Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Perkenalan Diri Part 2 —
Aku tidak bisa melihat apa-apa. Pandanganku gelap.
Kepalaku masih ditahan oleh Elena, dan aku sebenarnya tidak keberatan sama sekali. Hanya saja bernapas terasa lebih sulit sekarang.
"Halo, selamat pagi semuanya!"
Samar-samar aku bisa mendengar suara gadis itu.
"Dia cantik, ya?"
"Kau melirik ke mana?"
"Diamlah, kita terpaksa berpasangan!"
Karena indra penglihatanku tidak berfungsi, bagian telingaku jadi aktif lebih dominan. Dan aku bisa mendengar suara bisik-bisik di sekitar.
Sepertinya aku paham kenapa Elena melakukan ini padaku. Tanpa perlu dijelaskan lagi, sudah pasti dia juga cemburu.
Mengetahui sisinya yang seperti ini membuat suhu tubuhku meningkat, rasanya begitu hangat. Tentu saja aku jadi senang karenanya.
"Kami akan memperkenalkan diri sebagai pasangan."
Suara gadis itu kembali terdengar.
"Namaku Sera Nanashi, dan laki-laki yang menjadi pasanganku adalah Satoshi Akanji. Kalian bisa panggil aku Nanashi, dan Akanji untuk pasanganku."
Aku hanya bisa mendengarkan. Apalagi setelah merasakan sentuhan dari Elena, aku yakin dia tidak berniat melepaskanku sebelum gadis itu selesai.
"Kalau kalian penasaran, aku ini peringkat A, sementara pasanganku ini peringkat B."
"Kami tidak berniat kalah dari kalian semua, dan tentunya kita juga harus bersaing secara sehat. Sekian dari kami, terima kasih!"
Oh, sungguh perkenalan yang singkat. Kedengarannya biasa saja, dan dia tetap memamerkan peringkatnya seperti sebelumnya.
Suara tepuk tangan menyusul setelahnya. Lalu disusul oleh tekanan di kepalaku yang semakin berkurang, membuat napasku jadi lebih lega.
Sekarang aku bisa melihat sepenuhnya, meski pandanganku masih sedikit rabun.
"Elena."
Aku pun memanggilnya. Bukan untuk meminta penjelasan sebenarnya.
"Kenapa?"
Dia merespons dengan nada datar.
"Mereka tadi ada melakukannya sesuatu atau tidak?"
"Tidak ada. Dia hanya pamer peringkat."
"Ya, aku dengar tadi."
Rupanya mereka tidak melakukan apa-apa. Aku jadi punya satu kata untuk Sera Nanashi, yaitu mengecewakan.
Percuma saja pamer peringkat kalau hal kecil saja bisa terlewatkan. Kupikir dia menyadari sesuatu, tapi ternyata tidak sama sekali.
"Baiklah, sekarang aku akan menunjuk sendiri pasangan berikutnya."
Yagami-sensei mulai bicara saat suara tepukan tangan perlahan memudar. Jari tangannya lalu terangkat, bersiap untuk menunjuk.
"Kalian yang di dekat jendela, maju!"
"Eh? Kami?"
Aku refleks merespons begitu sadar kalau jarinya mengarah ke tempatku dan Elena berada.
"Memangnya siapa lagi?"
Tatapanku menoleh sekilas ke Elena, dan dia terlihat cukup tenang.
Ada yang aneh. Seingatku Yagami-sensei tadi bilang kalau urutan perkenalannya sesuai peringkat poin pasangan, jadi harusnya kami ada di urutan ke-sepuluh.
Aku tidak ingin berpikir, tapi aku langsung sadar akan sesuatu. Mulutku perlahan menyeringai setelahnya.
"Kau hebat juga, Elena."
"Apanya yang hebat?"
"Tidak apa-apa, rencana yang bagus."
"Kenapa kalian malah berbincang? Cepat maju!"
Setelah didesak oleh Yagami-sensei, kami pun berdiri dan mempersiapkan diri untuk maju.
Banyak tatapan mata yang kembali mengarah ke sini, mengikuti langkahku dan juga Elena yang sedang menuju ke depan kelas.
Aku bisa mengabaikan mereka semua selama pasanganku tidak tertekan. Andai saja dia tampak tidak senang, aku sudah pasti akan melakukan sesuatu pada mereka.
Begitu kami tiba di depan kelas, aku diam sejenak. Kami berdiri berdampingan, menatap ke depan.
Melihat mereka semua duduk berdua dengan lawan jenis, rasanya aku langsung mengerti kalau cinta itu sulit untuk dipaksakan.
Tidak, jangan bahas itu sekarang.
"Naruse-kun, tolong buka! Sisanya biar aku yang urus."
Elena berbisik sebentar, membuyarkan lamunanku sepersekian detik.
Aku tidak menatap ke samping dan hanya mengangguk untuk memberi kode bahwa aku mengerti.
Dengan posisi berdiri tegap menghadapi puluhan mata yang tidak kukenal, napasku sempat tertahan. Bukan karena gugup, tapi aku tidak ingin mengacaukan hidup Elena jika salah bicara.
Ini adalah sesi perkenalan atau sesi pembuka yang krusial untuk imej kami kedepannya.
"Umm... semuanya."
Aku mulai bersuara, tidak nyaring tapi harusnya tetap bisa terdengar ke seisi kelas.
"Begini, aku akan senang kalau kita semua bisa berteman seperti biasa. Mungkin itu saja dariku, dan sisanya akan dilanjutkan oleh pasanganku."
Jempol kiriku mengarah ke samping, memberi kode ke mereka bahwa aku benar-benar berhenti bicara.
Namun, beberapa masih menatapku heran. Hanya sebagian yang beralih ke Elena.
Aku tahu kalau perkenalanku terdengar membosankan, tapi itu adalah perkenalan yang sangat biasa. Dan tentunya ini rencana kami dari awal.
Kami tidak berniat menarik diri dari lingkungan sosial, makanya kami sebisa mungkin bertindak normal seperti murid sekolah pada umumnya.
Beberapa saat kemudian, suara Elena terdengar.
"Yah, aku minta maaf jika pasanganku tidak memenuhi ekspektasi kalian."
Dia mengatakannya dengan nada tegas. Dan aku jelas menikmati ini.
Rasanya agak sulit untuk tidak tersenyum sekarang, tapi untungnya wajahku bisa diajak kerja sama.
"Mungkin kalian ingin tahu namanya, jadi akan kuberitahu duluan. Laki-laki ini bernama Naruse Takashi, dan aku sendiri Elena Miyazaki. Lalu, dengarkan ini baik-baik!"
"..."
"Aku hanya ingin bertanya satu hal, dan tidak perlu dijawab tentunya."
Keadaan hening, menunggu kata-kata selanjutnya dari Elena. Dia sempat mengedarkan pandang ke seisi kelas sebelum akhirnya melanjutkan.
"Apakah kita tidak bisa berteman tanpa memandang peringkat? Itu saja pertanyaannya, sekian!"
Kritik yang bagus, harusnya itu bisa membuat Sera Nanashi langsung sadar. Bahkan tanpa perlu memandang ke tempat duduknya, aku sudah bisa merasakan tatapan tajam.
Tak lama suara tepukan tangan terdengar, kali ini lebih meriah.
"Sungguh pembukaan yang menarik. Ah, tidak... kalian sudah menarik perhatianku dari awal."
Yagami-sensei sampai ikut bertepuk tangan, padahal beliau tidak melakukannya sebelumnya.
"Takashi-kun, Miyazaki-san... ada satu alasan kenapa aku mengubah urutan majunya. Mau tahu kenapa?"
"Ke-kenapa begitu, Sensei?"
Elena memberanikan diri untuk bertanya. Sementara aku hanya diam, menatap wajah Yagami-sensei yang tampak antusias.
Ini lumayan gawat, maksudku rencana kami kemungkinan tidak akan berjalan mulus.
"Kalian sadar akan sesuatu, dan kalian bisa membedakan antara tugas dengan misi."
"Apa maksudmu, Sensei?"
"Ayolah, kalian tidak bisa membodohiku. Aku ini guru yang berpengalaman. Firasat kecilku juga mengatakan sesuatu."
"I-iya, Anda hebat?"
Aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Terlebih lagi, Elena tampak tertekan.
"Anu, maaf... Yagami-sensei. Percayalah, kami hanya beruntung!"
Secara terpaksa, aku menyela pembicaraan mereka.
Yagami-sensei kini menatapku, dan entah kenapa dia malah semakin antusias.
"Beruntung, ya? Kalau tidak salah, nama kalian juga tercatat sebagai pasangan pertama yang berhasil membuka pintu kamar asrama."
"Itu juga beruntung!"
"Oh, menarik sekali. Lalu, kalian bertukar jam tangan karena ingin mencoba peruntungan lagi?"
"Eh? Kenapa Anda bisa tahu?"
"Sudah kubilang, kalian tidak bisa menipuku... meski aku tidak melihat kalian melakukannya."
"Jadi Anda tidak melihatnya, kan?"
"Ah, keras kepala sekali."
Mengabaikan seisi kelas yang tampak bingung dengan pembicaraan kami, aku terus maju demi melindungi Elena.
Namun, sepertinya kami akan terkena skak mat oleh Yagami-sensei. Beliau seolah tahu segalanya, dan ini jelas merepotkan.
"Ya, sudahlah. Aku yakin kalian punya alasan tersendiri. Kalian bisa kembali sekarang!"
"Ba-baik, terima kasih!"
Kami selamat, setidaknya untuk sementara waktu.
Kami pun kembali ke tempat duduk kami, sembari menghadapi banyak tatapan penasaran.
Begitu kami sudah duduk di tempat, akhirnya mereka mulai kehilangan minat. Lalu, layar hologram muncul.
[Selamat, Misi Hari Pertama Selesai!]
[Hadiah: 100 Poin Pasangan]
Kuharap tidak hanya kami yang menyadari misi ini, karena kalau tidak, peringkat kami akan langsung melonjak drastis.