NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Dendam dan Kendali

“Baik, kalau itu maumu, aku tunggu kau jam 5 sore di Cobra Boxing Gym,” jawab Axel. “Aturan tinju!”

“Kalau gua kalah, gua akan mengakui lu sebagai yang terkuat di grup sekolah,” ucap Tony sambil menatap mata Axel dengan tajam dan penuh dendam. “Sebaliknya kalau lu kalah, lu harus meminta maaf ke gua secara terbuka di grup sekolah!”

“Deal!” jawab Axel.

Rencana duel tinju antara Axel dan Tony dengan cepat tersebar di komunitas kedua geng. Hal itu membuat tidak nyaman Rommy.

“Ton, selagi masih bisa, batalkan pertandingan ini,” pinta Rommy.

“Tidak, Rom, momen ini adalah yang paling gua tunggu-tunggu selama tiga bulan masa skorsing lalu,” jawab Tony lirih. “Tapi gua rasa-rasa lu banyak perubahan selama tiga bulan kita tak berhubungan, Rom. Rommy yang dulu adalah Rommy yang temperamental, sedang Rommy yang sekarang adalah Rommy yang penuh perhitungan.”

“People change,” jawab Rommy. Dia tidak menceritakan kepada Tony bahwa perkenalannya dengan Mauren adalah alasan yang membuat Rommy bisa berubah dari seorang pemuda yang berandalan menjadi seorang pemuda yang penuh perhitungan.

Sepulang sekolah, sekitar jam 15.30, Axel tidak pulang ke rumah melainkan langsung ke boxing gym. Dia hanya memberitahu kepada mamanya ada tugas tambahan dari sekolah. Beberapa teman anggota The Executioners itu mengikuti pimpinannya.

Sedang geng Kelelawar Hitam janjian bertemu di markas mereka, warung bakso dekat sekolah, pada jam 4 sore dan bersama-sama berangkat ke Sasana Tinju Cobra.

“Aku yang akan membantumu di sudut,” ucap coach Bruno kepada Axel. “Pertahanan yang baik adalah serangan. Lakukan serang terlebih dulu, camkan itu!”

Di warung bakso, para anggota geng Kelelawar Hitam juga sudah datang. Rommy juga hadir.

“Kalau kau berkeras tidak mau membatalkan pertarungan ini, izinkan aku menjadi pembantumu di sudut nanti,” bisik Rommy pelan kepada Tony. “Ingat tujuan lu bukan menang, dan jaga emosi.”

Ronny mengangguk tanda setuju.

Warung bakso itu semakin lama semakin ramai dengan celoteh anak-anak Kelelawar Hitam, lalu mereka berjalan kaki ke sasana yang hanya berjarak kurang lebih 30 menit. Sepanjang perjalanan mereka berteriak, “Tony, Tony!” Rommy tampak sibuk mengatur teman-temannya agar tidak mengganggu para pengguna jalan yang lain.

“Ingat, di sana kita harus jaga ketertiban,” teriak Rommy mengingatkan teman-temannya. “Kelelawar Hitam adalah geng yang menjunjung norma. Tidak seperti geng pada umumnya!”

Jam setengah 5 kurang sedikit, Rommy dkk. sudah tiba di sasana. Beberapa anggota The Executioners tampak memprovokasi geng Kelelawar Hitam, tapi dengan kepemimpinannya Rommy menenangkan teman-temannya.

“Jangan ada yang terprovokasi! Semua harap jaga emosi,” teriak Rommy mengingatkan teman-temannya. “Ingat tujuan kita semua di sini untuk mendukung saudara kita, Tony!”

“Tony! Tony!” Yel-yel anak-anak anggota Kelelawar Hitam meneriakkan yel-yel menyemangati Tony.

“Ingat, Ton, jaga emosi,” kata Rommy.

“Siap, bro,” jawab Tony lalu memeluk Rommy dan bersiap-siap serta melakukan pemanasan.

Di sudut lain, anggota geng The Executioners juga tak mau kalah memeriahkan yel-yel, “Axel, bantai dia! Axel, bantai dia!”

Coach Bruno tampak sibuk menyiapkan anak didiknya dan menyuruh Axel segera melakukan pemanasan. “Ingat, serang dulu dia, kasih shock therapy!” kata coach Bruno dengan mantap.

Saatnya duel dimulai. Tony layaknya pertandingan betulan berjalan dengan tenang, diikuti beberapa anggota geng di belakangnya memasuki ring.

Yel-yel “Tony! Tony!” terus diteriakkan dengan keras dan semangat untuk memberi semangat Tony.

Di sudut lain tampak Axel juga berjalan dari ruang ganti diikuti beberapa anggota gengnya tetap sambil meneriakkan yel-yel, “Axel, bantai dia!”

Di atas ring sudah berdiri seorang wasit yang ditunjuk, dia salah seorang pelatih di sasana Cobra, asisten coach Bruno. Axel dan Tony maju ke tengah ring. Keduanya memakai pengaman kepala dan pelindung gigi. Mereka saling menatap tajam. Axel dengan tatapan licik, sedang Tony dengan pandangan penuh dendam.

“Ingat kita pakai aturan tinju lama, tiga ronde. Tidak boleh memukul daerah ginjal dan di bawah sabuk,” kata wasit kepada Axel dan Tony. “Kalau saya berteriak break, kalian harus melangkah mundur selangkah, baru boleh memukul, dan kalau saya bilang stop, kalian harus berhenti sebelum saya memberi aba-aba untuk bertinju kembali. Apakah semua mengerti?”

Axel dan Tony mengangguk tanda mengerti. Di dada mereka jantung berdebar begitu keras, campuran rasa takut, emosi, dan sebagainya.

“Kini keduanya berjabat tangan sebelum tinju bisa dimulai,” perintah wasit.

Keduanya saling bersalaman lalu kembali ke sudut masing-masing. Rommy mengoleskan vaseline ke muka Tony agar mukanya licin, tidak mudah luka ketika kena pukulan, sambil berkata, “Ingat, Ton, jangan emosi.”

Bel berdentang, tanda ronde satu dimulai. Tony menjulurkan tangan untuk menjabat tangan Axel, tapi Axel tidak meladeninya, justru memukul wajah Tony dengan keras.

Rommy melakukan protes kepada wasit karena kelakuan Axel yang tidak sportif itu, tapi wasit mengibas-ngibaskan tangan tanda tidak apa-apa.

Rommy sadar, ada yang tidak beres pada pertandingan ini sehingga pertandingan ini tidak akan berjalan adil. Pendukung Tony juga menyadari itu dan berteriak, “Huuu!” Namun Rommy seolah memberi tanda tidak apa-apa dan jangan memancing emosi pendukung lawan.

“Perutnya terbuka, Axel. Pukul sekeras mungkin!” Coach Bruno berteriak memberi instruksi kepada Axel.

Axel mengikuti instruksi coach Bruno dan pukulan kanannya masuk dengan keras ke perut Tony. Namun Tony seperti tidak merasakannya. Mungkin berkat latihan fisik keras dan latihan mengencangkan otot perut berbulan-bulan di Bangkok.

Kelihatannya Axel memenangi ronde pertama itu, sesuai instruksi coach Bruno untuk memulai serangan terlebih dulu untuk memberi shock therapy. Dan bel berdentang, tanda ronde pertama berakhir.

Di sudut Tony tampak Rommy membersihkan muka Tony dengan handuk, lalu memberi seteguk air putih.

“Biarkan dia memukul, kuras tenaganya. Ingat kataku, jangan terpancing emosi,” kata Rommy.

Di seberang, coach Bruno juga memberi instruksi kepada Axel, “Ronde pertama yang bagus. Kalau seperti itu terus, ronde kedua kau bisa memukul KO dia,” ujar coach Bruno sambil melap keringat di muka Axel.

Bel berdentang tanda ronde kedua dimulai. Situasi masih sama, Axel terus menghajar perut Tony sekuat tenaga dan beberapa kali mengenai sasaran. Sedang Tony tampak tenang dan tidak mengumbar tenaga.

Tony merasakan di akhir-akhir ronde kedua pukulan Axel mulai melemah, tanda tenaganya mulai terkuras.

“Tunggu saatnya,” ujar Tony dalam hati.

Bel tanda berakhirnya ronde kedua berdentang dan kedua petinju itu segera beristirahat.

“Kamu kelihatan sudah lelah dan kehabisan tenaga, Xel?” tanya coach Bruno.

Axel mengangguk.

“Kau sudah unggul poin, bertahan. Jangan sampai kena pukul telak di ronde terakhir nanti,” kata coach Bruno lalu memberikan seteguk air kepada Axel.

Axel mengangguk lagi.

Dan bel berdentang tanda dimulainya ronde tiga atau ronde terakhir. Wasit memerintahkan Tony dan Axel berjabat tangan, namun lagi-lagi Axel berbuat tidak sportif. Alih-alih melakukan jabat tangan, dia justru memukul Tony tepat di dagunya. Tony terjatuh dan wasit melakukan hitungan. “Satu, Dua…”

Rommy melakukan protes, namun tidak diindahkan wasit. Axel tertawa penuh kemenangan, karena kelihatannya kemenangan sudah di depan mata.

Tony segera bangkit dan wasit meneruskan hitungan sampai delapan dan menginstruksikan pertandingan berlanjut.

Axel langsung menyerbu Tony, mengira dia sudah ‘habis’. Ternyata Axel salah perhitungan. Dengan mudah Tony menghindar dari serangan ngawur Axel kemudian menghajarnya dengan beberapa pukulan baik ke badan dan kepala Axel. Axel tampak sudah limbung, dan Tony mengangkat tangan kanannya dan hendak mengayunkan pukulan pamungkasnya ke wajah Axel yang sudah terbuka dengan sekuat tenaga. Kalau pukulan itu kena bisa fatal akibatnya bagi Axel.

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!