Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mendekati sebuah kebenaran
Sementara di sudut lain kota saat ini seseorang tengah tersenyum smirk, sambil memegang gelas minumnya ia menatap ke arah hamparan kota di balik dinding kaca apartemennya.
"Bagus sekali, Salsa. Kamu cukup lihai bertindak secepat itu." bisik Liora, dengan menyesap minumannya.
Tiba-tiba Liora merasakan sebuah tangan kekar memeluknya dari arah belakang.
"Kamu sedang apa sayang." bisik Raka, tepat di samping telinga Liora. Bukan membuatnya meremang, malah justru perlakuannya membuat Liora semakin muak. Perlahan Liora melepaskan pelukan Raka, ia menatap kedalam kedua manik hitam milik Raka.
"Raka, bukankah aku sudah mengatakannya? jangan melewati batas." ucap Liora, dengan nada lemah lembut. Mencoba tetap bersikap biasa saja seolah ia memang benar-benar tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di belakangnya.
"Sampai kapan, Li? kamu selalu menjaga jarak meski kita hidup satu atap yang sama." keluh Raka, dengan raut wajahnya yang menampilkan kekecewaan. "Kalau begitu, ayok kita menikah Li!" Lanjut Raka, dengan mengajak Liora kejenjang yang lebih serius, ia menatap Raka yang ternyata sungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Mungkin, kabar ini akan menjadi kebahagianku Raka! sebelum kamu memulai mengkhianatiku bersama Salsa." batin Liora, tersenyum getir dengan pengkhianatan kedua orang yang sangat ia percayai.
"Aku masih butuh waktu Rak!" jawab Liora singkat, lalu perlahan melangkah pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Raka yang kini mematung atas penolakan Liora.
"Sial! sebenarnya apa? yang membuat Liora sulit untuk langsung menerima ajakan ku." umpat Raka, dengan kekecewaan yang mendalam atas penolakan Liora.
Sementara di tempat lain, di sebuah sudut kamar. Bi Ratih sedang membersihkan kamar yang akan di tempat oleh Almaira, diam-diam Bi Ratih mencari apa yang seseorang itu perintahkan— yang ternyata seseorang itu adalah Liora.
"Di mana sebenarnya? alat yang Non Liora katakan." gumam Bi Ratih, sambil mencari ke sana kemari. Ia menyusuri setiap sudut kamar, hingga kedua matanya tertuju pada satu titik: di bawah tempat tidur.
"Apa mungkin, ada di sana?" bisik Bi Ratih, ia mulai melangkah menuju tempat tidur. dengan langkah pelan ia mulai menyusuri bagian sisi kiri tempat tidur, namun. Tidak menemukan apa-apa, hingga ia beralih ke arah sisi kanan tempat tidur tepat di samping nakas.
Bi Ratih mulai membungkukan badannya. Ia masuk lebih dalam ke bawah tempat tidur, dengan tangannya yang meraba-raba area tersebut. Tepat setelah beberapa menit akhirnya Bi Ratih merasakan benda kecil dan keras—sebuah alat penyadap yang diam-diam Liora sembunyikan, di saku baju tidur Salsa saat ia sedang bermalam dengan Raka. Dan tanpa Salsa sadari alat itu terjatuh di bawah tempat tidur setelah malam percintaan mereka.
"Akhirnya dapat." gumam Bi Ratih, perlahan ia menyimpan alat tersebut agar mudah terlihat oleh Almaira.
Namu tiba-tiba suara pintu terbuka, seketika Bi Ratih yang mendengar langsung terlonjak kaget. Ia segera menyimpan alat tersebut dan kemudian berusaha menormalkan kembali mimik wajahnya.
Ceklek suara pintu terbuka menampilkan Salsa yang berdiri di ambang pintu. "Bibi, Bagaimana apakah sudah selesai." tanya Salsa, yang kini berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Sebentar lagi Non." jawab Bi Ratih, sambil membersihkan nakas.
"Yang cepat dong Bi! lama banget sih padahal cuma membersihkan kamar saja." gerutu Salsa, dengan nada kesal
"Baik, Non. Bibi minta maaf." ucap Bi Ratih, dengan nada hormat.
"Ya sudah, jangan lama-lama. Mama mau istirahat." balas Salsa, dengan nada sedikit meninggi. Setelah mengatakan itu ia bergegas pergi meninggalkan Bi Ratih.
"Untung saja, tidak ketahuan Non Salsa." gumam Bi Ratih, sambil menghela napas lega.
Sementara sudut ruangan yang berbeda, saat ini Kevandra sedang berada di ruangan kerjanya.
Perlahan Salsa menghampiri Kevandra dengan membawa secangkir kopi kesukaanya. Salsa langsung membuka pintu ruangan kerja Kevandra.
"Mas, apakah masih sibuk." tanya Salsa, sambil menghampiri Kevandra. Ia menaruh gelas kopi tersebut di atas meja. "Aku membuat kopi kesukaanmu." ucap Salsa, dengan nada lembut yang di buat-buat.
Seketika Kevandra mengalihkan pandangannya dari laptop di hadapannya. Ia menatap Salsa dengan lembut berbeda dari biasanya.
"Terima kasih, Sa! kamu sudah mulai mencoba menjalankan peran sebagai istri seutuhnya untukku." ungkap Kevandra, dengan nada tulus.
Salsa duduk di samping Kevandra dengan menampilkan senyum terbaik yang ia miliki. "Sama-sama Mas, Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku akan mulai menerima pernikahan kita." jawab Salsa.
"Iya, sayang dan untuk itu aku mempunyai sesuatu untukmu." ucap Kevandra, lalu ia membuka laci meja kerjanya. Di sana terdapat kotak beludru berwarna merah, Kevandra mengambilnya, lalu dengan perlahan ia membukanya. Seketika terdapat dua cincin pernikahan. "Aku ingin mulai sekarang, karena kamu sudah menerima pernikahan kita. Kamu harus mengenakan kembali cincin pernikahan kita Sa!" jelas Kevandra.
Seketika Salsa mematung untung sesaat, "mengenakan cincin pernikahan kembali." gumamnya dalam hati, di tengah kebingungan yang kini ia rasakan.
Tanpa menunggu pesetujuan Salsa kini Kevandra sudah meraih tangan kiri Salsa, dan langsung menyematkan cincin pernikahan mereka. "Bagaimana, apakah kamu menyukainya?" tanya Kevandra dengan lembut.
"Ii-ya, Mas. Tentu aku menyukainya." jawab Salsa. sambil tersenyum tipis, ia berusaha tetap menjaga sikapnya agar tetap terlihat meyakinkan di depan Kevandra.
Sementara di tempat lain kini Almaira sedang berbincang dengan Bi Ratih. "Kamar sudah di bersihkan Bi!" tanya Almaira.
"Sudah, Nyonya besar! Sekarang Nyonya bisa langsung ke lantai atas untuk istirahat." ujar Bi Ratih, dengan membungkukan badannya.
"Baiklah Bi! saya istirahat dulu ya, kalau Kevan mencari saya, suruh dia langsung ke kamar saja, entah kenapa tiba-tiba perasaan saya dari tadi tidak enak hati, mungkin saya sedang kelelahan." jelas Almaira, tanpa Almaira sadari perasaannya berkaitan tentang kebenaran Salsa.
"Iya, Nyonya. Bibi akan menyampaikan pesan Nyonya jika tuan Kevandra mencari keberadaan Nyonya." balas Bi Ratih.
Setelah itu Almaira melangkah pergi meninggalkan Bi Ratih, Ia melangkah menuju lantai atas, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah yang terasa berat. Kini Almaira menuju kamar yang akan mengungkapkan segalanya.
Hingga kini Almaira sudah tiba, Tepat di depan pintu kamar, seketika jantungnya berdegup dengan kencang. Ia memegang knop pintu lalu perlahan mendorong pintu kamar. Ceklek! suara pintu terbuka.
Dengan langkah pelan Almaira melangkah masuk kedalam. Ia berjalan menuju tempat tidur, seketika kedua manik matanya menyusuri bagian kamar. Ia melangkah mendekat ke arah sisi tempat tidur.
Seketika saat itu juga pandangannya, menemukan sesuatu—sebuah benda kecil tepat berada di bawah nakas. "Benda apa itu?" gumam Almaira, Ia membungkuk dan meraih benda kecil tersebut.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag