Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentuk kepercayaan
Pagi hari di hutan Ashwood tidak pernah tergesa.
Cahaya mentari menyusup perlahan di antara celah pepohonan, menyentuh rumah kayu kecil di tepian hutan dengan cara yang lembut.
Serra berdiri di depan jendela, menghirup udara dalam-dalam. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan dengan hari-hari pertama ia terbangun di tempat itu.
Luka di pahanya masih ada, namun rasa nyeri yang beberapa hari ini menyiksanya, kian mereda. Ramuan obat yang Ethan buat, bekerja dengan cepat. Namun rasa pahit yang pekat tentu tak bisa Serra hindari.
Seperti hari ini, Ethan sudah membawakannya sebuah mangkuk kecil berisi cairan kecoklatan yang merupakan bahan racikan dari tanaman tertentu. Serra menerima mangkuk itu tanpa ragu. Tidak ada lagi kecurigaan berlebihan di setiap gerakan kecil.
Glek glek glek!
Ia meneguknya sembari meringis tipis, "rasanya tetap buruk."
"Hehe," Ethan hanya terkekeh kecil, sembari memberikan sebuah botol berukuran kecil berisi herbal oles untuk luka pada paha kanan Serra.
Hari-hari mereka kini mulai menemukan ritme.
Seperti biasa, Ethan pergi pagi-pagi sekali untuk mengumpulkan tanaman obat atau menuju pasar yang jaraknya cukup jauh dari hutan. Serra tetap menghabiskan waktunya di rumah, dengan membantu membersihkan rumah ketika Ethan pergi.
Ia pun semakin sering berjalan perlahan di sekitar halaman ataupun pinggiran sungai, sembari mendengarkan suara-suara hutan yang kini terasa semakin ramah di telinganya.
Ketika sore hari Ethan selalu kembali. Pemuda berambut sebahu itu, terkadang membawa buah-buahan dan roti keras dari pasar. Tentu dengan raut wajah lelah, namun tertutup oleh senyum kecil dari sudut bibirnya.
"Kau terlihat lelah," ucap Serra, saat Ethan meletakkan keranjang di lantai.
"Hari ini pasar cukup ramai," jawabnya sambil duduk, "banyak orang mulai sakit karena pergantian musim."
Serra mengangguk, ia memperhatikan tangan Ethan yang kasar, tapi selalu berhati-hati saat menyentuh luka atau menyerahkan mangkuk obat.
Dia memang orang yang baik, ucapnya dalam hati.
Kepercayaan seseorang tidak datang sebagai lonjakan besar. Ia datang dalam setiap potongan kecil keheningan yang tidak lagi menekan, serta senyum tipis yang tidak dipaksakan.
Ethan tidak akan pernah bertanya ataupun menjawab lebih. Pemuda itu selalu menunggu waktu sesuai dengan kesiapan Serra ketika menjawab.
...----------------...
Hingga pada suatu pagi, Serra berdiri di halaman belakang rumah. Ia memastikan jika Ethan tidak ada. Namun samar-samar suara kapak terdengar dari sisi lain rumah, Ethan sedang memotong kayu bakar, dan sangat fokus pada pekerjaannya.
Serra mulai menarik napas, tubuhnya bergerak perlahan. Tidak penuh tenaga, hanya rangkaian gerakan sederhana. Gadis itu memulainya dengan teknik sederhana. Latihan yang dulu menjadi bagian hidupnya, kini dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak luka yang belum sepenuhnya pulih.
Gadis dengan rambut kuncir itu mulai menggunakan apa pun yang ada di sekitarnya. Seperti tongkat kayu tipis sebagai pengganti senjata, serta beberapa batu padat yang ia gunakan sebagai beban. Namun jelas, alat-alat itu tidak mendukung, tongkatnya terlalu ringan dan tidak seimbang.
"Hahhh!."
Helaan napas kasar Serra tak sengaja terdengar oleh Ethan, pemuda itu mulai berhenti menyusun kayu di sisi lain rumah. Ia tidak bermaksud mengintip. Gerakannya terhenti begitu saja, ketika matanya menangkap siluet Serra yang bergerak dengan presisi. Bahkan terlalu presisi untuk seorang gadis yang masih menjalani pemulihan.
"Gerakan itu… terlatih," gumamnya.
Ethan berdiri terdiam dengan sebuah kapak yang masih ia genggam. Kedua netra coklatnya menyaksikan tanpa bersuara. Tidak ada rasa takut sedikitpun, hanya satu kesadaran yang mengendap pelan dalam dirinya. Ia berkesimpulan jika Serra bukanlah seorang gadis biasa. Dan hal itu tidak akan mengubah apa pun.
Kabut malam mulai turun dengan tenang. Serra sudah tertidur ketika Ethan tengah duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu minyak menyala kecil. Tangannya bergerak perlahan namun tetap fokus.
Ia memilih kayu yang tepat dan tidak terlalu berat. Menghaluskan permukaan serta mengukur panjang dengan cermat. Sesekali pemuda baik hati itu berhenti, menghela napas, lalu melanjutkannya kembali. Ia tidak tahu persis alat apa yang Serra gunakan untuk berlatih. Namun cukup memahami jika Serra terlihat kesulitan, ketika berlatih menggunakan sembarang tongkat kayu. Alhasil pada malam itu, Ethan tidak sempat tidur.
...----------------...
Keesokan paginya, Serra terbangun dengan tubuh yang lebih bugar. Ia melangkahkan kaki menuju halaman belakang rumah, untuk mengambil air. Namun langkahnya terhenti seketika. Di halaman belakang rumah, tampak bersandar dengan rapi beberapa alat latihan sederhana. Diantaranya seperti tongkat dengan berat seimbang, balok kayu dengan pegangan yang nyaman, bahkan sebuah karung berisikan pasir sungai, yang siap untuk dipukul sesuka hati.
Serra terdiam, menatap tak percaya ke arah Ethan yang baru saja selesai mengisi penuh air dari sumur ke dalam wadah penampungan. Ethan tersenyum canggung, "aku tak sengaja melihatmu berlatih, mungkin peralatan sederhana ini, cukup membantu."
Serra tidak langsung menjawab, ia berjalan mendekati alat-alat tersebut, mengangkat salah satu tongkat, kemudian mencobanya. Berat tongkat panjang tersebut terasa pas dan seimbang. Permukaannya pun dibuat sangat halus, sudah pasti tidak akan membuat tangannya lecet. Namun di samping itu, ada perasaan mengganjal yang ingin ia tanyakan sedari tadi.
"Apa kau tidak tidur semalam?," tanya Serra.
Ethan menggaruk tengkuknya, "Sedikit."
Untuk pertama kalinya Serra tersenyum kecil, "Ini bagus, terimakasih," ujarnya.
Beberapa saat setelah sarapan, Serra mulai kembali berlatih. Kali ini ia tampak bersemangat.
Gerakannya terlihat lebih mantap. Tongkat itu mengikuti tubuhnya dengan baik, tidak mengganggu keseimbangan.
Ethan hanya mengamati dari jauh. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa senang melihat Serra menggunakan alat latihan yang ia buat semalaman.