NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebersamaan Yang Kurindukan

Setelah kakek memasukkan kudanya di kandang, kakek menuju rumah gubuknya. Namun sedikit terkejut karena Theo yang menggendong Maerin tidak langsung masuk, tetapi hanya terdiam di depan pintu.

"Kenapa tak langsung masuk?" Tanya kakek

"Kami tak ingin mengejutkan istri anda yang sedang sendirian di dalam. Lebih baik kami menunggu kakek." Jawab Theo dengan suara menggigil yang ditahan.

"Ah, kau benar. Istriku pasti terkejut tiba-tiba ada orang yang tak dikenalnya masuk ke dalam rumah kami. Mari masuk bersama." Ajak kakek.

Kakek membuka pintu sambil memondong seikat daun muda dan 3 biji jagung yang masih terbungkus kulitnya. Nenek yang sedang duduk di depan tungku bertanya tanpa menoleh,"Syukurlah sudah pulang, kek. Hari ini sedikit terlambat. Apa tadi kakek berteduh dulu?"

"Ehmm.." Kakek hanya berdehem. Istrinya langsung menoleh, dan sedikit terkejut melihat kakek pulang bersama dua orang asing. Nenek perlahan berdiri dan mendekat.

"Mereka siapa, kek?" Tanya nenek sedikit waspada.

"Pemuda ini menolongku saat salah satu roda gerobak terlepas di saat hujan lebat. Sebagai imbalannya, kakek mengajaknya untuk singgah di gubuk kita ini, nek. Temannya sedang kesakitan." Kakek menjelaskan pada nenek.

"Untung saja kakek bertemu mereka, jika tidak mungkin kakek belum pulang sampai sekarang." Ucap nenek.

"Nak, baringkan saja temanmu di tempat tidur ini." Nenek mengisyaratkan Theo untuk membaringkan Maerin.

Dalam hati Theo, 'Betapa kerasnya orang lain berjuang. Bahkan gubuk tak layak untuk ditinggali ini, untuk orang lain disebut rumah. Dan yang disebut oleh nenek ini tempat tidur, benar-benar tak layak disebut tempat tidur.' Theo benar-benar tak bisa berkata-kata melihat kondisi tempat tinggal sepasang kakek nenek yang sudah tua ini.

"Terima kasih, nek. Kami basah kuyup. Jika berbaring di tempat tidur nanti malah jadi basah." Jawab Theo dengan sopan.

"Aduh kau benar, nak. Sebaiknya gantikan dulu pakaian temanmu itu dengan pakaian kering. Nenek akan carikan baju gantinya." Kata nenek

"Tapi nek, teman saya seorang wanita. Jadi saya tak mungkin yang menggantikan pakaiannya." Jawab Theo

"Astaga, temanmu seorang wanita? Yasudah biar nenek gantikan pakaiannya. Sekalian kucarikan baju untukmu." Ucap nenek

Nenek memberikan baju ganti pada Theo, "Ini, gantilah baju basahmu dengan ini. Meskipun tak sebagus bajumu, setidaknya baju ini kering."

"Kami sungguh berterima kasih dengan kebaikan kakek dan nenek." Jawab Theo dengan tulus.

Kakek mengajak Theo keluar untuk memberikan ruang untuk nenek menggantikan pakaian Maerin. Theo pun mengganti pakaiannya di luar, sementara kakek mengambil kayu bakar yang disimpan di kandang kuda di samping rumah gubuk. Saat kakek telah memondong kayu, dia melihat Theo yang memegangi baju basahnya.

"Kau bisa mengeringkan bajumu dekat tungku. Mari masuk, kelihatannya nenek sudah selesai menggantikan baju temanmu." Ajak Kakek. Theo mengikutinya dari belakang.

"Kemarikan baju basahmu, nak. Letakkan di dekat baju temanmu ini supaya mengering." Ucap nenek. Theo menurutinya.

"Coba bangunkan pelan temanmu, setidaknya berikan air hangat ini untuk menghangatkannya, untukmu juga serta kakek. Aku akan memasak sesuatu untuk makan malam. Kakek membawakan sesuatu untuk makan malam." Nenek memotong pucuk daun yang terlihat seperti daun labu muda. Serta memotong jagung. Dan mencampurkannya jadi satu ke dalam kuali kecil di atas tungku. Selagi menunggu masakan nenek matang, Maerin meminum air hangat dengan pelan-pelan. Theo pun melakukan hal yang sama. Wajah mereka tak sepucat sebelumnya, Theo dan kakek mengobrol kecil sesekali nenek ikutan ngobrol juga. Maerin pun juga mencoba berbaur meskipun terlihat canggung. Mereka saling memperkenalkan diri. Selang beberapa waktu, masakan nenek sudah matang. Nenek menyiapkan 2 mangkuk dan 2 piring serta meminta tolong kakek untuk mengangkat kuali berisi masakan nenek tadi ke tempat Theo dan Maerin sedang duduk. Namun, Theo dengan sigap mengajukan diri membantu. Mereka duduk di lantai tanah dan beralaskan tikar yang sudah rusak di beberapa bagian. Namun tak jauh dari tungku, sebab di dekat tungku adalah satu-satunya tempat paling hangat. Nenek menuangkan makanan di mangkuk Theo dan Maerin dengan potongan jagung dan daun lalu lebih banyak. Namun hanya menuangkan banyak kuah dan masing-masing satu potong jagung di piring kakek dan nenek. Theo merasa tidak enak, "Nek makanan untukku terlalu banyak. Nenek bisa menguranginya."

"Kalian masih muda dan membutuhkan banyak makanan dibandingkan kami para orang tua ini. Segitu bahkan belum pantas disebut banyak. Tambah lagi kalau sudah menghabiskan yang ada di mangkukmu." Ucap nenek dengan senyum hangat

"Ya, tambah lagi. Jangan sungkan." Imbuh kakek sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.

Theo menatap mangkuknya lalu mencoba makan. Dalam hatinya, 'Rasanya hambar namun aku benar-benar menikmati. Padahal bukan makanan mewah, tapi kebersamaan ini yang benar-benar kurindukan.' Theo menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sesuap demi sesuap hingga habis sambil menahan air matanya. Sementara Maerin makan dengan lahap bahkan saat nenek menawarkan untuk menambah makanannya, dia tak menolak. Kakek dan nenek terlihat begitu senang. Setelah selesai makan. Mereka mengobrol ringan.

"Kek, kenapa kakek dan nenek tinggal sendirian di sini? Bukankah berbahaya? Bahkan sebelumnya kakek pernah cerita bahwa jalanan yang tadi kita lalu sering muncul bandit."

"Kami menunggu putra kami. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, dia hendak mengajak kami pindah ke ibukota. Menyuruh kami menjual tanah di kampung halaman kami, dan kami menurutinya. Lalu rombongan kami diserang bandit. karena kami ada di rombongan paling belakang. Kami bertiga bisa melarikan diri masuk ke dalam hutan dan menemukan gubuk ini. Waktu itu gubuk ini kosong, dan meminta uang hasil penjualan tanah untuk disembunyikan mengantisipasi jika para bandit menemukan kita. Putra kami menyuruh kami bersembunyi di sini dan meminta kami menunggu dia kembali. Dan hingga saat ini dia tak pernah kembali." Ucap nenek sambil mengenang masa lalu dan matanya berkaca-kaca. Theo menyadari dari cerita nenek bahwa putranya itu telah menipu kakek nenek ini yang jelas orangtuanya. Sementara kakek hanya terdiam sambil mendengarkan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seolah telah mengetahui kenyataan pahit bahwa putra mereka telah menipunya. Namun dari kakek maupun nenek tetap meyakini bahwa suatu hari putranya benar-benar akan kembali.

"Apa kampung halaman kakek dan nenek adalah desa dengan jarak dua hari menggunakan kereta kuda seperti yang sebelumnya kakek sebutkan?" Tanya Theo mengalihkan obrolan berat tentang putra kakek dan nenek.

"Tidak, lebih jauh lagi. Sekitar seminggu perjalanan. Tempat yang indah dengan sungai jernih yang mengalir dan sejuk. Suara kicauan burung yang selalu terdengar tiap pagi hari. Serta para penduduk yang ramah dan sangat peduli." Kata kakek sambil mengenang.

"Benarkah ada tempat seperti itu di dunia ini? Saya benar-benar ingin melihatnya." Ucap Maerin dengan antusias.

"Tentu saja ada, bahkan tanahnya subur. Bisa menanam berbagai sayur dan buah. Dan lagi...." Nenek terdiam sejenak."...ah orang tua ini tiba-tiba merindukan kampung halaman." Ucap nenek sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!