Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Gemuruh Salju
Dunia seakan kehilangan suaranya sebelum maut benar-benar datang. Elara berdiri di atas gundukan es yang membeku, napasnya memburu hingga menciptakan uap putih yang tebal di udara yang menggigit. Di hadapannya, pegunungan Utara tidak lagi tampak sebagai benteng alam yang megah, melainkan monster putih yang sedang memuntahkan isinya. Gelombang salju raksasa itu merayap turun dengan kecepatan yang mengerikan, menelan pohon-pohon pinus kuno seolah-olah mereka hanyalah ranting kering yang rapuh.
"Nyonya Elara, kita harus pergi sekarang! Perkemahan logistik itu sudah tidak bisa diselamatkan!" Kaelen berteriak tepat di samping telinganya, tangannya mencengkeram lengan jubah Elara dengan kuat.
Elara tidak bergeming. Matanya yang berwarna keunguan menatap lurus ke arah jalur longsoran yang mengarah tepat ke arah perkemahan di mana ratusan prajurit Vane sedang berjuang menyelamatkan persediaan gandum dan kristal mana. "Jika logistik itu hilang, Kaelen, kita tidak akan sampai ke gerbang berikutnya. Kita akan mati kelaparan di tengah badai sebelum kaisar sempat menyesali keputusannya."
"Tapi Anda tidak dalam kondisi untuk bertarung dengan alam!" Kaelen menunjuk ke arah tangan kiri Elara.
Garis hitam yang merambat dari ujung jari hingga pergelangan tangan Elara kini berdenyut dengan cahaya biru pucat yang tidak alami. Itu adalah sisa dari penyerapan paksa energi gudang mana Asteria yang dilakukannya di bawah benteng sebelumnya. Rasa panas yang membakar di balik kulit yang mati rasa itu adalah peringatan bahwa sirkuit jiwanya hampir mencapai batas.
"Aku tidak meminta izinmu, Kaelen. Aku meminta kamu untuk bersiap menarik siapa pun yang masih bernapas dari sana setelah aku membuka jalannya," ujar Elara dengan nada yang tidak terbantahkan.
"Anda gila! Void level 1.8 tidak dirancang untuk menahan berat satu gunung!" Kaelen mencoba menghalangi langkahnya.
"Aku tidak akan menahannya," Elara melangkah maju, kakinya tenggelam di salju yang mulai bergetar hebat. "Aku akan membuatnya mengalir. Sekarang, menjauhlah!"
Elara memejamkan matanya, mengabaikan denyut nyeri di kepalanya yang terasa seperti dipukul palu godam. Ia mulai memanggil energi Void, membiarkan kesadarannya meresap ke dalam molekul-molekul es di depannya. Ia harus melakukan Analisis Getaran—sebuah teknik mikroskopis untuk menemukan frekuensi resonansi dari massa salju yang sedang bergerak.
"Nyonya! Lihat itu!" seorang prajurit dari kejauhan berteriak, suaranya penuh keputusasaan saat dinding putih setinggi sepuluh meter mulai menutupi cakrawala mereka.
"Fokus... hanya getaran," bisik Elara pada dirinya sendiri.
Bibirnya memutih, dan keringat dingin bercampur dengan serpihan es di dahinya. Ia bisa merasakan energi kinetik yang luar biasa besar sedang meluncur ke arahnya. Dalam hitungan detik, Elara melepaskan gelombang resonansi Void. Udara di sekitarnya bergetar hebat, menciptakan suara dengungan rendah yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya berdenging kesakitan.
"Void... Sinkronisasi Gravitasi!"
Tepat saat longsoran itu menghantam garis pertahanan imajiner Elara, sesuatu yang mustahil terjadi. Gelombang salju yang seharusnya menghancurkan segala sesuatu di jalurnya tiba-tiba terbelah. Seperti air yang bertemu batu karang yang tak terlihat, massa putih itu membelok ke sisi kiri dan kanan Elara, menciptakan rongga udara berbentuk kubah di tengah-tengah perkemahan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kita masih hidup?" tanya seorang prajurit muda yang terduduk lemas di tanah, menatap dinding salju yang bergerak cepat hanya beberapa inci dari wajahnya.
"Jangan hanya diam! Keluar dari sini sekarang!" Kaelen mengambil alih komando, menarik prajurit itu berdiri. "Nyonya Elara tidak bisa menahan ini selamanya! Evakuasi logistik ke sisi tebing yang lebih tinggi!"
Elara merasakan tekanan yang luar biasa pada dadanya. Paru-parunya terasa seperti diisi oleh serpihan kaca setiap kali ia menarik napas. Getaran dari longsoran itu merambat melalui kakinya, mencoba menghancurkan tulang-tulangnya dari dalam.
"Nyonya, cukup! Sebagian besar prajurit sudah aman!" Rina berlari mendekat, wajahnya pucat pasi melihat Elara yang mulai mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Belum... masih ada yang terjebak di tenda medis," Elara bergumam, suaranya parau.
"Biarkan para ksatria yang melakukannya! Anda akan mati jika terus memaksakan Void ini!" Kaelen kembali ke sisi Elara, mencoba menyanggah tubuh wanita itu yang mulai limbung.
"Kaelen... lepaskan," Elara menepis tangan Kaelen dengan sisa tenaganya. "Jika aku berhenti sekarang, kubah ini akan runtuh dan menimbun mereka semua. Aku bukan menyelamatkan mereka karena aku peduli... aku menyelamatkan mereka karena aku butuh saksi."
"Saksi untuk apa?" Kaelen bertanya dengan mata membelalak.
"Saksi bahwa ratu mereka bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan kaisar mereka," Elara memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak mengerikan di wajahnya yang pucat.
Gemuruh itu perlahan mulai menjauh, namun beban di pundak Elara tidak kunjung ringan. Ia melihat seorang prajurit perempuan muda, Sersan Juna, sedang merangkak keluar dari tumpukan salju di pinggir kubah dengan kaki yang tampak patah. Juna menatap Elara dengan pandangan yang penuh dengan ketakutan sekaligus kekaguman yang mendalam.
"Nyonya... terima kasih," bisik Juna sebelum ia pingsan karena menahan sakit.
Elara merasakan denyut Void-nya perlahan mereda seiring dengan berhentinya aliran utama longsoran. Kubah energi transparan itu memudar, meninggalkan keheningan yang mencekam di tengah lembah yang kini tertutup lapisan es baru setinggi beberapa meter.
"Nyonya Elara!" Rina menangkap tubuh Elara tepat saat wanita itu jatuh berlutut.
"Darah... Nyonya, Anda berdarah sangat banyak," Rina terisak, mencoba menyeka darah yang terus mengalir dari hidung dan sudut mata Elara menggunakan ujung bajunya yang kotor.
Elara menatap tangannya. Garis hitam itu kini telah melewati pergelangan tangannya, membentuk pola seperti akar pohon yang mati. Mati rasa itu kini merambat hingga ke sikunya. Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun mereka terasa kaku, seolah-olah terbuat dari batu.
"Kaelen... pastikan Juna dan yang lainnya mendapat perawatan," Elara berbisik, matanya mulai kehilangan fokus.
"Mereka sedang ditangani, Elara. Fokuslah pada dirimu sendiri," Kaelen mengangkat tubuh Elara dengan hati-hati. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya membutuhkan sepuluh penyihir tingkat tinggi."
"Apakah... apakah mereka melihatnya?" tanya Elara lemah.
"Ya, mereka semua melihatnya. Mereka menyebutmu Dewi Penyelamat sekarang," jawab Kaelen dengan nada getir. "Tapi apakah harga dari gelar itu harus berupa nyawamu?"
"Nyawa ini... sudah lama mati di api Valerius, Kaelen," Elara menutup matanya, membiarkan kegelapan mulai mengambil alih kesadarannya. "Sekarang, aku hanya sedang membangun kembali abunya."
Di sekeliling mereka, para prajurit yang selamat mulai berdiri satu per satu. Mereka menatap ke arah Kaelen yang sedang menggendong Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. Di tengah kedinginan yang mematikan itu, sebuah rasa loyalitas baru mulai tumbuh di hati para pria yang sebelumnya hanya mengenal ketakutan dan perintah kaku dari ibu kota.
"Lihat itu... dia tidak melarikan diri," bisik salah satu prajurit senior sambil menatap reruntuhan tenda mereka. "Dia berdiri di sana, menahan gunung itu sendirian."
"Kaisar tidak pernah menceritakan bahwa putri Asteria memiliki kekuatan seperti ini," sahut yang lain.
Kaelen berjalan melewati kerumunan prajurit itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia merasakan tubuh Elara yang semakin dingin di dalam dekapannya. Namun, saat ia melangkah menuju tenda darurat yang tersisa, ia merasakan sesuatu yang aneh. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, dan rintihan dari prajurit yang terluka terdengar berbeda.
"Ksatria Kaelen! Sesuatu yang buruk terjadi di tenda belakang!" Rina berteriak, wajahnya menunjukkan kengerian baru.
"Apa lagi sekarang? Longsoran susulan?" Kaelen berhenti, menoleh ke arah Rina.
"Bukan... ini para prajurit. Mereka yang tadi tertimbun salju... mereka tidak hanya kedinginan. Kulit mereka mulai membiru dengan cara yang aneh, dan napas mereka mengeluarkan uap berwarna abu-abu," Rina menjelaskan dengan tangan gemetar.
Kaelen menatap Elara yang masih pingsan, lalu menatap ke arah kerumunan prajurit. Sebuah firasat buruk merayap di punggungnya. Longsoran es itu mungkin bukan sekadar bencana alam, melainkan pembuka dari kutukan yang lebih gelap yang telah lama terkubur di pegunungan Utara.
"Bawa Nyonya ke tempat yang paling hangat," perintah Kaelen pada Rina. "Aku harus memeriksa apa yang sedang terjadi."
Kaelen melangkah menuju tenda medis darurat. Saat ia masuk, bau belerang yang samar menyengat hidungnya. Di atas tandu, Sersan Juna sedang menggigil hebat, namun keringatnya terasa sedingin es. Di lehernya, muncul bintik-bintik biru yang berdenyut, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya.
"Ini bukan hipotermia biasa," gumam Kaelen, tangannya mengepal erat pada gagang pedangnya. "Demam Beku... wabah yang diceritakan dalam legenda kuno Asteria."
Ia teringat kata-kata Elara tentang energi Gua Kristal Biru yang bocor. Bencana ini baru saja dimulai, dan kali ini, sihir Void mungkin tidak akan cukup untuk menyelamatkan mereka.
Kesadaran Elara timbul tenggelam seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai. Di dalam kegelapan batinnya, ia tidak melihat salju; ia melihat api. Api merah yang menjilati punggungnya, aroma daging yang terbakar, dan tawa Valerius yang bergema di aula istana yang dingin. Namun, kali ini ada yang berbeda. Rasa dingin yang luar biasa menusuk dari ujung jari tangannya yang menghitam, merambat perlahan menembus api itu dan memadamkannya dengan paksa.
"Nyonya... Nyonya, bangunlah!" Suara Rina terdengar jauh, seolah terhalang oleh lapisan es yang tebal.
Elara tersentak, kelopak matanya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menghunjam kepalanya. Pandangannya kabur, namun ia bisa melihat langit-langit tenda yang remang-remang, diterangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap masuk melalui celah kain.
"Rina?" bisik Elara. Suaranya pecah, tenggorokannya terasa seperti telah menelan pasir panas.
"Syukurlah, Anda sudah sadar!" Rina mendekat, wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis. Ia segera menyodorkan cangkir berisi air hangat yang dicampur dengan sedikit madu. "Anda pingsan selama hampir enam jam. Ksatria Kaelen sangat khawatir."
Elara mencoba duduk, namun tubuhnya terasa seberat timah. Ia melirik tangan kirinya yang berada di atas selimut. Garis hitam itu tidak lagi berdenyut, namun warnanya kini lebih pekat, menyerupai tinta permanen yang meresap ke dalam tulang. Ia mencoba menggerakkan jari manis dan kelingkingnya, namun tidak ada respons. Mati rasa itu telah menetap.
"Di mana Kaelen?" Elara bertanya setelah berhasil meminum sedikit air.
"Dia berada di tenda medis luar bersama Tabib Istana. Situasinya memburuk, Nyonya," Rina menundukkan kepala, jari-jarinya meremas ujung pakaiannya dengan gelisah. "Para prajurit yang selamat dari longsoran... mereka mulai jatuh sakit satu per satu. Bukan hanya demam biasa. Mereka menggigil, tapi kulit mereka terasa dingin seperti es."
Elara memaksakan dirinya untuk berdiri. Meskipun kakinya gemetar, ia menolak untuk tetap berbaring. Ia teringat akan uap abu-abu yang diceritakan Rina sebelum ia pingsan tadi. Itu bukan sekadar dampak kedinginan. Itu adalah jejak Mana yang terkontaminasi.
"Bantu aku berpakaian, Rina. Aku harus melihat mereka," perintah Elara dengan nada yang tidak menerima penolakan.
"Tapi Nyonya, Anda sendiri masih sangat lemah—"
"Sekarang, Rina."
Beberapa menit kemudian, Elara berjalan menembus barisan tenda yang setengah hancur. Perkemahan itu kini tampak seperti pemakaman massal yang belum selesai. Salju yang tadi menghancurkan segalanya kini telah membeku keras, menciptakan permukaan yang licin dan berbahaya. Di depan tenda medis utama, Kaelen sedang berdiri dengan wajah yang amat tegang, berbicara dengan seorang tabib tua yang tampak putus asa.
"Bagaimana keadaannya, Kaelen?" Elara bertanya, mengejutkan mereka berdua.
"Elara? Kenapa kau sudah di sini?" Kaelen segera menghampirinya, matanya memindai wajah pucat Elara dengan cemas. "Kau seharusnya beristirahat."
"Aku tidak bisa istirahat sementara faksi pribadiku sedang sekarat," Elara menoleh ke arah tabib. "Katakan padaku, apa yang kau temukan?"
Tabib itu membungkuk dalam, tubuhnya bergetar karena kedinginan. "Nyonya, ini sangat aneh. Nadi mereka berdetak sangat lambat, dan ada kristalisasi Mana di dalam aliran darah mereka. Jika ini terus berlanjut, jantung mereka akan membeku dari dalam. Saya belum pernah melihat penyakit seperti ini di buku medis kekaisaran."
Elara melangkah masuk ke dalam tenda medis. Bau belerang yang tadi samar kini tercium sangat tajam. Ia mendekati tandu tempat Sersan Juna terbaring. Gadis prajurit itu kini tidak lagi menggigil; ia terdiam dengan mata yang setengah terbuka, menunjukkan iris yang mulai memudar warnanya. Bintik-bintik biru di lehernya kini telah membentuk pola seperti bunga es yang menjalar.
"Ini bukan penyakit alami," bisik Elara. Ia melepaskan sarung tangan kanannya—tangan yang masih berfungsi normal—dan menyentuh dahi Juna.
Sentuhan itu membuat Elara tersentak. Bukan karena panas, tapi karena dingin yang luar biasa tajam, seolah ia menyentuh bongkahan kristal mana mentah yang diletakkan di dalam air raksa. Elara memfokuskan pikirannya, mengaktifkan sisa-sisa energi Void-nya untuk melakukan Analisis Molekuler secara mikro.
"Kaelen, tabib... mundurlah," perintah Elara.
Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya masuk ke dalam aliran energi yang menyelimuti tubuh Juna. Di sana, ia melihatnya. Partikel-partikel kecil berwarna hitam keunguan yang menempel pada sel-sel Mana prajurit itu. Ini adalah residu dari Gua Kristal Biru. Ledakan energi yang terjadi sebelumnya tidak hanya memicu longsoran, tapi juga melepaskan spora Mana purba yang telah terkontaminasi oleh Void selama ribuan tahun.
"Mereka terinfeksi oleh esensi Void yang belum stabil," gumam Elara saat ia membuka matanya kembali.
"Apakah bisa disembuhkan?" tanya Kaelen dengan nada mendesak.
"Bisa, tapi tidak dengan obat biasa. Kita butuh penetralisir yang memiliki frekuensi yang sama dengan esensi ini," Elara terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat menuju memori di masa lalu, saat ia masih menjadi Aurelia di istana Asteria. Ia teringat akan bungkusan kecil yang selalu ia bawa—garam khusus yang ia curi dari dapur rahasia sebelum keberangkatannya.
"Rina, ambilkan kantong kecil berwarna merah dari kotak riasku," Elara menoleh ke arah pelayannya yang berdiri di pintu tenda.
"Garam itu, Nyonya? Tapi itu hanya untuk bumbu masakan—"
"Ambil saja, Rina! Cepat!"
Setelah Rina kembali dengan garam tersebut, Elara meminta tabib untuk melarutkan sedikit kristal garam itu ke dalam air suci yang telah diberkati oleh pendeta militer. Garam Asteria bukan sekadar bumbu; itu adalah mineral yang diekstraksi dari tambang bawah laut yang memiliki sifat menyerap energi negatif.
"Minumkan ini pada Sersan Juna," Elara menyerahkan cangkir itu pada tabib.
Semua orang di dalam tenda menahan napas saat cairan bening itu menyentuh bibir Juna. Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Namun tiba-tiba, Juna terbatuk hebat. Ia memuntahkan cairan berwarna abu-abu yang berbau busuk. Perlahan-lahan, warna biru di wajahnya mulai memudar, dan uap dingin yang keluar dari napasnya berhenti.
"Denyut nadinya... ini menguat!" seru tabib dengan suara tidak percaya. "Sihir macam apa yang ada di dalam garam ini?"
"Bukan sihir, hanya pengetahuan dasar yang dilupakan oleh kekaisaranmu," Elara berkata dengan nada dingin, meskipun di dalam hati ia merasa lega.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari tenda medis, namun langkahnya terhenti saat ia melihat ratusan prajurit lain yang masih terbaring di luar, menunggu giliran untuk mati. Stok garam yang ia miliki sangat sedikit. Itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan semua orang.
"Nyonya Elara!" Seorang prajurit senior yang tadi melihat aksi Elara menahan longsoran tiba-tiba berlutut di atas salju. "Kami mohon... selamatkan rekan-rekan kami. Anda adalah satu-satunya harapan kami di tempat terkutuk ini."
Satu demi satu, prajurit yang masih sehat ikut berlutut. Di tengah hamparan salju yang putih dan dingin, ribuan pria yang tadinya adalah bawahan Vane kini menundukkan kepala mereka kepada seorang tawanan perang yang seharusnya mereka awasi.
"Berdirilah," suara Elara bergema di tengah keheningan lembah. "Aku akan menyelamatkan siapa pun yang bersumpah untuk tetap berdiri di belakangku saat badai yang lebih besar datang. Garam ini tidak cukup, tapi aku akan mencari cara lain. Untuk malam ini, bagikan larutan ini kepada mereka yang kondisinya paling kritis."
Elara menatap ke arah utara, ke arah puncak gunung yang masih tertutup kabut tebal. Di sana, ia tahu, Sekte Void sedang mengawasi mereka, menertawakan penderitaan manusia yang kecil. Namun, Elara juga merasakan sesuatu yang lain—sebuah tarikan energi yang familiar dari arah benteng.
"Kaelen," Elara memanggil ksatria itu yang tetap setia berdiri di belakangnya.
"Ya, Nyonya?"
"Kaisar akan segera mengirimkan utusan untuk memeriksa hasil dari perintah eksekusinya terhadap Vane," Elara berkata dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan angin. "Kita harus memastikan bahwa saat utusan itu tiba, perkemahan ini tampak seperti kuburan massal, namun di baliknya, kita memiliki pasukan yang siap untuk mengkhianatinya."
"Kau ingin aku memulai persiapan?" tanya Kaelen, matanya berkilat penuh pengertian.
"Ya. Gunakan mayat-mayat yang sudah membeku karena longsoran untuk menipu mata-mata mereka. Sembunyikan para penyintas di dalam gua-gua kecil di sekitar lereng," Elara mencengkeram jubahnya erat-halus. "Mulai detik ini, pertempuran kita bukan lagi melawan salju, tapi melawan bayang-bayang istana."
Elara kembali menatap tangannya yang menghitam. Ia tahu bahwa setiap nyawa yang ia selamatkan malam ini adalah beban tambahan bagi jiwanya. Namun, ia tidak peduli. Jika ia harus menjadi monster untuk meruntuhkan takhta Valerius, maka ia akan menjadi monster yang paling ditakuti di tanah Utara.
"Gemuruh salju ini hanyalah awal, Kaelen," gumam Elara. "Besok, dunia akan mendengar gemuruh kemarahanku."
Angin bertiup lebih kencang, membawa serpihan es yang tajam menusuk kulit. Namun Elara tidak lagi menggigil. Di dalam dadanya, api dendam Aurelia menyala lebih terang daripada matahari mana pun, memberikan kehangatan yang mematikan di tengah musim dingin yang abadi.