Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 PERTAMA
Khay benar-benar tidak menyangka malam itu akan terus dipenuhi kejutan. Setelah berjalan santai di taman hotel, ia mengira Revan akan langsung mengantarnya pulang. Namun ternyata..
Lift privat.
Dan kini ia berdiri di dalam sebuah kamar hotel yang begitu mewah. Bahkan… lebih dari sekadar mewah.
Kamar itu luas, dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Cahaya lampu kota terlihat seperti bintang-bintang yang tersebar di bumi. Di sudut ruangan terdapat jacuzzi besar, sofa empuk, dan tempat tidur king size dengan desain elegan.
Khay sampai terdiam cukup lama. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut ruangan. “Mas…” gumamnya pelan. “Ini…” Ia menelan ludah. “Keren banget…”
Revan berdiri di belakangnya, memperhatikan reaksi Khay. Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Cuma kelas atas yang bisa tidur di kamar ini,” lanjut Khay polos, masih terpukau.
Revan mendekat perlahan. Langkahnya tenang.
“Ini bukan untuk tamu,” ucapnya lembut.
Khay menoleh. “Hah?”
Revan berhenti tepat di belakangnya. “Ini kamar pribadiku,” lanjutnya. “Tidak akan ada yang boleh masuk…” Ia sedikit menunduk. " kecuali istriku.”
Deg.
Khay langsung membeku belum sempat ia mencerna ucapan itu
Revan mengecup lembut pundaknya.
Seketika tubuh Khay menegang. Wajahnya memerah Jantungnya berdebar sangat cepat. “Mas... ” ucapnya refleks Namun kata-katanya terhenti.
Revan memutar tubuh Khay perlahan hingga mereka saling berhadapan. Jarak mereka kini sangat dekat terlalu dekat.
Tangan Revan terangkat, menyentuh tengkuk leher Khay dengan lembut.
Khay refleks menahan napas Tatapan mereka saling bertemu Dan untuk pertama kalinya.. Khay melihat sesuatu yang berbeda di mata Revan. Bukan sekadar ketenangan, Bukan sekadar ketegasan Tapi... keinginan Namun tetap… tertahan. “Eum… mas…” suara Khay bergetar.
Jantungnya seperti ingin meloncat keluar.
Revan menatapnya dalam. “Kenapa?” tanyanya pelan.
Khay menunduk.
Ia menggenggam ujung bajunya sendiri “A… aku belum siap…”
Suasana mendadak hening.
Revan terdiam Tatapannya tidak berubah namun ada sesuatu yang melembut Perlahan tangannya yang tadi menyentuh tengkuk Khay turun Ia tidak memaksa. Tidak mendekat lagi Sebaliknya.. ia justru mundur setengah langkah Menciptakan jarak.
Khay mengangkat wajahnya perlahan Sedikit terkejut.
Revan menghela napas pelan. “Aku tahu,” ucapnya tenang.
Khay mengernyit. “Kamu tahu?”
Revan mengangguk kecil. “Aku tidak akan memaksamu.”
Deg.
Hati Khay langsung terasa hangat.
Ia menatap Revan.
Pria itu berdiri dengan sikap tenang, seperti biasa.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda Sesuatu yang membuat Khay merasa aman.
“Aku memang ingin dekat denganmu,” lanjut Revan jujur. “Tapi bukan dengan cara yang membuatmu takut.”
Khay terdiam Kata-kata itu sederhana Tapi sangat berarti. “Mas…” suara Khay melembut.
Revan menatapnya. “Kita pelan-pelan aja ya…” lanjut Khay lirih.
Revan tersenyum tipis. “Iya.”
Suasana menjadi lebih tenang Tidak lagi tegang, Tidak lagi membuat Khay gugup berlebihan.
Revan berjalan ke arah sofa, lalu duduk santai. “Kamu bisa istirahat dulu,” ucapnya.
Khay masih berdiri di tempat “Mas…”
Revan menoleh. “Iya?”
Khay ragu sejenak, lalu perlahan mendekat.
Langkahnya kecil Namun pasti Ia berhenti di depan Revan Lalu tanpa diduga. Khay menggenggam tangan Revan.
Revan sedikit terkejut. “Khay?”
Khay menunduk. “Aku belum siap untuk hal yang lebih…” ucapnya pelan. “Tapi…” Ia menggigit bibirnya.
" aku gak masalah kalau dekat sama kamu.”
Revan terdiam Tatapannya melembut “Dekat seperti ini?” tanyanya pelan.
Khay mengangguk kecil.
Revan tersenyum Tangannya membalas genggaman Khay Lembut, Hangat. “Kalau begitu…” ucap Revan.
“Kita mulai dari sini.” Revan mencium bibir khay dengan lembut sangat lembut.
Walaupun yang bermain hanya Revan tapi khay membuka mulutnya, memberikan akses untuk Revan kecup.
" Ini sudah cukup " bisik revan
Khay tersenyum kecil Untuk pertama kalinya ia merasakan ciuman dari seorang laki-laki.
Khay langsung berlari menjauh, langkahnya cepat seperti ingin melarikan diri dari rasa yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Wajahnya memerah, jantungnya berdetak tidak karuan setelah momen singkat yang baru saja terjadi.
“Aku mau berendam!” ucapnya sedikit keras, berusaha terdengar biasa meski napasnya masih belum stabil.
Revan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya tersenyum tipis. Tatapannya lembut, namun jelas menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Boleh,” jawabnya santai. “Aku sudah siapkan keperluan kamu di lemari.”
Khay yang sudah membuka pintu kamar mendadak berhenti. Ia menoleh cepat, matanya membulat.
“Hah? Kok bisa?”
Revan berjalan mendekat, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan tenang. “Karena aku tahu hari ini akan tiba,” ucapnya ringan. “Jadi aku sudah mempersiapkan semuanya.”
Khay menatapnya beberapa detik, bingung sekaligus penasaran. “Kamu ini… aneh,” gumamnya pelan, lalu segera masuk ke dalam kamar sebelum Revan bisa melihat wajahnya yang semakin merah.
Di dalam kamar, Khay membuka lemari yang dimaksud. Benar saja, di sana sudah tergantung beberapa pakaian, termasuk pakaian berendam yang tampak baru dan sangat pas dengan seleranya.
Ia menghela napas pelan.
“Dia benar-benar mempersiapkan semuanya…” bisiknya.
Entah kenapa, ada perasaan hangat yang perlahan menjalar di hatinya. Perhatian kecil seperti itu membuatnya merasa… dihargai.
Tak ingin terlalu lama tenggelam dalam pikirannya sendiri, Khay segera mengambil pakaian itu dan bersiap.
Beberapa menit kemudian, ia keluar menuju tempat berendam yang menghadap langsung ke pemandangan kota dari ketinggian. Lampu-lampu mulai menyala, menciptakan suasana yang begitu indah dan romantis.
Revan sudah lebih dulu berada di sana Dan saat matanya melihat Khay yang berjalan mendekat, langkahnya seolah terhenti.
Pakaian yang dikenakan Khay terlihat sederhana, namun justru itu yang membuatnya semakin menawan. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit basah di ujungnya. Kulitnya tampak bersinar terkena cahaya lampu yang lembut.
Revan menarik napas dalam Ada sensasi hangat yang menjalar di dadanya, bercampur dengan sesuatu yang membuatnya sedikit… gugup.
“Kamu lama,” ucapnya, berusaha terdengar biasa.
Khay mendengus kecil. “Aku kan harus siap-siap dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menuruni anak tangga kecil dan masuk ke dalam air hangat.
Tubuhnya perlahan tenggelam hingga sebatas bahu.
“Ah… enak banget,” gumamnya sambil memejamkan mata.
Revan memperhatikannya sejenak, lalu ikut masuk ke dalam jacuzzi. Air hangat itu langsung menyambut tubuhnya, memberikan rasa rileks yang menenangkan.
Mereka berdua kini berada dalam satu ruang, hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara air yang bergerak pelan, dan gemerlap lampu kota yang menjadi saksi.
Khay membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke arah Revan. “Tempat ini… bagus banget,” ucapnya jujur.
Revan mengangguk. “Aku sengaja pilih yang terbaik.”
Khay tersenyum kecil, namun tidak berani menatap terlalu lama. Entah kenapa, berada sedekat ini dengan Revan membuatnya kembali gugup.
Revan yang menyadari perubahan itu mendekat sedikit demi sedikit. “Khay…” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Kamu masih malu?”
Khay langsung memalingkan wajah. “Nggak!”
Revan terkekeh pelan. “Kalau nggak, kenapa dari tadi nggak berani lihat aku?”
“Siapa juga yang nggak berani!” bantah Khay cepat, meski pipinya kembali memanas.
Revan semakin mendekat, kini jarak mereka hanya beberapa senti. Tatapannya melembut, tidak lagi menggoda seperti sebelumnya.
“Khay…” ulangnya lebih pelan.
Khay yang awalnya ingin menghindar justru perlahan menoleh. Tatapan mereka bertemu Dan untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti Tidak ada suara, tidak ada gangguan Hanya mereka berdua.
Jantung Khay kembali berdetak cepat, namun kali ini ia tidak lari Tidak menjauh, Ia tetap di tempatnya.
Revan mengangkat tangannya perlahan, menyentuh ujung rambut Khay yang sedikit basah. Gerakannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah takut membuat gadis di depannya itu menjauh lagi.
“Kamu cantik,” ucapnya lirih.
Khay terdiam Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa begitu berbeda Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya.
“Revan…” panggilnya pelan.
“Hmm?”
Khay menarik napas, lalu menatapnya lagi
“Makasih…”
“Untuk apa?”
Khay melirik ke sekitar, lalu kembali menatapnya. “Untuk semuanya… untuk hari ini.”
Revan tersenyum tipis “Ini belum seberapa,” balasnya.
Khay mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Revan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Khay dengan dalam, seolah menyimpan sesuatu yang belum ingin ia ungkapkan.
“Nanti kamu juga tahu,” ucapnya akhirnya.
Khay semakin penasaran, tapi memilih tidak bertanya lagi.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama di dalam air hangat, ditemani pemandangan kota yang indah dan perasaan yang perlahan semakin tumbuh di antara keduanya.