Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Saat Semua Topeng Jatuh
Are, Zelia dan Jaka menunggu di depan ruang operasi. Bau antiseptik terasa memenuhi udara. Suara langkah-langkah cepat terdengar jelas di lorong sunyi.
Jaka mondar-mandir, sesekali menatap lampu di atas pintu. "Kayak nunggu vonis," gumamnya pelan.
Zelia duduk diam, matanya memerhatikan perawat yang keluar masuk. Sesekali meremas tangannya sendiri yang saling bertaut di atas pangkuan.
"Bu, ibu harus selamat. Kalau tidak, ke mana aku harus cari mempelai pria," batinnya.
Ia melirik Are sekilas. Pria itu tetap sama seperti yang ia ingat, dingin di luar, sulit ditebak.
"Aku gak yakin dia tetap mau nikah sama aku kalau ibunya meninggal."
Pikiran itu membuat tangannya terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena waktu yang mendesak.
Are?
Pria itu duduk diam, wajahnya datar, bahkan terkesan dingin. Tapi tidak dengan hatinya.
Bayangan ketika Wina semalaman duduk di sisi ranjangnya, mengompresnya saat ia demam, makanan hangat yang disajikan dengan senyum hangat, dan perhatian-perhatian kecil yang tak pernah ia dapatkan puluhan tahun. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan.
"Ibu," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Pintu itu akhirnya terbuka. Refleks tiga orang itu mendekat.
"Dok, bagaimana kondisinya?" tanya Zelia cepat.
Are meliriknya sekilas. Gadis di sampingnya seolah lebih khawatir darinya.
"Operasi berjalan lancar. Pasien akan dipindahkan ke ICU untuk observasi."
Tiga orang itu akhirnya bisa bernapas sedikit lega.
"Terima kasih, Dok," ucap Are.
Dokter mengangguk kecil lalu melangkah pergi. Zelia menatap Are. Besok jam sembilan aku jemput kamu," ucapnya dengan mata berbinar.
Are mengernyit tipis, sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ekspresi wajah gadis itu tak seperti gadis yang sedang patah hati.
"Kalau gitu aku pulang," ucapnya, lalu berbalik. Namun baru beberapa langkah ia berhenti. "Istirahat yang cukup. Besok kamu harus fit," ujarnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan ringan, tanpa menunggu respon dari Are.
"Gadis aneh," pikirannya.
Jaka menatap Zelia dengan alis berkerut, lalu menatap Are. "Re, siapa dia?"
"Calon istri," jawab Are singkat.
"Hah?!" Jaka melongo, seolah mencoba mencerna jawaban Are barusan. "Aku gak salah dengar 'kan?" tanyanya memastikan.
Are tak menjawab. Ia mengikuti brankar yang baru keluar dari ruang operasi. Wina terbaring dengan wajah pucat.
Jaka masih berdiri di tempatnya. Menatap Are, lalu lorong tempat Zelia menghilang. Lalu tiba-tiba matanya melebar.
"Dari mana Are punya uang untuk biaya operasi?" gumamnya pelan.
Lalu ia teringat saat perawat mengatakan biaya awal untuk operasi. Lalu Are pergi bersama Zelia mengurus administrasi.
"Are jelas gak punya uang sebanyak itu. Jangan-jangan… dia benar-benar menikah demi biaya operasi."
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Udah macam cerita drama aja." Ia menghela napas pelan. "Are emang cakep sih. Brewok dan rambut gondrongnya gak mampu menyembunyikan wajah tampannya."
Ia akhirnya melangkah menyusul Are. "Ya sudah lah. Cewek tadi pakai mobil, mungkin ada harapan hidup Are dan Bu Wina lebih baik," gumamnya pelan.
Di sisi lain, Zelia akhirnya tiba di parkiran. Matanya tertumbuk di bumper mobilnya yang ringsek.
"Sial! Mobilku jadi rusak gara-gara..." Ia menarik napas dalam. "Harusnya aku gak perlu nangisi cowok brengsek macam dia."
Bibir Zelia mengerucut. Tapi saat ia masuk ke dalam mobil, ia baru menyadari sesuatu.
"Kenapa rasanya aku cuma merasa sakit dikhianati ya? Tapi aku gak ngerasa..."
Ia bahkan tak bisa memahami perasaannya sendiri. Yang menyakitkan bukan karena Fero selingkuh dengan adik tirinya, tapi kenyataan bahwa orang-orang yang ia percaya justru menusuknya dari belakang.
Soal Fero… ia bahkan tak yakin pernah benar-benar mencintainya. Ia hanya tahu pria itu pernah menyelamatkan ia saat hampir tenggelam. Karena itu ia ingin menikah dengannya.
"Selama ini udah banyak yang aku beri buat dia. Bantuan ke perusahaannya, pakaian branded, jam tangan mewah, bahkan mobil mewah."
Ia mencengkram setirnya lebih kuat dari yang seharusnya. "Aku gak perlu merasa berhutang budi lagi. Lagian, waktu itu aku juga gak pernah minta diselamatkan," gumamnya seolah membenarkan alasannya.
Zelia melajukan mobilnya di jalanan yang mulai lengang. Wajah ceria yang biasanya ia kenakan kini pudar, berganti ekspresi datar.
***
Rumah sudah sunyi saat Zelia memarkirkan mobilnya di garasi. Lampu utama sudah diganti dengan lampu dinding yang redup.
Zelia melangkah masuk dengan senyum kecut. "Aku seperti masuk ke rumah yang salah," gumamnya pelan.
Tiba-tiba rumah yang selama puluhan tahun ia tinggali terasa asing baginya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Kasur terasa terlalu luas dan terlalu dingin malam itu. Ia menatap langit-langit, lalu menatap fotonya dengan mendiang ibunya. Ibunya memeluknya dari belakang. Senyum merekah di bibir mereka. Kebahagiaan yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
"Ma, aku terlalu bodoh hingga mudah percaya. Dan kini.. aku membayarnya mahal."
Ia menghembuskan napas kasar, lalu duduk. “Kalau mereka bisa mengkhianatiku, aku juga bisa membalasnya," gumamnya dengan senyuman dingin.
Senyuman itu bukan lagi milik gadis ceria yang dulu. Tapi milik seseorang yang siap membalikkan permainan.
Zelia berusaha memejamkan mata, tapi tak kunjung terlelap. Saat melihat gelas air di atas nakas kosong, ia menghela napas kasar.
"Apa pelayan lupa mengisinya?"
Zelia keluar dari kamarnya menuju dapur. Namun langkahnya melambat saat mendengar suara pelan dari dapur.
"Besok anak itu menikah," suara Dian, ibu tirinya terdengar.
"Akan lebih bagus kalau dia tinggal di apartemen Fero," ujar Atyasa.
"Kenapa?" tanya Dian. "Melihat wajahnya yang mirip ibunya membuat kamu kesal?"
Atyasa tertawa pendek. Tanpa humor. "Dia membuat aku seperti benalu di rumah ini. Kalau dia mempercayakan posisi CEO padaku, orang-orang pasti tak akan memandang rendah aku."
Napas Zelia tertahan tanpa sadar. Ia hampir tak percaya mendengar kalimat itu.
"Jangan dipikirkan lagi," ujar Dian lembut. "Sekarang tinggal selangkah lagi. Saat Fero berhasil mendapatkan harta anak itu, ia akan menceraikannya dan menikahi putri kandung kita."
Zelia membeku. Jantungnya berdegup keras, tapi wajahnya justru semakin tenang. Lalu beberapa saat kemudian ia tertawa tanpa suara.
Ia tak pernah menyangka, ayahnya sendiri yang terlihat menyayanginya ternyata, hanya sandiwara. Dan Desti… ternyata bukan hanya adik tirinya. Ia adalah anak kandung ayahnya sendiri.
"Aku benar-benar ditipu habis-habisan." Ia tersenyum dingin. "Besok, adalah awal dari pembalasanku."
...✨“Yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan itu sendiri, tapi menyadari bahwa semua senyum selama ini hanyalah sandiwara.”...
...“Kepercayaan yang hancur tidak pernah kembali utuh. Ia hanya berubah menjadi alasan untuk tidak pernah percaya lagi.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu