Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran yang Bertambah
Sehari sebelumnya, kafe tidak terlalu penuh pengunjung. Hujan mengguyur sebentar lalu reda, meninggalkan jalan yang lembab dan udara yang sedikit dingin. Aurellia sedang merapikan bagian bar ketika Alvaro datang seperti biasa, mengambil tempat favoritnya dekat jendela.
Mereka tidak berdiskusi tentang topik berat, hanya berbincang ringan mengenai cuaca dan kopi. Namun, entah kenapa, sore itu terasa lebih santai. Tidak terburu-buru. Tidak ada jarak yang terasa mengganggu.
“Aku capek banget hari ini,” ujar Aurellia tiba-tiba, tanpa nada mengeluh. Tangannya terus sibuk menata gelas. “Aku bukan capek karena kerja… lebih ke capek dari rumah. ”
Alvaro menatapnya. “Kenapa gitu? ”
Aurellia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan apakah ia harus melanjutkan kalimat berikutnya atau menyimpannya saja. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk terus bercerita.
Tentang Nara, adiknya, yang pagi itu membuat keributan di rumah karena terlambat ke sekolah. Tentang bagaimana Nara selalu banyak bicara, sok tahu, dan suka mencampuri urusan orang lain—termasuk urusannya. “Kadang ngeselin,” ujarnya sambil tersenyum kecil, “tapi waktu rumah sepi, dia yang paling aku kangenin. ”
Ia tidak menyadari bahwa ia sudah bercerita sejauh itu sampai Alvaro tertawa pelan. Tawa yang tidak menyakiti, tetapi hangat. Ia mengatakan bisa membayangkan Nara sebagai tipe anak yang tidak bisa diam. Aurellia mengangguk, lalu melanjutkan cerita tentang ibunya, Bu Dewi.
Ia menjelaskan bagaimana ibunya selalu tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan, bahkan sebelum ada yang mengaku. “Ibuku itu nggak banyak tanya,” ujarnya, “tapi tatapannya bikin aku merasa… kebongkar aja apa yang aku tutupin. ”
Aurellia tidak mendalami cerita terlalu jauh. Ia hanya menggambarkan rumahnya sebagai tempat yang hidup, kadang melelahkan, tetapi selalu menjadi tempat yang ingin kembali. Ia pun merasa heran kenapa cerita-cerita itu muncul begitu saja.
Biasanya ia bukan orang yang mudah membuka cerita keluarga kepada orang yang belum dikenal. Namun, sore itu, Alvaro mendengarkan tanpa memotong, tanpa memberikan saran yang tidak diminta. Hanya mendengarkan.
“Maaf ya,” kata Aurellia akhirnya, terlihat agak canggung. “Aku terlalu banyak cerita. ”
Alvaro menggeleng. “Enggak. Justru… seneng bisa denger cerita kamu. ”
Kalimat sederhana itu membuat Aurellia merasa tenang. Tak ada penilaian, tidak ada rasa kasihan, hanya penerimaan yang biasa. Sore itu berakhir seperti biasa—tanpa janji, tanpa kesepakatan apapun—tetapi ada sesuatu yang tersisa. Sebuah perasaan bahwa ia baru saja mengizinkan seseorang memasuki hidupnya sedikit lebih dalam dari biasanya.
Keesokan harinya, Alvaro tiba di kafe sedikit lebih awal daripada biasanya.
Bukan dengan sengaja, melainkan karena langkahnya terasa lebih ringan pada hari itu. Jam di handphonenya baru menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh, tetapi ia sudah berada di depan pintu kaca, melihat bayangannya sendiri.
Tenang, ia berbisik dalam hati. Santai saja.
Bunyi lonceng kecil terdengar saat ia masuk.
Aurellia sedang menyusun sendok di rak. Ia berbalik, senyumnya muncul secara otomatis—tanpa pretensi.
“Lho, cepet banget? ” tanyanya.
Alvaro mengangkat bahu. “Keluar lebih awal. ”
“Americano? ”
“Ya. ”
Tanpa bertanya lagi, Aurellia mulai menyeduh. Gerakannya tampak luwes, seolah sudah dihafal. Alvaro mengambil tempat duduk di posisi biasanya, dekat jendela. Ia meletakkan kameranya di atas meja, lalu menggesernya sedikit ke samping—hari ini ia tidak berniat untuk memotret.
Dimas melintas sambil membawa nampan. “Wah, kamu dateng lebih awal nih. ”
Alvaro hanya tersenyum. “Iya. ”
“Jarang-jarang,” kata Dimas dengan nada menggoda.
Aurellia melirik Dimas. “Kerja, ”
Dimas terkekeh. “Siap. ”
Americano diletakkan di atas meja. “Masih panas,” ujar Aurellia.
“Makasih. ”
Aurellia tidak langsung pergi. Ia bersandar sejenak di ujung meja. “Jadi, hari ini nggal motret? ”
Alvaro menggeleng. “Nggak. Mau… ngopi aja. ”
“Oh. ” Aurellia mengangguk pelan. “Santai aja. ”
Mereka menikmati keheningan sejenak. Hening yang terasa nyaman.
“Eh,” kata Alvaro akhirnya, “kemarin kamu cerita tentang adikmu. ”
Aurellia tersenyum kecil. “Nara? ”
“Iya. ”
“Ada apa? ”
“Lucu,” ungkap Alvaro dengan jujur. “Keliatan penasaran. ”
Aurellia tertawa pelan. “Banget. Dia kayak detektif amatir. ”
“Terus ibumu…? ”
Aurellia mengangguk. “Beliau lembut, tapi tegas. ”
Alvaro tersenyum. “Rasanya hangat keluarga kamu. ”
Aurellia memandang cangkir-cangkir yang ada di rak. “Ya. Mereka… lingkaran kecilku. ”
Kata itu menggantung sejenak.
Lingkaran.
Alvaro mengangguk. “Aku juga punya lingkaran kecil. Nggak rame. ”
“Siapa aja? ”
“Teman kos. Klien. Sama… kameraku,” jawab Alvaro sambil menepuk tasnya.
Aurellia tersenyum. “Kameranya selalu setia. ”
“Kadang,” kata Alvaro. “Kadang juga nyusahin. ”
“Kayak manusia. ”
“Persis. ”
Mereka berbagi tawa kecil.
Sore itu, suasana kafe tidak terlalu padat. Ada dua mahasiswa di sudut, sepasang ibu-ibu, dan seorang bapak yang sedang membaca koran. Dunia terasa cukup.
Roni datang sekitar setengah jam kemudian.
Ia berhenti di pintu, melirik ke dalam, lalu tersenyum lebar. “Var! ”
Alvaro menoleh. “Loh. ”
Roni bergerak cepat. “Gue kira lo nggak dateng hari ini. ”
“Datang lebih awal,” jawab Alvaro.
Roni melihat Aurellia. “Halo. ”
Aurellia tersenyum sopan. “Halo. ”
“Ini Roni,” jelas Alvaro. “Temen kos. ”
“Temen yang suka bicara,” tambah Roni.
Aurellia tertawa kecil. “Aku Aurellia. ”
“Berarti ini alasannya,” kata Roni spontan. “Namanya bagus. ”
Alvaro menendang kaki Roni dengan ringan di bawah meja. “Sopan, ya. ”
Roni tertawa. “Santai aja. Gue ke kasir dulu. ”
Roni memesan kopi, setelah itu kembali. “Jadi, ini kafe yang lo ceritakan? ”
Alvaro mengangguk.
“Pantas betah,” lanjut Roni sembari melihat sekeliling. “Pelayanannya cakep banget. ”
Aurellia mengangguk. “Kami berusaha untuk itu. ”
Roni menyesap kopinya. “Var jarang betah dalam satu tempat. ”
Aurellia menoleh kepada Alvaro. “Oh ya? ”
Alvaro mengangkat bahu. “Katanya. ”
Roni menyeringai. “Bukan katanya. Itu fakta. ”
Aurellia tersenyum dan tidak melanjutkan pembicaraan. Ia kembali ke bar karena ada pesanan yang masuk.
Roni mendekatkan tubuhnya ke Alvaro. “Lo harus ngenalin gue ke dia. ”
“Kenapa harus? ”
“Berarti lingkaran lo bertambah,” kata Roni. “Itu jarang terjadi. ”
Alvaro terdiam.
Aurellia memperhatikan dari balik bar.
Alvaro tampak berbeda ketika bersama Roni. Lebih santai. Lebih ceria. Ia menyadari sesuatu yang membuat dada terasa hangat: Alvaro tidak mencoba menyembunyikan dirinya dari orang lain.
Dimas mendekat. “Temennya? ”
“Iya. ”
“Lo nyaman,” kata Dimas dengan nada datar.
Aurellia melirik. “Kerja. ”
“Iya, iya,” Dimas tertawa. “Tapi keliatan. ”
Aurelia kembali memusatkan perhatian.
Menjelang waktu maghrib, Roni berpamitan.
“Gue cabut duluan,” ucapnya. “Ada keperluan. ”
“Oke,” balas Alvaro.
Roni menatap Aurellia. “Terima kasih untuk kopinya. ”
“Sama-sama. ”
Roni melangkah pergi, meninggalkan suasana yang sunyi namun tidak sepi.
Alvaro menghela napas pelan. “Maaf, tadi rame. ”
Aurellia menggelengkan kepala. “Gapapa. Aku seneng kok. ”
“Kenapa? ”
“Liat kamu ngobrol,” jawab Aurellia dengan jujur. “Kamu beda. ”
Alvaro tersenyum tipis. “Yang beda itu… jarang aku tunjukin. ”
Aurellia mengangguk. “Makasih udah… nunjukin. ”
Alvaro menatapnya sejenak. “Iya. ”
Saat kafe hampir tutup, Aurellia membersihkan meja. Alvaro membantunya menggeser kursi.
“Biasanya aku sendiri,” kata Aurellia.
“Apa kamu keberatan? ”
“Enggak. ”
Mereka bekerja berdampingan dalam keheningan yang ringan.
“Var,” ucap Aurellia tiba-tiba.
“Hm? ”
“Temen-temenmu… sering ke sini? ”
“Jarang,” jawab Alvaro. “Aku nggak sering bawa mereka ke tempat ini. ”
“Kenapa? ”
Alvaro berpikir sejenak. “Karena… nggak semua tempat harus dibagiin. ”
Aurellia tersenyum kecil. “Aku ngerti. ”
Di luar, langit semakin gelap. Lampu jalan mulai menyala.
Alvaro berdiri di depan pintu. “Aku pulang. ”
“Hati-hati. ”
Ia ragu sejenak. “Besok… mungkin aku bakal dateng agak telat. ”
Aurellia mengangguk. “Nggak masalah. ”
“Tapi jam yang sama,” tambah Alvaro cepat.
Aurellia tertawa pelan. “Aku tau. ”
Alvaro tersenyum, lalu pergi.
Di rumah, Aurellia duduk di meja makan. Nara mengunyah makanan ringan.
“Kak,” kata Nara, “hari ini kakak senyum lagi. ”
Aurellia mengangkat alis. “Kamu ngitung? ”
“Iya. ”
Aurellia menggeleng. “Dia punya temen. ”
“Ooh,” Nara tersenyum. “circle bertambah. ”
Aurellia terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Iya. ”
Di kost, Alvaro membuka tas kameranya. Ia mengeluarkan kamera dan meletakkannya di meja.
Roni muncul dari kamar. “Lo keliatan… tenang. ”
Alvaro mengangguk. “Circle gue bertambah. ”
Roni tersenyum. “Jaga baik-baik. ”
Alvaro menatap kamera, lalu melihat ke arah jendela. “Pelan. ”