Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Siang ini Vania dan beberapa orang pegawainya gotong royong untuk membersihkan rumah barunya. Belum banyak perabotan yang ada di sana karena memang sebelumnya rumahnya kosong tanpa meski rumah yang ditinggalinnya sekarang tidak sebesar rumah sebelumnya, namun desain rumahnya terkesan minimalis dan kekinian. Selain itu, rumahnya juga terlihat nyaman bagi Vania, rumah barunya terletak di kawasan perumahan menengah, iya tidak mau membeli rumah yang terlalu mewah di kawasan elit seperti rumah sebelumnya.
Akhirnya hanya hidup mandiri dan lepas dari kukungan keluarga besarnya. Vania sekarang harus bisa membantu dua asistennya yang berkutat dengan tugas masing-masing. Vania yang sebelumnya tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan lain-lain, ini dia harus belajar melakukan itu semua. Seperti saat ini dia sedang menyapu lantai, namun kedua asistennya malah tertawa melihat dirinya yang sedang menyapu.
"Mbak Vania, kalau nyapu lantai yang bersih toh. Kalau masih ada debunya, nanti dapat suami yang brewokan loh,"canda Laras.
"Mitos itu! Lagi pula aku nggak mau punya suami dulu untuk saat ini. Tapi Masa iya sih lantainya belum bersih dari debu?"tanya Vania sembari memperhatikan lantai yang menurutnya sudah bersih.
Laras hanya menggelengkan kepalanya."coba Mbak injak lantainya, kalau sekiranya kaki Mbak ngerasa nggak enak atau seperti ada yang menempel berarti masih ada debunya. Debu itu kadang nggak kelihatan loh mbak, memang sih lantainya terlihat bersih tapi bisa jadi debunya masih ada."
"Oh gitu ya, aku nggak pernah nyapu soalnya. Baru tahu kalau nyapu juga ternyata ada ilmunya."
"Tentu aja Mbak, setiap pekerjaan rumah atau apapun pasti ada ilmunya."
Vania kemudian kembali mengulangi kegiatan menyapunya, sambil belajar cara menyapu dengan benar. Rambut panjangnya yang semula terurai ia ikat agar tidak menghalangi pandangannya. Ternyata benar ucapan asistennya jika lantainya belum sepenuhnya bersih, buktinya ketika Vania kembali menyapunya, debunya masih banyak terkumpul, setelah dirasa bersih ia kemudian mengumpulkan debu itu pada pengki dan membuangnya.
"Debu ini kayak perasanku ke Depan, hanya bisa mengotori dan harusnya dibuang," gimana Vania.
Tatapan Rika tak sengaja tertuju Vania tengah melamun di tempat sampah." Van? Jangan ngelamun depan tempat sampah."
Vania yang seolah tersadar langsung menjauh dari sana dan mendekati kedua asistennya.
"Aku tau apa yang kamu alami itu gak mudah, tapi aku salut sama kamu karena dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa bangkit. Padahal ujian yang kamu hadapi ini bertubi-tubi," puji asistennya.
"Sebenarnya aku gak sekuat yang kamu pikir, mbak. Tapi, selama Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk hidup, aku gak akan pernah menyia-nyiakan hidup yang Tuhan beri. Kalau aku terus terpuruk dan sedih, orang-orang yang gak suka aku, pasti akan mencari kesempatan untuk menindas ku."
Rika tersenyum kecil." Aku setuju Van, kamu harus tetap semangat menjalani hidup yang Tuhan kasih. Aku bersyukur banget bisa kerja sama kamu. Ngomong-ngomong kamu gak mau perawatan lagi gitu? Udah lama kamu gak ke sana, wajah kamu jadi beda banget soalnya."
"Semenjak papah dan mamah meninggal aku jadi lupa mengurus diri. Lagipula dalam suasana berduka seperti itu aku masih mikirin perawatan? Kebangetan itu namanya. Nanti aku pasti ke klinik buat treatment, kalau gak juga gak masalah, nanti aku cari skincare yang bagus buat wajahku."
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba asisten rumah tangganya yang baru berlari kecil ke arah Vania. Wajahnya yang terlihat panik menjadi perhatian Vania di tengah obrolannya, sekarang perempuan itu tengah berdiri di depannya sambil mengatur napas.
" Kenapa toh Bu? Kayaknya ibu buru-buru banget," tanya Vania.
"A-anu mbak, di luar ada tamu."
"Tamu? Kok bisa? Aku belum ngasih tahu siapa-siapa kalau aku pindah ke rumah yang baru," ujar Vania terheran-heran, ia pun bangkit dan bergegas menuju ke teras rumah untuk melihat siapa tamu itu.
Vania terbelalak begitu sampai di teras, ada seorang pria yang berdiri di sana. Meski pria itu membelakanginya tapi ia tahu siapa pria itu, emosinya tiba-tiba muncul begitu mengetahui kalau tamu yang datang adalah Deo.
"Ngapain kamu ke sini? Dari mana kamu tahu alamat rumah baruku?" Karena sekarang Vania tinggal di perumahan menengah, maka jarak antara rumah satu ke rumah yang lain bernama dekatan. Maka dari itu sebisa mungkin ia merendahkan suaranya meski sekarang ia tengah emosi.
Yang telah menjadi mantan tunangannya itu lantas kembalikan tubuhnya dan memeluk erat Vania." Aku turut berduka cita atas kepergian orang tua kamu. Aku jadi tidak tega kalau melihat kamu sendirian. Aku mohon kasih aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya terutama hubungan kita."
"Apa-apaan sih?" Hardi Vania Soraya berusaha melepas dan mendorong beliau dari pelukannya." Pergi kamu! Aku nggak butuh rasa kasihan dan empati kamu, Aku nggak mau lihat kamu lagi!"
"Vania, aku mohon."
"Apa? Kamu berharap aku menerima empati kamu dan memperbaiki hubungan kita, kalau setelahnya kamu kembali membodohiku dan memanfaatkan situasi ini. Kamu pikir aku perempuan bodoh?! Tahu dari mana kamu rumahku?"
"Aku ngikutin kamu tadi malam. Sekarang kamu nggak tinggal di rumah itu lagi kan? Aku baru tahu kabar duka ini setelah aku pulang dari luar kota."
"Ini bukan urusan kamu. Aku gak butuh rasa kasihan dari kamu. Sudah ya, aku muak basa-basi sama kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini atau aku panggil pihak keamanan supaya ini diusir secara paksa!" Ujar Vania, makanya menjadi merah sebab menahan emosi, tangannya mengepal serta bergetar sebagai tanda bahwa ia benar-benar marah akan kedatangan laki-laki itu.
"Vania aku mohon, aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan kepada kamu. Aku sudah tidak bersama Karina lagi."
"Terserah itu bukan urusanku lagi, pergi!"
"Vania aku mohon, aku baru menyadari kalau sebenarnya aku menyayangi kamu. Kamu perempuan yang baik yang pernah aku kenal, Aku menyesal sudah menyia-nyiakan kamu, Vania."
"Sekali lagi aku bilang aku nggak peduli! Pergi dari sini atau akan aku pukul kamu pakai sapu ini!"
Raut wajah Deo terlihat kecewa, laki-laki itu juga belum terhadap Vania. Laki-laki itu kemudian berlalu pergi meninggalkan area rumah Vania. Sementara itu, napas Vania tersengal-sengal, tubuhnya menjadi lemah, sapu yang dia pegang terlepas dan terjatuh ke lantai. Tubuh kurusnya terjatuh dan meringkuk di ambang pintu.
"Kenapa orang kayak gitu gak bisa lihat aku tenang, sih? Aku sudah merasa sedikit tenang, tapi dia malah hadir lagi di kehidupan ku. Dasar laki-laki gak tau diri!" Gerutu Vania penuh amarah.
Dari dalam tiga asistennya itu bergegas menyusul Vania, mereka terkejut melihat Vania yang masih terduduk di dekat pintu. Dengan sigap mereka membopong Vania ke dalam dan menuntunnya untuk duduk di sofa tamu, Laras dengan cekatan menaruh banyak di belakang Vania agar bisa bersandar. Sedangkan Rika, bergegas ke dapur untuk mengambil air minum.
Laras memperhatikan wajah Vania, gadis itu kemudian memeluk Vania mencoba menenangkan." Mbak tenang ya, ada aku dan yang lain di sini."
" Aku cuma mau hidup tenang, Ras. Apa itu salah? Aku mau beli ponsel baru dan mengganti semua nomorku, gara-gara ponsel ini hidupku gak tenang," ujar Vania.
Rika bergegas dari dapur dan memberikan minum pada Vania. " Kamu minum dulu ya supaya tenang."
Vania menerimanya setelah mengucapkan terima kasih, ia perlahan meneguk air putih itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam, tatapannya kosongnya memandang ke arah depan. "Mah, pah, apa Vania sanggup menjalani hidup Vania yang seperti ini kedepannya? Vania lelah mah harus berhadapan dengan orang seperti Deo," batin Vania.