akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 – Anak yang Menghentikan Waktu
Di dalam ruang dimensi Rey, dunia terasa sunyi dan damai.
Padang rumput hijau membentang sejauh mata memandang. Sungai kecil mengalir jernih, memantulkan cahaya langit biru yang tak pernah tercemar asap atau darah monster. Udara di tempat itu terasa berbeda—lebih ringan, lebih segar, dan mengandung energi yang tak terlihat.
Rey terbaring di tepi sungai, napasnya perlahan mulai teratur. Luka di bahunya yang sebelumnya menganga kini tak lagi mengucurkan darah. Kulitnya menutup sedikit demi sedikit, seperti sedang dijahit oleh kekuatan yang tak kasatmata.
Beberapa langkah darinya, Sila terbaring di atas rumput.
Wajahnya masih pucat, namun dadanya naik turun dengan stabil. Kilatan listrik yang sebelumnya tak terkendali kini menghilang, digantikan ketenangan yang jarang terlihat di wajahnya sejak hari kiamat dimulai.
Udara ruang dimensi perlahan meresap ke dalam tubuh mereka.
Sel-sel yang rusak seolah dipaksa bangkit.
Otot yang kelelahan dipulihkan.
Energi yang terkuras mulai terisi kembali.
Layar transparan muncul samar di depan Rey, meski matanya masih terpejam.
[Status: Dalam Pemulihan]
[Lingkungan: Energi Tinggi – Regenerasi Dipercepat]
Ruang dimensi itu bukan hanya tempat berlindung…
melainkan tempat penyembuhan.
Di dunia nyata, pantai telah berubah menjadi medan penuh reruntuhan.
Bangkai monster berserakan, sebagian mulai menguap menjadi asap hitam. Regu resmi sibuk membersihkan sisa-sisa pasukan monster, sementara ambulans dan kendaraan evakuasi mondar-mandir membawa korban luka.
Namun satu hal membuat pemerintah gelisah.
Rey dan Sila menghilang.
“Jejak energi mereka terputus,” lapor seorang analis.
“Seolah-olah… lenyap begitu saja.”
Di ruang rapat darurat, beberapa pejabat menatap Leoni dan Boy dengan tajam.
“Di mana Rey dan adiknya?” tanya seorang jenderal.
Leoni berdiri tenang, menyandarkan senapannya di bahu.
“Mereka kelelahan setelah melawan bos monster,” jawabnya datar.
“Mungkin sedang beristirahat di tempat aman.”
“Tempat aman di mana?” desak pejabat itu.
Leoni mengangkat bahu.
“Entahlah. Rey selalu punya caranya sendiri.”
Nada suaranya tenang, tapi pikirannya berputar cepat.
Tenang saja Rey… rahasiamu tidak akan kubocorkan.
Boy berdiri di sampingnya, menguap kecil.
“Kalau Leoni bilang begitu, ya begitu,” katanya santai.
“Rey bukan tipe kabur tanpa alasan.”
Beberapa pejabat saling berpandangan.
“Kita akan awasi kalian,” kata jenderal itu akhirnya.
“Jika mereka tidak muncul dalam waktu lama, kami akan lakukan pencarian besar-besaran.”
Leoni mengangguk.
“Terserah.”
Beberapa hari kemudian, pengumuman besar disiarkan ke seluruh kota.
[PEMBENTUKAN REGU SUPERHUMAN RESMI]
TOTAL REGU: 4
SETIAP REGU: 10 SUPERHUMAN
Lapangan pelatihan dipenuhi barisan manusia berkekuatan khusus.
Regu pertama berdiri paling depan.
Disusul regu kedua, ketiga, dan keempat.
Formasi kini jauh lebih rapi.
Komando lebih jelas.
Pertahanan kota diperkuat.
Namun, Unit Khusus Rey masih kosong…
tanpa pemimpinnya.
Leoni berdiri di tepi lapangan, menatap barisan regu resmi dengan ekspresi sulit dibaca.
“Semakin banyak yang bangkit…” gumamnya.
“Seharusnya kedepannya akan lebih baik.”
Boy berdiri di sampingnya.
“Rey pasti bakal balik,” katanya yakin.
“Dia nggak akan meninggalkan kita.”
Leoni mengangguk pelan.
“Ya… aku juga percaya.”
Sore hari, Leoni dikirim untuk patroli ringan di kawasan perumahan yang rusak.
Bangunan roboh, jendela pecah, dan jalanan penuh puing. Bau anyir darah monster masih tertinggal di udara.
Di antara reruntuhan, ia mendengar suara tangisan kecil.
Leoni menghentikan langkahnya.
“Siapa di sana?”
Di balik dinding yang runtuh, seorang anak kecil duduk meringkuk.
Usianya sekitar lima tahun.
Pakaianya kotor oleh debu dan darah kering. Rambutnya kusut, dan wajahnya dipenuhi air mata.
Di sampingnya…
seorang wanita terbaring tak bergerak.
Tubuhnya dingin.
“Bu… bangun…” isak anak itu.
“Bangun, Bu…”
Leoni berjongkok perlahan.
“Hei… kamu sendirian?”
Anak itu menoleh dengan mata merah.
“Ibu tidur…” katanya polos.
“Tapi… kenapa lama sekali?”
Leoni menelan ludah.
Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini.
Tapi tidak pernah terasa biasa.
Ia menyentuh bahu anak itu.
“Ibumu… sudah pergi.”
Anak itu menggeleng keras.
“Tidak… aku bisa bikin dia berhenti…”
Ia mengangkat tangan kecilnya ke arah tubuh ibunya.
“Berhenti… ya…”
Udara di sekitar tubuh sang ibu tiba-tiba bergetar.
Leoni membelalakkan mata.
Untuk sesaat…
darah yang hampir mengering berhenti menetes.
Debu di udara membeku di tempat.
Daun yang jatuh dari atap berhenti di tengah gerakan.
Semua yang menyentuh tubuh wanita itu… berhenti.
Namun hanya sebentar.
Lima detik kemudian, semuanya bergerak lagi.
Anak itu terhuyung dan hampir jatuh.
Leoni cepat menangkapnya.
“Kamu… barusan… menghentikan waktu?”
Anak itu mengangguk lemah.
“Aku cuma bisa sedikit…” katanya sambil menangis.
“Dan cuma di dekat ibu…”
Leoni terdiam.
Kekuatan tipe waktu…
Ia tahu betapa bergunanya kekuatan seperti itu, terutama untuk mengalahkan monster, tapi kekuatannya masih terlalu lemah.
Leoni memeluk anak itu perlahan.
“Kamu berani dan hebat,” katanya lembut.
“Kamu cuma ingin ibu kamu kembali.”
Anak itu terisak di dadanya.
“Aku… aku mau ibu…”
Leoni menatap tubuh wanita itu sekali lagi, lalu menutup matanya.
“Ayo ikut aku,” katanya pelan.
“Aku akan carikan tempat aman buat kamu.”
Anak itu menatapnya ragu.
“Kakak… siapa?”
Leoni tersenyum tipis.
“Teman.”
Di kejauhan, matahari tenggelam di balik gedung-gedung hancur.
Tampak Leoni dan seorang anak berjalan menuju markas mereka…
Kemunculan monster, kehadiran superhuman dengan berbagai kekuatan.
dan satu pemimpin yang masih terbaring di dunia tersembunyi.
Takdir perlahan bergerak ke arah yang lebih rumit.