NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Sisa Luka Dari Botol Susu

    Sore itu, langit di atas kota Depok tampak muram, selaras dengan perasaan Saliha yang terjepit di antara harga diri dan kebutuhan perut.

    Ia duduk di kursi kayu di pojok ruang tengah rumah besar milik Kapten Daviko. Rumah itu berbau harum kayu cendana bercampur aroma bayi yang khas, tapi bagi Saliha, udara di sini terasa mencekik.

    Setiap kali matanya tak sengaja menatap foto pernikahan Daviko yang masih terpajang di sudut ruang, menampilkan Daviko yang gagah dengan seragam upacara bersanding dengan seorang wanita cantik yang tampak begitu lembut, hati Saliha seperti disayat sembilu.

​Ia merasa seperti pencuri. Pencuri yang masuk ke ruang suci milik wanita yang telah tiada.

    "Kenapa diam saja? Anakku sudah kenyang, bukan berarti kamu bisa melamun di rumahku." Suara bariton itu menggelegar, memecah keheningan.

     ​Saliha tersentak. Daviko berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada. Pangkat Kapten yang kini tersemat di bahunya seolah menambah jarak ribuan kilometer di antara mereka.

     Pria itu tidak lagi memandangnya dengan cinta yang dulu meluap-luap, melainkan dengan tatapan penuh penghakiman.

     ​"Maaf, Pak Kapten. Saya hanya...."

     ​"Saliha," potong Daviko cepat. "Jangan panggil aku seperti itu. Itu terdengar menjijikkan keluar dari mulutmu. Panggil saja seperti seharusnya seorang majikan dipanggil."

     ​Saliha menelan ludah yang terasa pahit. "Baik, Pak."

     ​Daviko melangkah mendekat, langkah sepatunya berdentum di atas lantai marmer. Ia berdiri tepat di depan Saliha, memberikan bayangan tubuh yang tinggi besar dan mengintimidasi.

     ​"Pekerjaanmu di sini hanya sampai jam empat sore setiap harinya. Aku tidak ingin kamu berada di rumah ini saat malam tiba. Meskipun aku membencimu, aku masih punya nurani. Aku sadar kamu punya keluarga, punya suami yang mungkin menunggumu pulang, dan punya anak sendiri yang butuh asupanmu," ucap Daviko dengan nada dingin yang datar.

     ​Dada Saliha berdenyut nyeri mendengarnya. Suami? Anak? Ingin rasanya Saliha berteriak bahwa tidak ada pria lain setelah Daviko pergi. Pria yang Daviko lihat di dalam mobil yang saat itu mengusap rambutnya, juga pergi setelah Daviko pergi dan memutuskannya.

    Lalu ASI yang kini membanjiri dadanya hingga terasa sesak dan panas, bukanlah hasil dari sebuah kelahiran, melainkan reaksi lain dari tubuhnya yang hancur karena depresi dan obat-obatan penenang.

Namun, lidahnya kelu. Jika ia mengaku bahwa ia belum menikah, bagaimana ia menjelaskan asal-usul ASI ini? Daviko pasti akan menganggapnya sebagai wanita gila atau pengguna obat-obatan terlarang.

     ​Saliha hanya bisa menunduk dalam, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang mulai memerah.

     "Satu lagi," lanjut Daviko, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. "Sebelum kamu pulang pukul empat nanti, peras semua sisa ASImu. Masukkan ke dalam botol-botol steril di dapur. Kaffara sering terbangun di tengah malam, dan aku tidak ingin dia kekurangan asupan hanya karena ibunya sudah tiada dan ibu susunya harus pulang ke rumah suaminya."

     ​Saliha mengangguk lemah. "Saya mengerti, Pak."

     ​"Bagus. Segera lakukan. Aku tidak suka orang yang lamban." Daviko berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang dulu sangat Saliha cintai, tapi kini hanya menjadi pengingat akan sumpah serapah yang pernah terucap.

     ​Saliha melangkah ke dapur dengan bahu merosot. Di sana, Bi Tita, asisten rumah tangga senior yang tampak iba padanya, sudah menyiapkan peralatan pompa elektrik. Saliha duduk di sudut dapur yang tertutup, mulai memompa ASInya sendiri.

     ​Zzzz... zzzz... bunyi mesin pompa itu seolah menjadi ritme bagi air matanya yang jatuh satu per satu.

     ​Dadanya yang tadi terasa kencang dan sesak kini mulai sedikit lega saat cairan putih itu mengisi botol demi botol. Ia memompa dengan penuh pengabdian, seolah-olah setiap tetes yang ia berikan adalah bentuk penebusan dosa atas masa lalu yang ia hancurkan sendiri.

    Ia membayangkan Kaffara Davi Belanegara, bayi merah yang malang itu. Bayi yang harus kehilangan ibu kandungnya di hari pertama ia menghirup udara dunia.

     ​"Sabar ya, Nak," bisik Saliha lirih pada botol-botol itu. "Setidaknya, lewat aku, kamu bisa tumbuh kuat."

     ​Setelah menyelesaikan lima botol penuh, Saliha merapikan pakaiannya. Ia berpamitan pada Bi Tita dengan suara yang hampir habis. Ia tidak melihat Daviko lagi. Pria itu mungkin sedang berada di ruang kerjanya atau sedang menemani Kaffara di kamar atas.

     ​Saliha melangkah keluar dari gerbang rumah megah itu dengan kaki yang terasa berat. Di tangannya, ia menggenggam uang muka yang diberikan Daviko secara kasar tadi siang, uang yang ia butuhkan untuk menyambung napas di Jakarta yang kejam ini.

     ​Perjalanan pulang menuju tempat kosannya di daerah padat penduduk terasa begitu panjang. Pikirannya melayang pada masa empat tahun lalu.

     Andai saja ia lebih berani melawan tradisi keluarganya, andai saja ia tidak membiarkan kakaknya menjadi alasan untuk menunda pernikahan, andai saja ia tidak tergoda bujukan pria lain, mungkin sekarang dialah yang berada di foto pernikahan itu. Mungkin dialah ibu dari Kaffara.

     ​Namun, kenyataan menghantamnya tepat saat ia sampai di ujung gang kosannya.

    ​Saliha terpaku. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Di atas tanah becek sisa hujan tadi siang, tumpukan barang-barang yang sangat ia kenali berserakan.

     Kasur lipatnya yang sudah tipis, kardus berisi pakaian-pakaian kantornya yang mulai usang, sebuah rice cooker tua, hingga tas berisi obat-obatan penenangnya, semuanya tergeletak tak beraturan seperti sampah.

​ "Saliha! Akhirnya datang juga!" seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga matahari keluar dengan wajah garang. Dia Ibu Kos.

     ​"Ibu... kenapa barang-barang saya di luar?" Suara Saliha bergetar hebat.

     "Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Sudah tiga bulan, Saliha! Tiga bulan kamu cuma janji-janji manis! Saya ini butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, bukan butuh dongeng sedihmu!" teriak wanita itu, menarik perhatian beberapa tetangga yang mulai berbisik-bisik di balik jendela.

     ​"Saya tadi baru dapat kerja, Bu. Ini... saya punya uangnya sekarang." Saliha merogoh tasnya dengan panik, mengeluarkan beberapa lembar uang yang tadi diberikan Daviko. "Ini, Bu, tolong terima dulu...."

     ​Ibu Kos menepis tangan Saliha hingga uang itu jatuh ke tanah yang basah. "Telat! Kamarmu sudah ditempati orang lain. Sore tadi mereka sudah bayar tunai untuk satu tahun. Sekarang, angkut semua sampahmu ini dari depan rumah saya. Saya tidak mau gerbang saya terlihat seperti tempat pembuangan akhir!"

     ​Brak!

     ​Pintu gerbang kosan itu ditutup dengan keras, meninggalkan Saliha yang berdiri mematung di tengah kerumunan kecil tetangga yang menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan jijik.

     ​Saliha jatuh terduduk di atas aspal. Ia memeluk lututnya, menatap barang-barangnya yang kini kotor terkena lumpur. Dunia benar-benar sedang menagih sumpah Daviko. Kamu tidak akan bahagia!

     ​Hujan mulai turun kembali, rintik-rintik yang perlahan menjadi deras. Saliha tidak bergerak. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup. Dadanya kembali berdenyut, bukan karena ASI yang penuh, tapi karena rasa sakit yang tak tertahankan.

     Di tengah derasnya hujan, di antara barang-barangnya yang hancur, Saliha menyadari satu hal yang paling menyakitkan, ia tidak punya tempat untuk pulang.

     ​Satu-satunya tempat yang memberinya sedikit rasa aman hari ini justru adalah rumah pria yang paling membencinya di dunia ini.

     ​Saliha terisak, suaranya tenggelam dalam deru hujan. Ia merasa seperti sebotol ASI yang ia tinggalkan di rumah Daviko, berguna, tapi hanya sebagai cadangan, dan akan segera dibuang jika sudah tidak dibutuhkan lagi.

Apa yang akan Saliha lakukan, pergi ke rumah pria itu atau tetap membiarkan dirinya luntang-lantung di jalanan dengan kesedihan menjalar jiwa?

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!