NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama kuliah

“Zahraaa…”

Nada suaranya berat, setengah malu, setengah protes.

Aku sudah berlari kecil menuju kamar mandi sambil tertawa.

“Kenapa Mas, mau dicium lagi?”

Ia menggeleng pelan, lalu menatapku dengan tatapan yang pura-pura galak. “Kamu ini pengen aku gigit ya?”

Aku yang mendengar itu justru menghampirinya lagi. Sengaja berdiri sangat dekat di depannya. “Yaudah gigit aja. Mau di bagian mana?”

Tatapannya turun sesaat. Aku masih memakai tanktop dan celana pendek. Rambutku sedikit berantakan karena baru bangun.

Ia terdiam satu detik.

Dua detik.

Lalu tiba-tiba ia mengangkatku begitu saja.

“Mas!”

Belum sempat aku protes, ia menggigit bibirku cukup lama. Bukan sakit, tapi cukup membuatku kehabisan napas. Tanganku spontan mencengkeram bahunya.

Saat ia melepaskannya, aku terengah.

“Mas… kamu curang.”

Sekarang gantian aku yang menarik kerah bajunya dan menggigit bibirnya singkat. Ia terdiam, lalu terkekeh kecil.

Aku turun dari gendongannya dan berlari menuju kamar mandi.

“Satu sama ya, Mas!”

Ia hanya tersenyum melihatku kabur lagi.

Di kamar mandi aku hanya mencuci muka. Air dingin menyentuh kulitku, membuatku sedikit sadar. Mau mandi, tapi masih malas.

Aku keluar lagi mencari dia, tapi tidak ada di ruang tamu.

Lalu hidungku menangkap aroma yang sangat enak.

Harum bawang tumis dan sesuatu yang manis bercampur gurih.

Aku langsung berjalan cepat ke dapur.

Ia ada di sana. Berdiri membelakangiku, sedang memasak dengan tenang.

Tanpa pikir panjang aku memeluknya dari belakang.

“Masak apa, Mas?”

“Kepo banget kamu.”

“Mas ih, ngeselin.”

Ia terkekeh kecil. “Hari pertama kuliah masa nggak sarapan.”

Aku mendongak. “Eh iya…”

Hari pertama kuliah.

Jantungku tiba-tiba berdebar.

Aku melepas pelukanku dan berdiri di sampingnya. “Mas, aku deg-degan.”

“Kenapa?”

Aku menatap punggungnya yang masih sibuk mengaduk masakan. Suaraku pelan. “Aku takut… nanti pas aku pulang kamu pergi ninggalin aku. Aku takut kehilangan kamu, Mas.”

Tangannya berhenti sebentar. Lalu ia tertawa kecil. Bukan mengejek, tapi seperti gemas.

“Zahra sekarang emang udah beda ya.”

Aku langsung menatapnya. “Jangan panggil Zahra. Pokoknya mulai sekarang kalau di rumah harus panggil sayang. Kalau enggak aku ngambek.”

Ia menoleh, lalu mencium bibirku singkat. Hangat dan cepat.

“Iya, sayang.”

Lalu ia kembali melanjutkan masaknya. “Mandi, sayang. Udah jam berapa ini?”

Aku mendesah. “Mandiin dong, Mas. Aku malas mandi sendiri.”

“Habis ini ya, aku mandiin.”

Pipiku langsung memanas. “Bercanda, Mas!”

Aku buru-buru naik ke lantai dua sambil tertawa kecil, takut dia benar-benar menyusul.

Di kamar mandi aku mandi sungguhan kali ini. Air dingin membuat pikiranku lebih jernih. Hari pertama kuliah. Dunia baru. Lingkungan baru.

Tapi entah kenapa, rasa takut kehilangan dia jauh lebih besar daripada rasa takut masuk kelas.

Selesai mandi, aku memilih baju paling bagus dan paling cantik menurutku. jilbab hitam, Kemeja putih bersih, rok panjang hitam yang pas di badan, dan tas kecil yang baru di belikannya kemarin. Rambutku kusisir rapi. lalu aku memakai jilbabku.

Aku menarik napas di depan cermin. “Semangat.”

Saat aku turun ke ruang tamu, ia sudah duduk menungguku. Bajunya rapi. Rambutnya juga sudah tertata. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding semalam.

Ia menepuk kursi di seberangnya. “Duduk sini.”

Aku menggeleng. “Gamau.”

Lalu tanpa izin, aku duduk di pangkuannya.

“Zahra—”

“Sayang,” potongku cepat.

Ia menghela napas kecil tapi tidak memindahkanku. Tangannya justru memegang piring di meja dan mulai menyuapiku.

Aku membuka mulut santai sambil memainkan ponsel di tanganku.

Setiap kali sendok mendekat, ia meniupnya dulu supaya tidak terlalu panas.

Saat aku sedang fokus mengetik sesuatu, tiba-tiba ia mencium pipiku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Mas ih…” pipiku langsung memerah, entah kenapa setiap ia menciumku aku merasa malu, tapi juga bahagia.

“Kamu cantik banget ya, sayang.”

Aku tersenyum puas. “Iya lah, Mas.”

Ia tertawa kecil.

Aku menoleh menatapnya. “Mas tadi malam aja nyaman banget. Pelukan Mas tuh erat banget. Aku sampai susah napas.”

Ia hanya tersenyum tipis.

“Kok Mas cepet banget sembuhnya? Tinggal tidur langsung sembuh?”

Ia mencium pipiku lagi, kali ini lebih lama. “Karena ada kamu yang meluk aku.”

Pipiku benar-benar memerah.

Ia tersenyum jahil. “Tuh kan, pipinya merah.”

“Enggak!”

“Merah banget.”

Aku menutup wajahku dengan satu tangan. “Mas jangan godain terus.”

Ia tertawa pelan, lalu menyuapiku lagi. “Deg-degannya masih?”

Aku diam sebentar. “Masih.”

“Karena kuliah?”

“Karena takut jauh dari kamu.”

Tangannya berhenti menyuap. Ia menatapku lebih serius sekarang.

“Zahra—”

“Sayang.”

Ia tersenyum tipis. “Sayang. Kamu itu sekolah buat masa depan kamu. Bukan buat jauh dari aku.”

Aku menatapnya pelan.

“Aku nggak akan ke mana-mana,” lanjutnya. “Kamu pulang nanti, aku tetap di rumah. kan aku nanti yang jemput kamu.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku mengulurkan kelingking. Ia mengaitkannya tanpa ragu.

Beberapa menit kemudian sarapan selesai.

Ia berdiri dan masih menggendongku sebentar sebelum akhirnya memaksaku turun.

“Turun. Nanti kamu kebiasaan.”

“Emang kenapa?”

“Nanti makin manja.”

Aku tertawa kecil. “Aku kan emang manja.”

Ia menggeleng sambil mengambil tas kuliahku. “Ayo berangkat.”

Ia menggenggam tanganku keluar dari rumah, langkahnya tenang seperti biasa. Pagi itu udara masih sedikit dingin, tapi tangannya hangat. Sampai di depan mobil, ia membukakan pintu untukku.

“Silakan, Nona Manja.”

Aku tersenyum puas lalu masuk. Ia menutup pintu, berjalan memutar, lalu duduk di kursi kemudi. Mesin mobil menyala pelan dan kami mulai berangkat.

Beberapa menit pertama aku hanya diam, memperhatikan jalanan yang mulai ramai. Lalu entah kenapa pikiranku kembali jahil.

Aku menoleh padanya. “Mas.”

“Hm?” Fokusnya tetap ke depan.

“Kalau kita punya anak nanti, kamu bakal manjain juga nggak?”

Ia melirikku sekilas. “Topiknya cepat banget ya pindahnya.”

Aku mendekat sedikit ke arahnya. “Jawab dulu.”

“Kamu aja masih kayak anak kecil.”

Aku cemberut pura-pura kesal. “Serius nih.”

Ia menarik napas kecil. “Anak itu tanggung jawab besar, Zah—”

Aku langsung menyela, “Sayang.”

Ia tersenyum tipis. “Sayang. Kita fokus kuliah dulu.”

Aku terkekeh, lalu tiba-tiba mencium pipinya. Ia hanya diam, tetap fokus menyetir.

“Jangan ganggu sopir,” katanya tenang.

Aku malah semakin dekat dan mencium rahangnya singkat. “Kan cuma bentar.”

“Zahra…”

“Sayang.”

Ia menahan senyum. “Kalau mobilnya oleng gimana?”

“Kan Mas jago.”

Ia menggeleng kecil tapi tidak marah. Tangannya tetap mantap di setir. Aku bisa melihat ia berusaha tetap serius meski sudut bibirnya jelas ingin tersenyum.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya sebentar. “Mas.”

“Iya.”

“Kalau nanti aku sibuk kuliah, Mas jangan cemburu ya.”

“Siapa yang cemburu?”

“Kan banyak cowok ganteng di kampus.”

Ia langsung melirikku lebih lama kali ini. “Oh ya, emang ada yang lebih ganteng dariku?” ucapnya sambil tersenyum penuh maksud.

“Iya, pasti ada banyak.” ucapku dengan nada bercanda memancing rasa cemburunya, tapi aku sadar yang ia bilang itu benar, karena sejak aku lahir sampai sekarang, aku tidak pernah melihat ada orang yang lebih tampan darinya.

Ia kembali menatap jalan, tapi rahangnya sedikit mengeras. “Ya lihat aja nanti.”

“Lihat apa?”

“Nanti juga kamu tau sendiri.”

Aku mendengus kecil. “Boleh aku gigit bibirnya bentar nggak, Mas? Bentar aja kok.” Ucapku sambil pura-pura kesal.

“Jangan dong, nanti kalau jatuh gimana?”

“Iya gapapa. Aku juga nyaman kok kalau di bawah.”

Ia langsung menoleh cepat. “Heh. Siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu? Pikiran jangan yang aneh-aneh ya, Zah—”

“Sayang,” potongku cepat.

Ia menghela napas panjang. “Kamu denger kan tadi Mas ngomong apa?”

“Kalo dicium dulu mungkin denger.”

Ia mencubit lenganku pelan, tidak sakit, hanya mengingatkan.

“Mas ihh…”

“Mau turun di depan kampus langsung? Bentar lagi sampai.”

“Jangan Mas, nanti ada yang lihat.”

Tiba-tiba mobil melambat.

Dan berhenti.

Aku langsung menengok ke luar kaca.

Bangunan kampus tepat di depan. Jaraknya mungkin cuma beberapa meter dari mobil.

“Mas… aku mau peluk dulu. Mau cium. Mau digendong.”

“Zahhh…”

Aku tidak peduli. Aku langsung mencium bibirnya lama. Sangat lama. Sampai ia akhirnya menarik napas kecil saat aku melepaskannya.

“Kan udah dibilang, kalau cuma aku sama Mas harus panggil sayang.”

Ia tersenyum tipis lalu menarikku mendekat sedikit. “Semangat ya, sayang. Nanti kalau pulang kabarin, biar aku jemput.”

Aku langsung memeluknya erat. Ia mengelus kepalaku pelan.

“Udah ih, nanti keburu telat.”

Aku mencium pipinya sekali lagi. “Yaudah ya Mas, aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Semangat ya, sayang.”

Aku turun dari mobil. Pintu tertutup pelan.Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak. Sedih tipis.

Aku melambaikan tangan. Ia membalas dengan senyum yang tenang.

Lalu aku berbalik dan berjalan menuju gerbang kampus.

Semakin dekat, semakin ramai. Banyak mahasiswa baru dengan wajah gugup seperti aku. Ada yang tertawa, ada yang sibuk melihat ponsel, ada yang sudah berkumpul dengan teman lama.

Langkahku hampir masuk gerbang—

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang....

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!