NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan

Malam itu, Arman duduk terpaku di depan televisi. Layar kaca berukuran 32 inci itu menyiarkan sinetron yang riuh, namun tak satu pun adegan masuk ke benaknya.

Pikirannya adalah sebuah ruang gema, memantulkan suara-suara yang saling bertentangan. Suara Budi yang penuh keyakinan: "Alhamdulillah dijalani aja."

Suara Ibu Sari yang penuh luka: "Jangan sampai keluarga yang sudah dibangun rusak..." Dan yang paling jelas, suara Mira, datar dan menghujam: "Sakitnya tuh di sini. Sampai mau mati."

Idealisme tentang sinergi, rezeki berlipat, dan kebahagiaan ganda yang ia bangun dari artikel-artikel online, runtuh berantakan di hadapan kesaksian mata seorang yang hidup di dalamnya. Mira tidak bahagia. Ia hanya bertahan dengan harga diri dan keamanan finansial sebagai pelipur.

Poligami untuknya adalah konsekuensi, bukan pilihan. Dan Arman menyadari, alasan dirinya ingin berpoligami bahkan jauh lebih dangkal, lebih egois. Ia merasa malu.

Udahlah. Nggak usah dipikirin lagi. Itu bukan jalanku. Keputusan itu muncul setelah berhari-hari bergulat. Lega, namun dibarengi kehampaan. Kalau bukan poligami, lalu apa jalan keluar dari kehidupan yang mentok ini?

Dengan tekad baru, ia mengambil ponselnya.

Ia membuka grup WhatsApp alumni SMA-nya.

Ratusan chat tak terbaca. Ia menggulir ke atas, melihat obrolan mereka tentang reksadana, pengalaman sekolahkan anak ke luar negeri, dan rencana golf. Ia menarik napas dalam-dalam. Rasa malu itu kembali menjalar, tapi kali ini ia paksakan untuk tenggelam. Ia harus berani.

Jarinya mengetik dengan lambat, namun pasti:

[Arman] : Selamat malam teman-teman semua. Mohon maaf mengganggu. Saya Arman dari angkatan 2005. Saya sedang mencari lowongan pekerjaan sebagai sopir.

Bisa sopir pribadi atau sopir untuk perusahaan. Saya punya pengalaman berkendara yang aman dan nyaman, area Jabodetabek. Jika ada rekan-rekan yang butuh atau punya info, sangat diharapkan bantuannya. Terima kasih banyak.

Ia menekan ‘kirim’. Pesannya segera terselip di antara obrolan yang sedang ramai membahas kenaikan harga saham. Ada beberapa ‘likes’ (emoji jempol) yang muncul, sekadar tanda membaca. Tidak ada balasan. Tidak ada tawaran.

Pesannya perlahan tenggelam, digantikan oleh pembahasan baru tentang merk dashcam terbaik.

Arman menatap layar ponselnya yang diam. Rasa harapannya yang sempat mengembang, kempes perlahan. Mungkin mereka sibuk. Mungkin besok ada yang balas. Ia mencoba membujuk diri sendiri.

Tapi di sudut hatinya, ia tahu. Di lingkaran mereka, ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang alumni yang jadi driver ojol. Kebutuhan mereka bukan pada sopir.

Ia mematikan televisi dan masuk ke kamar. Rani sudah tidur membelakangi, tubuhnya membentuk lekukan yang menolak. Aldi tidur di tengah dengan mulut sedikit terbuka.

Arman berbaring, memandangi langit-langit kamar yang retak di sudutnya. Ia berusaha memusatkan pikiran pada rencana baru: cari kerja tetap sebagai sopir. Itu lebih terhormat dan mungkin lebih stabil.

Tapi kegagalan pertama di grup alumni terasa seperti tamparan. Tidurnya tak nyenyak, dipenuhi mimpi tentang jalanan tak berujung dan pesan-pesan yang tak terbaca.

Keesokan paginya, Arman memutuskan untuk tidak langsung berangkat narik. Badan dan pikirannya lelah. Ia butuh jeda. Butuh menikmati rumahnya di siang hari, sesuatu yang jarang ia lakukan.

Rani sudah membuka warung sejak subuh. Suara dentang botol dan kaleng susu menjadi musik latar pagi itu. Arman duduk di kursi plastik teras, menikmati kopi buatan sendiri yang lebih kuat dari kopi sachet.

Ia melihat Rani yang sibuk melayani pelanggan tetangga yang membeli rokok dan telur. Rani tampak cantik dengan kesederhanaannya di pagi hari, tanpa riasan, tanpa embel-embel emas. Wajahnya fokus dan tangan-tangannya lincah.

“Udah dua kali nih Aldi minta diajak jalan-jalan pake motor. Kamu pulang malem terus,” ujar Rani tiba-tiba, setelah pelanggan pergi. Ia tak menatap Arman, sibuk menata ulang bungkus-bungkus mie.

Arman tersentak dari lamunannya. “Oh iya? Maaf. Tadi… lagi banyak orderan malem.”

“Iya, tapi janji ke anak jangan dilupakan. Dia nungguin.”

Suara Rani datar, tidak marah, tapi juga tidak hangat. Masih ada sisa dingin dari konfrontasi tentang poligami.

“Nanti gue yang jemput Aldi dari TK. Gue ajakin jalan-jalan,” janji Arman. “Gue juga… gue lagi nyari lowongan driver yang fix. Supir pribadi atau perusahaan gitu. Doakan aja, semoga ekonomi kita membaik.”

Kalimat itu ia ucapkan dengan tulus. Sebagai tanda gencatan senjata, sebagai penanda bahwa ia sedang berusaha memperbaiki keadaan, bukan melarikan diri ke fantasi baru.

Ia menatap Rani, berharap ada sedikit kehangatan yang kembali, sedikit dukungan.

Namun, yang terjadi di luar dugaan. Rani berhenti menata mie. Tubuhnya menegang. Ia memutar badan perlahan, dan matanya—yang biasanya lelah—kini memancarkan kecurigaan yang dalam dan tajam.

“Ekonomi membaik?” ulangnya, suaranya seperti silet. “Biar punya alasan buat nambah istri, ya?”

Arman terkesiap. Kopi di tangannya hampir tumpah. “Apa? Nggak! Bukan itu maksudnya!”

“Lalu apa?” Rani mendekat, tangannya mengepal di pinggang. “Kemarin nanya-nanya poligami. Sekarang bilang lagi nyari kerjaan yang lebih menghasilkan. Biar apa? Biar kaya dulu baru bisa poligami? Itu strategi lo?”

Arman hanya bisa melongo. Pikirannya kosong. Ia sama sekali tidak menghubungkan dua hal itu. Baginya, mencari kerja tetap adalah solusi pengganti dari keinginan poligami.

Tapi bagi Rani, itu adalah tahapan menuju poligami. Ketidakpercayaan telah menjadi tembok yang begitu tebal hingga setiap kata bisa disalahtafsirkan.

“Rani, sungguh, aku nggak mikirin itu lagi,” protes Arman, bangkit dari duduknya. “Aku cuma pengen hidup kita lebih enak aja. Biar lo nggak capek jagain warung mulu, biar Aldi nggak nagih SPP mulu!”

“Jadi sekarang gue yang disalahin? Gue yang bikin lo mikir poligami? Karena gue cuma jaga warung? Karena gue yang minta lo bayarin SPP anak lo sendiri?” Rani menyeringai, sakit hati yang lama tertahan meluap.

“Lo pikir gue mau hidup kayak gini? Gue juga pengen pake baju bagus, jalan-jalan, punya simpenan! Tapi gue nggak lari ngimpi punya suami lain!”

“Aku juga nggak mau punya istri lain! Sudah aku bilang, aku nggak mikirin itu lagi!” teriak Arman, frustrasi.

“Gue nggak percaya!” balas Rani, suaranya meninggi. “Udah masuk di kepala lo, susah ilangnya. Kayak bau busuk. Sekarang lo ngomong ‘cari kerjaan’, besok lo bilang ‘dapat kenalan perempuan yang bisa bantu bisnis’. Gue udah tau polanya!”

Percakapan itu seperti roda gilingan, mengulang-ulang hal yang sama tanpa titik temu. Rani telah terluka terlalu dalam oleh sekadar pikiran Arman. Kepercayaan, begitu retak, ternyata memang seperti kata Mira: susah disambung lagi, bekasnya tetap kelihatan.

Arman menyerah. Ia menggeleng, lalu duduk kembali. “Sudah. Percaya nggak percaya. Aku cuma ngomong yang bener.”

Ia memandang jauh ke jalan. Rani kembali ke warung, membalikkan badan. Getaran kemarahan masih terasa di udara.

Sepanjang pagi, rumah itu dibungkus oleh kesunyian yang tegang. Arman membantu membereskan rumah, mencuci motornya, melakukan apa saja agar tidak harus berinteraksi. Pukul sepuluh, ia mandi dan bersiap untuk berangkat siang.

Sebelum pergi, ia mendekati warung. Rani sedang membungkus gula pasir untuk seorang ibu.

“Aku berangkat. Nanti aku yang jemput Aldi,” katanya pendek.

Rani hanya mengangguk, tanpa kata.

Siang itu, Arman kembali ke aspal dengan perasaan campur aduk: kecewa, kesal, tetapi juga ada tekad baru. Jika istrinya tidak percaya, ia harus membuktikan dengan tindakan. Ia akan cari lowongan dengan caranya sendiri: nanya kenalan driver lain, cek papan lowongan di bengkel-bengkel, atau mungkin daftar di perusahaan rental mobil.

Orderan siang itu mengalir biasa. Tidak ada yang spesial. Pikirannya kadang melayang ke rumah, ke tatapan penuh curiga Rani. Betapa mudahnya membangun mimpi di awan, dan betapa sulitnya memperbaiki fondasi yang retak di bumi.

Di sela menunggu orderan di dekat sebuah mall, ponselnya berdering. Bukan dari aplikasi. Sebuah nomor tak dikenal.

“Halo?” jawab Arman hati-hati.

“Arman? Ini Budi. Budi Wijaya.”

Arman nyaris menjatuhkan ponsel. “Budi! Wah… apa kabar?”

“Baik, bro. Gue liat pesan lo di grup. Lagi nyari kerjaan sopir ya?”

Jantung Arman berdebar kencang. Ada harapan! “Iya, Bro. Bener banget. Lagi nyari yang tetap.”

“Kebetulan nih, gue lagi butuh sopir pribadi buat nganter-antar barang sample furnitur sama kadang jemputin keluarga. Gaji nggak wow sih, tapi tetap, plus uang bensin dan makan. Penasaran nggak?”

Ini jawaban doa! Tapi… dari Budi? Orang yang jadi pemicu awal kegelisahannya? Ada rasa ganjil.

“Penasaran banget, Bro. ”

“Gimana? Mau ketemuan besok buat ngobrol ringan?”

Arman ragu sejenak. Tapi kebutuhan lebih kuat. Dan ini kesempatan untuk menunjukkan pada Rani bahwa ia serius mencari kerja, bukan mencari istri. “Mau, Bro. Jam berapa dan di mana?”

“Gue kasih alamat showroom gue aja. Besok jam 10 pagi. Nanti gue share lokasinya.”

“Oke, Bro. Siap. Terima kasih banyak ya!”

“Sama-sama. Eh, satu lagi… lo masih penasaran nggak sama urusan poligami?” tanya Budi tiba-tiba, suaranya seperti berbagi rahasia.

Pertanyaan itu seperti setrum. Arman tertegun. “Uh… sudah nggak, Bud. Udah aku tinggalin pikiran itu.”

“Oh, sayang. Gue kira lo minat, jadi bisa sekalian sharing. Tapi ya udah lah. Yang penting kerjaannya dulu. Besok ketemu ya.”

Telepon pun putus. Arman berdiri lama di tepi jalan. Tawaran kerja itu seperti anugerah. Tapi pertanyaan terakhir Budi meninggalkan rasa tak enak. Seolah ada syarat tersembunyi. Seolah Budi menganggapnya calon ‘murid’ dalam hal poligami juga.

Dia mengusir pikiran buruk. Nggak. Gue udah tutup bab itu. Ini murni soal kerja.

Sore hari, tepat sebelum waktu pulang Aldi, Arman mematikan aplikasi dan menuju TK. Aldi langsung berlari dan memeluknya.

“Bapak! Jalan-jalan!”

“Iya, sayang. Naik ya.”

Mereka berkeliling sekitar perumahan, Aldi bersorak-sorai setiap kali motor menikung. Senyum lebar anaknya itu menyembuhkan sedikit luka di hatinya. Ini yang harus ia pertahankan. Ini realita yang sesungguhnya berharga.

Saat mereka tiba di rumah, Rani sudah menyiapkan makan malam. Wajahnya masih dingin, tapi mungkin karena melihat Aldi yang ceria, ia tidak lagi menyulut pertengkaran.

“Aku dapat tawaran kerja,” ucap Arman, mencoba memulai percakapan yang netral.

“Dari temen SMA, yang punya usaha furnitur. Buat jadi sopirnya.”

Arman sengaja tidak menyebutkan itu dari budi si praktisi poligami. ia tidak mau pertengkaran yang tidak penting seperti pagi itu terulang kembali.

Rani menoleh. mengamati lama. “Ya udah. besok hati-hati. rani sengaja tidak menanyakan detail, ingin melihat kejujuran dan transparansi dari arman.

“Jangan lupa tetap ngojek, kita butuh pemasukan harian.” tutup rani singkat

Malam itu, di tempat tidur, Arman memandangi langit-langit lagi. Ia punya harapan baru: pekerjaan tetap. Tapi ia juga punya ketakutan baru: godaan untuk kembali terpikat oleh kehidupan ‘ideal’ Budi, dan ketidakpercayaan Rani yang kini menjadi jurang di antara mereka.

Perjalanannya untuk memperbaiki ekonomi dan menyelamatkan rumah tangganya ternyata baru saja dimulai, dan jalan di depannya tidak lurus.

Ia harus berhati-hati, tidak hanya terhadap lubang di aspal, tetapi juga terhadap belokan-belokan yang bisa menggiringnya kembali ke fatamorgana yang pernah hampir ia kejar. Dan yang paling sulit, ia harus membangun kembali jembatan kepercayaan yang hampir runtuh di seberangnya—sebuah tugas yang mungkin lebih berat daripada mengejar setoran seharian penuh.

1
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!