Seorang pemuda berusia 25 tahun, harus turun gunung setelah kepergian sang guru. Dia adalah adi saputra.. sosok oemuda yang memiliki masa lalu yang kelam, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia lima tahun.
20 tahun yang lalu terjadi pembantaian oleh sekelompok orang tak di kenal yang menewaskan kedua orang tuanya berikut seluruh keluarga dari mendiang sang ibu menjadi korban.
Untung saja, adi yang saat itu masih berusia lima tahun di selamatkan okeh sosok misterius merawatnya dengan baik dari kecil hingga ia berusia 25 tahun. sosok misterius itu adalah guru sekaligus kakek bagi Adi saputra mengajarkan banyak hal termasuk keahliah medis dan menjadi kultivator dari jaman kuno.
lalu apa tujuan adi saputra turun gunung?
Jelasnya sebelum gurunya meninggal dunia, dia berpesan padanya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Buaya predator
Beberapa jam yang lalu
Di sebuah penangkaran buaya yang terletak tidak terlalu jauh dari Danau Keheningan, hidup sekitar tiga ratus ekor buaya dari berbagai jenis. Meski jumlahnya banyak, hampir seluruh buaya di tempat itu tampak jinak dan terbiasa dengan keberadaan manusia. Mereka jarang menunjukkan perilaku agresif, sehingga tidak pernah menjadi ancaman bagi para pengunjung yang datang sekadar melihat-lihat.
Namun, di antara ratusan reptil itu, terdapat satu ekor buaya yang menjadi pengecualian.
Buaya tersebut memiliki bobot sekitar enam ratus lima puluh kilogram, dengan panjang tubuh lebih dari empat meter. Ia adalah buaya paling ganas, sekaligus pemilik nafsu makan yang sangat besar. Buaya itu juga menjadi satu-satunya penghuni penangkaran yang dilarang keras didekati oleh pengunjung.
Ia ditempatkan di sebuah area khusus, dijaga ketat oleh pagar besi tebal. Alasannya sederhana namun mengerikan—buaya itu sering mengamuk, menghantam dinding kolam, seolah berusaha keluar dari kurungannya.
Saat ini, seorang pekerja penangkaran tengah membuka pintu pagar besi untuk memberi makan buaya tersebut. Ia mendorong sebuah gerobak kecil berisi puluhan potong daging ayam mentah. Di hadapannya terbentang sebuah kolam besar dengan air keruh—tanda jelas keberadaan predator itu di dalam sana.
Byurrr!
Begitu potongan daging pertama dilemparkan, air kolam langsung bergolak. Tubuh besar buaya itu muncul sekilas, rahangnya menjepit daging dengan brutal, menciptakan suara cipratan air yang keras dan mengerikan.
Saat pekerja itu terus melemparkan potongan demi potongan daging—
Drettt… drettt…
Ponselnya tiba-tiba berdering beberapa kali. Dengan sedikit kesal, ia mengangkat telepon.
“Halo… Bu, ada apa? Aku sedang bekerja.”
—
“Der… kamu segera pulang sekarang. Istrimu akan melahirkan.”
—
“Apa?!” suara penjaga itu meninggi. “Bu… tunggu, aku akan segera ke sana sekarang!”
Ia menutup telepon dengan tangan bergetar. Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus kebahagiaan. Tak lama lagi, ia akan menjadi seorang ayah.
Tanpa berpikir panjang, ia bergegas meninggalkan area kandang buaya. Dalam kepanikannya, ia lupa menutup kembali pintu pagar besi yang menjadi penghalang kolam tersebut.
“Jul! Tolong kamu gantikan aku memberi makan buaya itu! Istriku akan melahirkan, aku harus ke rumah sakit sekarang!”
Serunya pada rekan kerja yang sedang memberi makan buaya lain.
“Hei! Bagaimana bisa aku menggantikanmu? Aku sendiri masih punya beberapa ekor buaya yang harus diberi makan!”
Teriak pria yang biasa dipanggil Panjul.
Namun, rekannya itu sudah keburu berlari keluar dari area penangkaran, meninggalkan kandang buaya dalam keadaan tidak terkunci sempurna.
---
Sementara itu, di sisi lain kawasan wisata—
Hana dan Maudy, bersama seorang gadis kecil bernama Bela, mulai menaiki perahu kayuh kecil yang mereka sewa selama satu jam untuk mengelilingi Danau Keheningan.
“Astaga… Kak Rayan, di mana dia?” Maudy menepuk keningnya sendiri setelah duduk di perahu. Ia baru menyadari bahwa mereka pergi tanpa memastikan keberadaan pemuda itu.
Hana ikut mengerutkan kening. Ia pun baru teringat bahwa mereka tadi datang bersama Rayan, dan pemuda itu bahkan mengikuti mereka hingga memasuki area danau.
Kedua gadis itu menyapukan pandangan ke segala arah, mencari sosok Rayan di sekitar dermaga.
“Ah, sudahlah…” ujar Maudy akhirnya. “Dia pasti sedang memantau kita dari kejauhan.”
Entah mengapa, Maudy memiliki keyakinan bahwa Rayan tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja tanpa alasan.
Hana mengangguk pelan, lalu mulai menjalankan perahu kecil yang mereka tumpangi.
Seiring perahu bergerak menjauh dari dermaga, Bela tampak sangat gembira. Gadis kecil itu tertawa riang, menunjuk ke sana kemari dengan mata berbinar, terutama saat melihat ikan-ikan yang berenang di bawah permukaan danau.
“Kak! Ada ikan merah di bawah sana!” serunya antusias.
“Itu namanya ikan hias,” jelas Maudy sambil tersenyum. “Warnanya memang cantik.”
Tak lama kemudian, Bela kembali menunjuk ke bawah air, kali ini ke arah ikan nila yang menjadi penghuni utama danau tersebut.
“Kak… itu! Wah, banyak sekali ikannya! Bela mau memeliharanya!”
Ia terus berseru setiap kali melihat gerombolan ikan melewati perahu kecil mereka.
Di sisi lain danau, Rayan berdiri santai di daratan. Ia menikmati alunan musik para pengamen yang menghibur para pengunjung. Gitar keroncong sederhana berpadu dengan sebuah cajón kecil menghasilkan irama yang unik.
Bagi Rayan, yang jarang mendengar musik seperti itu, alunan tersebut terasa menenangkan.
“Terima kasih, Kak,” ucap salah satu pengamen saat Rayan memberikan dua lembar uang merah.
Rayan mengangguk sebagai jawaban, lalu mengalihkan pandangannya ke arah danau. Banyak pengunjung tampak menaiki perahu, berfoto, dan merekam video.
Pandangan Rayan kemudian tertuju pada perahu kecil yang ditumpangi Maudy, Hana, dan Bela. Senyum tipis terukir di wajahnya saat melihat keceriaan gadis kecil itu.
Namun senyum tersebut perlahan menghilang.
Alis Rayan mengerut.
Ia melihat sesuatu bergerak di dalam air.
Rayan menajamkan penglihatannya, sembari berpikir cepat bagaimana caranya agar semua orang yang berada di atas perahu kecil segera kembali ke tepian—tanpa menimbulkan kepanikan.
Rayan segera bergerak menuju dermaga. Langkahnya cepat, namun terkontrol—ia tidak ingin menarik perhatian.
“Bug!”
Seseorang tersenggol olehnya.
“Hei, bisa jalan yang benar—”
“Maaf,” jawab Rayan singkat, tanpa menoleh. Ia terus berlari.
Sesampainya di dekat sebuah pos kecil, seorang penjaga wilayah menoleh ke arahnya.
“Kalau mau menyewa perahu, bukan di sini. Ke sana!” katanya ketus.
“Pak,” ucap Rayan dengan nada serius, “tolong perintahkan semua orang yang menaiki perahu kecil untuk segera ke tepian. Ada seekor buaya besar di dalam danau itu.”
Penjaga itu mengerutkan kening, lalu tertawa sinis. “Kamu mau mengacau, ya? Cepat pergi dari sini, atau aku lempar kamu ke danau.”
“Percayalah, Pak. Itu bukan lelucon,” desak Rayan. “Sebelum buaya itu menyerang orang-orang, sebaiknya segera bapak perintahkan mereka menepi.”
Raut wajah penjaga itu mengeras. “Bocah, aku tidak punya waktu mendengarkan omong kosongmu. Danau ini sudah jadi tempat wisata puluhan tahun. Ada petugas pemeriksa perairan, dan tidak pernah ditemukan predator ganas di sini.”
Ia melangkah mendekat dengan wajah marah. “Pergi, atau aku pukul kamu.”
Rayan menatapnya sejenak. “Aku sudah memperingatkan,pak” ucapnya dingin.
Ia pun berbalik pergi.
“Bocah gila,” pekik penjaga itu, lalu kembali memperhatikan para pengunjung—tanpa menyadari bahwa bahaya sudah sangat dekat.
---
“Kak, lihat… ada ikan sangat besar,” seru Bela dari atas perahu.
Maudy mengikuti arah tunjukannya.
Duk!
Tiba-tiba sesuatu menghantam perahu mereka hingga terguncang hebat.
“Hana, apa kamu menabrak sesuatu?” tanya Maudy panik.
“Aku… aku tidak tahu,” jawab Hana. Ia yakin telah mengayuh perahu sesuai jalur.
Belum sempat mereka mencerna kejadian itu—
“Ahhhhh!”
Teriakan histeris terdengar tak jauh dari mereka. Sebuah perahu kecil milik sepasang kekasih terbalik.
“To-tolong…!”
Belum selesai, perahu lain ikut terbalik, disusul teriakan panik yang menggema di danau.
“Pengawas! Pengawas! Tolong, ada perahu terbalik di sana!”
Para pengawas danau segera menoleh ke arah sumber keributan. Dari kejauhan terlihat empat orang muda-mudi berenang, berusaha agar tidak tenggelam.
“Hais… kenapa selalu saja ada orang bodoh yang bahkan tidak bisa mengendarai sepeda perahu dengan benar,” gerutu salah satu pengawas.
Ia menekan alat komunikasi. “Jon, lebih baik kamu saja yang menjemput mereka.”
“Area itu wilayahmu, kenapa harus aku?” sahut Jon dari seberang. “Lagipula mereka bisa berenang. Biarkan saja sampai ke tepian.”
“Ayolah, Jon. Aku baru saja membuat kopi panas. Kalau aku turun, kopiku keburu dingin.”
“Merepotkan,” gerutu Jon akhirnya. Ia turun ke dermaga, menaiki perahu penyelamat, lalu melaju menuju keempat orang tersebut.
---
Sepasangan kekasih yang perahunya terbalik
“Sayang, maafkan aku… ada sesuatu yang menabrak sepeda perahu kita,” ucap seorang pemuda sambil berenang.
“Apanya yang menabrak? Kamu saja yang tidak bisa mengendarai dengan benar!” bentak kekasihnya.
Sambil mengapung, kedua pasangan itu terus berdebat sembari berenang menuju tepian. Namun posisi mereka cukup jauh di tengah danau—tenaga dan waktu jelas dibutuhkan.
Tak jauh dari mereka, pasangan lain tampak lebih kacau. Sang gadis, berusia sekitar dua puluh tahun, terus meminta tolong sambil menggerakkan kakinya agar tidak tenggelam.
“Berhenti minta tolong!” bentak sang pemuda. “Lihat, perahu pengawas sudah ke sini. Lebih baik bantu aku membalikkan sepeda perahu ini!”
“Kamu… ini semua karena kamu tidak bisa menjalankannya dengan baik,” bentak gadis itu kesal. Kakinya mulai terasa kram.
“Aku sudah bilang ada yang menabrak dari bawah! Bukankah kamu juga merasakannya?” sahut pemuda itu kesal.
Gadis itu memutar bola matanya malas, lalu menunduk ke bawah air. Air danau tampak cukup jernih—bebatuan, rumput air, dan ikan-ikan kecil terlihat jelas.
Wajahnya mendadak memucat.
“Bu… buaya…” suaranya bergetar. “Tolong… ada buaya…”
“Hei, jangan asal bicara! Kita di tengah danau—”
“Gani! Awas!”
Byuarrr!
Buaya besar itu muncul dari bawah air dan langsung menerkam pemuda bernama Ganu itu. Jeritan memilukan menggema, darah menyebar di permukaan danau.
Gadis itu menjerit histeris, lalu tak sadarkan diri dan tenggelam.
---
“Ada buaya!”
“Buaya! Tolong!”
“Ya Tuhan!”
Kepanikan meledak. Pengunjung di atas perahu lainnya berteriak histeris, sementara mereka yang berada di tepian danau berhamburan ke segala arah. Sebagian lainnya justru merekam kejadian itu dengan ponsel.
“Pengawas! Ada buaya di danau!”
Dua pasangan yang paling dekat dengan lokasi kejadian ikut panik. Air yang bercampur darah mulai mengalir ke arah mereka.
“Kalian, cepat naik!” teriak Jon saat perahu penyelamat akhirnya tiba. Ia menarik satu per satu korban ke atas perahunya, meski wajahnya pucat melihat buaya itu masih mengamuk.
Pengawas lain yang sebelumnya meremehkan situasi tersadar dari keterkejutannya. Ia segera menaiki perahu sambil membawa pengeras suara. Para pengawas lain ikut bergerak.
“Semuanya, harap segera menuju ke tepian!” suara pengeras menggema, justru membuat keadaan semakin kacau.
---
Di tengah kepanikan itu—
Sebuah sepeda perahu berbentuk ikan hiu melaju cepat di atas danau.
Rayan berdiri di atasnya.
Tanpa mengayuh.
Ia menggunakan energinya untuk menggerakkan perahu itu, hingga kecepatannya melampaui perahu mesin milik para penyelamat.
“Maudy,” suara Rayan menggema di benak gadis itu, “kalau kamu mendengar suaraku, cepat suruh Hana ke tepian.”
Maudy tersentak dari keterkejutannya.
“Hana! Cepat! Arahkan perahu ke tepian!” teriaknya.
Hana menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Meski ia seorang ahli bela diri, menghadapi predator air membuat jantungnya berdegup kencang. Namun ia segera mengayuh sekuat tenaga.
Di daratan, beberapa pengunjung menunjuk dengan wajah tak percaya.
“Lihat itu! Siapa yang mengendarai sepeda perahu secepat itu?!”
“Sejak kapan sepeda perahu bisa melaju seperti itu?!”
Satu per satu perhatian tertuju pada perahu Rayan yang melesat, bahkan melewati perahu penyelamat.
“Itu… siapa dia?” gumam salah satu pengawas.
Byurrr!
Begitu menemukan posisi gadis yang tenggelam, Rayan melompat ke dalam air.
“Apa?! Dia gila?!” teriak seseorang.
Semua orang terpaku. Buaya itu masih berada di dalam danau, dan pemuda yang diterkam sebelumnya sudah tak bergerak.
Di tepian, Maudy dan Hana akhirnya tiba dengan napas tersengal.
“Huh… akhirnya…”
“Huhuhu… Putriku!” Linjia segera mengambil Bela dari gendongan Maudy.
“Dia… dia ingin menyelamatkan gadis itu!” seru seseorang.
Perhatian Maudy dan Hana kembali tertuju ke tengah danau—ke arah tempat Rayan menghilang di bawah permukaan air.
ditunggu kelanjutannya thor💪
ditunggu kelanjutannya thor
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
Disini juga di sebut nama MCnya Rayan tapi di sinopsis di sebut Adi agak membingungkan thor apakah ada kesalahan di penamaan karakternya?
Itu saja kritik yang mau aku sampaikan kepadamu thor, Terima kasih