"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Alexander Lambert Telford adalah definisi dari pangeran es di SMA Elite International. Jika ayahnya, Danesha, masih memiliki sisi ramah yang manipulatif, Alex mewarisi sisi dingin dan kalkulatif dari Mommy-nya, Pricillia Carolyna.
Di sekolah, kehadirannya seperti badai sunyi indah dipandang, namun mematikan jika terlalu dekat.
Alex tidak pernah berjalan sendirian. Di belakangnya, selalu ada tiga sahabat setianya yang dikenal sebagai "The Nobles": Lexa yang flamboyan namun tajam, Denis sang otak strategi, dan Jared si atletis yang temperamental.
Mereka adalah benteng yang memastikan tidak ada sampah yang bisa menyentuh Alex.
Setiap kali Alex melewati koridor, suasana mendadak senyap.
Para pemujanya berbaris di pinggir, menahan napas.
"Alex! Aku punya tiket konser VIP buat Sabtu ini, kamu mau..." seorang siswi populer mencoba peruntungannya.
Alex terus berjalan tanpa menoleh. Wajahnya datar, matanya lurus ke depan seolah siswi itu hanyalah udara kosong.
"ekhem," hanya itu gumaman dingin yang keluar dari tenggorokannya sebagai respon terhadap keberadaan manusia di sekitarnya.
Gila adalah kata yang tepat untuk menggambarkan para pemuja Alex. Di lokernya, bukan lagi sekadar surat cinta, melainkan kunci kamar hotel atau foto-foto vulgar dengan pesan tertulis di baliknya.
Suatu siang di area lounge sekolah, seorang siswi dari keluarga konglomerat, Clarice, sengaja mencegat Alex saat ketiga temannya sedang memesan kopi.
Clarice membungkuk, membisikkan sesuatu yang sangat berani di telinga Alex.
"Aku tahu kamu punya gairah yang besar, Alex. Aku dengar keluarga Telford itu buas. Kalau kamu butuh tempat pelepasan... aku tersedia malam ini. Di mana saja kamu mau."
Alex menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, menatap Clarice dengan mata elangnya yang sedingin kutub utara. Ia tidak marah, ia tidak jijik, ia hanya... kosong.
"oh ya?" gumam Alex lagi. Ia kemudian melangkah pergi, meninggalkan Clarice yang gemetar karena merasa baru saja ditatap oleh mesin pembunuh, bukan seorang remaja laki-laki.
Hanya satu orang yang berani dan diizinkan berada dalam radius satu meter dari Alex tanpa diusir oleh The Nobles:
Amelie Roosevelt Marius. Namun, status sebagai tetangga sejak kecil pun tidak membuat Amelie mendapat perlakuan istimewa dalam hal komunikasi.
Sesuai perintah Alex semalam, mereka berangkat bersama. Di dalam mobil Rolls-Royce milik keluarga Telford, suasana sangat sunyi.
"Alex, tugas sejarah kamu udah selesai?" tanya Amelie mencoba mencairkan suasana.
"Hm."
"Nanti malam ada acara di rumahku, Papa tanya apa kamu mau datang?"
"Hm."
Eleanor menghela napas, menatap profil samping wajah Alex yang sempurna namun kaku.
Alex yang sedari tadi hanya berdehem, kini menggeser duduknya hingga lututnya bersentuhan dengan paha Eleanor. Ia melepaskan tasnya dan menatap El-Nya dengan tatapan yang jauh lebih dalam, bukan lagi tatapan kosong yang ia tunjukkan pada Clarice.
"Berhenti tanya soal tugas sejarah, El. Lo tahu gue udah selesai sebelum gurunya kasih instruksi," suara Alex keluar, berat dan penuh otoritas, sangat berbeda dengan gumaman Hm yang biasanya.
Amelie menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan drastis itu. "Ya terus aku harus tanya apa? Kamu di depan orang lain kayak patung. Aku hampir lupa kalau kamu punya pita suara."
Alex meraih satu helai rambut Amelie, melilitkannya di jarinya dengan gerakan posesif. "Gue nggak punya kepentingan buat bicara sama orang-orang nggak berguna itu. Energi gue terlalu mahal buat mereka."
Alex menarik napas panjang, menghirup aroma vanila dari rambut Amelie yang selalu menjadi pemicu gairah liarnya setiap malam. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Amelie, membuat gadis itu merinding seketika.
"Soal acara di rumah lo nanti malam... gue bakal datang," bisik Alex. "Tapi gue nggak mau liat lo bicara sama anak-anak dari keluarga Miller itu. Gue denger si Liam Miller nanya-nanya soal lo ke Denis kemarin."
"Alex, itu kan cuma relasi bisnis Papa..."
"Gue nggak peduli," potong Alex tajam.
"Satu kata keluar dari mulut lo buat dia, gue pastiin dia nggak bakal bisa masuk sekolah besok. Lo denger gue, El?"
Amelie menelan ludah. Ini adalah sisi Alex yang hanya ia yang tahu. Dingin di luar, namun membara dan sangat mengontrol di dalam. "Kamu posesif banget, Lex. Mirip Om Danesha."
"Gue lebih parah dari Daddy, El. Karena gue nggak sesabar dia," sahut Alex sambil menatap bibir Amelie dengan lapar.
Saat mobil perlahan memasuki gerbang SMA Elite International, Alex kembali memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya yang tadi ekspresif mendadak berubah menjadi datar dan kaku dalam hitungan detik. Tembok es itu kembali naik, lebih tinggi dari sebelumnya.
Sopir membukakan pintu. Alex keluar lebih dulu tanpa menunggu Amelie. Di sana, Lexa, Denis, dan Jared sudah menunggu dengan gaya angkuh mereka.
Kerumunan siswi mulai berbisik-bisik, memuja sang Pangeran Telford yang baru saja tiba.
Amelie keluar dari mobil di belakangnya. Di depan semua orang, Alex hanya meliriknya sekilas, seolah Amelie hanyalah tetangga yang kebetulan menumpang.
"Jalan," perintah Alex pada The Nobles.
"Alex!" panggil seorang gadis kelas sepuluh yang nekat berlari mendekat sambil membawa kotak bekal. "Aku buatin sushi buat kamu!"
Alex terus berjalan. "Hm," gumamnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Ia melangkah masuk ke koridor dengan langkah tegap, mengabaikan tatapan memuja dan tawaran-tawaran gila dari para wanita di sekolahnya.
Di kepalanya, ia hanya menghitung jam sampai sekolah berakhir, sampai ia bisa kembali berdua saja dengan El-Nya dalam kesunyian mobil, atau lebih baik lagi, dalam kegelapan acara nanti malam di mana ia bisa mengawasi miliknya dari kejauhan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍😍
masih nyimak 🤣