"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Foto itu menjadi satu-satunya alasan bagi Nick untuk tetap bertahan hidup. Saat menyadari bahwa pengirim email anonim itu adalah Victoria Saville, Nick paham bahwa itu adalah sebuah tes sekaligus bentuk pengampunan yang sangat kecil dari ibu Nadine.
Victoria ingin Nick melihat beban yang harus ditanggung putrinya akibat perbuatannya.
Tanpa membuang waktu, Nick mengosongkan jadwalnya, meninggalkan segalanya di New York, dan terbang ke Swiss. Ia tidak berani menemui Nadine secara langsung, takut kehadirannya justru akan membahayakan kandungan Nadine karena stres. Ia menyewa sebuah pondok kecil yang tak jauh dari kediaman Nadine di pinggiran Danau Jenewa.
Di Swiss, kehidupan Nadine terasa sangat lambat dan sunyi. Memasuki usia kehamilan tujuh bulan, tubuhnya yang mungil mulai merasa sangat terbebani.
Pagi itu, Nadine mencoba berjalan-jalan di taman belakang rumahnya untuk menghirup udara segar sesuai saran dokter.
Namun, baru sepuluh menit berjalan, napasnya mulai tersengal. Kakinya membengkak, dan punggungnya terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Hah... hah..." Nadine bersandar pada sebuah pohon besar, memegangi perutnya yang kini sudah membuncit sangat jelas. "Sayang, kenapa kau berat sekali hari ini?" bisiknya sambil mengelus perutnya dengan lembut.
Air matanya perlahan jatuh. Di saat-saat kelelahan seperti ini, ego Nadine mulai runtuh. Ia merindukan seseorang yang bisa memijat kakinya, seseorang yang bisa membantunya berdiri, atau sekadar memeluknya saat ia merasa sesak napas. Ia merindukan Nick, meski hatinya masih berusaha keras untuk membenci pria itu.
Dari balik pepohonan di luar pagar, Nickholes memperhatikan dengan hati yang hancur. Ia melihat Nadine yang kesulitan bernapas, melihat wajah gadisnya yang tampak pucat dan kelelahan. Nick mencengkeram pagar besi itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin sekali berlari, menggendong Nadine, dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Maafkan aku, Nadine... Maafkan aku," bisik Nick dengan suara parau yang tertiup angin.
Setiap hari, Nick melakukan tugas rahasia-nya. Ia meletakkan sekeranjang buah-buahan segar, vitamin, dan bunga kesukaan Nadine di depan pintu gerbang tanpa nama. Ia juga mengirimkan bantal penyangga kehamilan yang paling nyaman melalui kurir anonim.
Suatu sore, Nadine kembali mencoba berjalan menuju bangku taman yang jaraknya hanya 20 meter. Namun di tengah jalan, kepalanya mendadak pening. Pandangannya mengabur akibat anemia kehamilan yang dideritanya.
"Ibu... Bibi..." Nadine memanggil dengan suara lemah, namun para pelayan sedang berada di dalam rumah.
Nadine kehilangan keseimbangan. Ia nyaris terjatuh ke tanah jika sebuah tangan kekar tidak segera menangkap pinggangnya dan menahan tubuhnya dengan sigap.
Aroma parfum yang sangat ia kenal, aroma sandalwood dan maskulin yang selama ini menghantui mimpinya, merasuk ke indra penciumannya.
Nadine mendongak dengan napas terengah-engah. Matanya bertemu dengan mata Nickholes yang kini dipenuhi air mata dan kekhawatiran yang luar biasa.
"Nick?" bisik Nadine hampir tak terdengar.
"Aku di sini, Nadine. Aku di sini," suara Nick bergetar. Tanpa meminta izin, ia langsung menggendong Nadine dengan gaya bridal style, memperlakukan Nadine seolah-olah dia adalah porselen yang paling rapuh di dunia. "Jangan bicara dulu. Kau sangat pucat. Biarkan aku membawamu masuk."
Nadine terlalu lelah untuk berteriak. Ia terlalu lelah untuk mengusir Nick. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia menyandarkan kepalanya di dada Nick, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang karena takut sekaligus cinta.
Nadine memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan di tengah dinginnya Swiss, meskipun ia tahu bahwa kehadiran Nick berarti ia harus kembali menghadapi masa lalunya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰