“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 23
Miranda menghampiri sumber suara, tangisan makin jelas, dari suaranya terdengar bahwa itu adalah suara anak kecil.
Miranda semakin mendekat, terlihat sebuah gerobak berisi rongsokan yang tak penuh.
Seorang wanita sedang duduk sambil memegang dahi anaknya yang terus menangis.
“Kenapa dia?” tanya Miranda.
Wanita itu terisak menangis.
Miranda menghampiri, “Hei jangan menangis, kenapa anak ini?” suara Miranda aga tegas
“Dia belum makan,” jawab wanita itu.
“Kalau mau makan harusnya kamu kerja keras jangan mengemis dan membiarkan anak kamu menangis keras” ucap Miranda dalam hati.
“Kenapa?” tanya Miranda penasaran.
“Uangku diambil preman,” jawab wanita itu.
“Ah dia pasti berbohong, hanya untuk meraih simpati tega-teganya mengaku diambil preman, harusnya kan melawan seperti aku,” kembali Miranda bergumam dalam hati beberapa hari di Jakarta membuat Miranda lebih waspada dan seharunya wanita ini melawan preman itu bukan. Dan karena penasaran akhirnya miranda bertanya “Kenapa kamu tidak melawannya, harusnya kamu melawan demi anak kamu,”
Perempuan itu mendongak.
Miranda tertegun, beberapa luka memar di pipinya dan sudut pipinya berdarah.
“Aku sudah melawan, tapi apa, aku digebukin, aku memeluk anakku, aku sudah memohon ampun pada mereka tapi mereka malah terus memukuli aku,” isak perempuan itu.
Seketika Miranda merasa bersalah dengan pemikirannya tadi.
“Ah maafkan aku sudah berpikir buruk,” ucap Miranda.
Kemudian dia memberikan nasi dan pecel lele yang dibekalkan Apip tadi sebelum berpisah.
“Makanlah,” ucap Miranda.
Wanita itu mendongak meneteskan air mata, badannya gemetar, memeluk lutut Miranda.
“Terima kasih, Mba, terima kasih,” ucapnya dengan nada haru.
Miranda membelai rambutnya, diperkirakan wanita itu usia 20 tahun, “Jangan lakukan ini cepat beri makan anak kamu,” ucap Miranda.
Wanita itu membangunkan anaknya, Miranda mendekat memegang dahinya.
“Dia demam,” ucap Miranda.
“Mungkin saking laparnya dia demam Mba,” jawabnya sambil membuka bungkusan nasi, dan menyandarkan anak itu ke tembok, anak itu berhenti menangis setelah melihat nasi putih.
“Makanlah yang kenyang,” ucap Miranda.
Kemudian Miranda pergi mencari warung, di tangannya ada uang 50.000, memang masih kurang untuk melunasi pesanan nasi uduk tapi melihat anak yang demam tadi membuat Miranda tak tega.
Setelah membeli obat penurun panas dan dua roti serta air mineral menghabiskan 15.000, jadi sisa uang Miranda tinggal 35.000.
Miranda kembali ke tempat, sudah tidak ada tangisan dari anak itu tampak sedang makan dengan lahap.
“Ibu juga makan dong,” ucap anak lelaki sekitar usia 5 tahun itu.
“Kamu dulu aja yang makan, Nak,” jawabnya.
“Aku enggak mau makan kalau ibu enggak makan,” ucap anak itu.
Miranda tertegun, mereka mungkin kekurangan harta tapi mereka berdua tidak kekurangan kasih sayang.
Wanita itu juga makan nasi putih itu, untung saja Mas Apip tadi memberi nasi lebih.
Melihat itu Miranda meneteskan air mata haru lalu duduk di dekat mereka.
“Dino cepat ucap terima kasih sama ibu ini,” ucap wanita muda ini.
“Makasih Tante,” ucapnya dengan nada lucu dan menggemaskan.
Miranda menyeka keringatnya, padahal sudah dini hari tapi Miranda merasa gerah.
“Ini minum obatnya, dan roti ini untuk kamu sarapan besok pagi,” ucap Miranda memberikan bungkusan berisi roti dan obat.
Kembali wanita itu meneteskan air mata seolah dua buah roti, air mineral dan obat penurun demam itu adalah benda berharganya.
“Siapa nama kamu?” tanya Miranda, wanita ini andai saja tidak lusuh dan diberi pakaian layak sebenarnya cantik mungkin karena sering terkena terik mata hari sehingga kulitnya berwarna cokelat dan kusam.
“Nama saya Nunik Mba dan anak saya Dino Mbak,” jawab Nunik.
Miranda melihat Nunik memberikan obat pada Dino dengan lembut, anak itu setelah makan dan minum akhirnya bisa tertidur.
Miranda melihat Nunik dengan penuh kasih sayang menyelimuti Dino.
“Makasih Mba ya?” ucap Nunik, “Nama Mba siapa?”
“Saya Miranda,” jawab Miranda menyandarkan tubuh di tembok, terlihat di reklame jam sudah menunjukkan jam 04.00, Miranda tidak mau tidur karena sebentar lagi subuh, takut kesiangan jangan sampai bisnis pertamanya gagal hanya karena bangun kesiangan.
“Suaminya ke mana?” tanya Miranda.
Nunik malah berkaca-kaca setelah Miranda menanyakan hal itu.
“Maaf kalau aku menyinggung kamu,” ucap Miranda lirih.
Nunik menarik napas dalam. “Aku tidak tahu, Mba,” dia mulai terisak, “kenapa hidup begitu kejam padaku, aku dijebak oleh adik angkatku sendiri, tahu-tahu aku bangun sudah ada di kamar hotel.”
Dia menjeda ucapannya. “Singkatnya aku hamil, dan aku tidak tahu siapa yang menghamiliku,” tangisnya pecah terisak, tidak mau menimbulkan suara, “dan Mba tahu setelah itu aku diusir oleh ayah dan ibuku dan mereka hanya menganggap adik angkatku itu sebagai anaknya dan aku dianggap aib karena hamil di luar nikah.”
Nunik menangis, Miranda memeluk Nunik dari samping dan membelai punggungnya.
“Argh,” rintih Nunik.
“Kenapa?” tanya Miranda.
“Kemarin punggungku ditendang oleh para berandalan,” ucap Nunik.
“Maaf, maaf,” ucap Miranda.
“Enggak apa-apa Mba Miranda, suatu saat jika aku sudah sukses aku akan membalas kebaikan Mba Miranda,” ucap Nunik.
Miranda hanya tersenyum mendengarkan hal itu “Melihat kamu bertahan saja sudah membuatku bahagia nunik” ucap miranda dalam hati
“Kamu hebat Nunik kamu masih bertahan,” Miranda melihat Nunik, “lalu selama ini bagaimana kamu bertahan?”
“Aku menjual sepeda motorku lalu aku gunakan untuk mengontrak dan membesarkan Dino, awalnya aku juga ingin membuang Dino, tapi setelah aku pikir-pikir justru Dino lah alasanku bertahan,” ucap Nunik.
“Setelah Dino umur setahun aku dituduh maling ponsel aku diusir oleh yang punya kontrakan, dan sudah empat tahun aku menggelandang seperti ini Mba, semuanya aku lakukan demi Dino, hanya Dino alasan aku hidup Mba,” ucap Nunik.
“Kamu luar biasa, Nunik,” ucap Miranda.
Terdengar kumandang azan Subuh.
“Aku mau cari tempat salat dulu ya,” ucap Miranda.
“Di seberang sana ada musala Mba,” jawab Nunik menunjuk arah, “Mba duluan saja, nanti saya menyusul, nanti tolong jagain dulu Dino.”
“Oke baiklah,” ucap Miranda.
“Kalau begitu aku titip karungku ya,” lanjut Miranda.
Nunik hanya menganggukkan kepala.
Miranda melangkah dengan cepat ke arah yang ditunjuk Nunik, meninggalkan Nunik.
Setelah beberapa menit miranda pergi
Beberapa mobil mewah berhenti tepat di depan Nunik.
Nunik menyipitkan mata, tiba-tiba saja badannya gemetar, beberapa orang keluar dari mobil dengan menggunakan jas hitam, kemudian dari mobil tengah keluar seorang pria tinggi menggunakan mantel hitam.
Nunik mempunyai trauma dengan kejadian lima tahun yang lalu yang membuat hidupnya berubah seperti sekarang. Terakhir hilang kesadaran dia mengingat ada pria berjas membawanya.
Pria bermantel tebal itu mendekat ke arah Nunik lalu melihat ke arah Dino.
“Benar-benar tampan mirip aku kecil,” ucapnya.
Ucapan biasa tapi membuat Nunik ketakutan.
“Siapa Anda, jangan bawa anak saya,” ucap Nunik.
“Dia juga anakku, aku akan membawanya,” jawab pria itu.
“Jangan,” isak histeris Nunik.
Beberapa pria akan memukul Nunik agar pingsan.
“Bodoh,” hardik pria itu, “bawa dengan lembut dia adalah ibu anakku, lecet sedikit saja aku pecahkan kepala kalian,” ucapnya.
Kemudian dia melihat Nunik, “kamu harus ikut saya, jangan melawan, demi anak kita.”
Nunik berhenti menangis, bagaimanapun juga Dino adalah segalanya baginya.
Dengan lembut pria itu memangku Dino dan membawanya ke mobil mewahnya.
Rombongan mobil melaju meninggalkan gerobak rongsokan dan karung Miranda.
…
…
“Di mana mereka?” ucap Miranda panik setelah sampai tidak melihat keberadaan Dino dan Nunik.
gemes bgt baca ceeitanya