Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk dipangkuan
“Kenapa kamu diam?” suara Mario terdengar serak. “Jawab aku, Gi… kamu nggak punya perasaan sama aku?”
Anggika menunduk. Bibirnya bergetar tapi tak ada kata yang keluar.
Mario tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. “Ya sudah… kalau memang begitu, kita akhiri saja sampai di sini.”
Anggika langsung mengangkat wajahnya. “Rio…”
“Maaf ya, Gi. Kamu berhak bahagia. Mungkin aku bukan orang yang tepat buat kamu.” Mario melangkah pergi, meninggalkan gazebo.
Baru dua langkah, Anggika berdiri dan berlari mengejarnya.
“Rio, jangan pergi…” Ia memeluk Mario dari belakang, tangannya melingkar di pinggang pria itu. Air matanya jatuh membasahi punggung kemeja Mario.
Mario terdiam. Ia bisa merasakan tubuh Anggika gemetar.
Perlahan ia berbalik, memeluk Anggika erat. “Menangislah… kalau itu bikin kamu lega. Jangan dipendam terus.”
Anggika terisak di dadanya.
Mario pun tak kuasa menahan air mata mencium rambut Anggika. “Aku pikir aku kuat… ternyata enggak kalau soal kamu.”
Beberapa saat mereka terdiam dalam pelukan.
“Aku janji akan menjauhi kamu,” ujar Mario lirih. “Terima kasih sudah bantu aku waktu nyalon lurah. Tapi sepertinya… aku akan mundur saja.”
Anggika langsung mendongak. “Apa? Kenapa mundur? Itu cita-cita kamu dari dulu!”
Mario menatapnya dalam. “Gimana aku mau maju kalau calon istrinya saja nggak ada?”
“Kamu nggak nganggep aku?” Anggika menatapnya tajam.
Mario tersenyum kecil. “Lho, jadi kamu masih mau jadi istri orang nyebelin kayak aku ini?”
Anggika mendorong dadanya pelan. “Au ah, kamu tuh nyebelin banget!”
Mario tertawa kecil, lalu menghapus air mata di pipi Anggika dengan ibu jarinya. “Lihat aku, Gi. Aku nggak akan maju jadi lurah tanpa kamu di sampingku. Tapi kalau kamu nggak mau…”
“Katanya mau majuin Desa Mekarsari demi warga? Kok sekarang tergantung aku?” potong Anggika. “Padahal dulu kamu bisa maju dengan mantan kamu.”
Mario menyipitkan mata. “Hmm… kamu cemburu?”
“Siapa yang cemburu? Nggak ada!” Anggika langsung memalingkan wajah.
“Mata kamu nggak bisa bohong, Gi. Tadi kamu nangisin aku, kan?”
“Enggak ya! Enak aja nuduh!” Anggika merengut.
“Bapak kamu yang ngomong tadi. Katanya kamu nangis pulang dari rumah sakit,” Mario menggoda.
Anggika membelalakkan mata. “Ih, bapak kok cerita-cerita sih!”
Mario tertawa. “Berarti bener dong?”
Anggika menghela napas panjang, lalu memukul lengan Mario pelan. “Iya! Iya aku cemburu! Puas kamu?!”
Mario tersenyum lebar, tapi matanya berkaca-kaca. “Aku senang kamu cemburu.”
“Kenapa senang? Aneh banget sih kamu,” gerutu Anggika.
“Karena itu berarti kamu cinta sama aku.”
Anggika terdiam. Wajahnya memerah.
Mario mendekatkan keningnya ke kening Anggika. “Sekarang jawab aku jujur… kamu mau berjuang sama aku, bukan karena takut, bukan karena orang tua… tapi karena kamu memang mau?”
Anggika menatapnya lama, lalu berbisik pelan,
“Aku nggak mau kehilangan kamu, Rio.”
“Ya ampun…” Mario pura-pura terkejut, tangannya menutup dada dramatis. “Ini aku nggak salah dengar, kan? Cewek paling galak sedunia, gengsinya setinggi langit, akhirnya ngomong kayak gitu?”
Anggika langsung memukul lengannya pelan. “Apaan sih kamu! Lebay banget!”
Mario tertawa kecil. “Serius, Gi. Dari dulu kamu selalu sok kuat, sok nggak butuh siapa-siapa. Sekarang tiba-tiba bilang nggak mau kehilangan aku. Ini momen langka, tahu.”
“Jangan dibesar-besar in ya. Aku cuma ngomong apa yang aku rasain,” balas Anggika, pipinya masih merah.
“Oh jadi selama ini ada yang kamu rasain?” Mario mengangkat alisnya jahil.
“Ih! Kamu tuh ya…” Anggika memalingkan wajah lagi.
Mario mendekat sedikit. “Aku senang banget dengarnya. Bukan karena kamu cemburu, tapi karena akhirnya kamu jujur.”
“Aku memang susah jujur soal perasaan,” gumam Anggika pelan. “Takut kecewa lagi.”
Senyum Mario perlahan berubah lembut. “Kamu pikir aku nggak takut? Aku juga takut ditolak, takut kamu nggak pernah anggap aku serius.”
“Aku kira kamu cuma bercanda terus,” jawab Anggika. “Kamu terlalu santai, terlalu yakin.”
“Aku santai karena aku nggak mau kamu merasa tertekan. Tapi bukan berarti aku main-main.” Mario menggenggam tangan Anggika. “Aku serius sama kamu, Gi. Dari awal aku melamar kamu.”
Anggika menatap tangan mereka yang bertaut. “Kamu jangan bikin aku berharap kalau ujungnya aku yang jatuh sendirian.”
Mario menggeleng pelan. “Kali ini kita jatuhnya bareng-bareng. Kalau sakit, ya bareng. Kalau bahagia, apalagi.”
Anggika tersenyum tipis. “Kamu bisa aja ngomongnya.”
“Lah, tadi katanya nggak mau kehilangan aku. Sekarang malah nyindir,” Mario terkekeh.
“Ya kamu jangan ngegodain terus! Malu tahu,” Anggika merengut.
Mario mendekatkan wajahnya sedikit, menatap mata Anggika lekat-lekat. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal.”
“Apa lagi?” Anggika menelan ludah.
“Aku bangga. Bangga karena cewek segengsi kamu akhirnya milih jujur daripada pura-pura kuat.”
Anggika tersenyum, kali ini tanpa menyangkal.
“Dan mulai sekarang,” lanjut Mario lembut, “kalau kamu takut, bilang. Kalau kamu cemburu, bilang. Kalau kamu sayang…”
Anggika cepat-cepat menyela, “Jangan diterusin!”
Mario tertawa. “Baik, baik. Nanti saja kamu yang lanjutin. Pelan-pelan. Aku sabar kok.”
Anggika menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Kamu jangan berubah ya.”
Mario mengangkat tangan seperti bersumpah. “Kalau berubah, paling makin sayang.”
“Ih!” Anggika kembali memukul lengannya, tapi kali ini dengan senyum yang tak lagi ia sembunyikan.
Mario duduk lebih dulu di gazebo, lalu menarik tangan Anggika pelan hingga perempuan itu tanpa sengaja terduduk di pangkuannya.
“Kamu serius? Aku berat tau,” protes Anggika, setengah malu.
Mario tersenyum tipis. “Yang berat itu ngadepin kamu kalau lagi ngambek.” Tangannya menahan pinggang Anggika supaya tidak bangun.
“Sekarang jawab aku jujur. Kenapa kamu sensitif banget kalau bahas soal anak? Aku sudah bilang, kalaupun kita nggak punya anak, aku nggak masalah.”