbahaya. Mata kelamnya menatap Rara dengan tatapan yang membuat wanita itu mundur selangkah tanpa sadar.
Arsen berjalan perlahan mengelilingi meja, mendekati Rara dengan langkah yang terkontrol tetapi mengancam.
"Kamu pikir kamu bisa mengancamku?" tanyanya dengan suara yang membeku. "Kamu pikir aku akan takut dengan ancaman untuk membuka kasus lama? Untuk menghancurkan reputasiku?"
Ia berhenti tepat di depan Rara, menatap dari atas dengan postur yang mendominasi.
"Biarkan aku menjelaskan sesuatu padamu, Rara," ucapnya dengan suara yang sangat tenang ketenangan sebelum badai. "Aku Arsen Mahendra. Aku punya kekuasaan yang tidak bisa kamu bayangkan. Aku punya koneksi di polisi, di media, di pemerintahan."
Ia melangkah lebih dekat, membuat Rara harus mendongak untuk menatapnya.
"Jika kamu mencoba melaporkanku," lanjutnya dengan suara berbahaya, "laporanmu akan hilang sebelum mencapai meja penyidik. Jika kamu mencoba ke media, tidak akan ada satu pun media yang berani mempublikasikan. Dan jika kamu terus menghalangi hubunganku dengan Aluna..."
Matanya berkilat dengan sesuatu yang gelap, yang menakutkan.
"Aku akan menghancurkan keluargamu."
Rara terbelalak, wajahnya pucat.
"Kamu... kamu mengancam keluargaku?"
"Bukan ancaman," koreksi Arsen dengan dingin. "Janji. Aku tahu ibumu punya usaha kue rumahan. Kecil. Tetapi itu satu-satunya sumber penghasilan keluargamu setelah Luna pergi."
Ia tersenyum senyum yang tidak hangat sama sekali.
"Sangat mudah bagiku untuk memastikan tidak ada yang membeli kue ibumu lagi. Sangat mudah untuk menyebarkan rumor bahwa kue-kue itu tidak higienis. Sangat mudah untuk menghancurkan bisnis kecil itu hingga ke akar."
Rara merasakan air mata marah menggenang di matanya.
"Kamu... monster," bisiknya dengan suara bergetar.
"Untuk Aluna," ucap Arsen tanpa ragu, "aku akan menjadi monster. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkannya dariku. Termasuk keluarganya sendiri."
Ia melangkah mundur, kembali ke posisi yang lebih profesional.
"Jadi ini pilihanmu, Rara," lanjutnya dengan suara yang lebih tenang tetapi tidak kalah berbahaya. "Terima hubungan Aluna denganku. Terima bahwa dia bahagia bersamaku. Atau..."
Jeda sejenak.
"Atau hadapi konsekuensinya. Bukan hanya untuk dirimu, tetapi untuk ibumu yang sudah tua itu. Untuk bisnis kecil yang kalian perjuangkan bertahun-tahun. Untuk masa depan keluargamu."
Rara menatapnya dengan campuran horor, kemarahan, dan... ketakutan.
"Bagaimana Luna bisa mencintai monster sepertimu?" bisiknya.
"Karena dia melihat lebih dari sekadar monster," jawab Arsen. "Dia melihat pria yang mencintainya lebih dari apa pun. Yang akan melakukan apa saja untuk melindunginya. Yang akan menghancurkan dunia untuk kebahagiaan nya."
Ia berjalan kembali ke kursinya, duduk dengan postur yang relaks pertanda percakapan sudah selesai.
"Sekarang," ucapnya dengan nada dingin, "kamu bisa pergi. Dan sampaikan pesanku pada ibumu: terima bahwa Aluna memilih jalan hidupnya sendiri, atau kehilangan segalanya."
Rara berdiri terpaku untuk sesaat, lalu dengan tangan gemetar, ia mengambil foldernya dan berbalik untuk pergi.
Tetapi di pintu, ia berhenti dan menoleh.
"Suatu hari," bisiknya dengan suara yang penuh dengan keyakinan yang menyakitkan, "Luna akan menyadari kesalahannya. Dan saat itu terjadi... kamu akan kehilangan segalanya. Bukan karena kami yang merenggutnya darimu, tetapi karena dia sendiri yang memilih pergi."
"Itu tidak akan pernah terjadi," balas Arsen dengan yakin yang membingungkan yakin atau putus asa?
Rara menggelengkan kepala dengan sedih.
"Kamu bahkan tidak menyadarinya, kan? Bahwa dengan mengancam keluargaku, kamu juga menghancurkan bagian dari hati Luna. Karena tidak peduli seberapa dia mencintaimu... dia tetap mencintai kami juga."
Dengan itu, Rara keluar dari ruangan, meninggalkan Arsen sendirian dengan kata-kata yang terus bergema di kepalanya.
Kamu juga menghancurkan bagian dari hati Luna.
Arsen jatuh duduk kembali di kursinya, tangan-tangannya gemetar.
Apa yang baru saja ia lakukan?
Ia mengancam keluarga Aluna. Keluarga yang dicintai Aluna.
Tetapi apa pilihannya? Membiarkan mereka memisahkan Aluna darinya? Membiarkan Aluna pergi?
Tidak. Itu bukan pilihan.
Ia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan Aluna. Apa pun.
Bahkan jika itu berarti menghancurkan orang-orang yang dicintai Aluna.
Bahkan jika itu berarti menghancurkan bagian dari hati Aluna sendiri.
Karena tanpa Aluna, ia tidak akan selamat.
Dan itu adalah satu-satunya hal yang penting.
Sore hari, Aluna duduk di perpustakaan membaca buku atau lebih tepatnya menatap buku tanpa benar-benar membaca.
Arsen masuk dengan dua cangkir teh hangat, duduk di sampingnya di sofa.
"Untuk mu," ucapnya sambil menyodorkan satu cangkir.
Aluna menerimanya dengan senyum tipis.
"Terima kasih."
Mereka duduk dalam diam yang nyaman untuk beberapa saat, lalu Aluna bertanya dengan suara pelan.
"Arsen, apa yang akan Anda lakukan jika keluarga saya terus mencoba memisahkan kita?"
Arsen terdiam, tangannya menggenggam cangkirnya lebih erat.
"Kenapa kamu tanya?" balasnya hati-hati.
"Hanya... ingin tahu," jawab Aluna sambil menatap teh di cangkirnya. "Apa Anda akan membiarkan mereka?"
Arsen meletakkan cangkirnya, lalu memutar tubuh Aluna menghadapnya. Tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.
"Tidak," jawabnya dengan tegas. "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan kita. Tidak keluargamu. Tidak siapa pun."
Aluna menatap mata kelam itu mata yang dipenuhi dengan cinta yang obsesif, dengan tekad yang absolut.
"Bahkan jika itu menyakiti mereka?" tanyanya dengan suara berbisik.
Arsen terdiam lama, lalu menarik napas dalam.
"Bahkan jika itu menyakiti mereka," jawabnya dengan jujur kejujuran yang menyakitkan. "Karena kamu... kamu lebih penting dari apa pun bagiku. Lebih penting dari keluargamu. Lebih penting dari dunia."
Aluna merasakan air mata menggenang di matanya.
"Itu egois," bisiknya.
"Aku tahu," akui Arsen tanpa ragu. "Tetapi untuk mu, aku akan menjadi egois. Aku akan menjadi monster. Aku akan menjadi apa pun yang diperlukan."
Ia mencium kening Aluna dengan lembut.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Tetapi aku tidak bisa berhenti. Aku tidak akan pernah bisa."
Aluna memeluknya erat, menangis di dada pria itu menangis untuk keluarga yang ia kehilangan, untuk cinta yang gelap yang ia pilih, untuk masa depan yang tidak pasti.
Tetapi ia tidak melepaskan Arsen.
Karena bahkan dengan semua kegelapannya, bahkan dengan semua egoismenya, bahkan dengan semua kesalahannya...
Arsen adalah pilihannya.
Dan ia akan hidup dengan konsekuensi dari pilihan itu.
Apapun yang terjadi.