NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Rumah yang Terasa Beda

Mobil melaju tenang di jalan sore. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, seperti kota yang perlahan membuka rahasianya. Aku bersandar di kursi, tas di pangkuan, mataku mengikuti bayangan pohon yang berlari mundur di kaca jendela. Udara di dalam mobil hangat, bukan karena AC, tapi karena kehadiran seseorang di sampingku.

Haruka menyetir dengan satu tangan. Tangannya yang lain bertumpu di dekat tuas persneling. Fokus. Rapi. Seperti biasa. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada kebiasaan ceroboh. Bahkan saat lampu merah menyala, ia berhenti dengan halus, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh.

“Capek?” tanyanya, menoleh sekilas.

“Lumayan,” jawabku jujur. Lalu, tanpa tahu kenapa, aku menambahkan dengan suara lebih pelan, “Tapi hari ini menyenangkan.”

Ia tidak langsung menjawab. Mobil berbelok, masuk ke jalan yang lebih sepi. Lampu merah memantul di kaca depan, membuat wajahnya terlihat sedikit berbeda—lebih lembut, mungkin karena cahaya, mungkin karena ia sedang tidak memakai topeng apa pun.

Beberapa detik berlalu.

“Aku senang kamu tersenyum hari ini,” katanya akhirnya.

Aku menoleh. Kata-kata itu sederhana. Tidak berlebihan. Tapi entah kenapa, dadaku terasa hangat. Aku tersenyum lebih lebar, tanpa berusaha menahannya.

Perjalanan sisa terasa singkat. Terlalu singkat.

Saat mobil berhenti di depan rumah, senja sudah hampir habis. Langit berwarna jingga pucat, seperti napas terakhir sebelum malam mengambil alih. Haruka mematikan mesin, lalu membuka sabuk pengamannya. Aku masih duduk diam, seolah enggan keluar dari ruang kecil yang terasa aman itu.

“Kita sudah sampai,” katanya.

“Aku tahu,” jawabku. “Aku cuma… malas turun.”

Ia menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Kenapa?”

Aku memiringkan kepala, menatapnya dengan senyum manja yang bahkan tidak kututupi. “Karena di sini enak.”

Ia menghela napas pelan. Aku tahu napas itu. Napas orang yang sedang mencoba mengingat batas. Tapi aku juga tahu—akhir-akhir ini, batas itu sering runtuh tanpa suara.

Begitu kami masuk ke dalam rumah, suasananya langsung terasa berbeda. Sunyi, tapi bukan sepi. Hangat, seperti ruangan yang menunggu penghuninya pulang. Aku melepas sepatu sembarangan, sengaja. Haruka, tentu saja, langsung memungutnya dan meletakkannya rapi.

“Kamu itu,” gumamnya.

Aku tertawa kecil. “Kalau aku rapi, kamu nggak ada kerjaan.”

Ia tidak membalas, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir tersenyum.

Aku berjalan ke ruang tamu, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Sengaja berlebihan. Sengaja mengeluh pelan.

“Capek,” kataku lagi, kali ini lebih dramatis.

Haruka meletakkan tasnya, lalu berdiri di depanku. “Kamu bilang tadi harimu menyenangkan.”

“Bisa menyenangkan dan capek bersamaan,” jawabku cepat. “Makanya aku butuh istirahat.”

Ia mengangguk, seolah menerima alasan itu. Lalu berbalik menuju dapur.

Aku bangkit dan mengikutinya, langkahku ringan. “Pak,” panggilku.

Ia berhenti. “Apa lagi?”

Aku mendekat, lalu tanpa peringatan, memeluk pinggangnya dari belakang. Wajahku kusandarkan di punggungnya. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan melembut.

“Kamu dingin,” kataku.

“AC mobil,” jawabnya.

“Bohong,” balasku cepat. “Ini dingin karena kamu nggak dipeluk.”

Ia terdiam. Tangannya yang tadi hendak mengambil gelas berhenti di udara. Aku mempererat pelukan, pipiku menempel di punggungnya.

“Alya,” katanya pelan, memperingatkan.

Aku mengangkat wajahku sedikit. “Hm?”

Ia berbalik setengah, cukup dekat hingga hidung kami hampir bersentuhan. Aku bisa melihat matanya dengan jelas—tenang, tapi tidak sepenuhnya.

“Kamu manja sekali hari ini.”

Aku tersenyum. “Aku di rumah.”

Kalimat itu membuatnya terdiam lebih lama dari biasanya.

Tanpa menunggu jawaban, aku berdiri berjinjit dan mencium pipinya. Sekali. Singkat. Lalu sekali lagi, sedikit lebih lama. Aku merasakan napasnya berubah, lebih berat, lebih pelan.

“Alya—”

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Aku memeluk lehernya dan tertawa kecil. “Tenang. Aku cuma mau dipeluk.”

Ia menghela napas, seperti orang yang akhirnya menyerah pada sesuatu yang memang tak ingin ia lawan. Tangannya terangkat, lalu melingkar di pinggangku. Tidak keras. Tidak posesif. Tapi cukup kuat untuk membuatku merasa ditahan—dipilih.

Aku tersenyum puas, lalu menempelkan keningku ke dadanya. Detak jantungnya terasa jelas. Stabil. Nyata.

“Kamu berat,” katanya, tapi suaranya tidak keberatan.

“Itu karena aku penuh cinta,” balasku tanpa malu.

Ia menggeleng kecil. “Kamu ini…”

Aku mundur setengah langkah, lalu menatapnya dengan wajah paling polos yang bisa kubuat. “Gendong aku.”

“Apa?”

“Gendong,” ulangku. “Aku capek.”

“Kamu baru jalan dari mobil ke sini.”

“Capek emosional,” kataku cepat. “Itu lebih berat.”

Ia menatapku lama. Lama sekali. Lalu akhirnya berlutut sedikit dan mengangkatku begitu saja, satu tangan menopang kakiku, satu lagi di punggungku.

Aku terkejut, lalu tertawa kecil, refleks memeluk lehernya. Wajah kami kini sejajar.

“Haruka!”

“Kamu minta,” katanya singkat.

Aku tidak menjawab. Aku justru mencium pipinya lagi. Kali ini lebih berani. Lebih dekat ke sudut bibir. Ia berhenti melangkah.

“Alya,” katanya lagi, suaranya lebih rendah.

Aku tersenyum nakal. “Kenapa?”

“Kamu bahaya.”

Aku tertawa. “Kamu yang kuat.”

Ia akhirnya berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkanku di sofa, tapi aku tidak langsung melepaskannya. Tanganku masih di lehernya. Aku menariknya turun, perlahan, hingga wajahnya dekat dengan wajahku.

“Aku suka rumah ini,” kataku pelan.

“Karena nyaman?” tanyanya.

“Karena kamu,” jawabku jujur.

Ia menelan ludah. Aku bisa melihatnya. Ia tidak mundur. Tapi juga tidak mendekat. Seperti berdiri di ambang sesuatu yang ia takutkan sekaligus inginkan.

Aku mencium bibirnya.

Awalnya hanya niatku. Sebuah keberanian kecil yang biasanya selalu kutarik kembali. Tapi kali ini berbeda. Kali ini—ia membalasnya.

Bukan ragu.

Bukan refleks.

Ia benar-benar mencium balik bibirku.

Hangat. Singkat. Nyata.

Aku membeku sepersekian detik. Otakku terlambat mengejar apa yang baru saja terjadi. Dan begitu kesadaranku menyusul, wajahku langsung terasa panas.

Aku mundur cepat, lalu refleks menutupi wajahku dengan kedua tangan.

“A—aku—” suaraku tercekat. “Kamu—”

Aku bahkan tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Ia menatapku. Lalu—untuk pertama kalinya hari itu—ia tersenyum. Bukan senyum kecil yang samar. Tapi senyum yang jelas. Sedikit nakal. Sedikit puas.

“Kenapa?” katanya tenang. “Bukannya kamu yang mulai?”

Aku mengintip dari sela-sela jariku. “Kamu nggak bilang bakal balas!”

Ia mengangkat bahu ringan. “Aku cuma jujur.”

“Jujur apanya!” protesku, wajahku makin panas.

Ia mendekat setengah langkah, cukup untuk membuatku refleks mundur. “Kalau kamu malu, harusnya jangan berani.”

Aku menurunkan tanganku, menatapnya dengan kesal bercampur malu. “Kamu ngejek aku.”

“Sedikit,” akunya tanpa rasa bersalah.

Itu cukup.

Tanpa memberi waktu baginya bereaksi, aku maju dan—

mencium bibirnya lagi.

Lebih cepat. Lebih berani.

Lalu langsung mundur.

“Sekarang impas,” kataku cepat.

Sebelum ia sempat berkata apa pun, aku berbalik dan berlari ke arah kamar. Langkahku cepat, hampir tersandung karpet. Pintu kamar kubuka tergesa, lalu kututup dengan bunyi klik yang terlalu keras untuk disebut anggun.

Aku bersandar di balik pintu, napasku belum teratur.

Tanganku naik ke pipi. Panas.

Bibirku—masih terasa hangat.

“Gila,” gumamku pelan.

Aku berjalan ke kasur dan menjatuhkan diri telentang, menatap langit-langit kamar. Jantungku berdetak terlalu cepat untuk ukuran ciuman sesederhana itu.

Beberapa detik berlalu.

Lalu terdengar suara langkah di luar.

Aku menahan napas.

Tidak ada ketukan. Tidak ada panggilan. Hanya langkah yang berhenti tepat di depan pintu kamarku. Diam. Terlalu diam.

Aku menutup mata.

“Selamat malam, Alya,” suara itu terdengar dari balik pintu. Pelan. Tenang. Tapi jelas terdengar… berbeda.

Aku menggigit bibirku sendiri, lalu menoleh ke arah pintu meski tahu ia tak bisa melihatku.

Beberapa detik aku tidak menjawab.

Lalu terdengar lagi suaranya, kali ini sedikit lebih rendah.

“Kamu belum makan.”

Aku membuka mata. Menarik napas panjang. Lalu bangkit duduk perlahan, merapikan kausku yang kusut karena tadi aku menjatuhkan diri terlalu dramatis ke kasur. Tanganku refleks naik ke pipi—masih panas.

“Aku… iya,” jawabku akhirnya. “Sebentar.”

Aku berjalan ke pintu dan membukanya pelan. Begitu pintu terbuka, aku langsung menunduk, masih menutup setengah wajahku dengan satu tangan.

Haruka berdiri di sana.

Dan tentu saja—ia melihatnya.

“Masih merah,” katanya ringan.

Aku mendengus kecil. “Jangan dilihatin.”

“Sulit,” balasnya, nada suaranya mengandung senyum yang tidak ia sembunyikan. “Kamu kelihatan seperti habis lari maraton.”

Aku melangkah melewatinya tanpa menatap, berjalan cepat ke arah dapur. “Itu salah kamu.”

Ia mengikuti di belakangku. “Menarik. Padahal tadi kamu yang kabur.”

Aku tidak menjawab. Hanya menarik kursi dan duduk, masih memegangi wajahku. Haruka mengambilkan piring, mengisi makanan, lalu meletakkannya di depanku.

“Habiskan,” katanya. “Kamu kelihatan lapar.”

Aku melirik piring itu, lalu melirik dia sekilas. “Kamu perhatian sekali malam ini.”

Ia berhenti bergerak sejenak, lalu mengambil kursi dan duduk di seberangku. “Karena kamu memang belum makan.”

Aku mulai menyuap pelan. Dapur terasa berbeda malam itu. Lampu kuning yang biasanya terasa biasa saja kini membuat bayangan di dinding tampak lebih lembut. Tidak ada suara televisi. Tidak ada notifikasi ponsel. Hanya suara sendok menyentuh piring, dan napas kami yang tenang.

“Kamu selalu kabur kalau malu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku hampir tersedak. “Itu bukan kabur.”

“Lari ke kamar dan mengunci diri,” katanya tenang. “Definisi kamusnya cukup jelas.”

Aku menatapnya kesal. “Kamu menikmati ini, ya.”

Ia mengangkat alis. “Menikmati apa?”

“Melihat aku malu.”

Ia tersenyum kecil. “Sedikit.”

Aku mendecak, lalu melanjutkan makan. “Jahat.”

“Jujur,” koreksinya.

Beberapa suapan kemudian, aku memberanikan diri menatapnya lebih lama. Ia duduk santai, satu tangan di meja, satu lagi memegang gelas. Wajahnya kembali tenang seperti biasa—seolah kejadian tadi hanyalah jeda kecil, bukan sesuatu yang membuat dadaku berantakan.

“Kamu…,” aku berhenti sejenak, mencari kata. “Tadi kenapa balas?”

Sendokku berhenti di udara.

Ia menatapku. Tidak langsung menjawab. Tatapannya tidak menghindar, tapi juga tidak menekan. Seperti seseorang yang memilih kata dengan hati-hati.

“Karena kalau tidak,” katanya akhirnya, “aku akan menyesal.”

Dadaku terasa hangat. Aku menunduk, berpura-pura fokus pada makanan. “Oh.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu menyesal?”

Aku menggeleng cepat. “Enggak.”

“Cepat sekali jawabnya.”

“Aku tahu jawabannya,” balasku pelan.

Ia terdiam, lalu tertawa kecil. Bukan tawa penuh, hanya hembusan napas yang berubah bentuk. “Kamu ini…”

Aku tersenyum tanpa sadar. “Aku apa?”

“Menyusahkan,” katanya. “Tapi… sulit dihindari.”

Aku mengangkat kepala. “Itu pujian?”

Ia menatapku lama, lalu mengangguk kecil. “Kalau kamu mau menganggapnya begitu.”

Aku menghabiskan makananku. Saat piringku kosong, aku mendorongnya sedikit ke tengah meja. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aku berdiri, berniat membawa piring ke wastafel, tapi ia lebih cepat mengambilnya. “Biar aku.”

Aku menurut, lalu bersandar di meja dapur, menatap punggungnya saat ia mencuci piring. Gerakannya rapi, teratur. Tidak terburu-buru. Pemandangan yang entah kenapa terasa… akrab.

“Haruka,” panggilku pelan.

“Hm?”

“Kalau aku nggak kabur tadi,” kataku, suaraku hampir berbisik, “kamu bakal gimana?”

Ia mematikan keran. Mengeringkan tangan. Lalu berbalik menatapku.

“Kamu ingin tahu,” katanya, “atau cuma ingin menggoda?”

Aku tersenyum kecil. “Mungkin dua-duanya.”

Ia mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat. Jarak aman versi kami—lagi-lagi.

“Kalau kamu nggak kabur,” katanya tenang, “aku mungkin akan menyuruhmu makan lebih dulu. Seperti sekarang.”

Aku mendengus kecil. “Bohong.”

Ia tersenyum tipis. “Mungkin.”

Aku tertawa pelan. Suasana yang tadi terasa tegang kini melunak, berubah jadi sesuatu yang ringan tapi hangat.

“Sudah malam,” katanya. “Kamu harus istirahat.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Kami berjalan keluar dapur berdampingan. Di depan kamarku, aku berhenti. Menoleh ke arahnya.

“Terima kasih sudah manggil aku makan,” kataku.

Ia mengangguk. “Selamat tidur, Alya.”

Aku membuka pintu, lalu berhenti sebentar. “Haruka?”

“Hm?”

Aku tersenyum, kali ini tanpa menutupi wajah. “Besok… jangan kaget kalau aku masih malu.”

Ia tersenyum kecil. “Aku akan terbiasa.”

Aku menutup pintu pelan. Bersandar sebentar di baliknya.

Dan malam itu, bukan hanya rumah yang terasa berbeda—

aku juga.. .......

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!