Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
latar belakang
"Ku cerita kan versi kami ya, entah gimana lengkapnya kau dengar cerita kaulah menilai Boru. Disini kami kedua belah pihak menceritakan alkisah mu lah sebelum kau datang ke dunia ini..."
Pandangan ku mulai serius melihat dia, dia menatap ke arah Papa dan juga wanita itu masih berani duduk dengan kedua anaknya.
"Dulu Bapak mu, adekku menikah dengan Mama mu. Mama mu itu sudah janda, ada anaknya laki-laki, bagus kami terima Boru Saragih ini datang sebagai berkat di keluarga kami, tapi itulah enggak Boru Saragih yang benar-benar baik yang kami dapat, ada beberapa kali dia ketahuan selingkuh Boru... Marah kami, wajar kan kami marah." Air mata ku menjadi, sejadi-jadinya enggak tau aku menghadapi dunia ini gimana, ini masih keluarga internal yang tau gimana kalau keluarga bang Dean malu kali aku dengan latar belakang ku.
"Adalah dirimu didalam kandungan, usia kandungan mendekati hari kelahiran. Dipaksa Mamak mu inilah pulang hujan-hujanan dari rumah opung, dibawa lah Abang mu, pergilah Bapak mu menjemput kalian... Tapi na'aas enggak ada yang tau Boru. Kecelakaan kalian, selamat kau karena Mamak mu ini jatuh ke semak belukar sementara Abang sama bapak mu masuk ke dalam kolong mobil." Mamak menjerit histeris dengan cerita bapak tua, begitu juga Papa tertunduk malu dihadapan keluarga Sirait.
"Tau kau! Kenapa terjadinya kau dibilang anak haram. Karena Mamak mu itu datang pun enggak sama bapak mu waktu itu kerumah opung, ada teman-teman nya. Abang mu pun sering ketemu." Mama memelukku terdiam dengan penuh air mata, abang-abang ku juga ikut sedih memeluk ku.
"Ku bilang sama mamak mu, mungkin itulah Karma mu, tapi jangan lah turun karma mu ke kami."bapak tua mendekati Papa,menjabat tangan Papa tunduk lebih rendah. "Aku mohon maaf untuk ucapan ku yang lampau le, terimakasih sudah Lae jadikan boru ni raja si Miwa ini. Bagus pula Lae bikin namanya, enggak kami tuntut Lae mesti Boru Sirait ini. Karena kami pun gagal disini Lae, tapi meminta kerendahan hati Lae tolong lah izin kan dia tau siapa keluarga nya.
Kedua anak itu jadi memandangi ku, melihat ke arah ku dengan penuh makna.
Mereka saling berpelukan, saling mengakui kesalahannya masing-masing. Semua berakhir baik, Papa juga bilang kalau dulu mereka bisa negoisasi seperti ini mungkin tidak akan ribet masalah ku, datanglah ke pernikahan ku undangan dari Papa.
Bou tetap menyimpan dendam kepada ku, hanya dia yang tidak suka dengan damai di keluarga Sirait dan Saragih. Aku tetap menjadi anak Papa dan Mama, bersihnya hati Abang-abang ku kini ku rasakan. Mereka mulai menunjukkan sikap yang pernah aku rasakan.
Malam itu awal baru bagi ku, bagaikan terlahir kembali aku menerima bahwa semua latar belakang telah terbongkar semua. Aku punya keluarga yang tidak bisa diketahui sembarang orang itu kenyataan nya. Tiga hari setelah besok adalah hari pernikahan kedua, Abang berencana mengajak liburan keluarga setelah hari H pernikahan ku, keramah tamahan Abang ku rasakan. Abang bukan orang yang kasar ternyata, Abang anak yang penuh canda dan tawa hanya candaan itu berupa sarkas jaim.
"Mi, kau masih ingat yang kita bawa Papa ke rumah opung payung?" Kata Abang pertama ku, dia tetap duduk menjaga jarak. Aku tidur di kasur bersama ipar ke dua ku dan juga Abang ke-2 sementara dia duduk bermain rubik dimeja belajar ku. Istri nya sedang menidurkan anak mereka, aku terdiam berusaha mengingat nya.
"Ohhh aku ingat itu bang," kata Abang ke dua menyaut. "Mi,jangan kau bikin kek gitu nanti dirumah tangga mu ya." Abang pertama ku jadi tertawa karena hanya mereka yang tau tentang cerita dirumah opung payung, Mama nya Papa.
"Kenapa emang bang, kok kalian ketawa. Ada yang lucu." ipar ku berusaha ingin tau, ternyata fokusnya tidak pada handphone melainkan lemparan sepenggal cerita dari para Abang ku.
"Si Miwa kan pernah waktu kecil dibawa pertama kali ke rumah opung payung, terus itu dia minta pup sama Mama, kan kau tau sendiri WC, kamar mandi baru dibangun beberapa tahun belakangan ini kan. Nah itulah..." Abang berusaha mengingat, lanjut bercerita setelah ketawa. "Nah, kan eh pup Miwa dekat rumah opung dibikin Mama. Terus ada anjing opung kan, temani dia berak tau kau ditinggal Mama lah masak. Kami juga main-main waktu ya, enggak berapa lama lari dia tau kau, di jilat anjing pantat nya." Spontan mereka semua tertawa, tertawa yang benar-benar ngakak banget. Enggak berhenti sampai Abang cerita soal kakak, " Untung lah kan dia punya kakak, kakak nya itulah yang bikin dia diam kalau enggak terus nangis."
"Ahhh ceritanya kok mengandung bawang," kataku selaku korban bullying mereka tidak merasa itu sebuah and-ing yang bagus, mereka merenung sejenak kemudian mencari topik baru untuk diceritakan. "Tapi kau sama Dean beda berapa Mi, kenapa ku lihat Dean sepantaran sama Abang." Abang pertama sudah mendapat file foto-foto pertunangan kami, mengirimkan nya kepada kami di grup.
Fotografer yang disewa Abang ku merupakan temannya, jadi ada harga cincai nya wkwkwk. Abang melihat-lihat Dean sampai ke keluarga nya. "Emang,beda 10 Tahun kan, kalau sama Abang lebih tua Dean 1 tahun." Rubik yang semula di letakkan di meja dilempar ke arahku. " Mainan mu om-om! " lemparan itu membuat kakak ipar ku terkejut.
"Ah.Sepuluh tahun itu hanyalah angka bang, terpenting kan dia sudah mapan dan bertanggung jawab penuh."
Memang kami masih ada rasa canggung, berusaha mendekat sehabis tidak baikan selama beberapa tahun masih kelihatan kan, aneh kalau dekat begini.
"Mau martabak enggak," ipar ku yang pertama datang dengan pesanan nya. "Anak mana?" kata Abang pertama ku datang menghampiri dia, menyerahkan kursi selagi Abang yang duduk dibawah kasur. "Sama Bou."
Kami berkumpul ria, suasana begini sudah berapa puluh kali ku bawa dalam doa,tuhan kabulkan di waktu yang tepat.
selesai itu kamarku menjadi tempat perkumpulan kami,kedua kakak ipar ku tidur bareng dengan ku, sementara dua Abang ku di bawah. Rasanya damai banget seperti ini, bila kedekatan ku dengan bang Dean adalah awal yang baik sudah dari dulu ku cari pria yang bernama Dean Manullang par Siantar topi tao itu. Kira-kira apa ya kegiatannya sekarang, sedari kemarin kami tidak saling kontak-kontakan, keluarga nya juga hanya kasih kabar sesaat aja kepada orang tua ku.
Mudah-mudahan hal buruk tidak terjadi ya Tuhan, acara pernikahan nanti dirumah orang tua bang Dean, kemungkinan besok aku akan di jemput oleh keluarga mereka, atau tidak akan di antar kedua orang tua ku. Tidak sabar rasanya akan menjadi istri seseorang, andaikan ada dosa karma jangan dibalas di pernikahan ku ya Tuhan.
"Mi, sebelum acara mu pergilah kalian ke salon. Bawa eda-eda mu itu," perintah Abang untuk membawa para istrinya pergi bersama ku. "Ya udah nanti kami ke salon, titip si kecil ya." Istri nya menjawab dengan senang hati.
Sehabis masak dan berbenah kami pergi ke salon dalam mall Medan, disana rambut dan kulit ku melakukan perawatan. Tak lupa untuk nail art, lumayan cakep hasilnya aku suka.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰