NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 31

Di salah satu sudut koridor kelas tiga, Karin masih terduduk lemas di bangku dekat jendela, menatap kosong ke arah lapangan sekolah.

Temannya, seorang gadis berambut pendek, bersandar di kusen jendela sambil melipat tangan.

"Jadi... mereka benar-benar pacaran?" tanya teman Karin penasaran.

Karin menghela napas panjang, suaranya terdengar lemas. "Aku tidak tahu pasti. Tapi melihat reaksi Indah tadi... dia terlihat sangat tidak rela melepaskan Raka. Dia menatapku seolah aku ini pencuri yang mau merampas hartanya yang paling berharga," jawab Karin sambil memijit keningnya.

Temannya mendengus kecil. "Itu salahmu sendiri, Karin.

Jika saja tahun lalu kau mau menerima ajakanku untuk mendaftar jadi anggota OSIS, mungkin sekarang kau yang berada di posisi Indah.

Kau punya banyak kesempatan untuk mendekati Raka di sana, tapi kau malah melepaskannya begitu saja."

"Mana aku tahu kalau Raka yang sedingin kutub utara itu bakal tertarik masuk OSIS tahun ini!" balas Karin dengan nada kesal. "Dulu dia kan hanya anggota biasa yang tidak banyak bicara."

---

Sore harinya, saat bel pulang sekolah sudah berbunyi, Indah berjalan menuju halte bus dengan langkah yang gontai.

Wajahnya sesekali memerah hebat setiap kali ia teringat teriakannya di kantin tadi siang.

"Kenapa aku bicara seperti itu tadi? Menyerahkan Raka kepada siapapun? Apa yang kupikirkan?!"batin Indah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia bersikeras dalam hati bahwa ia tidak memiliki perasaan spesial pada Raka, namun tindakan impulsifnya tadi benar-benar di luar kendali.

Saat sampai di halte, ia melihat sosok yang familiar sedang berdiri menunggu. Itu adalah Rudy. Mereka berdua saling menatap dan terkejut.

"Indah? Tidak menyangka bertemu di sini," sapa Rudy dengan senyum ramahnya yang tenang.

"Ah, Rudy. Iya, aku baru mau pulang," jawab Indah sedikit canggung.

"Bagaimana kabarmu? Dan... bagaimana hubunganmu dengan Yudas?" tanya Rudy dengan nada hati-hati.

Indah membeku. Ia baru tersadar bahwa Rudy masih percaya pada sandiwara "pacar bohongan" yang dibuat Sasha tempo hari. Merasa tidak enak terus berbohong, Indah memutuskan untuk mengakhirinya dengan sebuah alasan klasik.

"Ehm... sebenarnya, kami sudah putus," ucap Indah pelan.

Rudy terbelalak kaget. "Putus? Secepat itu?"

Indah mengangguk mantap sambil memasang senyum tipis. "Iya. Kami sepakat untuk fokus belajar saja dan lebih memilih menjadi teman biasa. Lagipula, tahun ini tahun terakhir kita, kan? Banyak yang harus dipersiapkan."

Rudy mengangguk paham, namun ia menggumamkan sesuatu yang hampir tidak terdengar. "Jika itu maumu... tapi kenapa harus pakai drama pacar bohong segala..."

"Hah? Ada apa, Rudy?" tanya Indah yang hanya mendengar samar.

"Ah, tidak apa-apa!" sahut Rudy cepat. Tepat saat itu, ponsel Indah berdering nyaring. Nama **Aria** terpampang di layar. Begitu diangkat, suara lengkingan Aria langsung terdengar bahkan tanpa perlu menyalakan *loudspeaker*.

"INDAH! Kenapa kau pulang duluan?! Poster memang sudah terpasang, tapi pendataan logistik festival masih menumpuk di meja! Cepat kembali ke sini sekarang atau kau tidak akan dapat jatah camilan besok!"

Indah menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. "Baik, Bos... aku kembali sekarang." Ia mematikan ponselnya dan menatap Rudy dengan tatapan meminta maaf. "Maaf Rudy, aku harus kembali ke sekolah. Ada 'Singa Betina' yang sedang mengamuk di ruang OSIS."

Rudy tertawa kecil. "Silakan, Indah. Sampai jumpa."

Tak lama setelah Indah pergi, sebuah mobil **Aston Martin** berwarna perak yang sangat mengkilap berhenti tepat di depan halte. Pintunya terbuka secara otomatis, dan Rudy masuk ke dalam.

Di kursi belakang, ayahnya yang mengenakan setelan jas formal menyambutnya.

"Siapa perempuan tadi, Rudy? Pacarmu?" tanya ayahnya saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota.

Rudy menatap keluar jendela, melihat sosok Indah yang berlari kecil kembali ke arah gerbang sekolah. "Hanya teman, Ayah."

Ayahnya tersenyum penuh arti. "Begitukah? Tapi dia terlihat cukup cantik dan memiliki aura yang tulus."

Rudy terdiam, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang empuk. Dalam hatinya, ia bergumam dengan bijak,

"Terkadang, mencintai tidak harus memiliki. Melihatnya menemukan tempat di mana dia bisa tertawa dan menjadi dirinya sendiri bersama orang-orang yang peduli padanya, itu sudah lebih dari cukup. Meskipun tempat itu... bukan di sampingku."

----

Suasana ruang OSIS sudah tidak lagi menyerupai kantor, melainkan lebih mirip gudang logistik yang terkena hantaman badai kategori lima.

Kertas-kertas formulir pendaftaran lomba berserakan di lantai, tumpukan proposal setinggi gunung merapi menutupi meja Aria, dan aroma lem kertas bercampur bau kopi instan memenuhi udara.

Indah masuk dengan napas tersengal-sengal setelah berlari dari halte.

Ia mendapati pemandangan yang luar biasa kacau: **Kael** sedang terlilit pita dekorasi berwarna-warni, **Yudas** sedang membanting tulang mengangkat kardus berisi perlengkapan olahraga, dan **Sasha** sedang menatap tumpukan berkas dengan ekspresi ingin membakar seluruh gedung sekolah.

"Aku kembali!" seru Indah sambil meletakkan tasnya di atas tumpukan kardus.

Aria yang rambutnya sudah mencuat ke mana-mana karena stres, menoleh dengan mata sedikit merah. "Bagus, Indah! Ambil penggaris dan spidol permanen. Kau bantu Lily mengurus pemetaan *booth* makanan!"

---

Aria & Lily: Departemen Logistik dan Keluhan Masal**

Aria bertindak sebagai otak dari segala kekacauan ini.

Di sampingnya, Lily sedang berusaha menelepon para vendor tenda.

"Halo? Iya, saya minta tenda warna biru, bukan warna pink neon! Ini festival olahraga, bukan pesta ulang tahun balita!" teriak Lily ke telepon dengan wajah yang tetap berusaha tenang namun urat lehernya menonjol.

Lily kemudian menoleh ke Indah. "Indah, tolong cek daftar ini. Klub Memasak minta tiga tabung gas tambahan, tapi Klub Kimia juga minta gas untuk eksperimen mereka. Kalau kita salah kasih, kantin bisa meledak!"

Sasha ditugaskan mengurus perizinan dan keamanan.

Di depannya ada seorang perwakilan dari klub luar yang mencoba memprotes aturan jam operasional.

"Tapi Kak Sasha, kami butuh waktu lebih untuk *sound check*..."

Sasha menggebrak meja hingga pulpen di atasnya meloncat.

"Dengar ya, Adik kelas yang manis. Aturannya adalah jam empat sore semua suara bising berhenti. Kalau aku mendengar satu dentuman *bass* lewat dari jam itu, aku akan memastikan instrumenmu berakhir di dasar kolam sekolah. Paham?!"

Murid itu lari terbirit-birit tanpa menoleh lagi. Sasha menghela napas, "Kenapa sesibuk ini sih?! Padahal festivalnya masih beberapa minggu lagi! Kenapa kita harus menderita sekarang?!"

Raka tetap duduk tenang di kursinya, jemarinya menari di atas laptop dengan kecepatan cahaya.

Ia menoleh ke arah Sasha tanpa emosi.

"Sasha, ini sekolah elite. Kita mengundang sponsor besar, media lokal, bahkan beberapa perwakilan universitas luar negeri. Jika kita tidak mempersiapkan logistik, alur massa, dan mitigasi risiko sejak sekarang, probabilitas festival ini berakhir menjadi kerusuhan massal adalah 87%."

Sasha melemparkan gumpalan kertas ke arah Raka. "Simpan persentase bodohmu itu! Aku hanya ingin tidur!"

Yudas sedang memindahkan lemari besi di pojok ruangan.

Otot lengannya menegang. "Kael! Berhenti bermain dengan pita itu dan bantu aku mengangkat ini!"

Kael, yang masih terlilit pita merah putih, malah berpose seperti mumi. "Sabar, Yudas! Aku sedang mencoba menciptakan seni dekorasi tubuh! Aduh... eh, aku tersangkut! Yudas, tolong! Pipiku tertempel selotip!"

Yudas mengerang frustrasi "Kenapa aku harus satu tim dengan si idiot ini?!" Yudas mencoba menarik selotip dari pipi Kael, namun malah membuat Kael berteriak histeris karena bulu halus di wajahnya ikut tercabut.

---

Indah yang sedang membantu Lily menggambar denah di atas kertas manila besar, merasa pusing melihat keributan itu. "Kak Aria, apa semua festival olahraga selalu sesibuk ini?"

"Hanya di sekolah ini, Indah," jawab Aria sambil menandatangani sepuluh dokumen sekaligus.

"Karena reputasi OSIS taruhannya. Kalau ada satu stan yang roboh atau ada atlet yang kekurangan air minum, Raka akan menceramahiku selama tiga hari tiga malam tentang kegagalan manajemen."

Raka menyahut dari balik laptopnya, "Empat hari, Aria. Aku sudah menambah poin evaluasinya."

Sasha berdiri dan berjalan menuju kulkas kecil di pojok.

"Aku butuh kafein. Siapa yang menghabiskan stok kopi kalengku?!"

Kael mengangkat tangan dengan polos, sementara wajahnya masih penuh bekas selotip.

"Tadi aku haus setelah lelah berlilit pita, jadi aku minum tiga kaleng..."

Sasha mengambil bantal kursi dan mengejar Kael mengelilingi ruangan. "SINI KAU KAEL! TIGA KALENG?! ITU JATAH DARURATKU!"

"Sudah! Sudah!" teriak Aria sambil memukul meja dengan penggaris besi. *PANG!*

Semua orang mematung.

"Sasha, kembali ke meja perizinan! Kael, bantu Yudas menyusun papan skor di gudang bawah! Indah dan Lily, selesaikan denah itu sebelum matahari terbenam! Raka... kau... teruslah jadi kalkulator manusia di sana!"

Raka menyesuaikan kacamatanya. "Instruksi diterima, Ketua. Namun, sekadar informasi, anggaran untuk camilan kita sudah menipis karena Kael membelikan sosis bakar untuk semua anggota klub sepak bola tadi siang."

"KAEEEEEEEEEEL!" teriak mereka semua serempak, sementara Kael hanya bisa nyengir tak berdosa sambil mencoba melarikan diri ke arah pintu.

Pekerjaan terus berlanjut di bawah lampu neon yang terang.

Meskipun mereka semua mengeluh, berteriak, dan hampir saling melempar barang, ada rasa kebersamaan yang kuat di ruangan itu.

Di tengah tumpukan kertas dan teriakan stres, mereka tahu bahwa festival ini akan menjadi panggung di mana kerja keras mereka akan bersinar—meskipun saat ini, mereka lebih terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang dipaksa bekerja lembur.

Cerita berakhir di situ.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!