Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Seruni
Singkat cerita,
Bastian sudah berada di atas kapal yang membawanya entah ke mana.
Dari hotel, ia berlari ke area parkiran di mana mobilnya berada. Saat menunggu di lobi hotel, Bastian hanya mengantongi dompet dan kunci mobilnya.
Kesialannya adalah ia terlupa dengan ponselnya yang masih tertinggal di laci sebelah ranjang kamar hotel.
Tak tau arah dan tujuan di tengah pikiran kalutnya, mobil Bastian berhenti di area parkir pelabuhan. Bastian akhirnya terpaksa berpura-pura membantu seorang ibu-ibu tua yang hendak masuk ke kapal.
Ya, Bastian menyamar menjadi kuli panggul barang ke atas kapal.
Seketika hidup seorang Bastian Fernando Malik pun jungkir balik. Dari seorang konglo menjadi kuli.
Setelah tiba di atas kapal, Bastian dengan cepat bersembunyi.
Ya, ia terpaksa menjadi penumpang gelap. Kapal pun akhirnya berlayar meninggalkan area Pelabuhan Tanjung Perak-Surabaya menuju salah satu pelabuhan di pulau besar lainnya yang berjarak cukup jauh dari Pulau Jawa.
Menempuh perjalanan di lautan selama 1-2 hari atau kurang lebih 36 jam, akhirnya Bastian tiba di Balikpapan. Setibanya di sana, Bastian turun menyelinap dan berjalan ke arah kapal lain yang tanpa sengaja punya tujuan semakin jauh.
Bastian tak peduli ke mana kapal tersebut membawa dirinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya ingin pergi jauh dan tak mau dipenjara atas kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.
Selama ini dirinya sebagai pengacara yang membela klien dari segala kasus, baik pidana maupun perdata. Sekarang nasib Bastian begitu ironi. Dirinya terjerat kasus pembunuhan Rossa, wanita yang bekerja malam sebagai P S K.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan baik di laut dan darat, Bastian tiba di sebuah tempat yang begitu sepi dan asing baginya. Baru saja ia turun dari sebuah angkutan yang biasa di sebut omprengan.
"Astaga, desa atau kota apa ini?" batin Bastian seraya menatap di sekelilingnya yang banyak hutan dan lahan ditumbuhi pohon lebat.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat beberapa orang berkumpul untuk berjualan sayur dan bahan-bahan kebutuhan dapur lainnya. Semacam pasar tradisional tanpa nama dan sepertinya musiman.
Tak berselang lama, telinga Bastian mendengar sayup-sayup pembicaraan dua perempuan yang tak dikenalnya tengah bergosip.
"Eh, Acil tau ndak kabar Seruni yang hendak kawin besok?"
"Iya tau. Kan awak juga diundang sama Apaknya Seruni. Memangnya kenapa?"
"Pernikahan Seruni besok kabarnya batal,"
"Hah, kok bisa?"
"Bisa, Cil. Laki nya alias calon suami Seruni kabarnya meninggal,"
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,"
"Meninggal kenapa?"
"Barusan aku denger, busnya kecelakaan. Semua orang di dalam bus, mati nak kebakar. Jadi besok pagi Seruni otomatis gagal kawin lagi,"
"Ya ampun, kasihan Seruni."
"Seruni udah dua kali gagal kawin. Acil tak lupa kan samo aturan di desa kita,"
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi wanita tersebut.
Jika pun akhirnya ada pemuda yang mau menikahi gadis itu, maka setelah menikah mereka wajib tinggal di rumah pengasingan selama setahun. Demi membuang sial yang dikhawatirkan berdampak pada masyarakat desa setempat.
☘️☘️
Bastian yang mendengar hal itu, mendadak ada rasa iba menyeruak tanpa permisi di hatinya terhadap wanita yang tak dikenalnya itu.
"Seruni," batin Bastian menyebut nama wanita asing yang dibicarakan oleh dua wanita tadi.
Namun, akal Bastian kembali pada otaknya. Ia sedang memikirkan cara agar lepas dari kejaran pihak berwajib untuk sementara ini. Bastian menyimpulkan bahwa sepertinya ia harus tinggal di desa ini sampai situasi benar-benar aman terkendali.
Akan tetapi, ia tak kenal orang-orang di sini. Desa terpencil yang sejak tadi dirinya tak melihat bank atau mesin ATM. Toko modern, mall bahkan ia tak melihat orang-orang yang berlalu-lalang pakai ponsel.
Sepertinya ia sedang berada di dunia antah berantah yang hidupnya serba kuno alias jadul. Benar-benar desa pelosok.
Bastian punya otak yang cukup cerdas. Alhasil ia sudah menentukan langkah apa yang harus segera diambilnya saat ini.
Bastian pun berjalan ke sudut jalan dan sempat bertanya pada seorang pria tak jauh dari sana agar dirinya dibantu ke rumah Seruni.
"Oh, Seruni anak Pak Kades?" tanya pria yang diperkirakan sudah berusia lima puluh tahun nan pada Bastian.
"Iya, Pak."
"Abang ini siapa? Apa keluarga jauh Pak Kades?"
"Oh, bukan Pak. Saya kenalan Pak Kades dari Balikpapan," jawab Bastian terpaksa berbohong.
"Ya ampun jauh sekali. Naik apa ke sini?"
"Naik kapal dan kendaraan juga di darat," jawab Bastian yang bingung dengan berbagai kendaraan di darat yang sudah dilakoninya hingga sampai di titik wilayah tersebut.
"Oh, omprengan mungkin yang anak maksud."
"I_ya, Pak. Maaf sa_ya tak begitu mengerti di sini," jawab Bastian terbata.
Bapak tersebut memberikan senyum penuh pemakluman pada Bastian.
"Mari saya antar ke tempat Pak Kades,"
"Makasih banyak, Pak."
"Sama-sama,"
Akhirnya Bastian dibonceng oleh bapak tersebut naik motornya. Hampir dua jam perjalanan, mereka pun tiba di depan rumah ayah kandung Seruni yang menjabat sebagai kepala desa.
Bastian melihat suasana persiapan pesta pernikahan cukup meriah sudah tergambar jelas di kediaman menurutnya paling besar di desa tersebut.
Akan tetapi, sayup-sayup telinga Bastian masih mendengar gosip yang sama tentang batalnya pernikahan Seruni dengan pemuda dari kota yang tewas kecelakaan. Terdengar juga suara menangis entah dari beberapa kerabat atau tetangga dekat.
Dikarenakan suasana di kediaman Seruni tengah ramai, Bastian meminta bertemu pak kades di halaman belakang. Si bapak tadi menyampaikan pesan pada Pak Tono, ayah kandung Seruni.
Entah dorongan dari mana di hatinya, setelah mendapat pesan tertutup dari salah satu pekerja di rumahnya, Pak Tono memutuskan untuk menemui pria asing yakni Bastian.
"Siapa kamu? Ada perlu apa bertemu saya di sini?" cecar Pak Tono ketika kedua mata senja nya tengah menatap punggung seorang pria dewasa yang berdiri di bawah pohon rambutan di halaman belakang rumahnya.
Bastian langsung membalikkan tubuhnya untuk menatap Pak Tono.
"Apa dia ayah kandung Seruni?" batin Bastian tengah menebak-nebak.
Di mana Bastian memang belum pernah tau wajah atau foto Pak Tono. Bahkan mereka berdua juga belum pernah bertemu. Jadi, ini adalah momen perdana mereka bertatap muka.
Bastian pun melangkah dan memberikan telapak tangannya dengan hormat pada Pak Tono.
"Perkenalkan saya-Bastian. Saya ingin mempersunting putri kandung bapak yakni Seruni," ucap Bastian dengan penuh keyakinan dan tanpa basa-basi di depan Pak Tono.
Deg...
Bersambung...
🍁🍁🍁
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,