NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden sutra terasa seperti puluhan jarum yang menusuk tajam langsung ke retina mata Putra.

Pria itu mengerang tertahan, memejamkan matanya kembali dengan kuat sambil meringis. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa hebat di kepalanya, seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam tengkoraknya dari dalam. Hal kedua yang ia sadari adalah rasa kebas, dingin, dan nyeri di sekujur punggung serta lehernya. Ditambah lagi, bau menyengat dari campuran alkohol basi, asap rokok, keringat, dan parfum wanita yang terlalu manis menempel kuat di pakaiannya, membuat perutnya bergejolak mual.

Dengan susah payah, Putra memaksakan diri untuk membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk. Alih-alih melihat langit-langit kamar dari atas kasur king size-nya yang empuk, ia justru mendapati dirinya duduk mengenaskan di atas lantai, menatap kolong ranjang.

Memorinya terasa buram dan terpotong-potong. Ia ingat pergi ke sebuah club eksklusif setelah menyelesaikan pekerjaannya, menenggak gelas demi gelas minuman keras untuk menenggelamkan bayangan masa lalunya yang mendadak muncul menghantui, namun ia sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di rumah dan berakhir tertidur di atas karpet bagai orang buangan.

Terdengar suara denting pelan dari arah meja nakas.

Putra menoleh dengan susah payah, otot lehernya serasa ditarik paksa. Citra sudah bangun dan terlihat sangat rapi dengan balutan gaun rumahan berbahan linen berlengan panjang. Gadis itu sedang meletakkan segelas air putih hangat dan dua butir obat pereda nyeri di atas meja kaca.

Melihat istrinya, rahang Putra otomatis mengeras. Dalam kepalanya yang berdenyut, ia sudah menyusun rentetan kalimat kasar sebagai mekanisme pertahanan diri. Ia menunggu wanita itu menangis histeris melihat noda lipstik merah terang di kerah kemejanya, atau setidaknya melontarkan pertanyaan menuntut layaknya seorang istri yang merasa tersakiti dan dikhianati. Jika Citra berani membuka mulut untuk merengek atau mengeluh, Putra bersumpah akan meneriakinya habis-habisan dan menyuruh wanita itu sadar diri.

Namun, sebelum Putra sempat membuka mulutnya yang terasa sepahit empedu, Citra sudah lebih dulu membalikkan badan dan menatapnya.

Anehnya, tidak ada raut terkejut di wajah Citra. Tidak ada tatapan jijik melihat kondisi suaminya yang berantakan, tidak ada air mata kecemburuan picisan, dan sama sekali tidak ada senyum mengejek. Wajah Citra sedatar pualam yang dingin, seolah melihat suaminya terkapar di lantai sehabis mabuk-mabukan hanyalah pemandangan pagi hari yang sangat membosankan dan tak bernilai.

Bagi seorang pria arogan yang terbiasa dipuja dan ditakuti, ketidakpedulian mutlak dari istrinya ini justru terasa jauh lebih menampar daripada sebuah makian kasar. Putra merasa egonya tertohok keras. Ia mengharapkan Citra hancur atau setidaknya cemburu buta, namun wanita itu malah menatapnya tak lebih dari sekadar tumpukan cucian kotor yang menyedihkan.

"Air hangat untuk mandi sudah saya siapkan di bathtub, Mas," ucap Citra dengan nada suaranya yang tenang dan profesional, layaknya seorang housekeeping hotel bintang lima yang sedang melayani tamu. Tidak ada nada gemetar atau sinis dalam suaranya. Wajahnya begitu bersih dan tertata apik, kontras dengan kondisi suaminya yang terlihat seperti gembel kelas atas. "Pakaian kerja, setelan jas, dan dasi Mas Putra juga sudah saya siapkan rapi di atas sofa."

Putra terdiam mematung, tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut menyakitkan. Tenggorokannya terlalu kering dan kepalanya terlalu pusing untuk merangkai kalimat hinaan yang tajam. Ia hanya menatap Citra dengan kening berkerut dalam, sangat bingung sekaligus tersinggung dengan reaksi istrinya yang terlalu biasa saja. Tidak adakah sedikit pun rasa cemburu di hati wanita ini?

"Di meja ada air hangat dan obat sakit kepala," lanjut Citra, sama sekali tidak menyinggung kejadian semalam atau bertanya dari lubang mana suaminya baru saja pulang.

Citra menatap sekilas wajah pucat dan raut menahan sakit dari suaminya. Otak logis Citra tahu betul bahwa pria arogan yang sedang hangover berat memiliki sumbu emosi yang sangat pendek dan tidak stabil. Jika ia memancing obrolan, bertanya macam-macam, atau sekadar menunjukkan sedikit saja ekspresi mengejek, Putra pasti akan meledak dan mencari alasan untuk melampiaskan amarah kepadanya.

Bagi Citra, membuang energi untuk berdebat dengan pemabuk yang sedang pusing adalah tindakan bodoh dan sia-sia. Egonya tidak akan terluka hanya karena melihat lipstik wanita murahan di baju pria yang sama sekali tidak ia cintai. Menghindar adalah jalan ninja terbaik dan paling elegan hari ini.

"Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi ke bawah dulu, Mas. Saya harus membantu Bibi menyiapkan sarapan untuk Papa yang akan segera turun," pamit Citra sambil menundukkan kepalanya sedikit sebagai formalitas belaka.

Tanpa menunggu persetujuan, bantahan, atau jawaban dari suaminya, Citra langsung membalikkan badan, melangkah keluar dari kamar utama dengan punggung tegak, dan menutup pintu kayu jati itu rapat-rapat.

Di dalam kamar, Putra dibiarkan sendirian dalam keheningan yang luar biasa canggung dan mengganggu egonya. Pria arogan itu terdiam di atas karpet, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan perasaan campur aduk. Tidak ada teriakan marah, tidak ada tangisan. Citra benar-benar menganggapnya seolah seonggok debu yang tak kasat mata.

Putra mendengus kasar, memaki pelan. Ia meraih gelas air hangat dan obat di atas meja, menelannya dengan cepat, lalu melangkah gontai menuju kamar mandi.

Saat kucuran air panas dari shower akhirnya mengguyur tubuhnya yang lengket, Putra memukul dinding marmer kamar mandi dengan frustrasi. Kepalanya mendidih. Sikap dingin Citra barusan terasa seperti tamparan telak yang merobek harga dirinya sebagai penguasa absolut di rumah ini. Istrinya itu tidak meronta, tidak mengemis penjelasan, bahkan tidak menuntut haknya. Alih-alih cemburu, Citra seolah sedang berdiri di atas tumpuan yang jauh lebih tinggi, memandang rendah Putra beserta segala sisa mabuknya yang sangat menyedihkan.

Sementara itu, di lantai bawah, Citra berjalan menuruni tangga dengan langkah seringan kapas. Ia mengusap susuran tangga pualam yang dingin itu dengan jemarinya. Sosok Putra yang selama ini selalu berdiri menjulang bagaikan monster diktator yang tak tertembus, semalam telah runtuh tak bersisa menjadi pria lemah yang menangisi masa lalunya. Ketakutan Citra pada sang suami kini benar-benar menguap, digantikan oleh rasa geli yang teramat sangat memuaskan batinnya.

Sesampainya di dapur, Citra mengambil alih pisau untuk mengiris sayuran dengan gerakan ritmis dan sangat mantap. Urat-urat nadinya tak lagi menegang waspada. Tangannya yang dulu selalu gemetar ketakutan setiap kali mendengar derap langkah kaki suaminya, kini berubah sangat stabil dan kuat. Monster di rumah ini ternyata hanyalah manusia biasa; ia berdarah, ia bisa merintih, dan ia pasti bisa dihancurkan.

Seulas senyum tipis, dingin, dan penuh teka-teki terbit di sudut bibir Citra yang pucat. Semuanya berjalan sempurna. Biarlah Putra mengira bahwa malam laknat tadi berlalu tanpa jejak. Pria itu tidak perlu tahu bahwa di balik sikap "biasa saja" Citra pagi ini, sebuah nama masa lalu yang sangat rahasia telah terkunci rapat di dalam brankas ingatan sang istri. Nama 'Laura' itu akan ia rawat baik-baik, menunggu waktu yang paling tepat untuk diledakkan tepat di depan wajah suaminya.

Mohon klik suka dan berikan ⭐⭐⭐⭐⭐ sebelum lanjut 🙏🙏❤

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!