NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelakuan Yuli & Romi Part 2

"Belum terlalu kenal Pah... kemarin sore aku hanya secara tidak sengaja bertabrakan dengan dia di depan gedung kesenian sekolah. Dia bilang mau bertemu dengan kakak kelas yang suka mengganggu itu karena sudah ada janjian. Aku sudah memperingatkan dia agar tidak pergi, tapi aku tidak tahu apakah dia sudah mengikuti peringatanku atau tidak," jawab Yuli dengan suara yang penuh kekhawatiran.

Pak Hartawan terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu, kemudian dia menepuk bahu Yuli dengan lembut. "Jangan khawatir ya Yuli... kalau memang ada masalah di sekolah, kamu bisa bilang aja sama Papah atau Mamah Lusi ya. Kita akan mencari cara untuk menyelesaikannya agar kamu bisa belajar dengan nyaman. Dan tentang anak itu yang namanya Romi... mungkin nanti Papah akan mencari tahu sedikit tentang dia agar bisa membantu jika memang dia benar-benar membutuhkan bantuan."

Yuli mengangguk dengan senyum lembut. "Terima kasih banyak Papah Hartawan... aku merasa lebih lega sekarang setelah cerita sama papah."

"Sama-sama saja Yuli sayang... kamu adalah anak kita, jadi kita harus saling membantu satu sama lain kan?" ucap Pak Hartawan dengan senyum ceria, kemudian melihat ke arah langit yang sudah semakin cerah. "Kalau begitu, setelah ini ayo kita berenang bareng aja di kolam renang ya? Biar kamu bisa lebih rileks dan siap untuk sekolah besok yang sudah masuk lagi."

"Baiklah Pah... aku sangat senang bisa berenang bareng papah," ucap Yuli dengan senyum ceria yang kembali muncul di wajahnya manis.

Saat itu juga Ny. Lusi datang menghampiri mereka setelah selesai sholat Dhuha. Dia melihat wajah Yuli yang sudah kembali ceria dan tersenyum lembut. "Sepertinya kalian sudah selesai ngobrol ya? Kalau begitu, ayo kita turun semua ke kolam renang aja deh. Mamah juga mau ikut berenang sedikit untuk menjaga kesehatan badan," ucap Ny. Lusi dengan suara hangat, membuat Pak Hartawan dan Yuli langsung tersenyum bahagia.

Ketiganya kemudian berjalan turun dari balkon bersama-sama, menghadap kolam renang yang jernih dan siap untuk memberikan kesegaran di pagi hari yang masih segar. Namun di benak Yuli, masih ada rasa kekhawatiran yang tidak bisa hilang begitu saja tentang Romi—siswa baru yang dia temui secara tidak sengaja dan yang mungkin sedang menghadapi bahaya dari kakak kelas yang suka mengganggu itu. Dia berencana dalam hati agar Romi selamat dan tidak menjadi korban dari perilaku tidak baik mereka.

Sementara itu, di sebuah kontrakan sederhana yang terletak di Kampung Lengkong Wetan, suasana pagi hari terasa jauh berbeda dengan kehidupan mewah yang dialami Yuli. Libur nasional tidak menyurutkan tekad Romi untuk terus bekerja keras mencari uang tambahan demi membantu ibunya. Sejak kepergian ayahnya Pak Bayu, Romi selalu menggunakan waktu luangnya untuk berjualan bakso Cuangky setelah pulang sekolah. Namun hari ini, dia berencana untuk berjualan dari pagi jam 10 pagi hingga larut malam jam 22.00 agar bisa mendapatkan lebih banyak penghasilan.

"Emak... aku pamit mau jualan Bakso Cuangky ya," ucap Romi dengan suara sopan kepada ibunya Susilawati yang lebih sering dipanggil Emak Susi. Dia sedang memeriksa perlengkapan dagangannya—gerobak kecil yang sudah diasapi, kompor gas yang siap digunakan, serta bahan-bahan bakso yang sudah dipersiapkan dari semalam hari.

"Ya nak... semoga banyak rejekimu hari ini dan semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam segala urusanmu," ucap Emak Susi dengan suara penuh doa, kemudian mengusap-usap kepala Romi dengan penuh kasih sayang. Wajahnya yang sudah mulai berkerut akibat usia dan pekerjaan keras tetap menunjukkan senyum hangat kepada anak satu-satunya yang selalu membantu dirinya.

"Aamiin ya Robbal Alamiin... terima kasih Emak," ucap Romi dengan penuh rasa syukur, kemudian mencium pelan bagian punggung telapak tangan ibunya sebagai bentuk penghormatan sebelum berangkat.

"Kamu sudah sarapan belum Rom?" tanya Emak Susi lagi dengan suara penuh perhatian, melihat anaknya yang sudah siap berangkat dengan segala perlengkapannya.

"Udah dong Emak... tadi sepuluh menit yang lalu aku sudah makan bubur ayam yang Emak buat kan? Rasanya sangat enak sekali," jawab Romi dengan senyum ceria, membuat Emak Susi juga tersenyum melihat wajah anaknya yang selalu optimis meskipun hidup mereka tidaklah mudah.

"Syukur deh kalau begitu... dan jangan pernah melupakan do'a dan dzikir ya nak. Kita orang yang tidak memiliki banyak kekayaan duniawi, jadi kita harus lebih banyak berdo'a memohon keselamatan, kesehatan, dan perlindungan kepada Allah SWT. Itulah harta yang paling berharga yang kita miliki," ucap Emak Susi dengan suara yang penuh nasihat, ingin anaknya selalu ingat akan pentingnya hubungan dengan Tuhan.

"Ya Emak... aku akan selalu ingat pesan Emak dan akan selalu berdo'a setiap waktu. Aku jalan dulu ya Emak," ucap Romi dengan senyum lembut, kemudian segera memikul dagangannya yang terdiri dari ember-ember berisi bahan bakso dan peralatan makan yang sudah disiapkan rapi.

Romi berjalan menyusuri jalan setapak yang berliku-liku di gang-gang kampung dengan langkah yang mantap. Dia juga tidak lupa untuk memukul kayu bulat kecil dengan kentongan bambu yang dimilikinya, menghasilkan bunyi yang khas: "TEK... TEK... TEK... CUANGKIIIIIY!!!" Bunyi tersebut menjadi ciri khas dagangannya yang selalu membuat orang-orang di sekitar kampung tahu kalau Romi sedang berjualan.

Setelah berjalan beberapa saat, dia akhirnya berhenti dan mangkal di depan gerbang Cluster permukiman sedang yang terletak tidak jauh dari rumah kontrakan mereka. Dia memilih tempat tersebut karena seringkali ada banyak orang yang keluar masuk dari sana, terutama ibu-ibu yang sedang berbelanja atau mengantar anak-anak bermain. Sambil menunggu pembeli datang, Romi juga menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak dan menyegarkan diri dengan minum air dari botol bekas yang selalu dia bawa.

Tak lama kemudian, seorang satpam berjaga di pos gerbang mendekatinya dengan langkah yang santai. Dia adalah Pak Jaka—satpam yang sudah kenal dengan Romi sejak lama dan sering bertegur sapa saat Romi melintas untuk pergi ke sekolah. "Cuangki nya dua mangkok ya mas Rom... campur aja semuanya satu pedes dan satu tidak pedes," ucap Pak Jaka dengan senyum ramah kepada Romi.

"Baik Pak... terima kasih banyak ya Pak untuk menjadi penglaris dagangan Romi hari ini," ucap Romi dengan suara penuh rasa syukur, segera memasak bakso dengan cepat dan hati-hati sesuai dengan permintaan Pak Jaka. Setelah selesai, dia memberikan mangkok bakso yang masih panas kepada Pak Jaka yang langsung membayarnya dengan senyum ceria sebelum kembali ke pos jaga.

"Alhamdulillah... sudah laris dua mangkok. Semoga berikutnya ada lebih banyak pembeli lagi," ucap Romi dalam hati dengan penuh harapan, menyusun kembali perlengkapannya dengan rapi. Tak butuh waktu lama lagi, seorang ibu muda dengan membawa seorang anak kecil mendekatinya dengan langkah yang cepat.

"Mas... beli dibungkus tiga mangkok ya... jangan terlalu pedes karena untuk anak-anak juga," ucap ibu tersebut dengan suara lembut kepada Romi, memberikan wadah plastik yang sudah dia bawa dari rumah.

"Baik Bu... saya akan pastikan tidak terlalu pedes dan bahan baksonya juga segar," jawab Romi dengan senyum ramah, segera memasak bakso sesuai dengan permintaan ibu tersebut. Setelah selesai membungkusnya dengan rapi, dia memberikan dagangannya dan menerima pembayaran dengan penuh rasa syukur.

Jam 12.30 siang tiba-tiba ramai sekali di tempat Romi berjualan. Beberapa ibu-ibu keluar dari Cluster dengan membawa mangkok masing-masing untuk membeli bakso Cuangki milik Romi. Mereka sudah mengenal dagangan Romi karena rasanya yang enak dan harganya yang terjangkau.

Walaupun terbilang baru kurang lebih sebulan Romi berjualan keliling bakso cuangki.

"Bakso ya mas!!! Ini mangkoknya ya mas," ucap salah satu ibu-ibu yang mengenakan daster besar dengan warna cerah, memberikan mangkoknya kepada Romi. "Satu mangkok super pedes yang satu lagi tidak pedes ya mas... yang tidak pedes buat anak saya yang masih kecil."

"Siiap Bu... saya akan buat dengan hati-hati," ucap Romi dengan suara ceria, segera sibuk memasak bakso untuk para pembeli yang datang satu demi satu. Dia bekerja dengan cepat namun tetap teliti agar setiap mangkok bakso yang dia berikan memiliki rasa yang enak dan sesuai dengan permintaan pembeli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!