NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 - bayangan yang mulai diakui

Pengakuan sebagai murid elit Sekte Batu Awan tidak disertai upacara meriah.

Tidak ada sorak-sorai.

Tidak ada perayaan.

Hanya sebuah papan giok abu-abu yang diganti namanya di Aula Dalam, dan sebuah perintah singkat dari para tetua.

Qing Lin – Murid Elit Tingkat Rendah.

Wewenang: Misi wilayah luar.

Larangan: Memasuki Aula Inti tanpa izin.

Sederhana. Dingin. Tepat seperti dirinya.

Qing Lin berdiri di depan papan itu cukup lama. Murid-murid lain berbisik pelan di belakangnya, sebagian kagum, sebagian waspada. Ia tidak menoleh. Tidak ada emosi di wajahnya.

Ia hanya mengingat satu hal:

Sejak hari itu, ia tidak lagi bisa hidup seperti sebelumnya.

Malam hari, angin gunung bertiup lebih kencang dari biasanya.

Qing Lin duduk bersila di gubuk kayunya, pintu tertutup rapat. Di hadapannya tergeletak giok hitam yang diberikan Mentor Bayangan—artefak sederhana yang berfungsi sebagai media pemicu kesadaran teknik.

“Sutra Darah Sunyi,” gumam Qing Lin pelan.

Sejak pertarungan terakhir, sutra itu tidak lagi sekadar berdenyut pasif. Ia terasa seperti sesuatu yang menunggu—bukan menunggu perintah, tapi menunggu keputusan.

Apakah Qing Lin akan menahannya selamanya…

atau mulai menggunakannya secara sadar.

Ia menarik napas panjang.

Qi di tubuhnya kini stabil di Tahap Pengumpulan Qi – Puncak Awal. Belum menembus tahap menengah, namun kualitas qi-nya jauh lebih padat dibanding murid elit lain di level yang sama.

Masalahnya bukan kekuatan.

Masalahnya adalah harga.

Saat ia menutup mata dan memfokuskan kesadaran, dunia seolah tenggelam.

Dalam ruang batinnya, ia kembali melihat benang-benang merah gelap—alur Sutra Darah Sunyi yang melilit inti tubuhnya. Tidak agresif. Tidak liar.

Tenang.

Namun dingin.

Setiap benang membawa satu kesadaran sederhana:

Bunuh. Serap. Perkuat.

Tidak ada emosi di dalamnya. Tidak ada kebencian. Hanya hukum.

Qing Lin membuka mata.

“Kalau aku terus menolak,” katanya pelan, “kau akan tetap ada.”

Benang-benang itu bergetar.

“Kalau aku menerima sepenuhnya,” lanjutnya, “aku mungkin akan kehilangan diriku.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenali sutra itu, Qing Lin membuat keputusan yang jelas.

“Aku akan menggunakannya,” ucapnya datar.

“Dengan caraku sendiri.”

Keesokan harinya, Qing Lin menerima misi elit pertamanya.

Wilayah Perbatasan Barat – Desa Tianbei.

Ancaman: Binatang iblis tingkat rendah–menengah.

Catatan: Hilangnya tiga pemburu dan satu murid sekte luar.

Misi sederhana.

Namun bagi Qing Lin, ini adalah ujian sesungguhnya.

Ia berjalan sendirian.

Tanpa tim.

Tanpa pengawas.

Langkahnya ringan, ekspresinya datar. Di punggungnya hanya ada kapak kayu—yang kini diperkuat dengan ukiran formasi sederhana.

Desa Tianbei sunyi saat ia tiba.

Terlalu sunyi.

Tidak ada asap dapur. Tidak ada suara anak-anak. Bahkan ayam pun tidak terdengar.

Qing Lin berhenti di gerbang desa.

Hidungnya mencium bau besi yang samar.

Darah.

Ia melangkah masuk.

Jejak cakaran terlihat di tanah. Dinding rumah hancur. Beberapa pintu patah dari dalam, seolah penghuninya mencoba bersembunyi.

Di tengah desa, ia melihatnya.

Seekor Serigala Iblis Bertanduk, dua tingkat lebih kuat dari yang pernah ia hadapi sebelumnya.

Matanya merah gelap.

Tanduknya retak, seolah pernah bertarung keras.

Dan di sekitarnya—tiga mayat pemburu.

Qing Lin berdiri diam.

Tidak ada amarah.

Tidak ada panik.

Hanya analisis.

“Kalau aku menahannya lagi,” pikirnya, “aku bisa menang… tapi akan lama.”

Serigala itu menggeram, menyadari kehadirannya.

Qi iblis meledak.

Tanah bergetar.

Dan untuk pertama kalinya—

Qing Lin tidak menekan dorongan Sutra Darah Sunyi.

Ia melangkah maju.

Bukan berlari.

Bukan menyerang membabi buta.

Ia membuka satu jalur.

Sutra Darah Sunyi bergerak.

Qi di tubuhnya berubah arah, berputar lebih cepat, lebih dalam. Kapaknya terangkat, namun tidak dengan kekuatan liar—melainkan dengan presisi mematikan.

Serigala itu melompat.

Qing Lin menghindar setengah langkah.

Kapak turun.

Satu tebasan.

Tidak mengenai leher.

Tidak mengenai kepala.

Mengenai inti qi di dada binatang itu.

Serigala itu meraung—namun bukan karena luka fisik.

Kabut merah gelap keluar dari tubuhnya, disedot langsung ke tubuh Qing Lin.

Ia merasakan panas.

Berat.

Tekanan.

Namun kali ini—ia siap.

Ia mengarahkan aliran itu. Memurnikannya. Mengikatnya di lapisan luar qi, tidak membiarkannya menyentuh inti kesadarannya.

Serigala itu jatuh.

Mati seketika.

Sunyi kembali menyelimuti desa.

Qing Lin berdiri di sana, napasnya stabil.

Tubuhnya sedikit lebih berat.

Qi-nya sedikit lebih padat.

Tidak ada rasa puas.

Tidak ada rasa bersalah.

Hanya satu kesimpulan dingin:

Ini efisien.

Malam itu, ia mengubur para pemburu dengan rapi.

Ia tidak berdoa.

Tidak berbicara panjang.

Hanya memastikan mereka tidak dimakan binatang lain.

Saat bulan naik, Qing Lin duduk di atap rumah desa, menatap langit.

Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan.

Tidak liar.

Tidak memaksa.

Seolah… patuh.

“Aku tidak akan membunuh sembarangan,” ucap Qing Lin pelan.

“Aku hanya akan membunuh saat perlu.”

Tidak ada jawaban.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan bisikan.

Bukan dorongan.

Melainkan kesepakatan sunyi.

Di Sekte Batu Awan, laporan misi tiba keesokan harinya.

Satu baris catatan membuat seorang tetua berhenti membaca.

Serigala Iblis Bertanduk – dieliminasi sendirian.

Tidak ada korban tambahan.

Desa disterilkan dengan rapi.

Tetua itu menghela napas panjang.

“Anak itu…” gumamnya.

“Dia tidak brutal.”

“Tidak,” sahut Mentor Bayangan dari sudut ruangan.

“Dia dingin.”

Dan di dunia kultivasi—

dingin sering kali lebih berbahaya daripada kejam.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!