NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - KEBAHAGIAAN YANG RAPUH

Tiga minggu setelah pemeriksaan kehamilan itu, kehidupan Dara mulai terasa... normal.

Arkan terus berusaha, tidak dengan cara yang berlebihan atau menjijikkan, tapi dengan cara yang konsisten. Dia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, menemani Dara jalan sore di taman, membacakan buku untuk bayi sebelum tidur meski janin masih di dalam kandungan.

Nyonya Devi juga berubah, mulai mengajak Dara memilih perlengkapan bayi, bahkan meminta maaf secara tidak langsung dengan memberikan perhiasan keluarga yang seharusnya untuk menantu.

Tapi Dara tidak melupakan siapa dirinya. Dia tetap Dara Alvarino, dokter mafia yang bertahan di dunia paling kelam. Dan dunia kelam mengajarkannya satu hal, jangan pernah lengah saat musuhmu masih bernapas.

Lenna masih di luar sana. Salma masih ditahan tapi kasusnya lambat, sistem hukum yang korup. Dan Rio meski kabur ke Bali, bisa saja kembali.

Malam itu, Dara tidak bisa tidur. Perutnya besar, hampir tujuh bulan sekarang. Membuatnya tidak nyaman dalam posisi apapun. Dia bangkit, berjalan ke balkon, menatap langit malam Jakarta yang penuh polusi cahaya.

Pintu kamar terbuka, Arkan muncul dengan wajah khawatir. "Kamu tidak tidur? Ada yang sakit?"

"Tidak, cuma tidak bisa tidur."

Arkan mendekat, berdiri di sampingnya tetap menjaga jarak seperti biasa. "Boleh aku temani?"

Dara mengangguk. Mereka berdua berdiri dalam diam, menikmati angin malam yang sejuk.

"Kiara," Arkan bicara pelan. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa?"

"Kenapa kamu berubah? Maksudku, kamu dulu pendiam, takut, selalu mengalah. Tapi sekarang... kamu seperti orang yang berbeda."

Dara tersentak, pertanyaan yang dia takutkan.

"Orang berubah kalau dipaksa bertahan hidup," jawabnya hati-hati.

"Tapi perubahanmu terlalu drastis. Bahkan caramu bicara, caramu menatap, caramu berpikir semuanya berbeda." Arkan menatapnya. "Seperti... seperti ada jiwa lain di tubuhmu."

Dara merasakan dingin menjalar di punggungnya. Dia tahu?

"Kamu mau bilang aku kerasukan?"

"Bukan begitu." Arkan tersenyum tipis. "Aku cuma merasa, aku kehilangan kesempatan mengenal Kiara yang lama. Dan sekarang aku mencoba mengenal Kiara yang baru, yang lebih kuat, yang lebih berani."

"Kamu suka Kiara yang mana?"

Arkan menatapnya lama. "Yang ini... Kiara yang sekarang, yang bisa melawanku, yang tidak takut padaku, yang membuatku ingin jadi pria lebih baik."

Dara merasakan sesuatu mencair di dadanya, tapi dia menahannya. Dia tidak bisa lengah.

"Arkan, aku mau kamu tahu satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak akan pernah jadi istri yang patuh dan penurut, aku tidak akan diam kalau kamu salah, aku tidak akan biarkan siapapun termasuk kamu meremehkanku lagi."

"Aku tahu." Arkan tersenyum. "Dan aku tidak mau kamu berubah, aku mau kamu tetap seperti ini. Kuat... Keras... Tidak bisa diinjak."

Dara menatapnya mencari tanda kebohongan. Tapi yang dia lihat hanya... ketulusan. Mungkin dia benar-benar berubah.

Tapi kemudian ponselnya berdering, Regan.

"Halo?"

"Kak, ada masalah. Lenna hilang."

Dara langsung waspada. "Hilang bagaimana?"

"Orang yang aku suruh awasi dia bilang, tiga hari ini Lenna tidak muncul di kosan. Tidak masuk kerja juga, ponselnya mati seperti menghilang begitu saja."

"Kamu sudah coba cari?"

"Sudah, aku bahkan ke kosannya langsung. Pemilik kosan bilang Lenna pergi bawa tas besar. Bilang mau pulang kampung, tapi aku cek ke Tangerang... dia tidak ada di sana."

Dara mengepalkan tangannya. "Dia kabur atau merencanakan sesuatu."

"Itu yang aku takutkan, kakak harus hati-hati."

"Aku tahu... Terima kasih, Regan."

Setelah menutup telepon, Dara menatap keluar pikiran berputar cepat. Lenna hilang, itu tidak baik. Orang yang putus asa dan punya dendam adalah orang paling berbahaya.

"Ada masalah?" tanya Arkan.

"Lenna hilang."

Wajah Arkan berubah tegang. "Sejak kapan?"

"Tiga hari."

"Kamu pikir dia akan..."

"Aku tidak tahu, tapi aku harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Arkan menatapnya serius. "Aku akan tingkatkan keamanan rumah, tambah satuan pengamanan. Pasang kamera lebih banyak..."

"Itu tidak cukup." Dara memotong. "Lenna kenal rumah ini, dia tahu semua sudut, semua celah. Kalau dia mau masuk, dia bisa."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Dara menatapnya. "Kita bersiap, dan kalau dia datang kita hadapi bersama."

Dua hari kemudian, ketakutan Dara menjadi kenyataan. Tengah malam, alarm rumah berbunyi. Dara terbangun, refleks langsung waspada. Dia mengambil gunting dari laci senjata darurat yang selalu dia siapkan.

Arkan sudah bangun, meraih ponselnya. "Satuan pengamanan bilang ada yang coba masuk lewat gerbang belakang."

"Lenna."

"Mungkin, aku turun..."

"Aku ikut."

"Kamu sedang hamil..."

"Justru karena itu aku harus ikut, ini anakku yang dia incar." Dara bangkit, mengabaikan perutnya yang besar. "Aku tidak akan bersembunyi sementara dia berkeliaran di rumahku."

Mereka turun bersama, Regan sudah ada di ruang tamu dengan tongkat baseball.

"Kakak, tetap di dalam. Aku dan Arkan yang keluar..."

"Tidak." Dara menatap mereka berdua. "Dengar, aku tahu kalian mau melindungiku. Tapi Lenna datang untuk aku. Kalau aku bersembunyi, dia akan terus mencoba. Tapi kalau aku hadapi dia sekarang... ini berakhir. Malam ini juga."

"Terlalu berbahaya..."

"Hidupku sudah berbahaya sejak aku bangun di tubuh ini." Dara berjalan ke pintu belakang. "Aku dokter mafia, aku pernah menghadapi pembunuh, penjahat, orang-orang paling kejam. Aku tidak akan takut pada wanita putus asa."

Dia membuka pintu belakang, keluar ke taman yang gelap.

"LENNA!" teriaknya. "AKU TAHU KAMU DI SINI! KELUAR SEKARANG!"

Hening...

Kemudian langkah kaki dari balik semak. Lenna muncul, berubah drastis. Rambut pendek berantakan, wajah kurus, mata cekung dengan lingkaran hitam tebal. Di tangannya... pisau dapur.

"Kak Kiara..." suaranya serak. "Akhirnya kita bertemu lagi."

Dara menatapnya tanpa takut. "Kamu datang untuk apa? Mau bunuh aku?"

"Mau mengambil kembali apa yang kamu curi dariku!" Lenna melangkah maju, pisau teracung. "Kamu menghancurkan hidupku! Kamu ambil segalanya dariku!"

"Aku tidak ambil apapun, kamu yang kehilangan semuanya karena perbuatanmu sendiri."

"BOHONG!" Lenna berteriak histeris. "Aku kehilangan semuanya karena KAMU! Kalau bukan karena kamu, aku masih akan jadi bagian keluarga Adisaputra! Aku masih akan jadi istri Kak Arkan!"

"Kamu tidak pernah jadi istrinya, aku yang istrinya secara hukum, secara agama. Kamu cuma obsesi gila yang dia biarkan tumbuh terlalu lama."

Lenna maju dengan pisau, tapi Dara tidak mundur.

"Maju lagi, dan aku pastikan kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini dengan kaki sendiri," kata Dara dingin, suara dokter mafia yang pernah mengancam musuh.

Lenna terdiam, ada sesuatu dalam tatapan Kiara yang membuatnya takut. "Kamu... kamu bukan Kiara yang dulu..."

"Aku Kiara yang selamat dari racunmu, yang selamat dari upaya pembunuhanmu, yang selamat dan jadi lebih kuat." Dara melangkah maju membalik situasi, sekarang dia yang mengancam. "Dan sekarang aku beri kamu dua pilihan."

"Pilihan apa..."

"Satu... kamu pergi sekarang, hilang dari hidupku, dan aku tidak akan lapor polisi. Dua... kamu tetap di sini dan aku pastikan kamu masuk penjara untuk percobaan pembunuhan, penganiayaan dan semua kejahatan yang kamu lakukan."

Lenna gemetar, pisau di tangannya bergetar. "Tapi... tapi aku tidak punya tempat lain..."

"Itu bukan masalahku." Dara menatapnya tanpa belas kasihan. "Kamu dewasa, kamu buat pilihan buruk. Sekarang kamu tanggung konsekuensinya."

"Kumohon..." Lenna jatuh berlutut, menangis. "Kumohon jangan usir aku... aku tidak tahu harus ke mana..."

"Seharusnya kamu pikirkan itu sebelum mencoba bunuh aku."

Arkan dan Regan mendekat siap mengamankan Lenna. Tapi Dara mengangkat tangannya menghentikan mereka.

"Lenna," katanya pelan tapi tegas. "Pergi. Sekarang, ini kesempatan terakhirmu. Kalau aku lihat kamu lagi di mana pun, kapan pun, aku tidak akan kasih ampun lagi."

Lenna menatapnya dengan mata penuh air mata lalu akhirnya berdiri, menjatuhkan pisau, dan berlari keluar.

Menghilang dalam kegelapan.

Mungkin selamanya.

1
Dewi Sri
author nya jenius
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!