Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hotel berbeda
Hujan turun tanpa aba-aba.
Awalnya hanya gerimis tipis yang menempel di kaca jendela hotel, seperti napas yang tertahan terlalu lama. Aku berdiri memandanginya, masih dengan pakaian yang sama sejak pagi, ketika Moses akhirnya berkata bahwa ia harus keluar sebentar.
“Ke mana?” tanyaku waktu itu, nada suaraku datar, berusaha tidak terdengar seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.
“Ketemu kakak aku. Dia di hotel lain. Aku mau nganter barang.”
Aku menoleh.
“Kakak yang mana?”
Ia berhenti sejenak, seolah pertanyaanku datang terlalu cepat. “Kakak,” jawabnya singkat, lalu meraih jaket.
Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada nama. Tidak ada cerita. Dan entah kenapa, aku tidak mengejarnya. Aku hanya mengangguk, berdiri di tempat, dan membiarkan pintu tertutup pelan di belakangnya.
Klik.
Suara pintu itu terdengar lebih keras dari seharusnya.
Aku sendirian.
Hujan semakin deras. Kota yang kulihat dari balik jendela berubah menjadi garis-garis kabur. Lampu jalan memantul di aspal basah, berpendar seperti ingatan yang tidak ingin diingat. Aku duduk di tepi kasur hotel, tangan terlipat di pangkuan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Hari terakhir.
Ia baru bilang hari itu—bahwa kakaknya juga sedang liburan. Tapi kakak yang mana? Kenapa baru sekarang? Kenapa di hotel yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, tapi tidak satu pun berani keluar dari mulutku sebelumnya. Aku membenci diriku sendiri karena diam. Tapi aku juga lelah harus selalu menjadi orang yang bertanya.
Aku menyalakan televisi hanya untuk mengisi suara. Tidak benar-benar menonton. Pikiranku terlalu penuh. Setiap menit terasa panjang, dan hujan di luar seperti ikut mengurungku di dalam ruangan ini—hotel yang seharusnya sementara, tapi terasa seperti tempat penantian.
Aku mengecek ponsel. Tidak ada pesan.
Jam di dinding bergerak lambat. Aku membaringkan tubuhku, menatap langit-langit, mendengarkan hujan yang menghantam kaca. Ada perasaan ditinggalkan yang aneh—bukan karena ia pergi, tapi karena ia pergi tanpa benar-benar membawaku serta dalam ceritanya.
Aku mencoba tidur. Gagal.
Aku mencoba membaca. Huruf-hurufnya berbaur.
Aku akhirnya hanya duduk, memeluk bantal, dan membiarkan pikiranku berjalan ke tempat-tempat yang tidak seharusnya.
Aku tidak cemburu, kataku pada diri sendiri.
Aku hanya bingung.
Malam turun perlahan, dan hujan belum juga berhenti.
Ketika akhirnya pintu terbuka, jam sudah menunjukkan lewat dari yang ia janjikan. Aku hampir tertidur di sofa, lampu kamar diredupkan. Suara pintu membuatku tersentak.
Moses masuk dengan langkah yang sedikit oleng.
Aroma alkohol langsung menyusup ke udara.
“Hey…” katanya pelan, suaranya berat.
Aku berdiri. “Kamu minum?”
Ia tertawa kecil, terlalu santai. “Sedikit.”
Sedikit yang baunya cukup kuat untuk mengubah suasana kamar.
Aku belum sempat berkata apa-apa ketika ia sudah mendekat, memelukku erat. Tubuhnya hangat, lengannya mengunci seolah ia takut aku akan menghilang. Kepalanya bersandar di bahuku.
“Maaf ya,” bisiknya.
Aku terdiam. Tanganku menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukannya. Di dadaku, ada perasaan yang campur aduk—lega karena ia kembali, tapi juga ada sisa-sisa dingin yang belum mencair.
“Kamu lama,” kataku.
“Iya… ketemu banyak orang,” jawabnya samar.
Aku ingin bertanya. Tentang kakaknya. Tentang hotel lain. Tentang kenapa harus minum. Tapi semua pertanyaan itu terasa terlalu berat untuk momen ini. Ia memelukku lebih erat, lalu mengangkat wajahku.
Matanya setengah terpejam, tapi sorotnya berbeda. Ada sesuatu yang lebih mentah di sana. Lebih berani. Lebih… lapar.
“Aku kangen,” katanya.
Padahal kami baru berpisah beberapa jam.
Tangannya menyentuh pinggangku, lalu naik ke punggungku. Sentuhannya lebih yakin dari biasanya, seolah alkohol telah menyingkirkan batas-batas yang selama ini ia jaga. Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih cepat.
“Moses…” panggilku pelan.
Ia tidak menjawab. Bibirnya lebih dulu menemukan bibirku.
Ciumannya berbeda.
Bukan lembut seperti biasanya. Ada desakan, ada kebutuhan yang tidak disembunyikan. Aku seharusnya menghentikannya. Seharusnya menanyakan banyak hal. Tapi tubuhku merespons lebih cepat dari pikiranku.
Aku lupa hujan.
Aku lupa hotel.
Aku lupa pertanyaan-pertanyaan yang sejak pagi menggerogoti kepalaku.
Yang ada hanya sentuhan, napas, dan cara ia memelukku seolah aku adalah satu-satunya hal yang nyata malam itu.
Ia membimbingku ke arah kasur. Tangannya gemetar sedikit, entah karena alkohol atau emosi yang tertahan. Aku merasakan detak jantungnya cepat ketika tubuh kami saling mendekat.
Rasanya… berbeda.
Lebih intens. Lebih dalam. Seolah ada sesuatu yang ia lepaskan malam itu—sesuatu yang biasanya ia simpan rapi. Dan aku, alih-alih menolak, justru membiarkan diriku tenggelam di dalamnya.
Ada momen di mana aku sadar:
aku sedang menggunakan keintiman ini untuk melarikan diri.
Dan aku tidak peduli.
Untuk sesaat, semuanya lenyap. Keraguan, rasa ditinggalkan, kebingungan tentang kakaknya—semuanya tersapu oleh sensasi yang membuatku lupa siapa aku dan apa yang sedang kurasakan sebelumnya.
Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku mengikuti arus. Dan mungkin itu yang paling berbahaya: betapa mudahnya aku melupakan kegelisahan hanya karena ingin merasa dekat.
Setelahnya, kami terbaring dalam diam.
Napasnya berat, tak lama kemudian berubah teratur. Ia tertidur dengan cepat, satu lengannya masih melingkari tubuhku. Aku menatap langit-langit lagi, sama seperti malam-malam sebelumnya.
Hujan di luar sudah reda.
Dan di dadaku, pertanyaan-pertanyaan itu kembali—pelan, tapi pasti.
Aku tidak menyesal.
Tapi aku juga tidak tenang.
Keintiman malam itu terasa lebih nikmat, iya. Lebih membakar. Lebih membuatku lupa. Tapi justru karena itu, aku takut: apakah aku sedang mencintai Moses… atau sedang bersembunyi di dalamnya?
Aku memejamkan mata.
Kali ini bukan karena ingin tidur—
melainkan karena belum siap menghadapi apa yang akan datang setelah hari terakhir ini benar-benar berakhir.