NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kaelen Menyusup

Sisa Jejak di Balik Bayangan

Aroma hutan pinus yang dibawa Kaelen perlahan-lahan memudar, kalah oleh bau anyir darah dan sisa-sisa kulit yang menghangus di udara penjara yang pengap. Aurelia masih terpaku menatap lubang ventilasi di langit-langit yang kini telah tertutup rapat kembali, menyisakan kesunyian yang terasa lebih berat daripada rantai besi yang melilit pergelangan tangannya. Di bawah keremangan cahaya fajar yang baru saja menyelinap masuk melalui celah pintu sel, bayangan Jenderal Asteria itu seolah masih tertinggal, meninggalkan rasa sesak yang aneh di dada Aurelia. Ia memejamkan mata, mencoba menstabilkan getaran di tangannya yang bukan lagi disebabkan oleh rasa takut, melainkan oleh sisa-sisa emosi manusiawi yang ia paksa untuk tunduk.

"Kau terlalu lembut, Kaelen," bisiknya pada kegelapan, suaranya pecah seperti gesekan batu. "Kesetiaanmu adalah duri yang bisa menusuk kita berdua jika kau tidak belajar untuk melihatku sebagai senjata, bukan lagi sebagai putri yang harus kau dekap."

Ia merasakan denyut di punggungnya, tepat di titik luka bakar lamanya, mulai berubah frekuensinya. Panas yang ia serap dari anglo penyiksaan tadi malam kini telah terkonsentrasi sepenuhnya di sana, menciptakan sebuah titik gravitasi energi yang aneh. Rasanya seperti ada sebongkah bara abadi yang dijahit ke dalam dagingnya, berdenyut searah dengan detak jantungnya. Setiap denyutan itu mengirimkan gelombang rasa sakit yang tajam, namun Aurelia menerimanya dengan senyum getir. Luka itu kini bukan lagi sekadar saksi bisu penghianatan Valerius yang membakarnya hidup-hidup, melainkan gerbang kekuatan Void yang mulai matang.

"Tahan... jangan biarkan panas ini menguap," batinnya memerintah pada sel-sel tubuhnya sendiri.

Pintu sel berderit pelan. Langkah kaki yang terdengar bukan lagi langkah berat para penjaga yang haus akan penyiksaan fisik. Ini adalah langkah kaki yang ringan, penuh kehati-hatian, namun menyimpan aroma pengkhianatan yang sudah sangat akrab di indra penciuman Aurelia. Rina, pelayan kecil yang selama ini terjepit di antara rasa takut dan tugas, masuk membawa baki kayu berisi semangkuk bubur encer dan segelas air yang tampak keruh.

"Tuan Putri... Anda masih hidup?" suara Rina bergetar hebat saat ia melihat kondisi Aurelia yang mengenaskan, dengan luka-luka baru yang masih memerah dan uap tipis yang sesekali keluar dari pori-porinya.

"Seperti yang kau lihat, Rina. Api rupanya belum cukup lapar untuk menelanku malam ini," sahut Aurelia tanpa membuka mata, suaranya terdengar datar dan dingin, membuat Rina tersentak mundur hingga air di gelasnya tumpah sedikit.

"Nyonya Elena... beliau bertanya-tanya mengapa tidak ada teriakan dari ruangan ini semalam. Penjaga yang bertugas melaporkan bahwa Anda... Anda seolah-olah menghisap panas itu," Rina meletakkan baki itu di lantai dengan tangan yang gemetar. "Mereka ketakutan, Putri. Mereka bilang Anda sudah dirasuki iblis."

"Iblis?" Aurelia membuka matanya perlahan, memperlihatkan kilatan ungu yang sangat redup namun tajam di pupilnya. "Katakan pada mereka, Rina. Iblis yang sebenarnya adalah mereka yang menikmati bau daging terbakar di pesta taman. Aku hanyalah cermin yang memantulkan kembali kegelapan mereka."

"Apa yang harus saya lakukan, Putri? Saya tidak ingin Anda mati, tapi Nyonya Elena terus menanyakan informasi tentang setiap gerak-gerik Anda," bisik Rina sambil berlutut, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa bersalah yang amat dalam.

"Kau akan terus melaporkan apa yang ingin dia dengar, Rina. Katakan padanya aku sekarat. Katakan padanya setiap napas yang kuambil adalah ratapan rasa sakit yang tak tertahankan," Aurelia menatap Rina dengan intensitas yang membuat pelayan itu tertunduk. "Dan sebagai imbalannya, pastikan kau mencari tahu siapa saja orang-orang berjubah hitam yang sering masuk ke paviliun Elena setelah tengah malam. Itu adalah tugasmu yang sebenarnya."

"Orang-orang berjubah... maksud Anda para penyihir itu?" tanya Rina dengan suara yang nyaris hilang.

"Bukan sekadar penyihir. Mereka adalah parasit yang memberi makan ambisi Elena dengan sihir hitam yang busuk," Aurelia menarik napas panjang, menahan perih yang menusuk perutnya. "Pergilah sebelum penjaga lain melihatmu terlalu lama di sini. Dan Rina... jangan pernah mencoba memberikan ramuan penyembuh apa pun padaku. Aku butuh luka-luka ini tetap terlihat segar untuk saat ini."

"Tapi Putri, Anda bisa terkena demam hebat! Luka-luka itu..." Rina mencoba memprotes, namun terhenti saat melihat tangan Aurelia yang masih terikat rantai bergerak sedikit, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Lakukan saja apa yang kuperintahkan jika kau ingin keluargamu di pinggiran kota tetap bernapas," potong Aurelia dengan nada absolut. "Aku tidak butuh belas kasihan. Aku butuh kepatuhan."

Rina mengangguk cepat, lalu bergegas keluar dari sel dengan langkah seribu, meninggalkan Aurelia kembali dalam kesunyian fajar yang pucat. Aurelia menatap bubur di baki itu dengan rasa jijik. Ia tahu Rina mungkin telah diperintahkan untuk memasukkan racun ringan di sana, sebuah taktik lama Elena untuk melemahkan kesadaran korbannya. Namun, bagi Aurelia yang kini memiliki Void di nadinya, racun itu hanyalah partikel molekul yang bisa ia bedah dan ia netralisir dengan mudah.

Ia mulai memusatkan pikirannya pada informasi yang diberikan Kaelen sebelum ksatria itu pergi. Sekte gelap. Jadi benar, Elena telah menjual jiwanya pada entitas yang lebih tua dan lebih berbahaya demi mempertahankan posisinya di samping Valerius. Aurelia bisa merasakan kemarahan yang dingin mulai membeku di hatinya. Kekaisaran ini tidak hanya dipimpin oleh seorang pembunuh yang paranoid, tapi juga sedang digerogoti oleh kekuatan yang bisa mematahkan segel dunia.

"Valerius, kau sungguh buta," gumamnya sambil mencoba menggerakkan bahunya yang kaku. "Kau menghancurkan Asteria karena takut pada kekuatanku, tapi kau membiarkan seekor ular berbisa tidur di ranjangmu, memakan fondasi takhtamu sendiri."

Suara langkah kaki kembali terdengar dari kejauhan lorong, kali ini lebih berat dan teratur. Aurelia segera mengatur ekspresi wajahnya. Ia membiarkan kepalanya terkulai ke samping, mengatur napasnya agar terdengar pendek dan tersengal-sengal, serta meredupkan seluruh sirkulasi energinya hingga ia tampak seperti seonggok daging yang hampir kehilangan nyawa. Persona putri tawanan yang hancur harus tetap terjaga dengan sempurna.

Dua orang prajurit elit dengan zirah perak berlogo matahari hitam—pasukan pribadi kaisar—berdiri di depan sel. Mereka tidak membawa cambuk atau besi panas. Salah satu dari mereka membawa sebuah gulungan perkamen dengan segel lilin berwarna emas yang sangat dikenali oleh Aurelia. Itu adalah segel pribadi Kaisar untuk urusan hukum tertinggi.

"Elara dari Asteria," ucap salah satu prajurit dengan nada formal yang kering. "Kaisar telah memberikan titahnya. Karena tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Selir Utama Elena telah mencapai sidang agung, Anda diperintahkan untuk hadir di ruang sidang saat matahari mencapai puncaknya hari ini."

Aurelia tidak menjawab secara verbal. Ia hanya memberikan erangan kecil yang terdengar sangat menderita, matanya terbuka sedikit, menatap mereka dengan tatapan yang seolah-olah sudah kehilangan harapan.

"Bangunlah! Jangan berpura-pura mati sekarang!" prajurit itu menyentakkan rantai di tiang kayu, membuat tubuh Aurelia terseret sedikit. "Kau harus membersihkan dirimu. Kaisar tidak ingin ada bau busuk di ruang sidangnya yang agung."

"Sidang...?" bisik Aurelia, aktingnya sempurna. "Apakah... apakah ini saatnya aku... dihukum mati?"

"Itu tergantung pada seberapa pintar kau membual di depan dewan hakim, Putri," prajurit itu mencibir sambil memberi isyarat pada rekannya untuk membuka kunci sel. "Tapi dengan bukti yang sudah disiapkan Nyonya Elena, aku sarankan kau mulai memikirkan kata-kata terakhirmu."

Aurelia membiarkan mereka melepaskan ikatannya di tiang kayu. Begitu tangannya terlepas, ia jatuh tersungkur ke lantai batu yang dingin, sengaja memperlihatkan kelemahannya. Dalam hati, ia sedang menghitung setiap detik, setiap tarikan napas mereka. Ia bisa merasakan detak jantung para prajurit itu melalui resonansi Void yang ia sebarkan secara tipis di lantai.

"Bawa dia ke pemandian tawanan. Beri dia pakaian yang layak sebagai putri kerajaan yang kalah, tapi pastikan luka-lukanya tetap terlihat jelas. Biarkan semua orang di sidang melihat apa yang terjadi pada mereka yang mencoba melawan kehendak kekaisaran," perintah salah satu prajurit itu.

Saat mereka menyeretnya keluar dari sel, Aurelia sempat melirik ke arah sudut gelap di koridor. Ia melihat bayangan Rina yang sedang mengintip dengan wajah pucat. Aurelia memberikan satu kedipan mata yang hampir tidak terlihat, sebuah sinyal rahasia bahwa permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di dalam dadanya, bara energi termal yang ia simpan mulai bergejolak, seolah-olah tahu bahwa beberapa jam lagi, ia akan bertemu kembali dengan pria yang telah membakar hidupnya di masa lalu.

"Valerius," batinnya sambil menahan perih saat punggungnya bergesekan dengan kain kasar yang dikenakan prajurit padanya. "Siapkan dirimu. Ruang sidangmu yang agung itu akan menjadi tempat di mana kebenaran yang pahit mulai merambat seperti api yang tak bisa kau padamkan."

Ia dibawa menuju area pemandian yang gelap, di mana air dingin yang menusuk tulang disiramkan ke tubuhnya secara kasar. Setiap tetesan air yang mengenai luka bakarnya terasa seperti sayatan belati baru, namun Aurelia menggunakannya untuk mempertajam fokus mentalnya. Ia tidak melawan, ia tidak mengeluh. Ia membiarkan dirinya diperlakukan seperti barang tak bernyawa, sementara pikirannya sibuk menyusun setiap argumen, setiap jebakan informasi yang akan ia lepaskan di ruang sidang nanti.

"Garam itu... aku butuh garam itu di tanganku sebelum sidang dimulai," pikirnya teringat pada bungkusan kecil yang ia sembunyikan di dalam lipatan kain rahasia yang ia jahit sendiri sebelum penangkapan. Ia harus memastikan rute pengantarannya melalui Rina berjalan lancar tanpa terdeteksi oleh sihir deteksi istana.

Prajurit itu memberikan sehelai gaun linen berwarna putih kusam, pakaian tradisional bagi tawanan bangsawan yang akan menghadapi pengadilan. Gaun itu tipis, sengaja dirancang agar bekas-bekas penyiksaan di lengan dan pundak Aurelia terlihat oleh publik, sebuah upaya penghinaan visual untuk meruntuhkan martabatnya di depan para bangsawan.

"Pakai ini. Dan jangan coba-coba melakukan hal bodoh, atau aku akan mematahkan kakimu sebelum kau sampai di tangga istana," ancam prajurit itu sambil melemparkan pakaian itu ke wajah Aurelia.

Aurelia mengenakan gaun itu dengan gerakan yang gemetar, mempertahankan persona lemahnya. Namun, di balik kain putih itu, tangannya mengepal kuat. Ia bisa merasakan energi Void di dalam tubuhnya mulai sinkron dengan ritme pernapasannya, mencapai level stabilitas yang ia butuhkan untuk manuver pertama.

"Dilema martabat ini... sungguh menggelikan," pikirnya sambil menatap pantulan wajahnya yang pucat di permukaan air pemandian yang keruh. "Mereka ingin aku terlihat seperti korban yang hancur, tapi mereka tidak sadar bahwa dengan memperlihatkan luka ini, mereka justru sedang menunjukkan bukti kejahatan mereka sendiri kepada dunia."

Ia teringat kata-kata Kaelen tentang pengikut setianya yang menunggu di luar tembok kota. Ia tidak bisa membawa mereka masuk sekarang. Belum saatnya. Ia harus memenangkan perang di dalam ruangan tertutup ini terlebih dahulu sebelum memanggil pasukannya untuk meratakan tembok-tembok ini.

"Fajar sudah berakhir," gumamnya saat melihat cahaya matahari mulai menguat, menembus jendela kecil di ruang pemandian. "Sekarang, mari kita lihat seberapa besar nyali yang kau punya, Valerius, saat kau harus menatap mata wanita yang kau pikir sudah menjadi abu sepuluh tahun yang lalu."

Prajurit itu kembali merantainya, kali ini dengan rantai perak yang memiliki ukiran sihir penekan elemen—sebuah tindakan pencegahan standar bagi tawanan yang memiliki garis keturunan penyihir Asteria. Mereka tidak tahu bahwa sihir Void Aurelia tidak bekerja pada prinsip elemen konvensional, sehingga rantai perak itu tidak lebih dari sekadar perhiasan berat yang tidak berguna untuk menekan kekuatannya.

Langkah kaki Aurelia kini menuju ke arah tangga besar yang menuju ke lantai atas istana. Semakin ia naik, aroma kemewahan mulai menggantikan bau penjara. Karpet beludru merah, pilar-pilar marmer yang dipoles, dan aroma dupa mahal yang menyengat hidung. Setiap langkahnya adalah pengingat akan kehidupannya yang dulu, sebuah kehidupan yang ia cintai namun berakhir dalam pengkhianatan yang paling keji.

"Berdiri tegak! Jangan memalukan kaisar dengan berjalan seperti cacing!" bentak penjaga saat mereka sampai di depan pintu besar ruang sidang agung yang terbuat dari kayu jati berlapis emas.

Aurelia menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi Void mengalir ke kakinya untuk memberinya kekuatan berdiri tanpa gemetar yang berlebihan. Ia mendongakkan kepalanya, memastikan rambut peraknya yang sedikit kotor menutupi sebagian wajahnya, memberikan kesan misterius sekaligus mengenaskan.

"Aku siap," bisik Aurelia, bukan kepada penjaga itu, melainkan kepada takdir yang sedang ia kendalikan.

Pintu besar itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh ratusan bangsawan, menteri, dan jenderal yang duduk di bangku bertingkat. Di tengah ruangan, di atas takhta emas yang tinggi, duduklah Valerius. Pria itu tampak lebih tua, dengan gurat paranoia yang lebih jelas di wajahnya, namun tetap memiliki aura kekuasaan yang mengintimidasi. Di sampingnya, duduk Elena dengan gaun sutra berwarna merah darah, wajahnya tampak angkuh namun ada kegelisahan yang tersembunyi di balik riasan tebalnya.

Kehadiran Elara di ambang pintu seketika membuat seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi: jijik, kasihan, penasaran, dan kebencian. Namun Aurelia hanya memiliki satu target. Ia menatap lurus ke arah Valerius, menembus jarak yang memisahkan mereka.

"Lihat aku, Valerius," batinnya dengan nada yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah. "Lihatlah sisa-sisa kehancuran yang kau ciptakan, dan bersiaplah untuk melihatnya bangkit untuk merenggut segalanya darimu."

Ia diseret menuju tengah ruangan, dipaksa berlutut di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah kaki takhta Valerius. Suara dengung bisik-bisik dari para bangsawan mulai terdengar kembali, seperti suara ribuan serangga yang mengganggu.

"Kaisar yang agung, pembawa cahaya kekaisaran," suara seorang menteri hukum menggema di ruangan itu. "Tawanan perang dari Asteria, Elara, telah dibawa ke hadapan Anda untuk menjawab tuduhan pengkhianatan dan percobaan pembunuhan terhadap Selir Utama Elena menggunakan racun terlarang."

Valerius tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Elara yang bersimpuh di bawahnya. Untuk sesaat, Aurelia melihat kilatan kebingungan di mata pria itu—sebuah kilatan yang sama seperti semalam saat mereka bertemu di penjara.

"Angkat kepalamu, Elara," suara Valerius terdengar berat dan berwibawa, namun Aurelia bisa merasakan getaran kecil ketidakyakinan di dalamnya. "Aku ingin melihat wajah wanita yang katanya begitu berani mencoba merenggut nyawa selirku di istanaku sendiri."

Aurelia mengangkat kepalanya secara perlahan. Rambutnya tersibak, memperlihatkan wajahnya yang pucat namun memiliki sorot mata yang begitu tajam dan berwibawa sehingga beberapa bangsawan di barisan depan secara tidak sadar membuang muka.

"Aku tidak memiliki keberanian untuk membunuh, Kaisar," ucap Aurelia dengan suara yang tenang namun bergetar karena efek luka fisiknya. "Aku hanya memiliki keberanian untuk bertahan hidup di tengah badai kebohongan yang kau biarkan menyelimuti istana ini."

"Beraninya kau bicara seperti itu di depan Yang Mulia!" teriak Elena sambil berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena marah. "Bukti sudah jelas! Pelayanmu sendiri yang menemukan botol racun itu di kamarmu!"

Aurelia melirik Elena dengan tatapan menghina. "Pelayan yang kau suap dengan emas dari kas negara, Elena? Atau pelayan yang kau ancam akan kau potong lidahnya jika tidak mengikuti naskah sandiwaramu?"

Kehebohan pecah di ruang sidang. Para bangsawan mulai berdiskusi dengan suara keras. Valerius mengangkat tangannya, memerintahkan keheningan. Matanya kini menatap Elara dengan intensitas yang lebih dalam, seolah sedang mencari sesuatu di balik wajah putri tawanan itu.

"Kau menuduh Selir Utama melakukan fitnah, Elara?" tanya Valerius dengan nada yang berbahaya. "Itu adalah tuduhan yang sangat serius. Jika kau tidak bisa membuktikannya, hukumanmu tidak lagi sekadar penjara, tapi eksekusi di depan publik besok fajar."

"Kematian bukanlah sesuatu yang aku takuti, Valerius. Aku sudah pernah merasakannya sekali," sahut Aurelia dengan subteks yang begitu kuat sehingga Valerius tampak sedikit tersentak di takhtanya. "Tapi apakah kau cukup berani untuk melihat kebenaran yang tersembunyi di balik mawar-mawar indah yang kau tanam di tamanmu?"

Elena tampak semakin gelisah. Ia melirik ke arah salah satu menteri, memberikan isyarat agar sidang segera diputuskan. Namun Aurelia tidak akan memberikan mereka kesempatan itu. Ia tahu, di saku gaunnya, bungkusan kecil berisi garam khusus dari Rina sudah berada di sana, siap untuk ia gunakan sebagai pemicu dalam rencananya.

"Kaisar, izinkan aku memberikan satu pertanyaan saja kepada Selir Utama sebelum kau menjatuhkan hukuman," pinta Aurelia, suaranya tetap stabil meskipun ia merasa energi Void-nya mulai bereaksi dengan aura sihir hitam yang memancar dari tubuh Elena.

"Pertanyaan apa?" tanya Valerius, rasa penasarannya kini mengalahkan paranoianya.

"Tanyakan padanya, Kaisar... mengapa mawar di paviliunnya tidak pernah layu meskipun musim gugur telah tiba? Dan mengapa setiap malam, aroma belerang tercium dari sana, mengalahkan wangi mawar yang ia banggakan?" Aurelia melemparkan umpan itu dengan presisi seorang ahli strategi.

Elena memucat. Ia mencoba tertawa, namun suaranya terdengar cengeng dan dipaksakan. "Itu konyol! Semua orang tahu aku menggunakan sihir elemen tanah untuk menjaga tanamanku! Jangan mencoba mengalihkan perhatian dengan omong kosong tentang belerang!"

"Sihir elemen tanah... ataukah pasokan energi dari entitas yang tidak seharusnya ada di dunia ini?" desis Aurelia, kini ia mulai berdiri perlahan meskipun dirantai, martabatnya yang absolut mulai memancar keluar, membuat suasana di ruang sidang menjadi sangat berat dan menyesakkan.

Valerius menyipitkan matanya. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Paranoianya yang selama ini diarahkan kepada Elara, kini mulai bergeser arah. Ia menoleh ke arah Elena yang kini tampak gemetar, bukan karena sedih, tapi karena ketakutan yang tertangkap basah.

"Duduklah, Elena," perintah Valerius dengan nada dingin yang membuat seluruh ruangan merinding. "Sidang ini baru saja dimulai, dan aku ingin mendengar setiap detail yang akan dikatakan oleh putri tawanan ini."

Aurelia tersenyum dalam hati. Umpannya telah dimakan. Ia bisa merasakan resonansi Void-nya mulai menyerap energi kecemasan di ruangan itu, memperkuat fisiknya yang lemah. Ini adalah langkah pertamanya untuk menghancurkan posisi Elena, dan ia tidak akan berhenti sampai selir itu merasakan kehancuran yang sama seperti yang pernah ia rasakan dulu.

"Mari kita bicara tentang bukti yang sebenarnya, Kaisar," ucap Aurelia sambil merogoh sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah gerakan yang membuat para penjaga langsung menghunuskan pedang mereka ke arahnya. "Tapi sebelumnya, biarkan aku menunjukkan padamu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh wanita di sampingmu ini."

Suasana di ruang sidang mencapai titik didih. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan, hanya suara detak jantung kolektif yang terdengar. Aurelia berdiri tegak, rantai di tangannya bergemerincing pelan, namun ia tidak lagi terlihat seperti tawanan. Di bawah cahaya lampu kristal yang mewah, ia tampak seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis pada mereka yang telah berdosa.

Manifestasi di Ruang Sidang

Ketegangan di ruang sidang itu seolah-olah bisa diiris dengan belati. Valerius menatap tangan Aurelia yang bergerak perlahan menuju lipatan gaunnya, matanya menyipit penuh kecurigaan sekaligus obsesi yang tidak bisa ia jelaskan. Para penjaga di sisi kanan dan kiri Elara telah menempelkan ujung pedang mereka ke leher jenjang sang putri, namun Aurelia tidak bergeming. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kain kusam yang tadi diselundupkan oleh Rina melalui jalur pengiriman makanan di penjara.

"Apa itu, Elara? Apakah kau mencoba meracuni seluruh orang di ruangan ini sekarang?" bentak Panglima Vane yang duduk di barisan militer, suaranya menggelegar berusaha memecah dominasi atmosfer yang diciptakan Aurelia.

"Ini adalah jawaban atas paranoia kalian, Panglima," sahut Aurelia tanpa menoleh. Ia membuka bungkusan itu, memperlihatkan butiran garam kristal yang tampak biasa namun memiliki pendaran kebiruan yang sangat tipis jika terkena cahaya lampu kristal. "Ini adalah garam dari tanah Asteria. Bagi kalian, ini mungkin hanya bumbu dapur yang tidak berharga. Namun bagi mereka yang menggunakan sihir hitam dari kedalaman Void, ini adalah racun yang akan mengungkap wajah asli mereka."

Elena tertawa nyaring, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan mengandung nada histeris yang tidak bisa ia sembunyikan. "Garam? Kau ingin membuktikan kesucianmu dengan garam dapur? Valerius, lihatlah betapa gila dan putus asanya dia! Dia sudah kehilangan akal sehatnya karena siksaan semalam!"

Valerius tidak ikut tertawa. Ia justru bangkit dari takhtanya, melangkah turun satu per satu anak tangga marmer dengan gerakan yang lambat dan mengintimidasi. Setiap langkah sepatunya yang berbahan kulit naga mengeluarkan bunyi ketukan yang berat, seolah-olah sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki oleh orang-orang di ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan Aurelia, dipisahkan oleh dua bilah pedang penjaga yang masih menyentuh kulit Elara.

"Jelaskan padaku, Elara," suara Valerius merendah, sebuah tanda bahwa ia sedang dalam puncak ketidaksabarannya. "Bagaimana garam ini bisa membuktikan bahwa Elena berbohong? Jika kau gagal, aku sendiri yang akan memastikan lidahmu dipotong di sini, di depan dewan hakim."

Aurelia menatap langsung ke dalam mata Valerius. Ia tidak melihat seorang suami di sana, melainkan seorang pria yang telah kehilangan jiwanya karena ketakutan. "Sihir hitam yang digunakan untuk memanipulasi pikiran seseorang—seperti yang dilakukan Elena padamu selama bertahun-tahun—membutuhkan medium yang tidak stabil di udara. Garam ini memiliki sifat menyerap energi residu tersebut. Jika aku menebarkannya, dan warna garam ini berubah menjadi hitam pekat, itu artinya ruangan ini dipenuhi oleh manipulasi sihir dari seseorang yang duduk sangat dekat denganmu."

"Omong kosong!" teriak Elena, ia ikut turun dari panggung, mencoba meraih tangan Valerius. "Jangan dengarkan dia! Dia sedang mencoba menyihirmu dengan kata-katanya!"

"Diam, Elena!" bentak Valerius tanpa menoleh. Ia memberikan isyarat pada penjaga untuk menurunkan pedang mereka. "Lakukan, Elara. Tebarkan garam itu."

Aurelia mengambil sejumput garam dengan jemarinya yang masih bergetar akibat luka bakar semalam. Ia memejamkan matanya sesaat, melakukan sinkronisasi dengan energi Void di punggungnya. Ia tidak menggunakan Void untuk menyerang, melainkan untuk memperkuat sifat absorpsi dari garam tersebut. Dengan satu gerakan elegan yang mengingatkan semua orang pada cara mendiang Permaisuri Aurelia menaburkan kelopak bunga di upacara suci, ia menebarkan butiran garam itu ke udara di antara dirinya, Valerius, dan Elena.

Seketika, fenomena yang tidak masuk akal terjadi. Butiran-butiran putih itu tidak jatuh ke lantai. Mereka melayang sejenak di udara, berputar-putar seperti ditarik oleh arus yang tidak terlihat. Warna putih bersih itu tiba-tiba tersentak, berubah menjadi abu-abu, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi sehitam jelaga yang pekat. Udara di sekitar Elena mendadak mendingin, dan aroma mawar yang tadi sangat harum kini berubah menjadi bau busuk belerang yang menyesakkan paru-paru.

"Apa ini...?" gumam seorang hakim agung yang duduk paling dekat, wajahnya memucat ketakutan.

"Itu adalah warna dari pengkhianatan yang kau peluk setiap malam, Valerius," ucap Aurelia dengan nada yang sangat tajam. "Sihir hitam Elena telah mengakar di ruangan ini. Botol racun yang ditemukan di kamarku bukanlah racun untuk membunuhnya, melainkan penawar yang aku buat secara rahasia untuk menyembuhkanmu dari pengaruh sihirnya. Dia memfitnahku karena dia takut kau akan kembali sadar!"

Elena gemetar hebat, wajahnya yang tadi cantik kini tampak mengerikan dengan urat-urat kebiruan yang muncul di pelipisnya—efek samping dari sihir hitam yang bereaksi negatif terhadap kehadiran garam suci Asteria. "Tidak... ini tipuan! Dia menggunakan sihir Void! Dia sendiri yang membawa kegelapan ini!"

Aurelia melangkah maju, meskipun kakinya terasa sangat nyeri. Ia mendekati Elena hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa inci. "Aku menggunakan Void untuk mengungkap kebenaran, Elena. Sedangkan kau... kau menggunakan kegelapan untuk memuaskan keserakahanmu. Lihatlah tanganmu sendiri. Lihatlah bagaimana sihir yang kau banggakan itu mulai memakanmu kembali."

Semua mata tertuju pada tangan Elena. Jemari selir utama itu mulai menghitam, sebuah tanda bahwa kontraknya dengan entitas gelap mulai tidak stabil karena terdeteksi oleh frekuensi murni dari garam Asteria. Kekacauan pecah di ruang sidang. Para bangsawan berdiri dari kursi mereka, berteriak ketakutan dan bingung. Valerius menatap tangannya sendiri, lalu menatap Elena, dan terakhir menatap Elara dengan ekspresi yang hancur.

"Elena... apakah ini benar?" tanya Valerius, suaranya bergetar dengan kemarahan yang bisa meledak kapan saja.

"Valerius, aku melakukannya untuk kita! Aku melakukannya agar kau tidak lagi dihantui oleh bayangan Aurelia!" teriak Elena, secara tidak sengaja mengakui kejahatannya di depan seluruh dewan.

Kata "Aurelia" yang keluar dari mulut Elena seolah-olah menjadi pukulan telak bagi Valerius. Ia mundur satu langkah, wajahnya menunjukkan rasa muak yang luar biasa. Ia menatap Elara—yang kini berdiri tegak dengan martabat yang tak tergoyahkan meskipun tubuhnya penuh luka—dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat kebenaran yang selama ini tertutup kabut sihir.

"Tangkap dia," perintah Valerius dengan suara dingin yang mematikan, menunjuk ke arah Elena. "Seret dia ke penjara terdalam. Dan pastikan tidak ada seorang pun yang mendekatinya sampai aku memutuskan hukuman apa yang pantas untuk seorang penghianat yang berani memanipulasi kaisarnya."

"Valerius! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah istrimu! Aku yang menemanimu saat kau hancur!" Elena meronta saat para penjaga elit, yang kini juga merasa tertipu, mencengkeram lengannya dengan kasar dan menyeretnya keluar dari ruang sidang. Teriakan Elena menggema di lorong-lorong istana, perlahan-lahan menghilang, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyesakkan di dalam ruangan.

Aurelia menarik napas panjang, membiarkan energi Void-nya kembali tenang. Ia merasa tubuhnya hampir mencapai batas maksimal. Luka-luka bakar di lengannya yang tadi ia paksakan untuk tetap terbuka kini mulai mengeluarkan darah lagi, membasahi gaun putih tawanannya hingga berubah menjadi kemerahan yang mengerikan. Ia terhuyung, namun sebelum ia jatuh ke lantai, sepasang tangan yang kuat menangkap bahunya.

Valerius menahannya. Kaisar itu menatap Elara dengan tatapan yang dipenuhi oleh ribuan pertanyaan. "Siapa kau sebenarnya, Elara dari Asteria? Garam itu, cara bicaramu, bahkan cara kau menatapku... tidak mungkin seorang putri yang lemah sepertimu memiliki kekuatan ini."

Aurelia menatap Valerius, membiarkan sedikit rasa lelah kemanusiaannya terlihat. "Aku adalah korban dari keangkuhanmu, Valerius. Dan aku adalah satu-satunya orang yang tersisa yang bisa menyelamatkan kekaisaran ini dari kegelapan yang kau undang sendiri."

Valerius terdiam, jemarinya mencengkeram bahu Elara dengan erat, seolah-olah takut wanita di depannya akan menghilang menjadi asap jika ia melepaskannya. "Sidang dibubarkan!" teriak Valerius kepada seluruh orang di ruangan itu tanpa melepaskan pandangannya dari Elara. "Bawa dia ke paviliun mawar. Panggil tabib terbaik. Jika dia kehilangan satu tetes darah lagi karena kelalaian kalian, aku akan memenggal kepala kalian semua."

Para bangsawan keluar dengan terburu-buru, meninggalkan ruangan itu hanya menyisakan Valerius dan Aurelia di tengah marmer yang dingin. Di sudut bayangan pilar, Aurelia sempat melihat sekilas ujung jubah hitam yang bergerak pergi—ia tahu itu adalah Kaelen yang sejak tadi mengawasi dari balik bayangan. Ksatria itu tetap tinggal untuk memastikan keselamatannya, sebuah janji setia yang membuat hati Aurelia sedikit menghangat di tengah kedinginan Void yang ia peluk.

"Jangan berpikir ini sudah berakhir, Valerius," bisik Aurelia saat para pelayan mulai mendekat untuk membawanya pergi. "Elena hanyalah permulaan. Sekte yang memberinya kekuatan masih ada di luar sana, dan mereka tidak akan senang karena mainan mereka telah kau hancurkan."

"Aku tidak peduli pada sekte mana pun saat ini," sahut Valerius, matanya terlihat merah karena emosi yang tertahan. "Aku hanya peduli pada jawaban yang kau sembunyikan di balik matamu itu."

Aurelia membiarkan dirinya dibawa pergi oleh para pelayan menuju paviliun mewah yang dulu pernah ia tinggali sebagai permaisuri. Saat ia melewati ambang pintu ruang sidang, ia menoleh ke belakang sekali lagi, menatap takhta emas yang kini tampak begitu sepi dan rapuh. Ia telah memenangkan pertempuran pertama. Elena telah jatuh, dan Valerius kini berada di bawah pengaruh rasa bersalahnya sendiri—sebuah posisi yang jauh lebih mudah dimanipulasi daripada saat ia berada di bawah sihir hitam.

Sesampainya di paviliun mawar, Aurelia dibaringkan di atas ranjang sutra yang sangat lembut. Aroma lavender yang menenangkan memenuhi ruangan, sebuah kontras yang tajam dengan bau belerang penjara. Tabib istana segera bekerja dengan gemetar, mengobati luka-luka bakar di tubuhnya dengan salep herbal yang mendinginkan. Aurelia membiarkan mereka bekerja, sementara pikirannya sudah melompat ke langkah berikutnya.

"Analisis Void-ku harus segera mencapai tahap berikutnya," batinnya sambil memejamkan mata. "Aku butuh informasi lebih banyak dari Kaelen tentang lokasi pertemuan sekte itu. Elena hanyalah pion, dan Valerius... dia hanyalah jembatan yang harus kulalui."

Ia merasakan jiwanya yang tadi bergejolak mulai masuk ke dalam fase meditatif yang dalam. Luka di punggungnya berdenyut pelan, seolah-olah sedang mencerna energi termal yang tersisa dari garam hitam tadi. Ia tahu, meskipun ia menang secara politik hari ini, tubuh Elara yang lemah ini telah membayar harga yang sangat mahal. Tangannya kini mulai terasa sedikit mati rasa, sebuah tanda bahwa sihir Void mulai mengklaim saraf-saraf fisiknya sebagai imbalan atas kekuatan yang ia pinjam.

"Satu per satu, semua akan kembali ke tempat yang seharusnya," gumamnya sebelum akhirnya kesadarannya mulai memudar karena kelelahan yang luar biasa.

Di luar paviliun, angin musim gugur bertiup kencang, menggugurkan kelopak-kelopak mawar yang selama ini dipelihara dengan sihir hitam. Di bawah sinar matahari yang mulai condong ke barat, kekaisaran yang tampak megah itu kini sedang berdiri di atas retakan yang sangat dalam, menunggu satu sentuhan lagi dari sang Ratu yang bangkit dari abu untuk hancur sepenuhnya.

Fajar telah lama berlalu, namun bagi Aurelia, matahari baru saja mulai terbit untuk menerangi jalan pembalasannya. Ia tertidur dengan sebuah janji yang terukir di jiwanya: bahwa tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi belas kasihan, hanya akan ada keadilan yang dingin dan absolut bagi mereka yang telah mencuri kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!