Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12# Kesalahan
Keheningan yang menyelimuti camp Saka setelah keberhasilan Rayden melumpuhkan monster di luar ternyata hanyalah sebuah fatamorgana yang mematikan. Di dalam gua, cahaya biru dari perisai baru yang dipasang Naya dan Dokter Luz berpendar dengan sangat cantik, memberikan rasa aman yang palsu bagi sepuluh remaja di dalamnya. Leo sudah mulai bisa bernapas dengan teratur di atas ranjang jeraminya, sementara Cicilia duduk di sampingnya. Namun, di balik dinding panel energi yang baru saja diperbaiki, sebuah kesalahan fatal sedang bekerja dalam diam.
Tiba-tiba, suara dengungan pelindung yang tadinya halus berubah menjadi jeritan logam yang memekakkan telinga. ZAP! KRTAK! Cahaya biru itu berkedip hebat sebelum akhirnya padam total.
"Ada apa?! Kenapa pelindungnya mati?!" teriak Rick sambil menyambar tombaknya.
Belum sempat ada yang menjawab, dinding batu di mulut gua hancur berkeping-keping. Empat ekor Phenix Omega merangsek masuk dengan beringas. Mereka seolah-olah sudah menunggu saat perisai itu mengalami kegagalan teknis. Camp Saka yang selama sembilan tahun menjadi tempat perlindungan Harry, kini hancur dalam hitungan detik. Meja-meja hancur, persediaan makanan terinjak-injak, dan api unggun berhamburan menciptakan bara yang beterbangan di udara.
"Semuanya, ambil senjata! Lawan mereka!" perintah Arlo dengan suara lantang.
Naya terpaku di depan panel energi. Matanya membelalak melihat kabel berwarna merah yang seharusnya masuk ke slot utama justru terpasang di slot pembuangan panas. "TIDAK! Aku salah colok... aku keliru!" teriak Naya dengan suara bergetar karena panik. Ia menyadari bahwa kecerobohannyalah yang membuat perisai itu mengalami short circuit.
"Naya, jangan diam saja! Kita harus memperbaikinya!" teriak Dokter Luz yang langsung menarik tangan Naya menuju kotak panel di tengah kekacauan.
Arlo melihat monster-monster itu mulai menyebar. "Zephyr, Harry, Rick! Tahan mereka! Jangan biarkan mereka mendekati pondok medis!" Arlo kemudian menoleh ke arah Cicilia dan Lira. "Cicilia, Lira! Cepat bawa Leo ke tempat sembunyi di belakang!"
Lira dan Cicilia segera merangkul tubuh Leo yang masih sangat lemah. Namun, seekor Phenix Omega dengan gerakan yang sangat cepat melompati barikade dan mendarat tepat di depan mereka. Lira mencoba menghadapi makhluk itu dengan sebilah pisau pendek, namun ia terhempas keras ke dinding gua hingga tak sadarkan diri.
Kini hanya tersisa Cicilia dan Leo. Cicilia mengangkat busur panahnya, namun monster itu menghantam busurnya hingga patah dan mencengkeram bahu Cicilia. Saat rahang monster itu terbuka untuk mengoyak leher Cicilia, Leo dengan sisa tenaga terakhirnya melompat dan menghujamkan potongan kayu ke mata monster itu.
"LARI, CICILIA!" teriak Leo.
Monster itu mengerang dan melepaskan Cicilia, namun kemarahannya kini beralih pada Leo. Dengan satu gerakan kilat, rahang besar monster itu mencengkeram pinggang Leo.
"LEO!!! TIDAK!" jerit Cicilia histeris.
Monster itu tidak berlama-lama; ia segera berbalik dan berlari keluar dari gua sambil membawa tubuh Leo yang terkulai. Tepat saat itu, Naya berhasil menyambungkan kabel yang benar. BZZZZZZZT! Perisai biru kembali menyala. Berbeda dengan monster, manusia bisa menembus perisai ini dari dalam, sehingga Arlo, Rick, dan Cicilia langsung berlari keluar untuk mengejar.
Namun, langkah mereka terhenti di ambang kabut. Di bawah cahaya redup hutan, mereka melihat monster itu membanting tubuh Leo ke batang pohon besar dengan kekuatan yang mengerikan, lalu menancapkan cakar tajamnya tepat ke arah dada Leo. Dari jarak mereka berdiri, terlihat cairan merah menyembur dan tubuh Leo berhenti bergerak seketika. Monster itu kemudian menyeret tubuh Leo yang tak bernyawa masuk ke dalam kegelapan kabut yang sangat pekat, menghilang dalam hitungan detik.
"TIDAKKKKK! LEOOO!" Rick meraung, namun ia ditarik mundur oleh Harry karena kawanan monster lain mulai bermunculan dari balik pohon. Mereka terpaksa mundur kembali ke dalam gua dengan hati yang hancur. Di mata mereka, dan di mata siapa pun yang melihat kejadian itu, Leo telah tewas dengan cara yang paling brutal.
Begitu mereka kembali ke dalam rongsokan camp, keheningan yang menyakitkan menyergap. Cicilia jatuh berlutut, menatap tangannya yang masih berlumuran sedikit darah Leo. Matanya kemudian beralih ke arah Naya yang masih berdiri gemetar di depan panel.
Rick berjalan mendekati Naya dengan mata merah penuh amarah. Ia mencengkeram kerah baju Naya dan mengangkatnya. "KAU! INI SEMUA KARENA KAU!" teriak Rick. "Kau bilang kau pintar! Karena kecerobohanmu, Leo mati dicabik-cabik di depan mata kami!"
Cicilia pun bangkit, wajahnya dipenuhi kebencian yang mendalam. "Kau membunuhnya, Naya. Seharusnya kau tidak pernah menyentuh alat itu! Aku benci padamu!"
Naya hanya bisa menangis sesenggukan, ia jatuh berlutut dan menutupi wajahnya. "Aku minta maaf... aku benar-benar keliru..." gumamnya berulang-ulang, sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Leo.
Arlo segera melerai Rick. "Sudah cukup, Rick! Lepaskan dia! Ini kecelakaan!" Sementara itu, Zephyr mendekati Naya dan merangkulnya. "Naya, berhenti menyalahkan dirimu. Jika kau tidak memperbaikinya, kita semua akan berakhir seperti dia. Kau sudah melakukan yang terbaik."
Di sisi lain, Rayden mengalami keruntuhan mental total. Sifatnya yang penakut kini mencapai puncaknya. Ia melihat kematian Leo sebagai pertanda akhir bagi mereka semua. Rayden mulai kehilangan akal, ia mondar-mandir sambil menarik-narik rambutnya sendiri.
"Kita akan mati... kita semua akan berakhir seperti Leo! Tidak ada gunanya!" Rayden mulai menangis kejar, tangisan histeris yang memilukan. Ia meringkuk di lantai, memeluk lututnya, dan terus menggumamkan nama Leo dengan suara gemetar.
Malam itu di Saka, tidak ada api unggun yang hangat. Yang ada hanyalah suara tangis Cicilia, gumaman ketakutan Rayden, dan rasa bersalah Naya yang menyelimuti seluruh gua. Mereka semua berduka atas gugurnya Leo, sang pahlawan yang mengorbankan nyawanya demi Cicilia.
Arlo duduk di samping Zephyr, menatap ke arah hutan. "Kita harus berangkat besok," bisik Arlo. "Kita harus mengakhiri ini sebelum ada lagi yang menjadi korban."