Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzo Yang merasa bersalah
Rumah sakit pusat Queenstown mendadak menjadi sangat mencekam. Penjagaan ketat dipasang di depan ruang ICU, tempat Alexa kini terbaring lemah dengan bantuan berbagai peralatan medis. Bau antiseptik yang tajam seolah memperparah rasa sesak di dada Kenzo.
James Bernardo tampak hancur. Pria yang biasanya terlihat tangguh dan berwibawa itu kini duduk tertunduk dengan rambut yang berantakan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia tidak pernah bercerita apa-apa, Kenneth," ucap James dengan suara parau saat keluarga Graciano tiba. "Aku pikir dia hanya kelelahan belajar untuk persiapan ujian masuk universitas. Aku tidak tahu tekanan dalam kepalanya bisa seberat ini sampai dia merasa harus mengakhiri semuanya."
Kenneth memeluk bahu sahabatnya itu, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun merasa goyah untuk memilikinya. "Kita akan lakukan yang terbaik untuknya, James. Dia gadis yang kuat."
Di sudut ruangan, Kenzo berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya merah karena kurang tidur dan tekanan batin yang luar biasa. Ia melihat ke arah kaca transparan yang memperlihatkan sosok Alexa di dalam sana. Pergelangan tangan yang tertutup perban tebal itu seolah terus meneriakkan namanya.
Seandainya aku membalas pesannya...
Seandainya aku tidak menganggapnya drama...
Pikiran itu terus berputar di kepala Kenzo seperti kaset rusak. Ia merasa seperti seorang pembunuh. Meskipun ia tahu Alexa memanipulasinya, fakta bahwa gadis itu benar-benar hampir kehilangan nyawa karena pengabaiannya membuat Kenzo tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Zella menangis sesenggukan di samping Hazel. "Ini salahku, Mommy. Harusnya aku tidak membiarkannya pulang sendirian semalam. Harusnya aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja."
Mendengar tangisan Zella, Kenzo merasa ingin menghilang dari sana. Ia tahu satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia di balik tindakan nekat Alexa adalah dirinya sendiri, namun ia tidak sanggup mengatakannya pada James. Ia takut kejujurannya justru akan menghancurkan persahabatan ayahnya atau membuat kondisi Alexa semakin memburuk jika gadis itu terbangun nanti.
Di tengah kekacauan itu, ponsel Kenzo terus bergetar. Ada puluhan pesan dari Diandra.
“Kenzo, aku melihat beritanya. Tolong kabari aku. Apa kau baik-baik saja?”
“Ken, aku akan ke rumah sakit sekarang.”
Kenzo hanya menatap layar ponselnya tanpa minat. Saat ini, nama Diandra seolah menjadi pengingat akan ciuman di kafe yang memicu semua tragedi ini. Ada rasa enggan yang aneh muncul di hati Kenzo untuk bertemu Diandra sekarang. Seolah-olah, mencintai Diandra adalah sebuah kesalahan yang membuat Alexa sekarat.
Saat Kenneth dan James sedang berbicara dengan dokter di lorong, Kenzo memberanikan diri mendekat ke kaca ruang ICU. Ia menatap wajah Alexa yang sangat pucat. Tidak ada lagi sorot mata dingin atau senyum manipulatif, hanya ada kerapuhan yang nyata.
"Bangunlah, Alexa..." bisik Kenzo sangat pelan, hingga hanya dia yang bisa mendengarnya.
"Jika kau bangun... aku berjanji tidak akan mengabaikan mu lagi. Aku akan melakukan apa saja, asal kau kembali."
Tanpa Kenzo sadari, ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam rencana besar yang diinginkan Alexa sejak awal. Alexa mungkin sedang koma, namun di ambang kesadarannya, ia telah berhasil menaruh beban tanggung jawab seumur hidup di pundak Kenzo Graciano.
Keputusan Kenzo sudah bulat. Rasa bersalah yang menghimpit dadanya membuat logikanya mati total. Baginya, setiap detik Alexa berjuang nyawa di ruang ICU adalah detik di mana ia merasa menjadi seorang kriminal.
Sore itu, di lorong rumah sakit yang sepi dan dingin, Kenzo menemui Diandra yang baru saja datang dengan wajah penuh kecemasan. Namun, sebelum Diandra sempat memeluknya, Kenzo mundur selangkah.
"Kita berakhir, Diandra. Hubungan kita... sebaiknya berhenti di sini," ucap Kenzo dengan suara datar, nyaris tanpa emosi.
Diandra terpaku. Dunia seolah berhenti berputar. "Apa? Kenzo, apa yang kau katakan? Di tengah situasi seperti ini, kau memutuskan hubungan kita?"
"Lihat ke dalam sana!" Kenzo menunjuk kaca ruang ICU dengan tangan gemetar. "Dia sekarat karena aku mengabaikannya. Dia mencoba mengakhiri hidupnya karena aku memilihmu di depan matanya. Aku tidak bisa melanjutkan ini, Diandra. Aku tidak bisa hidup dengan bayang-bayang nyawa yang hampir melayang karena keegoisanku."
Diandra menatap Kenzo dengan tidak percaya. Rasa sedihnya perlahan berubah menjadi kemarahan yang meluap.
"Kau memutuskan aku karena drama anak remaja ini, Kenzo? Kau tahu dia memanipulasimu! Dia sengaja melakukan ini untuk membuatmu merasa bersalah!"
"Cukup, Diandra!" bentak Kenzo. Suaranya menggelegar di lorong sunyi itu, membuat beberapa perawat menoleh. "Kau menyebut ini drama? Darah yang keluar dari pergelangan tangannya itu nyata! Koma yang dia alami sekarang itu nyata! Bagaimana bisa kau begitu dingin menyebut nyawa seseorang sebagai drama?"
"Karena aku menggunakan otakku, Kenzo! Bukan hanya perasaanku!" teriak Diandra balik, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dia terobsesi padamu, dan kau baru saja memberinya kemenangan telak! Jika kau putus denganku sekarang, dia akan tahu bahwa dengan melukai dirinya sendiri, dia bisa mendapatkanmu. Kau sedang menghancurkan masa depan kita demi sebuah Drama manipulasi!"
"Masa depan kita tidak ada artinya jika ada nyawa yang hilang, Diandra!" Kenzo menatap Diandra dengan sorot mata yang asing, penuh dengan kebencian pada dirinya sendiri yang ia tumpahkan pada Diandra. "Pergilah. Jangan datang lagi ke sini. Aku tidak ingin melihatmu untuk saat ini."
Diandra mundur perlahan, hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Pria yang ia cintai sejak masa kuliah, pria yang ia pikir sangat mengenalnya, kini justru membelanya demi seorang gadis yang baru saja melakukan aksi nekat.
"Kau akan menyesal, Kenzo," bisik Diandra dengan suara parau. "Kau akan sadar bahwa kau bukan menyelamatkannya, tapi kau sedang menyerahkan lehermu untuk dipasung olehnya seumur hidup. Selamat atas kemenanganmu, Alexa... kau berhasil menghancurkan kami."
Diandra berbalik dan berlari meninggalkan rumah sakit dengan tangis yang pecah. Sementara itu, Kenzo kembali duduk di depan ruang ICU, menelungkupkan wajah di kedua tangannya. Ia merasa telah melakukan hal yang benar untuk menebus dosanya, tanpa menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam babak baru dari permainan yang disusun Alexa dengan sangat rapi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
terimakasih
ceritanya bagus