NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Di sisi lain, Kevin terus memperhatikan Lidya yang tampak lebih diam dari biasanya dan tidak seceria saat awal mereka bertemu. Padahal mereka sudah kembali ke perusahaan dan suasana seharusnya berjalan normal seperti sebelumnya.

“Apa ada yang kamu pikirkan?” tanya Kevin karena tak lagi mampu menahan rasa penasarannya.

“Tidak ada,” jawab Lidya singkat.

“Lalu kenapa sikapmu seperti ini? Kalau kamu punya masalah atau ada sesuatu dariku yang tidak kamu sukai, katakan saja. Aku bisa mengubahnya.”

Lidya hanya menarik sudut bibirnya tipis. Pikirannya kembali pada kejadian di rumah sakit tadi, ketika Kevin terlihat panik saat Iren pingsan dan bahkan sempat berebut menolongnya dengan Vano. Meskipun pada akhirnya Kevin memilih mundur dan membiarkan Vano membawa Iren, kegelisahan yang sempat terlihat di wajah pria itu tetap tertangkap jelas olehnya.

Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan, termasuk jika hati Kevin belum sepenuhnya berpihak padanya. Namun entah mengapa, tetap ada rasa yang mengganjal.

“Aku hanya lelah. Hari ini cukup panjang,” ujar Lidya akhirnya sambil menatap Kevin.

Kevin tidak langsung percaya karena ia terbiasa membaca perubahan sekecil apa pun dari orang-orang di sekitarnya, terlebih dari seseorang yang kini begitu dekat dengannya. “Bukan hanya itu,” katanya tenang.

Lidya terdiam sejenak sebelum kembali pada sikap profesionalnya. “Aku hanya tidak ingin mencampuri urusan pribadimu.”

“Urusan pribadi?” ulang Kevin.

“Yang terjadi di rumah sakit tadi. Apa pun antara kamu dan Iren, itu bukan wilayahku.”

Suasana ruang kerja terasa lebih hening. Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap Lidya lekat-lekat, seolah ingin memastikan sesuatu.

“Kamu pikir aku masih ragu?” tanyanya datar.

“Aku tidak berpikir apa-apa,” jawab Lidya, meskipun tatapannya tidak sepenuhnya tenang.

Kevin menggeleng pelan. “Kamu berpikir aku masih akan kembali.”

Kalimat itu membuat Lidya terdiam. Ia tidak membantah, tetapi juga tidak mengiyakan.

Kevin kemudian berdiri dan melangkah mendekat tanpa mengurangi jarak secara berlebihan. “Apa yang terjadi di rumah sakit tadi hanya reaksi. Siapa pun di posisiku akan melakukan hal yang sama karena itu tanggung jawab, bukan perasaan.”

Lidya menatapnya, mencoba mencari celah keraguan, namun yang ia temukan hanya ketegasan yang sama seperti saat Kevin memutuskan mengambil alih kembali perusahaan.

“Aku tidak pernah mengulang keputusan,” lanjut Kevin. “Kalau aku sudah melangkah, berarti semuanya sudah selesai.”

“Baik,” ucap Lidya pelan.

Kevin masih menatapnya sebelum kembali berbicara, “Justru aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu tidak membelaku tadi? Kamu hanya diam.”

Lidya tersenyum tipis, kali ini tanpa kepura-puraan. “Untuk apa? Terakhir kali aku membelamu, aku justru disuruh sadar diri.”

Kevin terdiam sesaat, lalu berkata dengan nada lebih rendah, “Waktu itu aku menganggapmu hanya bocah yang terlalu ikut campur. Tapi sekarang aku tahu apa yang kamu lakukan memang benar.”

Suasana di ruangan itu kembali hening. Kali ini bukan karena ketegangan, melainkan karena sesuatu yang perlahan berubah arah. Lidya menunduk tipis. Ia tidak pernah menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari Kevin. Dulu ia dianggap terlalu berani, terlalu mencampuri, bahkan terlalu percaya diri. Kini sikap yang sama justru diakui. Ada rasa hangat yang muncul, meski ia berusaha menahannya agar tidak terlihat berlebihan.

***

Beberapa hari menjelang sidang mediasi, Iren berulang kali mencoba mencari dan menghubungi Kevin. Namun seperti sebelumnya, semua usahanya berakhir sia-sia. Teleponnya tidak pernah diangkat dan pesannya tidak pernah dibalas, seolah Kevin benar-benar telah menutup seluruh akses dan tidak lagi memberi ruang untuk berdamai.

Keadaan itu membuat pikirannya semakin kacau, terlebih ketika masalah perusahaan datang bertubi-tubi tanpa jeda.

“Bu, kalau kita tidak mendapatkan pinjaman dari bank atau tambahan dana dari investor, karyawan akan turun dan menuntut gaji mereka yang tertunda,” lapor salah satu bawahannya dengan wajah tegang.

Iren menegakkan punggung dan berusaha tetap terlihat tenang meskipun jantungnya berdegup tidak teratur. “Berapa lama lagi kita bisa bertahan dengan dana yang ada?”

“Paling lama dua minggu, Bu. Setelah itu arus kas benar-benar tidak mencukupi.”

Dua minggu. Angka itu terasa seperti batas waktu yang mencekik. Jika perusahaan sampai goyah, bukan hanya reputasinya yang runtuh, tetapi juga kendali yang selama ini ia pegang dengan susah payah.

“Hubungi kembali pihak bank dan ajukan restrukturisasi sementara. Selain itu, cari investor mana pun yang masih bisa diajak bernegosiasi,” perintahnya tegas, meskipun di dalam hati ia tahu situasinya tidak sesederhana itu.

“Baik, Bu,” jawab bawahan itu sebelum meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, Iren menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kembali terbuka dan Vano masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berisi kue favoritnya.

“Iren, sudah beberapa hari ini kamu menghindariku. Kali ini aku datang membawakan kue kesukaanmu,” ucap Vano dengan nada lembut.

Dulu, sikap seperti itu akan membuat Iren tersenyum bangga dan memujinya tanpa ragu. Namun sekarang semuanya terasa hambar. Perhatian itu tetap terasa kurang, seolah ada ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Tanpa sadar ia menyadari bahwa selama ini keberadaan Kevin, meskipun penuh konflik, selalu memberi rasa berbeda yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun.

Kadang terlintas di benaknya pertanyaan yang membuatnya sendiri merasa asing, apakah ia terlalu terbiasa memiliki dua lelaki yang sama-sama memperhatikannya? Padahal ia tahu, perempuan yang benar-benar menjaga dirinya tidak akan membiarkan situasi seperti itu terjadi.

“Terima kasih, Van. Tapi aku benar-benar sedang sibuk,” jawabnya akhirnya.

Vano mendekat dan meletakkan kotak kue itu di atas meja. “Iren, kalau ada masalah katakan saja. Aku pasti akan membantumu.”

Iren menegakkan punggungnya di kursi, seolah sedang menimbang langkah berikutnya. Ia tahu nama Vano masih cukup diperhitungkan di kota ini. Jika pria itu bersedia membantunya mendapatkan pinjaman bank, setidaknya ia bisa kembali mengendalikan perusahaan.

Sedangkan untuk Kevin, saat bertemu di sidang mediasi nanti, ia akan mencari cara untuk meluluhkan amarahnya dan membuatnya kembali berada di sisinya.

"Aku memang butuh bantuan,” katanya akhirnya, kali ini tanpa menyembunyikan urgensi di suaranya. “Bukan sekadar nasihat.”

Vano langsung serius. “Katakan.”

“Aku butuh akses ke bank pusat. Kalau kamu yang bicara, mereka akan lebih mempertimbangkan. Setidaknya pinjaman jangka pendek supaya gaji karyawan aman.”

Vano tidak langsung menjawab. Ia mengamati Iren dengan saksama, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya. Apa kondisi perusahaan sudah separah ini sampai Iren membutuhkan pinjaman? Seharusnya dividen tahunan dari saham yang diberikan Kevin cukup untuk membuat perusahaan itu bertahan bertahun-tahun ke depan.

“Iren, apa yang terjadi dengan saham yang diberikan Kevin padamu?”

Iren terdiam. Jari-jarinya yang semula bertaut perlahan mengendur, menatap Vano dengan tatapan curiga.

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!