Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan sentuh barang gue!
*
Bangunan rumah berlantai tiga, nuansa cat putih begitu megah saat Jessie a.k.a Raya memandangnya. Dia terpukau, ini pertama kali dirinya menginjakkan kaki di rumah sebesar ini.
"Kak Jessie." Seseorang menghampirinya, sedikit takut untuk menatap.
Jessie mengernyit bingung, ia tidak mengenalnya. Tuan Ardi bersama Nyonya Linda istrinya saling tatap sejenak. Lalu Nyonya Linda beralih menatap Jessie.
"Jessie, dia Vira adik kamu." Jelas Nyonya Linda.
"Adik?" Beo Jessie, dia mengira pemilik tubuh ini anak tunggal tapi ternyata mempunyai adik.
Vira juga mengernyit, ia bingung kenapa Mamanya memperkenalkannya? Memang kakaknya tidak ingat?
"Vira, kakak kamu setelah kecelakaan ingatannya sedikit terganggu. Jadi dia agak lupa sama kamu." Nyonya Linda memberi penjelasan sebelum Vira bertanya.
Vira mengangguk paham, sejujurnya ia takut jika Jessie akan kembali memarahi dirinya karena bersikap sok akrab. Selama ini hubungan mereka tidak baik.
"Maaf ya dek, kakak melupakanmu. Tapi itu gak lama kok, sebentar lagi pasti pulih ingatan kakak." Ujar Jessie lembut, ia mencoba bersikap ramah agar mereka tidak curiga jika ini bukanlah pemilik tubuhnya.
Namun justru sikap ramah Jessie membuat mereka terkejut, sejak kapan Jessie ramah pada adik tirinya? Dan apa tadi? Kakak? Dia menyebut dirinya kakak dan Vira sebagai adiknya?
"A-aku gak salah dengar? Kak Jessie manggil aku dek?" Tanya Vira, menetralkan rasa terkejutnya.
Pertanyaan itu semakin tidak di mengerti Jessie, Mamanya bilang jika Vira adiknya, jadi apa yang salah saat dirinya memanggil adek?
Tuan Ardi berdehem mencairkan suasana "Jessie, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu pasti lelah."
"Ah iya, biar Mama antar ke kamarmu." Timpal Nyonya Linda mengajaknya.
Jessie mengangguk, dia masih bingung, tapi lebih baik untuk sekarang beristirahat saja. Nanti bisa ia tanyakan pada pemilik tubuh yang asli. Tapi--... Apa dia berani bertanya? Menatap saja sudah takut di terkam.
Akhirnya Nyonya Linda mengantarkan Jessie ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan Vira sendiri masih mencerna apa yang terjadi.
Tuan Ardi mengerti kebingunan anak tirinya itu "Papa rasa kakakmu setelah kecelakaan berubah jadi lebih baik. Kamu bisa mencoba mendekatinya agar kalian lebih akrab lagi." Ujarnya.
"Iya Pa. Aku juga ingin dekat sama kak Jessie. Dulu jangankan dekat, mengobrol saja rasanya gak pernah." Balas Vira teringat sikap acuh Jessie "Aku gak akan nyerah sampai kak Jessie menganggapku adiknya."
Tuan Ardi tersenyum, membelai rambut Vira "Kamu pasti bisa."
Vira mengangguk mantap "Aku tahu, meskipun dulu kak Jessie cuek dan gak suka sama aku, tapi dia gak pernah main kasar sama aku. Padahal di sekolah kak Jessie sering membully, tapi itu ternyata gak berlaku untukku. Aku yakin, suatu saat kak Jessie bisa menerimaku."
Kini Jessie sudah berada dalam kamarnya, Nyonya Linda pun langsung pergi agar Jessie bisa beristirahat.
Jessie berjalan, menatap sekeliling kamar dengan tatapan penuh kagum. Dapat ia lihat kasur King size yang sangat empuk, sofa panjang, televisi di dvd, meja belajar, violet dengan cermin besar yang mejanya penuh alat makeup, skincare, juga banyak parfum.
Jessie mengambil salah satu parfum lalu menyemprotkan ke tangan dan mengendusnya "Wangi sekali." Ia kembali meraih parfum lain kemudian melakukan hal sama lagi "Wanginya enak, kayaknya juga tahan lama. Pasti mahal."
Ia meletakkan parfum dan kembali melihat seisi kamar. Ada satu ruangan khusus, ia masuk. Ternyata itu walk in closet, berisi banyak pakaian limited edition, tas branded, sepatu branded yang semuanya tersusun rapi dalam etalase besar. Pandangannya terpaku, menatap banyaknya perhiasan, mulai dari anting, cincin, gelang, kalung serta mahkota dan semua itu terbuat dari berlian.
Di dekat walk in closet ada kamar mandi, ia melangkah masuk. Lagi dan lagi di buat terpukau, kamar mandinya sangat besar, ada shower berbagai jenis, bathtub besar, lalu wc duduk yang terbatas dengan dinding kaca dari kamar mandi. Banyak berbagai jenis sabun mandi, shampo, juga beberapa cuci muka khusus. Semuanya lengkap seperti yang di jual dalam toko. Ahhh yaa, ada satu yang tidak ada disana.... Gayung.
Jessie menghela nafas panjang "Seberapa kaya keluarganya?"
Setelah keluar dari toilet, pandangannya kembali terpaku melihat sesuatu di dekat meja belajar. Ia baru menyadarinya. Etalase berisi beberapa piala serta piagam yang di tersusun rapi. Ia mengambil salah satu.
"Juara satu lomba pencak silat antar provinsi." Ia membacanya, lalu meletakkan dan membaca lainnya "Juara lomba maraton, Lulusan terbaik antar SD, juara satu lomba menggambar tingkat SMP, Juara satu lomba cerdas cermat tahun ajaran 2018, 2019, 2020."
"Juara satu lomba cerdas cermat tingkat Nasional tahun 2021." Bacanya lagi sangat terkejut. "Dia menang lomba cerdas cermat berturut turut mulai dari tingkat SD hingga SMP."
Jessie merasa tidak percaya, pasalnya di sekolah pemilik tubuh ini nilainya biasa saja seperti siswa lainnya. Apa mungkin kalah saing dengan siswa lain? Karena sekarang ini SMA, sedangkan itu terakhir menang saja waktu SMP. Pikirnya.
Tidak mau ambil pusing. Ia duduk di atas kasur yang empuk, terasa nyaman. Cukup melelahkan berkeliling kamar, luasnya saja hampir seluas rumah milik ibunya.
Seketika wajahnya masam kala teringat ibunya, bagaimana kondisi ibunya? Apakah pemilik tubuh barunya itu menjaga ibunya? Bahkan dia tahu bagaimana kejamnya cewek itu saat di sekolah, lalu apa yang akan terjadi pada ibunya?
Ia teringat sesuatu, segera mengambil handphone barunya dan menekan nomor yang ia hafal.
*
*
Raya yang sedang terbaring melepaskan lelah terganggu kala mendengar suara dering handphone. Raya mengernyit melihat nomor tidak di kenal, tapi sepertinya dia bisa menebak siapa penelfon ini. Ia duduk dan langsung mengangkatnya.
"Hallo Jes--..."
"Lo?!!" Sentak Raya begitu mendengar suaranya "Kenapa baru menelfon Ha?! Lo tau gue udah nunggu dari kemarin tapi lo gak nelfon gue. Lo sengaja ya? Lo mau nikmatin kekayaan gue, lo mau lupain perjanjian kita Ha?!" Omel Raya alias Jessie bersungut sungut.
Jessie a.k.a Raya langsung mengelus telinganyanya cepat. Baru saja tersambung sudah mendengar rap super cepat menyandingi artis Eminem.
"Woi bisu lo? Ngomong!" Sentaknya lagi.
"Iya maaf." Ujar Jessie meminta maaf "Aku gak bisa menghubungimu sejak kemarin karna di ruanganku ada yang jagain. Nanti bisa curiga."
"Alasan." Seru Raya tidak percaya "Kan lo bisa ke toilet dulu atau chat gue cupu."
"Maaf, lupa." Cicitnya.
Raya menghembuskan nafas kasar, tidak ada gunanya terus mengomel.
"Lo udah pulang kan?" Tanya Raya sedikit mengurangi emosi.
"Iya sudah." Balasnya.
"Jangan sentuh barang gue!" Titah Raya seakan tidak terbantahkan.
Jessie menelan ludah. Ia baru saja menyentuh piala miliknya dan mencoba beberapa parfum.
"Kalau gak sentuh, berarti aku gak ganti baju?" Tanya Jessie dengan tampang polosnya.
Ingin sekali Raya mengumpat, tapi di tahan "Ya oke, kecuali pakaian." Balasnya.
"Aku mandi gak pakai sabun?" Tanya Jessie lagi.
"Lo pake lah, itu tubuh gue. Jangan sampe bau." Jawab Raya kesal.
"Jadi boleh pakai parfum juga? Boleh ku nyalakan tvnya? Terus apa aku boleh tidur di kasurmu?" Tanya Jessie berturut turut.
Raya yang mendengar itu ingin sekali mendatangi dia dan menguburnya hidup hidup.
"Ya oke fine, lo boleh sentuh dan pakai barang gue. Tapi ingat! Jangan sampai rusak." Seru Raya akhirnya mengalah, bagaimanapun Jessie a.k.a Raya yang asli memakai tubuhnya. Mana tega dia membiarkan tubuhnya bau atau sengsara jika tidur di lantai.
Jessie langsung tersenyum "Aku akan menjaga barangmu."
"Besok lo datang kesini." Titah Raya tegas.
"Kemana?"
"Ke rumah lo sendiri beg*." Sentaknya.
Jessie langsung kicep "Besok gak sekolah?" Ia memberanikan diri bertanya.
"Gak. Berangkat lusa aja." Balas Raya.
"Tapi kenapa aku harus kesana? Bagaimana jika--..."
"Lo gak usah banyak bac*t bisa gak?! Gue bilang kesini ya kesini." Raya semakin emosi.
"Iya baiklah." Jessie berpasrah.
"Sekalian bawa dompet gue. Pasti ada sama lo kan?"
"Iya ada, aku akan membawanya besok." Balas Jessie.
"Oke, itu aja. Gue--..." Raya hendak menutup sambungan telefonnya.
"Tunggu Jes--..." Jessie alias Raya asli menghentikannya "Aku ingin tanya sama kamu."
"What?"
"Apa Ibu baik baik saja?" Tanya Jessie teringat ibunya, dia takut Jessie asli melukai ibunya karena dia terkenal pembully "Kamu tidak membuat masalah disana kan?"
"Lo pikir gue biang kerok ha?!" Raya berseru tidak terima, Jessie langsung terdiam "Nyokap lo fine aja. Gak usah berlebihan, gue juga tau batasan." Jawabnya kemudian, nadanya sedikit merendah.
"Terimakasih." Balas Jessie tersenyum.
"Gue tu--..." Ucapan Raya terhenti saat mendengar sesuatu dari luar kamarnya.
"Kenapa?" Jessie mengernyit bingung.
Raya tidak menjawab, ia melangkah keluar kamar membiarkan sambungan telefon terus berjalan. Jessie semakin kebingungan.
Raya mendekati asal suara yang berasal dari kamar sebelahnya, ia di kejutkan seseorang yang mengacak lemari ibunya. Sedangkan Bu Indah sendiri mencoba mencegah namun pria paruh baya itu tetap mengacak seisi lemari.
"Waahh ada maling siang bolong." Gumam Raya kemudian mematikan sambungan telfonnya.
"Maling?" Jessie sedikit mendengarnya, ia tidak tahu maksud Raya "Hal--...Hallo... Yahh di matiin. Sebenarnya ada apa?"
Jessie berpikir keras maksud ucapan Raya, mana mungkin ada maling siang begini. Sepersekian detik kemudian, matanya membulat sempurna "Jangan-jangan dia--..."
...----------------...