Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya hanyut
Maya belum sempat menghindar saat mobil melaju kencang kearahnya, dan seketika menabraknya tanpa ampun.
Tubuh Maya terpental jatuh kedalam sungai yang cukup dalam. Meski begitu, ia masih bisa sadar meski rasa sakit menyerangnya dari setiap inci tubuhnya. Ditambah rasa dingin dari air sungai, membuat Maya setengah mati berusaha bertahan.
Bahkan dengan sisa kesadarannya yang masih bertahan, Maya berusaha menggapai apapun yang dia lewati agar tidak tenggelam.
"Tuhan. Apa ini akhir dari hidupku??" Batin Maya.
Tangannya terus berusaha menggapai apapun. Namun, karena keadaanya yang terluka parah membuat Maya akhirnya tak sadarkan diri dan mulai terbawa arus sungai yang cukup kencang.
"Tuhan! Izinkan aku hidup sekali lagi," batin Maya, sebelum benar-benar tak sadarkan diri dan hanyut begitu saja.
Setelah terombang ambing lebih dari 3 Jam, tubuh Maya tersangkut pada sebuah batu besar di pinggir sungai, menunggu waktu. Entah ia akan ditemukan sebagai mayat, atau justru membusuk hingga tubuhnya tak lagi tersisa.
--
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Hingga akhirnya waktu memasuki pagi dan suasana masih sedikit gelap. Sebuah mobil meluncur dengan kecepatan sedang, membawa seorang wanita paruh baya yang tengah menyandar dengan sedikit kelelahan dibelakang.
"Nyonya, apa kita akan beristirahat sebentar ke penginapan? Sepertinya, anda cukup kelelahan setelah berdebat semalam."
"Tidak perlu, Thom. Aku hanya butuh pulang sekarang."
Tanpa membantah, pria yang dipanggil Thom tersebut terus melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.
"Ah iya, Thom. Saat sampai diperbatasan kota Nevile, aku ingin berhenti sebentar di sungai Neva."
"Sungai Neva?"
"Iya. Aku ingin sedikit mengenang suami dan putraku disana."
Thomas mengangguk pelan. Lalu, dengan sedikit ragu ia bertanya. "Tapi nyonya, bukankah anda kelelahan. Apa tidak sebaiknya kita pulang, baru nanti ke makam Tuan Van dan nyonya Emely?"
"Tidak, Thom. Aku ingin sekarang."
Thomas akhirnya mengalah. Ia memilih menuruti permintaan sang nyonya, untuk berhenti disekitar sungai Neva agar bisa mengenang suami dan anaknya yang sering berhenti disana ketika mereka bepergian dulu.
*
Setelah tiba ditempat yang dimaksud, wanita paruh baya tersebut turun dan berjalan pelan ke tepian jembatan. Ia menghirup napas dalam-dalam, seakan merasakan kehadiran suami dan anaknya disana meski ia tahu kalau itu hal mustahil.
"Van... Aku sangat merindukanmu dan juga Emily, aku ingin sekali bertemu kalian meski rasanya..."
Kalimatnya terhenti saat matanya tertuju kearah sebuah batu.
"A-apa itu?" gumamnya, dengan pandangan tertuju ke arah batu ketika melihat sebuah benda seperti kaki.
"A- aku tidak salah lihat kan? Itu seperti kaki?" monolog wanita tersebut.
Hingga beberapa kali ia mencoba memastikan, sampai akhirnya ia berteriak histeris, membuat Thomas keluar dari dalam mobilnya.
"Astagaa!! Thomas!! Cepat keluar Thom!"
"Ada apa nyonya? Kenapa anda berteriak?"
"i-itu Thom, itu... Dibalik batu itu, itu kaki manusia kan?"
Pandangan Thomas tertuju ke arah tempat yang ditunjukkan sang nyonya, lalu ia juga ikut terkejut karenanya.
"Iya nyonya. Itu kaki, astaga... Jangan-jangan itu mayat. Kita harus lapor polisi."
"Kelamaan, Thom. Kita periksa dulu. lagipula, perbatasan kota Nevile akan sulit menghubungi polisi, karena ini sangat jauh ke daerah manapun. Bahkan untuk ke police station sekalipun, jaraknya perlu waktu dua jam."
Thomas sedikit ragu dengan keputusan majikannya, yang bahkan tidak mau memanggil polisi. Meski ia sendiri tahu, semua kalimat yang terlontar memanglah sebuah kebenaran.
"Cepat periksa, Thom. Siapa tahu itu bukan mayat, mungkin saja kita bisa menolongnya."
Dengan ragu, Thomas mendekati batu besar itu. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya di sana. Setelah mendekat, ia melihat dengan jelas bahwa itu memang benar kaki manusia. Kaki manusia, dengan kulit pucat dan penuh luka.
"Ya Tuhan, Nyonya! Ini benar mayat!" seru Thomas dengan wajah pucat.
"Kau yakin itu Mayat, Thom? Coba periksa semuanya."
Thomas mengikuti perintah majikannya, lalu ia sedikit berputar. Dan ketika ia melihat tubuhnya secara keseluruhan, Thomas segera memalingkan wajah karena tubuh tersebut dalam keadaan tanpa sehelai benang.
"Ini mayat wanita, nyonya!" seru Thom, dengan segera melepaskan kemeja yang ia gunakan lalu menutupi tubuh mayat tersebut agar ia tidak melihat hal yang tidak seharusnya.
"Kau yakin itu Mayat?"
"Benar nyonya. Dia juga tanpa busana."
"Periksa keadaannya thom. Cek baik-baik."
Setelah menutupkan pakaiannya dan mendapatkan perintah, Thom mulai memeriksa keadaanya. Thom memperhatikan wajah gadis didepannya, yang tampak rusak dengan lika hampir diseluruh titik akibat tergores sesuatu.
Mungkin tergores kayu atau batu yang terdapat di sepanjang sungai yang dia lewati, pikirnya.
Thom memegang pergelangan tangan dan mencoba merasakan ada atau tidaknya tanda kehidupan disana.
"Dia masih hidup nyonya, tapi jantung dan denyut nadinya melemah. Dia kritis!"
"Cepat bawa dia ke atas Thom. Kita harus membawanya kerumah sakit!"
"Baik nyonya!" setelahnya, Thomas membawa tubuh Maya dengan berlari menuju kedalam mobil dan meletakkannya di kursi belakang dengan berbantalkan paha sang nyonya.
Tanpa menunggu waktu lama, Thomas masuk kedalam mobil dan langsung mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Ya tuhan. Mukjizat apa yang kau dapatkan nak, kau masih di berikan nyawa saat tubumu penuh luka dan nyaris membengkak karena terlalu lama di arus sungai! Tuhan, tolong selamatkan gadis ini. Semoga dia masih bisa selamat!" monolog wanita tersebut.
"Apa mungkin dia korban pelecehan yang mencoba mengakhiri hidupnya nyonya? Atau dia memang sengaja di buang pelaku yang sudah melecehkannya? Sebab aku melihat begitu banyak kissmark di tubuhnya dan juga memar kebiruan pada beberapa bagian wajahnya yang sekarang di penuhi goresan?"
"Sepertinya dua kemungkinan itu memang terjadi padanya, Thom. Sebaiknya sekarang kau tambah kecepatan, agar kita bisa segera menolongnya!" ujar si wanita dan hanya di jawab anggukan oleh Thomas.
"Baik nyonya. Kita akan mencari rumah sakit terdekat di kota Nevile. Semoga bisa segera tertolong."