Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kafein dan Kecanggungan
Setelah kejadian di balkon hotel, gue sempat mikir buat pura-pura sakit atau mendadak mengundurkan diri saja. Gimana caranya gue bisa natap muka Pak Genta setelah dia bilang "jatuh cinta" dengan nada sedatar dia lagi ngoreksi typo?
Gue duduk di kubikel, naruh tas dengan gerakan kaku. Gue sengaja nunduk, pura-pura sibuk nyalain laptop, berharap nggak ada yang sadar kalau pipi gue masih agak merah kalau ingat genggaman tangannya di malam penganugerahan itu.
Klik, klik, klik.
Langkah kaki itu. Gue hafal banget. Jantung gue mulai disko. Gue sudah siap-siap narik napas panjang buat dengerin perintah "Kopi saya, Aruna," seperti biasa. Gue sudah nyiapin mental buat balik lagi ke mode "editor vs bos monster".
Tapi, bayangan tinggi itu berhenti di depan meja gue bukan dengan tangan kosong.
"Pagi, Aruna."
Gue mendongak pelan, dan nyaris saja gue jatuh dari kursi kalau nggak pegangan meja. Di depan gue, Genta berdiri dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Nggak ada kacamata yang nangkring di hidungnya—dia pakai lensa kontak hari ini, bikin matanya kelihatan jauh lebih ramah, tapi juga bikin gue makin gugup.
Dan yang paling ajaib... dia megang dua paper cup.
"Ini... buat kamu," katanya, suaranya sedikit serak. Dia naruh salah satu gelas itu di meja gue. "Caramel Macchiato. Tanpa sirup berlebihan, seperti yang kamu tulis di bab 14."
Gue melongo. Lidah gue kayak mendadak kelu. "Bapak... Bapak bikin sendiri?"
Genta berdeham, lalu membetulkan letak jam tangannya yang sebenarnya sudah pas gestur kaku yang sekarang gue tahu itu tandanya dia lagi salting tingkat nasional. "Tadi mesin kopi di ruangan saya agak... rewel. Jadi saya sekalian buatkan untuk kamu. Sebagai permohonan maaf karena sudah jadi 'monster' selama ini."
Gue ngelihatin gelas kopi itu seolah itu adalah bom waktu. "Bapak nggak kesurupan kan, Pak?"
"Saya masih sehat, Aruna," jawabnya cepat, meski gue bisa lihat telinganya sedikit memerah. "Dan saya sudah hapus bab kematian Kastara dari sistem. Saya sudah ganti dengan draf baru. Kamu bisa periksa nanti."
Pria itu langsung balik badan dan jalan cepat ke ruangannya. Gue bisa lihat langkahnya agak sedikit nggak stabil, sempat hampir nabrak ujung meja Bagas yang untungnya orangnya belum datang.
Gue pegang gelas kopi itu. Masih hangat. Rasanya aneh banget melihat sisi "manusia" dari seorang Genta. Selama ini gue cuma tahu cara ngelawan dia, cara berdebat sama dia, tapi gue nggak tahu gimana caranya ngadepin Genta yang lagi berusaha bersikap manis.
Gue sesap kopinya pelan. Manisnya pas. Jauh lebih enak daripada Americano pahit yang biasa gue buatkan untuk dia.
Tiba-tiba ponsel gue bergetar.
Kaka’s: Jangan cuma dilihatin. Diminum. Dan tolong, jangan kasih rating buruk buat kopi buatan saya. Saya sudah latihan lima kali di dapur tadi pagi.
Gue reflek nutup mulut biar nggak ketawa di tengah kantor yang masih sepi. Gue melirik ke arah kaca ruangannya. Genta lagi duduk tegak, matanya fokus ke layar monitor, tapi tangannya megang paper cup miliknya dengan sangat erat.
Gue pun mengetik balasan dengan senyum yang nggak bisa gue tahan lagi.
Senja_Sastra: Kopinya lumayan. Tapi diksinya masih kaku, Pak. Butuh dipoles lagi biar nggak kayak kopi robot.
Gue lihat dari balik kaca, Genta sedikit tersedak kopinya setelah baca pesan gue. Dia langsung nunduk, pura-pura batuk kecil. Gue sadar, mulai hari ini, suasana kantor nggak akan pernah sama lagi. Kecanggungan ini memang bikin sesak, tapi entah kenapa, gue nggak keberatan kalau harus ngerasain ini setiap pagi.
Ternyata, revisi paling susah itu memang bukan di atas kertas, tapi merevisi perasaan yang telanjur nyaman dalam kebencian.
...Revisi paling susah itu memang bukan di atas kertas, tapi merevisi perasaan yang telanjur nyaman dalam kebencian....
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻