NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Sisa Luka Dari Botol Susu

    Sore itu, langit di atas kota Depok tampak muram, selaras dengan perasaan Saliha yang terjepit di antara harga diri dan kebutuhan perut.

    Ia duduk di kursi kayu di pojok ruang tengah rumah besar milik Kapten Daviko. Rumah itu berbau harum kayu cendana bercampur aroma bayi yang khas, tapi bagi Saliha, udara di sini terasa mencekik.

    Setiap kali matanya tak sengaja menatap foto pernikahan Daviko yang masih terpajang di sudut ruang, menampilkan Daviko yang gagah dengan seragam upacara bersanding dengan seorang wanita cantik yang tampak begitu lembut, hati Saliha seperti disayat sembilu.

​Ia merasa seperti pencuri. Pencuri yang masuk ke ruang suci milik wanita yang telah tiada.

    "Kenapa diam saja? Anakku sudah kenyang, bukan berarti kamu bisa melamun di rumahku." Suara bariton itu menggelegar, memecah keheningan.

     ​Saliha tersentak. Daviko berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap di dada. Pangkat Kapten yang kini tersemat di bahunya seolah menambah jarak ribuan kilometer di antara mereka.

     Pria itu tidak lagi memandangnya dengan cinta yang dulu meluap-luap, melainkan dengan tatapan penuh penghakiman.

     ​"Maaf, Pak Kapten. Saya hanya...."

     ​"Saliha," potong Daviko cepat. "Jangan panggil aku seperti itu. Itu terdengar menjijikkan keluar dari mulutmu. Panggil saja seperti seharusnya seorang majikan dipanggil."

     ​Saliha menelan ludah yang terasa pahit. "Baik, Pak."

     ​Daviko melangkah mendekat, langkah sepatunya berdentum di atas lantai marmer. Ia berdiri tepat di depan Saliha, memberikan bayangan tubuh yang tinggi besar dan mengintimidasi.

     ​"Pekerjaanmu di sini hanya sampai jam empat sore setiap harinya. Aku tidak ingin kamu berada di rumah ini saat malam tiba. Meskipun aku membencimu, aku masih punya nurani. Aku sadar kamu punya keluarga, punya suami yang mungkin menunggumu pulang, dan punya anak sendiri yang butuh asupanmu," ucap Daviko dengan nada dingin yang datar.

     ​Dada Saliha berdenyut nyeri mendengarnya. Suami? Anak? Ingin rasanya Saliha berteriak bahwa tidak ada pria lain setelah Daviko pergi. Pria yang Daviko lihat di dalam mobil yang saat itu mengusap rambutnya, juga pergi setelah Daviko pergi dan memutuskannya.

    Lalu ASI yang kini membanjiri dadanya hingga terasa sesak dan panas, bukanlah hasil dari sebuah kelahiran, melainkan reaksi lain dari tubuhnya yang hancur karena depresi dan obat-obatan penenang.

Namun, lidahnya kelu. Jika ia mengaku bahwa ia belum menikah, bagaimana ia menjelaskan asal-usul ASI ini? Daviko pasti akan menganggapnya sebagai wanita gila atau pengguna obat-obatan terlarang.

     ​Saliha hanya bisa menunduk dalam, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang mulai memerah.

     "Satu lagi," lanjut Daviko, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. "Sebelum kamu pulang pukul empat nanti, peras semua sisa ASImu. Masukkan ke dalam botol-botol steril di dapur. Kaffara sering terbangun di tengah malam, dan aku tidak ingin dia kekurangan asupan hanya karena ibunya sudah tiada dan ibu susunya harus pulang ke rumah suaminya."

     ​Saliha mengangguk lemah. "Saya mengerti, Pak."

     ​"Bagus. Segera lakukan. Aku tidak suka orang yang lamban." Daviko berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang dulu sangat Saliha cintai, tapi kini hanya menjadi pengingat akan sumpah serapah yang pernah terucap.

     ​Saliha melangkah ke dapur dengan bahu merosot. Di sana, Bi Tita, asisten rumah tangga senior yang tampak iba padanya, sudah menyiapkan peralatan pompa elektrik. Saliha duduk di sudut dapur yang tertutup, mulai memompa ASInya sendiri.

     ​Zzzz... zzzz... bunyi mesin pompa itu seolah menjadi ritme bagi air matanya yang jatuh satu per satu.

     ​Dadanya yang tadi terasa kencang dan sesak kini mulai sedikit lega saat cairan putih itu mengisi botol demi botol. Ia memompa dengan penuh pengabdian, seolah-olah setiap tetes yang ia berikan adalah bentuk penebusan dosa atas masa lalu yang ia hancurkan sendiri.

    Ia membayangkan Kaffara Davi Belanegara, bayi merah yang malang itu. Bayi yang harus kehilangan ibu kandungnya di hari pertama ia menghirup udara dunia.

     ​"Sabar ya, Nak," bisik Saliha lirih pada botol-botol itu. "Setidaknya, lewat aku, kamu bisa tumbuh kuat."

     ​Setelah menyelesaikan lima botol penuh, Saliha merapikan pakaiannya. Ia berpamitan pada Bi Tita dengan suara yang hampir habis. Ia tidak melihat Daviko lagi. Pria itu mungkin sedang berada di ruang kerjanya atau sedang menemani Kaffara di kamar atas.

     ​Saliha melangkah keluar dari gerbang rumah megah itu dengan kaki yang terasa berat. Di tangannya, ia menggenggam uang muka yang diberikan Daviko secara kasar tadi siang, uang yang ia butuhkan untuk menyambung napas di Jakarta yang kejam ini.

     ​Perjalanan pulang menuju tempat kosannya di daerah padat penduduk terasa begitu panjang. Pikirannya melayang pada masa empat tahun lalu.

     Andai saja ia lebih berani melawan tradisi keluarganya, andai saja ia tidak membiarkan kakaknya menjadi alasan untuk menunda pernikahan, andai saja ia tidak tergoda bujukan pria lain, mungkin sekarang dialah yang berada di foto pernikahan itu. Mungkin dialah ibu dari Kaffara.

     ​Namun, kenyataan menghantamnya tepat saat ia sampai di ujung gang kosannya.

    ​Saliha terpaku. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Di atas tanah becek sisa hujan tadi siang, tumpukan barang-barang yang sangat ia kenali berserakan.

     Kasur lipatnya yang sudah tipis, kardus berisi pakaian-pakaian kantornya yang mulai usang, sebuah rice cooker tua, hingga tas berisi obat-obatan penenangnya, semuanya tergeletak tak beraturan seperti sampah.

​ "Saliha! Akhirnya datang juga!" seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga matahari keluar dengan wajah garang. Dia Ibu Kos.

     ​"Ibu... kenapa barang-barang saya di luar?" Suara Saliha bergetar hebat.

     "Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Sudah tiga bulan, Saliha! Tiga bulan kamu cuma janji-janji manis! Saya ini butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, bukan butuh dongeng sedihmu!" teriak wanita itu, menarik perhatian beberapa tetangga yang mulai berbisik-bisik di balik jendela.

     ​"Saya tadi baru dapat kerja, Bu. Ini... saya punya uangnya sekarang." Saliha merogoh tasnya dengan panik, mengeluarkan beberapa lembar uang yang tadi diberikan Daviko. "Ini, Bu, tolong terima dulu...."

     ​Ibu Kos menepis tangan Saliha hingga uang itu jatuh ke tanah yang basah. "Telat! Kamarmu sudah ditempati orang lain. Sore tadi mereka sudah bayar tunai untuk satu tahun. Sekarang, angkut semua sampahmu ini dari depan rumah saya. Saya tidak mau gerbang saya terlihat seperti tempat pembuangan akhir!"

     ​Brak!

     ​Pintu gerbang kosan itu ditutup dengan keras, meninggalkan Saliha yang berdiri mematung di tengah kerumunan kecil tetangga yang menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan jijik.

     ​Saliha jatuh terduduk di atas aspal. Ia memeluk lututnya, menatap barang-barangnya yang kini kotor terkena lumpur. Dunia benar-benar sedang menagih sumpah Daviko. Kamu tidak akan bahagia!

     ​Hujan mulai turun kembali, rintik-rintik yang perlahan menjadi deras. Saliha tidak bergerak. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup. Dadanya kembali berdenyut, bukan karena ASI yang penuh, tapi karena rasa sakit yang tak tertahankan.

     Di tengah derasnya hujan, di antara barang-barangnya yang hancur, Saliha menyadari satu hal yang paling menyakitkan, ia tidak punya tempat untuk pulang.

     ​Satu-satunya tempat yang memberinya sedikit rasa aman hari ini justru adalah rumah pria yang paling membencinya di dunia ini.

     ​Saliha terisak, suaranya tenggelam dalam deru hujan. Ia merasa seperti sebotol ASI yang ia tinggalkan di rumah Daviko, berguna, tapi hanya sebagai cadangan, dan akan segera dibuang jika sudah tidak dibutuhkan lagi.

Apa yang akan Saliha lakukan, pergi ke rumah pria itu atau tetap membiarkan dirinya luntang-lantung di jalanan dengan kesedihan menjalar jiwa?

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!