Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Gak sopan ya kalian di depan jomblo,” suara itu menginterupsi Arion dan Lydia. Keduanya langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Rina berdiri di sana dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
“Ngomong-ngomong, lo beneran mau kerja?” tanya Rina sambil berjalan menghampiri mereka, lalu duduk di sofa di depan Arion dan Lydia.
Ia tidak sengaja mendengar tentang Lydia yang berniat kembali bekerja, dan ingin memastikan keputusan sahabatnya itu.
"Kalau gue jadi lo, Ya. Lebih baik gue jadi pengangguran dan dibiayai sama Arion daripada harus capek-capek kerja," tambahnya.
Lydia mengangkat sebelah alisnya.
"Bukannya lo bilang ogah bergantung hidup sama laki-laki?" balas Lydia.
Sebenarnya, ia dan Rina memegang prinsip yang sama, yaitu tidak ingin bergantung pada uang laki-laki. Itu sebabnya keduanya terbiasa bekerja keras tanpa mengenal kata lelah.
Lydia mengatakan itu untuk mengingatkan Rina pada prinsip yang selama ini mereka pegang, karena sepertinya prinsip Rina mulai berubah sekarang.
"Iya, tapi sekarang gue capek kerja. Bos gue stres tahu gak? Hari ini bilang A, besoknya berubah jadi B. Pusing gue," keluh Rina.
Lydia terkekeh pelan. Bukan bermaksud mentertawakan nasib sahabatnya, tapi karena Rina sudah sering mengeluh tentang bosnya itu.
"Kenapa lo gak resign saja dari sana, terus cari kerja di tempat lain?" saran Lydia.
Ini sudah ke sekian kalinya Lydia menyarankan agar Rina berhenti dari kantornya dan mencari pekerjaan di perusahaan lain. Namun, Rina mengaku belum menemukan pekerjaan yang cocok.
"Sebenarnya kemarin Kak Aletta ngasih saran ke gue buat jadi sekretaris pribadi Pak Calvin," ucap Rina ragu-ragu. Ia tidak ingin dicap merebut posisi Lydia, apalagi Lydia juga berniat kembali bekerja.
"Terus kenapa gak lo ambil? Pak Calvin bos yang baik kok. Dia gak suka berubah-ubah kalau ambil keputusan, beda sama bos lo yang sekarang," ujar Lydia, yang justru terlihat tidak masalah dengan itu.
Lagipula, ia juga tidak berniat kembali bekerja di Adhivara Grup ataupun menjadi sekretaris pribadi Calvin. Ia berniat mencari pekerjaan di tempat lain.
"Gue gak enak sama lo," kata Rina jujur.
"Gue?" Lydia menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa gak enak sama gue?" tanyanya bingung.
"Lo kan mantan sekretaris pribadi Pak Calvin, masa gue rebut tempat lo sih?" seru Rina, mengungkap alasannya.
Lydia tertawa pelan.
"Gue kan sudah gak kerja lagi di sana. Kenapa harus gak enak? Lo ambil saja pekerjaan itu, daripada lo stres terus setiap hari, kan?" balasnya.
“Beneran lo gak masalah?” tanya Rina masih ragu, meskipun dalam hatinya ia senang.
Rina sebenarnya menginginkan pekerjaan itu. Namun, itu tadi, ia tidak ingin Lydia merasa posisinya sebagai sekretaris pribadi Calvin direbut. Yang terpenting, Rina tidak ingin merusak persahabatan mereka hanya karena pekerjaan.
"Iya, lagipula gue sudah mengincar pekerjaan lain kok," ujar Lydia meyakinkan.
"Bukan di tempat Marvin kan, Kak?" bisik Arion di telinga Lydia.
Laki-laki yang dari tadi hanya menyimak itu akhirnya membuka suara. Ia tidak akan rela jika Lydia bekerja di tempat mantan kekasihnya. Bisa terbakar cemburu setiap saat jika itu sampai terjadi.
"Bukan," jawab Lydia dengan nada yang sama sambil tersenyum menatap Arion.
Rina tidak mempermasalahkannya kali ini. Ia memiliki hal penting yang harus diurus, daripada harus mengurusi pasangan yang bermesraan di hadapannya itu.
"Kalau gitu gue mau ke kamar, mau telpon Kak Aletta dulu," ucap Rina beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju kamarnya.
Lydia dan Arion hanya memperhatikannya sekilas, sebelum kembali fokus terhadap satu sama lain.
"Terus di mana?" tanya Arion penasaran perusahaan mana yang sudah Lydia incar.
Ia lega Lydia tidak berniat bekerja di perusahaan Marvin, tapi ia juga ingin memastikan Lydia tidak salah memilih tempat untuk bekerja.
"Perusahaan Pak Jevan, di sana sedang membutuhkan CMO," jawab Lydia.
Mata Arion sedikit melebar. Lydia berniat bekerja di perusahaan milik laki-laki yang pernah membuatnya cemburu.
"Kenapa harus perusahaan Paman Jevan? Kenapa tidak di Wijaya Grup atau di Adhivara Grup?" tanyanya, tidak ikhlas Lydia bekerja di perusahaan milik laki-laki lain.
Keluarganya memiliki dua perusahaan yang bisa memberi Lydia pekerjaan. Lalu kenapa perempuan itu harus bekerja di tempat lain?
"Karena di Wijaya Grup dan Adhivara Grup tidak ada lowongan pekerjaan, tapi di perusahaan Pak Jevan ada," jawab Lydia seadanya.
Arion terdiam. Memang benar tidak ada lowongan pekerjaan di Wijaya Grup maupun Adhivara Grup. Posisi sekretaris pribadi CEO pun sebenarnya sudah ditempati orang lain. Alasan Rina diminta menjadi sekretaris Calvin, karena sekretaris yang sekarang dianggap kurang kompeten.
Namun, Arion bisa saja meminta ayah atau pamannya untuk memberi Lydia pekerjaan jika perempuan itu menginginkannya.
Melihat itu, Lydia langsung menyandarkan kepala di bahu Arion dan memeluknya dari samping.
"Kakak hanya bekerja, lagipula belum tentu Kakak diterima di perusahaan Pak Jevan," ujarnya.
"Iya, aku mengerti," ucap Arion, lalu mengecup puncak kepala Lydia untuk menenangkan perempuan sekaligus hatinya.
Sekarang, ia hanya bisa berharap bahwa pekerjaan itu tidak membuat Lydia berpaling darinya, karena jujur saja ia masih ingat tentang Lydia yang ingin menikah dengan duda kaya seperti Jevan.
***
Airin menutup mulutnya, menahan diri agar tidak muntah. Ia merasa perutnya mual melihat adegan tidak pantas yang Marvin lakukan bersama Aurora di dalam toilet wanita.
Ia sedang makan malam di luar bersama ayah dan ibunya di salah satu restoran milik Jevan. Tidak disangka harus menyaksikan pemandangan itu saat berniat membuang air di toilet.
"Jijik sekali aku melihatnya," gumamnya, lalu buru-buru pergi dari sana.
Marvin sempat merasa ada seseorang yang memergokinya bersenang-senang dengan Aurora. Ia menoleh ke arah tempat Airin berdiri tadi, tapi tidak menemukan siapa pun di sana.
"Mungkin hanya perasaanku saja," batinnya, tanpa menghentikan aktivitasnya.
***
Arion mendadak merasa gerah melihat adegan mesra dalam drama yang ia tonton bersama Lydia. Ia menoleh ke samping dan mendapati Lydia sedang fokus menatap televisi di depan mereka.
Namun, tanpa sadar pandangannya tertuju pada bibir Lydia. Bibir merah muda alami tanpa riasan apa pun, yang entah kenapa membuatnya menelan ludah.
"Jangan berpikir aneh-aneh, Arion," batinnya mengingatkan dirinya sendiri agar tidak memikirkan hal yang tidak seharusnya.
“Yah… lagi seru malah iklan,” seru Lydia melihat adegan drama di televisi terpotong oleh iklan.
Arion semakin salah fokus melihat bibir itu bergerak, ia kembali menelan ludah untuk menahan sesuatu dalam dirinya.
"Arion, kamu mau minum sesuatu?" tanya Lydia menoleh ke arah Arion, yang membuat laki-laki itu buru-buru mengalihkan pandangannya.
"T-tidak. Aku tidak haus," ucap Arion, seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan sesuatu.
Lydia menatap Arion heran. Laki-laki itu berkeringat, padahal AC di ruangan mereka menyala.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Lydia berniat mengecek suhu tubuh Arion dengan tangannya, tapi Arion dengan cepat menahan tangan itu.
“Aku baik-baik saja,” jawab Arion tanpa berani menatap wajah Lydia.
Ia khawatir pandangannya kembali tertuju pada bibir Lydia, yang entah kenapa membuatnya ingin menciumnya seperti adegan dalam drama. Sepertinya, mereka memang tidak cocok menonton drama romantis bersama.
"Tapi kamu berkeringat, padahal AC di sini nyala," ucap Lydia sambil memperhatikan Arion.
"Aku baik-baik saja, Kak," ujar Arion meyakinkan, lalu menatap Lydia.
Sialnya, pandangannya justru langsung tertuju pada bibir perempuan itu.