*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
..
...
Harusnya kamu bertanya kenapa!? Bukan malah arogan di depan ku.."
Suara wanita itu bergetar hebat di dalam ruangan yang mendadak terasa sempit. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah Liyan, menuntut jawaban atas segala pengabaian yang ia terima.
"Kamu menyalahkan aku yang meninggalkanmu," ucapnya lagi dengan nada pelan
. "Kamu bilang demi warisan.."
Tiba-tiba, sebuah kekehan lembut terdengar dari bibirnya
. "Liyan seharusnya kamu sadar diri, kenapa aku memutuskanmu!?"
Ada penekanan di setiap kata yang diucapkannya, seolah ingin menghunjam langsung ke ulu hati pria di depannya. Liyan hanya bisa terdiam, rahangnya mengeras menahan gejolak yang tak bisa ia jelaskan.
"Aku menunggu 5 tahun Liyan! Bahkan aku sudah terbiasa dengan sikap dinginmu memaklumi semua kesalahanmu.." Ia menarik napas dalam, mencoba menahan tangis yang hampir pecah. "Selama 5 tahun adakah kamu serius dengan ku!?"
Liyan tetap membisu. Lidahnya kelu menghadapi kenyataan yang dilemparkan tepat di wajahnya.
"Tidak, sama sekali tidak.. kamu tidak pernah memanjakan ku! Kamu terlalu sibuk..! Bahkan tidak pernah sekalipun membahas pernikahan bersama ku," lanjut wanita itu dengan tatapan yang kini mulai mengabur. "Katakan apa yg harus aku tunggu dari mu!?"
Liyan terdiam mendengar setiap kata yang terucap di bibir wanita itu. Dadanya terasa sesak. Apakah benar ini semua salahnya? Begitulah yang dia pikirkan sekarang. Ia selalu merasa materi adalah segalanya, namun ia lupa bahwa kehadiran dan kepastian adalah nyawa dari sebuah hubungan. Ternyata memang benar, uang saja tidak cukup untuk menahan wanita.
...----------------...
Hari ini Zheya resmi resign. Setelah mengantar surat pengunduran diri dari HRD dengan langkah tegap, ia kembali ke mejanya untuk menyelesaikan tugas terakhirnya. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, ia tetaplah gadis yang kompeten, cerdas, dan sangat disiplin. Ia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di tempat kerjanya.
"Hugh.." Helaan napas berkali-kali dihembuskannya ke udara.
Seraya merapikan tumpukan dokumen, ingatannya melayang ke kejadian beberapa hari lalu. Sejak saat itu, Zheya tidak pernah lagi bertemu dengan Leon. Bahkan Leon juga tidak mencarinya sama sekali, seolah-olah keberadaan Zheya selama ini tidak pernah berarti.
Miris bukan jika Zheya berharap dicari laki-laki itu? Ia mencoba menepis rasa aneh di dadanya. Biasanya di setiap saat, selalu ada saja alasan yang membuat Zheya harus bekerja lebih lama di dekat sang boss. Entah itu urusan laporan mendadak atau sekadar keinginan Leon yang ingin ditemani. Namun sekarang, semuanya terasa kosong.
Lamunannya tersentak ketika mendengar gebrekan pelan di atas mejanya. Ia mendongak dan mendapati ekspresi dingin seorang wanita yang tengah menatap tajam ke arahnya.
Brakkkkk!
"....."
Zheya hanya diam. Ia tidak terkejut, apalagi takut. Ia justru mengangkat sebelah alisnya dengan santai, merasa heran dengan perempuan yang tiba-tiba mengebrak mejanya tanpa permisi.
"Narumi Zheya.." Penekanan pada namanya menandakan perempuan itu sedang berusaha mengintruksinya, memberikan tekanan mental di tengah ruang kantor yang mendadak hening.
Perempuan itu—Adeline—seakan ingin mendominasi seisi ruangan. Orang-orang di sekitar mulai mencuri pandang, berbisik-bisik, tapi tidak ada yang berani mendekat apalagi bertanya. Hawa di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin.
"Ada perlu apa mencari saya.." suara Zheya datar. Aura dingin yang kentara mulai terpancar dari dirinya. Ia sebenarnya tidak mengerti situasi apa yang tengah ia hadapi sekarang.
Namun, sebuah smirk tipis tersungging begitu saja di bibirnya. Sebuah tanda bahwa tidak ada orang yang boleh mendominasi dirinya. Zheya terlihat sangat angkuh menghadapi wanita arogan di depannya.
"Apa hubunganmu dengan Leon..!?"
Jederrrrr...
Pertanyaan tanpa basa-basi itu cukup mengejutkan, namun hanya dalam hitungan detik, ekspresi Zheya kembali menjadi datar tanpa minat ke arah perempuan itu.
"Hubungan apa yang kamu tanya nonaa... Bukan kah sudah jelas..." Zheya menyunggingkan senyuman tipis, atau lebih tepatnya sebuah seringai yang sangat menyebalkan bagi lawan bicaranya.
Melihat reaksi Zheya, Adeline mematung. Ia merasa terintimidasi dan berusaha keras menguasai dirinya kembali.
"A....." Ucapannya terputus.
"Hahh.. bukan kah sudah jelas saya kariawan dan pak Leon bossnya.." lanjut Zheya dengan kekehan yang terdengar seperti sedang mengejek kebodohan perempuan di depannya.
"Kamu harusnya sadar diri. Kamu cuma karyawan berani sekali bersikap se arogan itu!" bentak Adeline yang mulai kehilangan kendali. "Harusnya kamu berhenti bekerja, saya bisa meminta Leon memecatmu..!"
Zheya menatapnya dengan pandangan malas. "Ahhh.. kamu bilang hubungan karyawan dan boss!?? Ataukah kamu karyawan yang menjelma menjadi jalang."
Mendengar kata itu, mata Zheya menyipit. Amarahnya mulai terpancing.
"Hehh.. dengar apapun alasannya Leon akan segerah menjadi milik ku seutuhnya. Lebih baik kamu sadar diri.." Adeline meluapkan semua isi hatinya yang penuh kecemburuan. Melihat Zheya akan berbicara, Adeline kembali menyambar. "Mengapa ada foto kamu berdua sama Leon?? Mengapa Leon punya banyak foto-foto kamu!??"
Adeline menatapnya jijik. "Kalau memang bukan kamu jalang yang menggoda calon suami saya."
Zheya menatap balik dengan sorot mata yang tajam. Ia memikirkan ucapan apa yang paling pas untuk membalas nona angkuh yang sudah kurang ajar mengatainya jalang ini.
"Jalang...?" ulang Zheya dengan nada rendah yang berbahaya. "Nonaa jaga ucapan mu nona..!"
"Tidak perlu berteriak di sini dengan mulut yang tidak ada attitude nya.." lanjut Zheya sambil berdiri perlahan. "Bagian mana yang membuat nona memanggil saya jalang..?"
"..ahhh foto itu? Harusnya nona tanyakan kepada calon suami nona..!! Apakah perlu kita perkenalaan dulu nona?? Biar nona tau siapa saya.."
Zheya benar-benar tidak terima dengan tuduhan itu. "Oh iya.. Soal kerja saya sudah resign hari ini.!!"
Zheya mengulurkan tangannya dengan ekspresi yang jauh lebih angkuh dari perempuan di hadapannya. "Perkenalkan Narumi Zheya. Mantan dari calon suami nona.."
Kalimat itu meluncur begitu saja, penuh arogansi.
"Nonaa model terkenal.. saya tidak menyangka attitude anda begitu mencerminkan betapa rendah nya harga diri anda.."
Orang-orang di kantor menahan napas. Mereka tahu betapa "kejamnya" mulut Zheya saat merasa terintimidasi. Tapi mereka tidak menyangka Zheya begitu berani menghadapi model terkenal dari keluarga terpandang itu sendirian.
"Kurang ajar.." umpat Adeline dan melayangkan tamparan yang tidak sempat mengenai pipi Zheya. Dengan sigap, Zheya menangkap pergelangan tangannya.
"Jangan main main nonaa.. saya tidak suka di intimidasi.. " ujar Zheya dingin sambil menghempaskan tangan Adeline yang hampir saja mengenai pipi mulusnya.
Zheya segera menyambar tasnya dan pergi dari kantor dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Ia mengabaikan banyak mata yang memandangnya, bahkan panggilan Dea tidak terdengar lagi saking emosinya sudah memuncak.
...----------------...
Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan VVIP club mewah di daerah Jakarta Selatan yang remang-remang namun eksklusif.
"Hmm..." Seorang pria berdehem, terdengar kekehan kecil di mulutnya saat ia menatap layar ponselnya.
"Menarik!.." gumam Liyan singkat.
"Apa yang harus di lakukan lagi liyan!?" Khen mengangkat satu alisnya, mencoba membaca pikiran bossnya yang terkadang sulit ditebak itu.
"lu tau apa yang harus di lakukan.. dan gue tidak menerima kesalahan apapun.." perintah Liyan tanpa ekspresi yang berarti.
Khen segera meneguk minumannya setelah mendengar instruksi dari si boss. Rencana si boss kali ini memang agak gila, tapi dia tidak bisa tidak menurutinya. Ia tahu konsekuensi jika membantah: bisa-bisa ia berakhir setahun di Afrika untuk mengurus proyek tambang.
"Cckk.." Liyan berdecak.
Pasalnya hari ini sepupunya menikah dengan kekasih... maksudnya, mantan kekasih Liyan.
"Khen siap kan segalanya kita akan hadir ke pesta sahabat kita bukann... Kkkk" Kekehan dan smirk Liyan malam itu benar-benar mirip dengan seorang psikopat yang sedang merencanakan sesuatu yang besar.
"Yakin lu Dateng nih..?" tanya Khen lagi, memastikan.
"Hmmpp.. mari kita buktikan, dengan merebut Margaret tidak mempengaruhi gue sama sekali.."
Mobil mewah mereka melaju kencang, membelah malam menuju hotel tempat resepsi pernikahan mewah milik sepupunya dilangsungkan.
Pesta Pernikahan yang Megah
"Lu yakin zhee ikut..?" tanya Dea saat mereka sedang bersiap-siap.
"Iya De gpp juga kan. Buat buktiin mereka ga ada artinya bagi gue" ucap Zheya dengan tawa pelan yang terdengar dipaksakan namun tetap tegas.
"Syukurlah.. kalau begitu."
"Yuhhuuu... Jangan galau galau clup ya gayss!!.." teriak Cherry dengan ekspresi konyolnya. Ia berhasil mengalihkan perhatian Renata dan Zheya, membuat suasana sedikit lebih cair.
"Iya benar.. laki laki yang punya K****l bukan Leon aja.." Celetukan Clara yang memang pikirannya sedikit "ngenes" itu langsung membuat suasana pecah.
"ck.. mulut!" tegur Dea sambil tertawa kecil.
Tamu undangan mulai berdatangan memenuhi gedung pertemuan yang sangat mewah. Pestanya sangat meriah, dekorasi bunga-bunga mahal ada di setiap sudut. Di atas pelaminan, Leon dan Adeline berdiri tegak. Mereka bagaikan pangeran dan Cinderella, sangat tampan dan cantik di mata para tamu yang memandang mereka.
Zheya berjalan perlahan menuju ke pelaminan. Ia berniat memberikan selamat dengan gaya angkuh dan arogannya yang khas. Mengingat bagaimana Adeline pernah melabraknya tempo hari, Zheya sengaja memamerkan ekspresi datar yang justru membuatnya terlihat sangat mempesona. Dan nyatanya, ia memang sangat mempesona malam itu.
Dari kejauhan, seseorang menatap Zheya tanpa berkedip, memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu dengan penuh minat.
"Aduhh, selamat yaaa....." ucap Zheya saat sampai di depan mempelai tanpa beban sedikit pun. "Semoga langgeng dan di jauhin dari masalah.. Samawa ya nona dan pak bos.."
Ia tersenyum begitu manis seolah dialah orang paling bahagia di dunia melihat mereka menikah. Benar-benar akting yang sempurna. Kalau dia jadi artis, mungkin lemarinya sudah penuh piala penghargaan.
Berbeda dengan Leon. Pria itu menatap Zheya dengan ekspresi yang sangat sendu. Ada kepedihan di sorot matanya. Hatinya terasa sakit melihat Zheya tampak sangat baik-baik saja dan bahagia, padahal wanita yang dicintainya itu kini berdiri di depannya sebagai "tamu" di saat ia menjadi suami orang lain.
Leon harusnya sadar, dialah yang merasa kehilangan, bukan Zheya.
Setelah memberikan kado, Zheya dan teman-temannya memilih untuk menikmati hidangan kue-kue cantik yang berjejer rapi, memanjakan mata dan lidah mereka.
"Nona minum.." tawar seorang pelayan yang lewat memberikan gelas wine.
Zheya sebenarnya tidak suka alkohol, tapi untuk kali ini, ia merasa tidak ada salahnya mencoba sedikit. Toh, teman-temannya juga sudah mulai meminum beberapa tegukan wine yang diberikan pelayan tersebut.
"Hmpp.. terima kasih." Setelah menerima wine itu, Zheya meneguknya satu kali.
"Hmmm... Rasanya tidak terlalu buruk.. meski terasa sengatan menjalar di lidahnya." Zheya menutup matanya sejenak, membiarkan rasa hangat itu menyebar di dadanya, tanpa menyadari bahwa malam ini baru saja akan dimulai.