"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Detak yang Tertinggal di Ambang Sunyi
BAB 18: Detak yang Tertinggal di Ambang Sunyi
Suara denging panjang dari monitor jantung itu masih menggema di telinga Rangga, memekakkan telinga dan menghancurkan setiap sisa harapan yang ia miliki. Kamar Melati di Sanatorium Adiguna itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah-olah maut baru saja mengisap seluruh kehangatan dari ruangan itu.
Rangga berdiri terpaku di sudut ruangan. Tangannya yang masih memegang tumpukan uang kusam hasil kerja kerasnya bergetar hebat. Ia melihat dokter dan dua perawat mulai membereskan peralatan medis. Mereka menundukkan kepala, memberikan tanda penghormatan terakhir bagi jiwa yang baru saja lepas dari raga yang rapuh itu.
"Maafkan kami, Pak Rangga. Kami sudah melakukan yang terbaik. Tubuh Nona Arini sudah terlalu lelah untuk menerima beban pengobatan lebih lanjut," ucap Dokter Bram dengan nada suara yang rendah dan penuh empati.
Rangga tidak menjawab. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang tidak memiliki pintu keluar. Ia melangkah maju, kakinya terasa berat seperti terikat rantai besi. Langkah demi langkah ia seret hingga sampai tepat di samping tubuh Arini yang kini ditutupi kain putih.
"Keluar," bisik Rangga.
"Tapi Pak, kami harus segera memindahkan jenazah—"
"AKU BILANG KELUAR!" teriak Rangga dengan suara yang pecah. Amarahnya meledak, bukan pada mereka, melainkan pada ketidakberdayaannya sendiri. "Berikan aku waktu sendirian dengannya. Satu menit... satu detik saja... tolong."
Dokter Bram memberi isyarat kepada para perawat untuk meninggalkan ruangan. Pintu kayu putih itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, meninggalkan Rangga dalam kesunyian yang mematikan bersama wanita yang baru saja ia sadari adalah seluruh hidupnya.
Rangga perlahan membuka kain putih yang menutupi wajah Arini. Wajah itu tampak sangat tenang. Tidak ada lagi kerutan menahan sakit di dahinya. Tidak ada lagi napas yang tersengal. Arini terlihat seperti sedang tidur lelap, menunggu sebuah kecupan untuk bangun kembali. Namun, bibir yang biasanya memberikan senyuman manis itu kini sudah memucat kebiruan.
"Bangun, Rin... kumohon bangun," isak Rangga. Ia menjatuhkan kepalanya di atas dada Arini yang diam. "Aku belum sempat minta maaf. Aku belum sempat bilang kalau aku tidak pernah membencimu. Aku tahu kamu berbohong, aku tahu kamu berkorban untukku, tapi kenapa kamu membiarkanku menjadi pria paling brengsek di dunia?"
Rangga menangis sejadi-jadinya. Air matanya membasahi baju pasien Arini. Ia memeluk tubuh dingin itu, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri, berharap detak jantungnya bisa berpindah dan menghidupkan kembali wanita itu.
"Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, Rin. Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Kamu tahu aku akan kembali menjadi sampah jika kamu tidak ada untuk memegang tanganku. Bangun, Sayang... bangun!"
Menit-menit berlalu dalam kedukaan yang sangat pekat. Namun, di tengah isak tangis Rangga yang putus asa, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi. Tangan Arini yang sedang digenggam Rangga terasa berkedut. Sangat tipis, seolah-olah hanya imajinasi Rangga yang gila.
Rangga tersentak. Ia mengangkat kepalanya. Matanya yang memerah menatap lekat pada jemari Arini.
Kedut.
Jari manis Arini bergerak sekali lagi. Rangga terdiam, ia menahan napasnya sampai dadanya terasa sakit. Ia menempelkan telinganya di dada Arini yang semula diam. Di sana, di balik tulang rusuk yang kurus itu, terdengar sebuah bunyi yang sangat samar.
Dug... dug...
Satu detakan. Sangat lemah, sangat lambat, tapi nyata.
"DOKTER! DOKTER BRAM! DIA MASIH HIDUP! DOKTER!" teriak Rangga bagaikan orang kesurupan. Ia berlari ke arah pintu dan menariknya hingga terbuka lebar. "CEPAT! DIA BERGERAK! JANTUNGNYA BERDETAK LAGI!"
Tim medis yang belum jauh dari kamar itu segera berlari masuk kembali. Mereka terkejut. Kejadian Lazarus Syndrome atau kembalinya detak jantung secara spontan setelah resusitasi dihentikan adalah fenomena langka, namun bukan tidak mungkin.
"Pasang kembali monitornya! Cepat!" perintah Dokter Bram.
Ruangan itu kembali menjadi medan perang. Kabel-kabel kembali ditempelkan, masker oksigen kembali dipasang dengan aliran maksimal. Monitor jantung menunjukkan garis yang tidak lagi datar. Meskipun sangat tidak beraturan, garis itu mulai membentuk gelombang-gelombang kehidupan yang lemah.
Beep... beep... beep...
Rangga berdiri di sana, menatap Arini dengan harapan yang kembali membuncah namun juga dengan ketakutan yang luar biasa. Ia melihat Dokter Bram memeriksa pupil mata Arini dan memberikan suntikan adrenalin tambahan.
Setelah tiga puluh menit yang penuh dengan ketegangan, Dokter Bram berbalik menatap Rangga. Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan, melainkan sebuah kepedihan yang baru.
"Dia kembali, Rangga. Detak jantungnya kembali," ujar dokter itu.
Rangga hampir luruh ke lantai karena lega. "Terima kasih, Tuhan... terima kasih..."
"Tapi, Rangga... dengarkan aku dulu," Dokter Bram memegang bahu Rangga dengan kuat. "Kondisi otaknya sudah mengalami kekurangan oksigen yang terlalu lama saat jantungnya berhenti tadi. Ditambah lagi kankernya sudah mencapai saraf pusat. Dia tidak bangun. Arini berada dalam kondisi koma yang sangat dalam."
Rangga tertegun. "Koma? Sampai kapan?"
"Secara medis, kita tidak tahu. Bisa besok, bisa bulan depan, atau bisa selamanya seperti ini. Dia hidup hanya karena bantuan mesin. Tubuhnya ada di sini, tapi kesadarannya... dia sedang berada di tempat yang sangat jauh yang tidak bisa kita jangkau."
Rangga menatap Arini yang kini dikelilingi oleh lebih banyak selang dan mesin daripada sebelumnya. Ia berjalan mendekat dan kembali menggenggam tangan wanita itu. Kali ini, ia tidak akan melepaskannya.
"Tidak apa-apa," bisik Rangga, suaranya kini dipenuhi tekad yang membaja. "Biarkan dia tidur. Aku akan menjaganya. Aku akan menunggu satu hari, seribu hari, atau seumur hidupku sampai dia bangun kembali. Aku akan menjadi napasnya."
Malam itu, di bawah temaram lampu Sanatorium, Rangga tidak pulang. Ia memindahkan seluruh pekerjaan kantornya ke ruangan kecil di samping kamar Arini. Ia menghubungi Maya, sekretarisnya, dan memberikan instruksi yang sangat rahasia.
"Maya, siapkan tim hukum terbaik. Aku ingin melakukan audit total terhadap seluruh pengeluaran yayasan milik Ibuku. Dan satu lagi, aku ingin membeli Sanatorium ini secara pribadi. Pastikan nama Ibuku dihapus dari seluruh dokumen kepemilikan tempat ini besok pagi," perintah Rangga melalui telepon.
"Tapi Pak Rangga, itu akan memulai perang terbuka dengan Ibu Sarah," Maya memperingatkan dari balik telepon.
"Perang sudah dimulai sejak dia mencoba membunuh Arini secara perlahan," jawab Rangga dingin. "Aku tidak peduli lagi pada hubungan darah. Jika dia mencoba menyentuh Arini lagi, aku sendiri yang akan mengantarnya ke penjara."
Rangga mematikan teleponnya. Ia menatap tumpukan uang kusam yang masih ada di atas meja. Uang itu sekarang ia simpan di dalam sebuah kotak kaca kecil, seolah-olah itu adalah berlian yang paling berharga di dunia.
Ia berjalan ke arah ranjang Arini, mengusap pipi wanita itu yang kini terasa sedikit hangat karena aliran darah yang kembali mengalir.
"Rin, kamu sudah berjuang untuk mengembalikan takhtaku dengan mengorbankan perasaanmu sendiri," bisik Rangga. "Sekarang, giliran aku yang berjuang. Aku akan membangun kerajaan yang akan menjagamu selamanya. Tidak akan ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi penghinaan, dan tidak ada lagi Ibu Sarah yang bisa memisahkan kita."
Rangga tahu, perjuangannya kali ini akan jauh lebih berat. Ia harus menghadapi ibunya yang memiliki kekuasaan besar, ia harus mengelola perusahaan yang sedang ia bajak dari dalam, dan di atas semua itu, ia harus bertarung melawan waktu dan medis untuk mengembalikan kesadaran Arini.
Namun, Rangga bukan lagi pria lemah yang hanya bisa menangis di gudang logistik. Ia adalah Rangga Adiguna yang telah terlahir kembali dari api penyesalan. Setiap detak monitor jantung Arini adalah bahan bakar bagi jiwanya yang kini telah menjadi sekeras baja.
Di luar, badai pesisir Jawa mulai mereda. Ombak masih menghantam karang, namun kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti tangisan, melainkan seperti janji seorang pria yang tidak akan pernah ingkar pada cintanya.
"Selamat tidur, Putri Maluku-ku," gumam Rangga sambil mencium jemari Arini. "Tidurlah sampai kamu merasa cukup. Saat kamu bangun nanti, aku sudah menyiapkan dunia yang indah untukmu."