Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
Begitu aku lihat Yukhaejang, restoran tempat aku bakal ketemu Farris, aku berhenti jalan.
Aku melihat ke sekeliling jalan, mencari R8 yang pernah aku lihat dia kendarai, tapi mobilnya enggak ada di mana-mana.
Aku tarik HP dan mengecek jam. Hampir jam enam, tapi enggak mungkin aku masuk ke restoran cuma buat dimarahin.
Aku menunggu beberapa menit, waktu jam menunjukkan lewat enam dan enggak ada tanda-tanda mobil Farris, perasaan aneh mulai muncul di perutku.
Aku mendekat ke restoran cuma buat memastikan dia enggak ada di sini, lalu mengintip lewat jendela.
Saat aku enggak melihat Farris, aku sadar, betapa aku sebenarnya menunggu kencan ini.
Aku bahkan pakai rok dan stocking buat dia. Aku enggak pernah nyaman pakai sepatu hak, dan aku kesal karena sudah repot-repot dandan buat kencan ini.
Aku berbalik dan jalan lagi ke arah halte sambil kirim pesan ke dia.
...📩...
Eva: Kamu bisa aja kasih kabar buat batalin, daripada aku harus nunggu kayak gini.
Aku kaget waktu lihat dia langsung baca pesannya, dan aku langsung berhenti berjalan.
Belum sampai sedetik, HPku mulai berdering.
...📞...
"Hai."
^^^"Bisa jelasin pesan yang kamu kirim?"^^^
Dengar suaranya yang dalam itu, bikin aku merinding.
"Udah jam enam dua puluh, dan kamu enggak ada di sini."
^^^"Aku ada. Kamu di mana?"^^^
Kaget, aku berbalik dan mulai jalan balik ke restoran.
"Aku enggak lihat mobil kamu dan kamu juga enggak duduk di meja mana pun."
^^^"Kamu di mana?"^^^
Dia tanya lagi.
"Satu blok dari restoran."
Farris langsung menutup telepon.
Sambil memasukkan HP ke saku, aku enggak bisa menahan senyum, karena dia ternyata enggak membohongi aku.
Beberapa detik kemudian, Farris keluar dari restoran dan lihat ke sekeliling jalan. Begitu matanya menemukan aku, dia enggak menunggu lama dan langsung jalan ke arahku.
Enggak seperti jas yang biasa dia pakai, sekarang dia pakai jeans hitam pudar dan sweater abu-abu gelap yang kelihatan santai.
Begitu dia cukup dekat buat ngobrol, aku bilang, "Maaf, aku kira kamu ninggalin aku."
Tanpa ngomong apa-apa, lengannya melingkar di punggungku. Aku ditarik ke dadanya dan bibirnya langsung menempel ke bibirku.
Yang bisa aku lakukan cuma pegang lengannya saat dia cium aku sampai aku kehabisan napas.
Saking intensnya, aku sampai lupa ada orang di sekitar dan enggak dengar suara kota.
Waktu dia berhenti, dia mundur sedikit sampai mata kita bertemu. Tangannya naik ke wajahku dan ibu jarinya menyentuh bibir bawahku.
Begitu aku akhirnya bisa mikir lagi, aku bertanya, "Itu tadi buat apa?"
"Aku cuma mau mastiin enggak ada salah paham di antara kita. Aku ingin kenal kamu lebih jauh, dan satu kali tarian enggak cukup buat aku."
"Oke."
Farris pegang tanganku dan mengajakku ke restoran. Begitu masuk, aku lihat sekeliling dan berpikir kalau tempat ini pasti mahal.
Tapi ya, semua juga mahal buat aku.
Waktu dia bawa aku ke ruangan privat, aku mengerti kenapa tadi enggak bisa melihat dia duduk di meja mana pun. Hampir terasa kayak aku masuk ke hutan.
Dari bambu dengan lampu lembut dan hangat yang berasal dari lentera.
"Cantik banget."
"Aku senang kamu suka." Farris berbisik sambil menarik kursi buat aku.
Seorang pelayan masuk dan tersenyum ke aku. "Boleh aku ambil jaket kamu, Nona?"
Wow.
Aku melepas jaket dan memberikannya ke dia.
Saat aku duduk, mata Farris menelusuriku dengan ekspresi puas. "Kamu cantik."
Aku melihat rok dan stocking aku, senang karena aku enggak pakai jeans, lalu bilang, "Makasih."
Pelayan datang menuangkan dua gelas yang aku kira Bir.
Aku kembali memperhatikan Farris dan menangkap dia sedang memperhatikanku.
Tiba-tiba merasa canggung, aku bergumam, "Jadi ... kita di sini."
Senyum seksi muncul di sudut bibirnya. "Kita di sini."
"Kamu pernah makan di sini sebelumnya?" tanyaku buat basa-basi.
Dia mengangguk sambil menjawab, "Teman aku pemiliknya. Dia juga salah satu chef terbaik, jadi siap-siap buat makanan terlezatnya." Dia berhenti sebentar. "Aku harap kamu enggak keberatan, tapi aku udah pesan menu spesialnya."
"Ah ... aku enggak keberatan."
Ya Tuhan, semoga bukan udang atau jenis makanan laut apa pun. Barang begitu membuatku merinding.
"Kemarin kamu ngapain?" tanya dia.
"Aku kerja." Aku sadar dia mau tanya kerjaan aku apa, jadi aku menambahkan, "Aku waitress di sebuah kedai."
"Yang buka 24 jam itu?" tanyanya.
Sial.
Jumat malam aku bilang ke dia kalau aku harus balik kerja, dan mungkin itu kenapa dia bertanya begitu.
Enggak suka harus berbohong, aku mengangguk.
Ada jeda dalam percakapan, lalu Farris bilang, "Ceritain tentang diri kamu."
Dan aku langsung blank. Aku enggak bisa mikirin hal menarik buat diceritakan, jadi aku tanya, "Kamu mau tahu apa?"
"Kamu punya saudara? Gimana hubungan keluarga kamu?"
Sambil tertawa kecil, aku mengambil gelas dan meneguk cairan berbuih yang jadi alkohol terenak yang pernah aku coba.
"Wow. Rasanya enak banget."
"Aku bakal menganggap dari tawa kamu kalau kamu enggak nyaman ngomongin keluarga kamu."
"Iya. Itu bukan topik favorit aku." Aku minum lagi lalu bilang, "Aku enggak tahu siapa Papaku, dan Mamaku ... Heemm, anggap aja hubungan kita enggak akur sama sekali."
Lidahku keluar buat mengumpulkan sisa tetesan di bibir, lalu aku bertanya, " Kalau kamu?"
Farris menarik napas dalam dan berkata, "Aku kehilangan orang tua aku waktu masih kecil."
"Aku turut berduka," gumamku. "Kamu punya keluarga lain?"
Dia menggeleng, tapi tanpa cerita soal mereka, dia mengganti topik dengan bertanya, "Kamu selalu suka nari?"
Aku mengangkat bahu sambil berpikir bagimana cara menjawabnya.
"Itu sekedar hobi yang bantu aku ngurangin stres."
"Cuma hobi? Kenapa kamu enggak jadi balerina aja?"
"Ya Tuhan, aku enggak bakal bisa lakuin itu. Aku udah lihat tekanan yang dialami para balerina. Hal begitu bukan buat aku. Lagian aku cuma pernah nari di depan dua orang. Tetangga aku ... sama kamu."
Kerutan langsung muncul di dahinya. "Tetangga kamu?"
Senyum lembut menyebar di wajahku. "Nasrin. Dia udah kayak Papa buat aku."
Kenangan masa lalu muncul di kepalaku, membuatku tertawa bahagia.
"Dulu, aku sering bikin pertunjukan kecil buat dia, dan dia bersorak tepuk tangan seakan-akan itu penampilan terbaik yang pernah dia lihat."
Pintu terbuka dan percakapan berhenti saat pelayan membawa makanan kami.
Sejauh ini, kencannya berjalan lebih baik dari yang aku harapkan. Aku harap aku enggak merusaknya karena aku sedang menikmatinya.
JD penasaran Endingnya