NovelToon NovelToon
Bu CEO Korban Makcomblang

Bu CEO Korban Makcomblang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berondong / Cinta Beda Dunia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.

Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.

Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.

Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.

Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.

Cover Ilustrasi by ig pixysoul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

"Saya menolak perjodohan itu, Bu," kata Dafsa di tengah perjalanan pulang.

Mobil yang dibawa Arcila terus maju, seakan omongan si lelaki di kursi penumpang nggak ngasih pengaruh apa-apa. Arcila enjoy aja, karena dia mikir sekeras apa pun Dafsa nolak, perjodohan di antara mereka bakalan tetep jalan. Selain ada Rama yang bakalan dukung sampai mereka nikah, ada Suseno yang juga nggak segan-segan ngasih jaminan kalau perjodohan itu pasti lanjut ke jenjang yang lebih serius.

Arcila ngerasa posisinya udah aman. Dia nggak perlu lagi pura-pura, toh takdir ada di pihaknya. Dia cuma perlu jalanin hubungan sama Dafsa aja. Hambar atau sekedarnya juga nggak apa-apa, yang penting posisinya sebagai pewaris tunggal aman sentosa.

"Kita nggak seharusnya nikah. Kita nggak cocok."

"Yang bilang kita cocok siapa?" tanya Arcila sambil noleh ke samping. Ekspresinya yang datar bikin Dafsa sedikit kesel.

Kalau Arcila punya pemikiran yang sama kayak Dafsa, terus kenapa perempuan itu kelihatannya seneng-seneng aja sama perjodohan kakek-kakek mereka? Kenapa Arcila nggak bilang dia butuh cowok yang setara sama dia dalam segala hal?

"Ya sudah, berarti perjodohan kita harus dibatalkan." Dafsa bicara formal, tanda kalau dia beneran serius.

"Nggak bisa. Kita harus tetap menikah. Mas Dafsa harus jadi suami saya."

Tiga kalimat itu penuh arogansi, dikasih sedikit campuran obsesi yang bikin Dafsa makin nggak tenang. Nikah sama Arcila? Dia yakin hidupnya makin kacau balau. Dafsa bakalan terus jumpalitan tiap harinya ngadepin Arcila yang absurd. Perempuan itu dingin, teratur, penuh tekad. Tapi di sisi lain, dia juga gila. Dafsa yakin di dalam otak Arcila, ada banyak ide nggak masuk akal, yang bahkan nggak bakalan pernah terpikirkan sama manusia normal kayak dirinya yang nggak pernah aneh-aneh.

"Bu—"

"Saya nggak mau nyari yang lain, itu bikin repot. Kita jalanin yang udah ada aja. Toh saya juga tetep bayar, kan?"

Emosi Dafsa udah mendidih, bikin tangannya langsung terkepal. "Saya kasih Bu Arcila dua hari buat mikirin semua ini. Kalau Bu Arcila masih keras kepala, saya sendiri yang akan bongkar semuanya!"

Ancaman itu cuma dianggap angin lalu. Arcila beneran nggak mau dengerin apa kata Dafsa. Besoknya, dia dateng sendiri ke rumah Sri buat bilang semuanya lebih awal.

Supaya apa? Supaya sekutunya makin banyak, dan Dafsa nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain nurut kayak biasanya. Pokoknya sampai kapan pun, nggak boleh ada yang mengganggu gugat rencana Arcila. Kalau dia mau Dafsa jadi suaminya, itu artinya emang harus.

Ada kendala? Arcila bakal bikin semua kendala itu menyingkir. Dia punya banyak cara demi mempertahankan apa yang harusnya dia punya. Dan sejak denger kalau dia dijodohin sama Dafsa bahkan sebelum mereka lahir, Arcila udah nganggap Dafsa sebagai miliknya yang nggak boleh pergi, apalagi disentuh orang lain.

"Jadi Pak Suseno itu kakek kamu, Cila?" tanya Sri masih nggak nyangka. Dia tahu betul siapa Suseno, karena dulu mendiang ayah mertuanya sering cerita.

"Iya, Bu. Maaf kemarin-kemarin aku terpaksa nggak ngakuin siapa aku sebenernya. Itu karena Mas Dafsa terus ngerasa pesimis hubungan kami nggak berhasil. Tapi udah sering aku bilang 'kan, Bu, sejak awal keluargaku suka sama Mas Dafsa. Mereka nggak apa-apa kalau kami nikah," tutur Arcila santai. Dia nyaman ngobrol sama Sri alias calon ibu mertuanya.

Sri masih dalam proses mencerna semuanya. Dia tahu Arcila anak orang kaya, tapi dia nggak nyangka perempuan yang kata Diva adalah pacarnya Dafsa, yang sering mampir ke rumah bawa banyak makanan terus nemenin Sri ngobrol sampai berjam-jam, ternyata adalah anak dari pemilih hotel. Dan yang lebih nggak disangka-sangka lagi, Arcila adalah cucu dari Suseno Astoria.

Kepala Sri agak pusing. Dia minum air anget seteguk demi seteguk. Sekarang tenggorokannya lumayan lega, tapi dia masih bingung harus ngomong apa.

"Wajar Dafsa pesimis, Cila," kata Sri pada akhirnya. "Kamu anak orang berada, jauh sekali dari ekspektasi Ibu. Mungkin Dafsa bingung harus nikahin kamu dengan cara apa, sementara ... yah, kamu tahu sendiri kerjaan Dafsa bagaimana."

"Bu, tolong jangan bicara begitu. Apa aku harus bawa Mama, Papa, dan keluargaku yang lain ke sini secepatnya, supaya Ibu bisa lihat sendiri sediterima apa Mas Dafsa di keluargaku?" Arcila lagi serius. Gimana pun caranya, Sri harus setuju sama perjodohan yang udah diatur Suseno sama mendiang Yahya.

"Lagipula, nggak ada yang salah sama kerjaannya Mas Dafsa. Kerjaannya mulia. Mas Dafsa orang terhormat."

Perlahan tapi pasti, Sri jadi kebawa suasana. Maksudnya, dia tersentuh sama omongan Arcila yang kelihatannya beneran nggak masalah sama karir dan penghasilan Dafsa yang jauh di bawahnya. Di mata Sri, Arcila orangnya tulus. Dia bisa nerima Dafsa apa adanya. Padahal itu semua cuma siasat yang udah disiapin Arcila dari kemarin.

Udah kebuktian 'kan, kalau dia itu beneran pinter? Mulut manisnya nggak cuma ngandung gula, tapi juga racun berbahaya. Buktinya sekarang, Sri udah bisa rileks waktu Arcila bilang keluarganya bakalan dateng minggu depan.

Akan tetapi, sayangnya sebelum Sri setuju sama rencana kedatangan keluarga Arcila, Dafsa udah pulang duluan. Dari ekspresi mukanya, dia kelihatan marah waktu lihat Arcila ada di rumah.

Nggak perlu basa-basi, Dafsa udah tau apa yang lagi dilakuin Arcila. Dia beneran marah sekarang, sampai nggak ngeluarin suara waktu bilang mereka harus bicara berdua.

Arcila ngikutin Dafsa ke kebun tetangga yang kebetulan ada di samping kanan rumah Sri. Di sana sepi, hampir nggak ada suara karena hari udah hampir malam.

"Bu Arcila tidak bisa mendengar larangan saya kemarin sore?" tanya Dafsa, datar tapi penuh emosi.

"Bisa, saya punya telinga. Tapi saya nggak mau peduli," jawab Arcila berani. Dia nggak segan balas tatapan Dafsa.

Takut? Nggak sama sekali. Pengalaman Arcila banyak banget. Dia udah biasa menghadapi banyak orang selama kerja di hotel. Baginya, amarah Dafsa nggak bakalan berarti apa-apa asalkan perjuangannya berhasil sampai akhir.

"Tolong hentikan, Bu, saya muak. Saya capek harus berhadapan dengan Bu Arcila tiap waktu. Kita nggak bisa jadi suami istri!" tegas Dafsa menumpahkan isi hatinya. Dia beneran berharap kali ini Arcila ngerti.

Namun, sesuatu di luar dugaan malah terjadi. Arcila maju, bukan buat bantah omongan Dafsa, tapi buat megang dadanya yang masih dibalut seragam ASN.

"Saya selalu penasaran, seberapa bidang dada Mas Dafsa. Boleh saya lihat secara langsung?"

Astaga ....

Dafsa hampir gila menghadapi Arcila. Mudah banget buat perempuan itu mengalihkan topik pembicaraan.

"Nanti kalau kita nikah—"

"Nggak! Sampai kapan pun kita nggak akan nikah! Saya lebih baik jadi bujangan tua daripada—"

Kalimat Dafsa stop sampai sana. Bukan karena dia kehilangan kata-kata, tapi karena Arcila nyentuh langsung bibir Dafsa pake ibu jarinya.

Dafsa refleks mundur. Dia nggak ngerti kenapa Arcila terus ngeliatin tanpa berkedip. Dia gugup, mulai berpikir apa jangan-jangan ada makhluk halus yang nempel di diri Arcila, sampai perempuan itu nggak ngeluarin ekspresi apa-apa? Mukanya beneran datar.

"Bu," panggil Dafsa punya niat megang pundak Arcila. Gerakannya yang pasti malah menimbulkan perkara baru. Tiba-tiba aja Arcila jinjit sambil tetep megang dadanya, terus ngasih satu kecupan di bibir Dafsa.

Ciuman pertamanya!

Dafsa bengong. Tubuhnya kaku. Arcila nggak berhenti sampai sana. Dia tarik bahu Dafsa terus ngasih satu ciuman lagi. Kali ini lebih dalam, lebih lama.

Aroma parfum Arcila bikin kepala Dafsa pusing. Sebelum semuanya makin jauh, dia dorong tubuh Arcila. Perempuan itu mundur beberapa langkah.

Wajah Dafsa merah. Pertama karena malu, kedua karena marah.

"Bu Arcila makin berani!" cetusnya mengepalkan tangan.

"Biar saya tegaskan sekali lagi. Mulai detik ini, hubungan bisnis kita berakhir! Saya nggak pernah mau lagi berurusan sama perempuan kayak Bu Arcila yang datar, gila, dan seneng nyusahin hidup orang lain! Saya berharap Bu Arcila punya malu dan berhenti muncul di hadapan saya! Satu hal lagi, nggak semua hal bisa dibeli dengan uang! Saya punya harga diri, dan sampai kapan pun, saya nggak akan pernah menyerahkan harga diri saya, tubuh saya, dan apa pun yang saya punya ke tangan perempuan yang nggak punya nurani seperti Bu Arcila!"

Telak. Isi hati Dafsa tumpah seluruhnya. Dia langsung berbalik, nggak noleh lagi ke belakang. Hati Dafsa beneran panas. Dia sangat-sangat marah sama perbuatan Arcila.

Soal perjodohan? Masa bodoh, Dafsa nggak peduli! Satu yang bakalan Dafsa pastikan sendiri, kalau dia sama Arcila nggak akan pernah ketemu lagi di kebetulan mana pun. Semua akses buat Arcila akan ditutup. Dia nggak sudi lagi berurusan sama perempuan gila yang satu itu!

1
yuma
ngakak bangettt anjirr, lgian cuci motor cma pke kolorrr mna wrna kuning🤣🤣
yuma
udahlah daf, klau itu udh jd keputusan arcila. toh gak ada ruginya bagi km
Wulandaey
aihh cila walaupun kesel masi belain kang mas dafsa
Wulandaey
yeu andra suka ikut campur deh🤣 dah nyingkir lah cila sukanya ama mas dafsaa
Nurani Putri
mungkin ini alasan dy di cerai sma istri nya trdahulu kali ya rempong
Nurani Putri
ayoo daf tinggal blg maaf susah btul
ainnuriyati
hahahaa maluu nya sampe ke kolor kolor tu🤣
ainnuriyati
cila bgitu jg krn kepepet daf aslinya ma bener itu
brilliani
ah, tipe cowo rempongg ama sok ngatur ya
brilliani
🤣🤣 dafsa mulai jilat ludah sendiri
Hardy Greez
dicariin cilaa 🤭 papa mertua jg nanyanya ke dafsa yaa
yuma
kasian udah pedeee bgtt🤣🤣
yuma
akhirnya ada hilal cemburu wkwkw
yuma
awass nyesel dafsa🤭
yuma
njrr trnyta udh di jodohin dri orokkkk, cma bda nasib aja
yuma
njrrr smpe di kirain teronggg, aduhhh pusing jga dgn arcilaaa
Caramel
tapii dafsa udh mulai pedulii Ihkk, kecarian jga dia gaada arcila
Caramel
gak espekk bgtt dudanya msh muda, tapi gacor bgtt udh pnya anak 5
Caramel
hmmm yukkk dafsa buka hati, Terima aja cegil itu
Caramel
gak bisa berkata-kata lgi dengan kelakuan gila arcila😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!