NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

Bandung pagi itu terasa lebih sunyi dari kemarin.

Aura duduk di kursi penumpang sementara Alden menyetir meninggalkan hotel. Tidak ada lagi obrolan panjang. Tidak ada lagi pembahasan masa lalu. Semuanya seperti sudah “dibicarakan”.

Dan justru itu yang membuat Aura merasa aneh.

Terlalu rapi.

Terlalu cepat selesai.

Ponselnya sejak tadi ada di pangkuan. Layar mati. Ia tahu ada pesan. Tapi belum berani membuka.

Begitu mobil berhenti di rest area untuk mengisi bensin, Aura akhirnya menyalakan layar.

Beberapa notifikasi dari grup kelas.

Satu pesan pribadi.

Dari Harry.

Semalam.

Jam 23.17.

**harry:**

udah sampai hotel?

Hanya itu.

Sederhana. Tidak menuntut. Tidak cemburu. Tidak bertanya dengan nada posesif.

Aura membaca pesan itu berulang kali.

Ia tahu Harry tahu ia bersama Alden. Tapi tetap bertanya.

Bukan untuk mengawasi.

Hanya memastikan.

Dadanya terasa sesak.

Alden kembali masuk ke mobil.

“Kenapa?” tanyanya melihat Aura diam.

“Gapapa.”

Aura mematikan layar lagi.

Ia belum membalas.

Sore hari mereka sampai kembali ke kota. Alden mengantar Aura sampai depan rumah.

Sebelum turun, Alden menggenggam tangannya.

“Mulai sekarang kita serius ya,” katanya pelan. “Jangan ada yang disembunyiin lagi.”

Aura mengangguk.

Kalimat itu seperti perjanjian tak tertulis.

Jangan ada yang disembunyikan.

Dan justru itu yang membuat Aura sadar—ada sesuatu yang memang sedang ia sembunyikan.

Begitu masuk kamar, Aura langsung duduk di tepi kasur.

Ia membuka kembali pesan Harry.

Lalu mengetik.

Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya terkirim.

**aura:**

udah.

Tidak ada tambahan emoji. Tidak ada penjelasan.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

**harry:**

oke. istirahat ya.

Sesederhana itu.

Aura menatap layar lebih lama dari yang seharusnya.

Ia tau, jika ini beberapa hari lalu, Harry pasti akan bertanya lebih banyak. Akan menggodanya. Akan mengomentari apapun.

Tapi sekarang… tidak.

Ada jarak.

Dan Aura yang membuatnya.

Ia menarik napas panjang.

Lalu mengetik lagi.

Jari-jarinya gemetar sedikit.

**aura:**

har… kayaknya kita jangan terlalu dekat lagi ya.

Pesan itu terasa seperti pisau kecil yang ia arahkan sendiri.

Terkirim.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Satu menit.

Dua centang biru muncul.

Tidak ada balasan.

Aura menelan ludah.

Satu menit lagi.

Lalu masuk balasan.

**harry:**

iya.

Hanya satu kata.

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada penolakan.

“Iya.”

Aura merasa sesuatu runtuh dalam dirinya.

Ia berharap Harry marah.

Atau bertanya kenapa.

Atau setidaknya membela dirinya.

Tapi tidak.

Harry memilih diam.

Dan diamnya jauh lebih menyakitkan.

Di sisi lain kota, Harry duduk sendirian di kosannya.

Ia membaca pesan itu berkali-kali.

“Jangan terlalu dekat lagi ya.”

Kalimat yang seharusnya sederhana.

Tapi bagi Harry, itu berarti banyak.

Berarti taman itu tidak lagi sama.

Berarti rokok yang direbut itu hanya kebodohan sesaat.

Berarti gelang yang masih ia simpan di laci harus tetap tinggal di sana.

Ia mematikan layar ponsel.

Menatap kosong ke meja belajarnya yang penuh buku.

Dadanya terasa berat, tapi wajahnya tetap datar.

Ia tidak akan memaksa.

Karena sejak awal, ia sadar ia bukan siapa-siapa.

Keesokan harinya di kampus.

Aura datang lebih awal seperti biasa.

Bangku belakang kosong.

Ia duduk di sana.

Beberapa menit kemudian pintu kelas terbuka.

Harry masuk.

Aura refleks menoleh.

Biasanya Harry akan duduk di sampingnya. Atau setidaknya menyapanya dulu.

Hari ini tidak.

Harry hanya mengangguk kecil sebagai salam.

Lalu duduk dua baris di depan.

Tidak terlalu jauh.

Tapi cukup untuk terasa asing.

Aura menunduk, pura-pura sibuk membuka buku.

Dadanya terasa kosong.

Saat istirahat, Richel datang menghampirinya.

“Eh kenapa lu sama Harry kaya lagi ribut?” tanyanya blak-blakan.

“Engga,” jawab Aura cepat.

“Tapi kok dia tadi gak duduk sama lu?”

Aura tersenyum tipis.

“Biar aja.”

Biar aja.

Kalimat yang terdengar santai.

Padahal di dalam dirinya, ada bagian yang ingin berteriak.

Sore hari, Aura pergi ke taman seperti biasa.

Ia duduk di bangku yang sama.

Mengeluarkan rokok.

Menyalakannya.

Menunggu tanpa sadar.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Biasanya Harry datang.

Hari ini tidak.

Aura tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

“Memang harusnya begini,” gumamnya.

Ia yang memilih.

Ia yang memutuskan.

Ia yang menarik garis.

Tapi kenapa terasa seperti kehilangan?

Di kejauhan, tanpa ia sadari, ada seseorang yang berdiri cukup lama memperhatikannya.

Harry.

Ia datang.

Hanya saja tidak mendekat.

Ia melihat Aura sendirian, menghisap rokok pelan, menatap kosong ke air mancur Harry ingin berjalan ke sana Ingin duduk seperti biasa Ingin merebut rokok itu lagi Tapi ia ingat pesan tadi malam.

“Jangan terlalu dekat.”

Ia menghela napas Lalu berbalik pergi Dan untuk pertama kalinya, taman itu benar-benar terasa sepi.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!