Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mahendra duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap kosong, tangannya refleks memegang perut yang sedikit reda rasa sakitnya.
"Akhirnya sakitnya sedikit berkurang," gumam Mahendra.
Sementara Mahesa asyik bermain mobil-mobilan di lantai dekat kursi kakaknya, anak itu asyik bermain, sambil sesekali melihat ke arah sang Kakak.
"Kak, gimana?" tanya Mahesa.
"Udah enakan Dik," sahutnya pelan.
"Aku bilang apa? Mama itu orangnya baik loh," jelas Mahesa.
Mahendra sedikit mendengus, ia berusaha menolak, ucapan polos dari adiknya, tapi di dalam hati, sebenarnya ia sangat mengakui, jika ibu sambung tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Apa sih Dek," katanya sambil mendengus. "Sudah kamu main saja," lanjutnya kembali.
Selesai perdebatan kecil itu, tidak lama terdengar suara langkah panjang dari arah depan, sore ini Cokro pulang lebih cepat dari biasanya.
Pria itu terlihat lebih khawatir melihat anak pertamanya duduk dengan wajah yang sedang menahan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya ayahnya.
"Hanya capek," sahut Mahendra sedikit dingin.
"Ayo ke dokter," ajak Cokro.
"Gak usah, sudah mendingan," jelas Mahendra.
Seketika Cokro melihat sisa air di dalam gelas itu, tinggal sedikit sebagian sudah di minum.
"Itu air apa?" tanya Cokro.
"Air hangat, Mama yang buatkan," sahut Mahendra.
"Iya Pa, Mama itu baik perhatian sama Kakak," timpal sang adik.
Cokro hanya terdiam, kemudian matanya menangkap sosok Melati yang sedang membawa nampan yang berisi bubur.
"Kamu buatkan apa?" tanya Cokro menyelidik.
"Aku hanya bikinin Mahen bubur ayam Mas," sahut Melati.
Cokro menatap lama mangkok yang ada di nampan itu, bubur masih mengebul tipis dan pria itu nampak sedikit ragu.
"Bubur ayam?" ulangnya kembali.
"Iya, hanya bubur ayam tidak pedas," sahut Melati polos.
Cokro menatap sekilas bubur itu lalu kembali menatap sang anak sekedar memastikan. "Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Tadi sarapan roti dari Mama," sahutnya pelan.
Cokro mengangguk pelan, tapi ekspresinya tidak ikut melunak.
“Roti,” ulangnya lirih, lalu menoleh ke Melati. “Perutnya lagi bermasalah.”
“Iya, Mas. Makanya cuma roti tawar,” jawab Melati tenang. “Dan ini buburnya juga polos. Aku nggak pakai apa-apa yang berat.”
Cokro tidak langsung menanggapi. Ia maju selangkah, mengambil sendok dari nampan, mengaduk bubur itu pelan. Seperti mencari sesuatu yang tidak terlihat.
“Biasanya Mahen nggak cocok makan buatan orang,” katanya akhirnya.
Kalimat itu jatuh tanpa nada tinggi. tapi mampu membuat hati Melati goyah, bukan apa secara tidak langsung Cokro seolah ingin menyinggung dirinya.
Mahendra menegang. Ia menoleh cepat ke ayahnya.
“Papa—”
“Diam dulu,” potong Cokro singkat. Lalu menatap Melati lagi. “Aku nggak mau ambil risiko.”
Melati menarik napas pelan. Ia tidak mundur, tapi juga tidak maju.
“Mas,” katanya lembut tapi tegas. “Semalam dia muntah asam. Pagi ini perutnya kosong. Kalau ditunda terus, sakitnya bisa balik.”
Cokro terdiam.
Mahesa yang sejak tadi diam tiba-tiba berdiri, mendekat ke meja.
“Papa, Kakak tadi bilang perutnya nggak sakit lagi setelah minum air hangat,” katanya polos.
Cokro menoleh. Tatapannya berhenti sejenak di wajah anak bungsunya, lalu kembali ke Mahendra.
“Kamu yakin nggak mual?” tanyanya.
Mahendra mengangguk kecil. “Nggak.”
Cokro masih ragu. Tangannya mengepal ringan di sisi tubuh. Melati akhirnya mengambil satu sendok bubur. Tidak langsung menyuapkan ia berhenti di udara, menunggu.
“Kalau Mas masih ragu,” katanya pelan, “biar aku yang tanggung jawab. Kalau Mahen merasa nggak enak, kita berhenti. Aku nggak akan maksa.”
Hening sementara, Mahendra menatap sendok itu lama. Lalu perlahan membuka mulut.
Bubur masuk. Ia menelan, menunggu beberapa detik berlalu.
“…nggak apa-apa,” gumamnya.
Mahesa langsung tersenyum lebar. “Kan!”
Cokro memejamkan mata sesaat, seperti menahan sesuatu. Saat membukanya lagi, rautnya masih keras, tapi tidak setegang tadi.
“Sedikit saja,” katanya akhirnya. “Jangan banyak.”
Melati mengangguk. “Iya.”
Ia menyuapi pelan, sendok demi sendok. Tidak terburu-buru. Cokro berdiri tak jauh, memperhatikan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa asing, bukan lega sepenuhnya, tapi juga bukan curiga utuh.
Untuk kali ini ia tidak tahu harus berdiri di posisi mana: sebagai ayah yang protektif, atau sebagai suami yang perlahan kehilangan alasan untuk terus menolak.
lalu di kursi itu, Mahendra makan dengan tenang, tanpa sadar bahwa sore itu bukan hanya perutnya yang mulai pulih, melainkan benteng kecil di hatinya yang retak tipis.
Melati hendak mengambil tisu di meja samping saat sendok terakhir diangkat. Tangannya bergerak bersamaan dengan tangan Cokro yang refleks ingin menarik mangkuk agar tidak terlalu dekat ke tepi.
Sentuhan itu terjadi singkat punggung jari bertemu punggung jari. Tidak ada suara yang bereaksi keras keduanya sama-sama diam, hanya melihat tangan yang tanpa sengaja saling menyentuh.
Hingga akhirnya Cokro menarik tangannya lebih dulu, seperti tersengat. Ia berdehem, menegakkan bahu, lalu mengalihkan pandangan ke Mahendra.
“Cukup segitu,” katanya. Nada suaranya kembali datar, tapi tidak dingin.
Mahendra mengangguk. Perutnya terasa hangat, bukan hanya karena bubur. Ia menyandarkan punggung ke kursi, napasnya lebih teratur.
Mahesa kembali ke lantai, mobil-mobilannya beradu pelan. Suara kecil itu seperti penutup yang sopan atas keheningan yang tersisa.
Melati membereskan nampan tanpa menatap siapa pun. Detak jantungnya belum sepenuhnya turun. Sentuhan tadi tidak berarti apa-apa, seharusnya. Tapi ia tahu betul, Cokro juga merasakannya.
Cokro melangkah ke jendela, pura-pura memperhatikan halaman. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia menekan ibu jarinya ke telapak tangan sendiri, mencoba menghapus sensasi yang tertinggal.
“Kamu,” katanya akhirnya, masih menghadap keluar, “kalau perutnya kenapa-kenapa, bilang.”
“Iya, Mas,” jawab Melati singkat.
Mahendra melirik punggung ayahnya. Ada sesuatu yang berubah bukan sikap, tapi jarak. Ayahnya tidak lagi berdiri seperti tembok. Lebih seperti orang yang bingung harus bersandar ke mana.
Tak lama, Cokro berbalik. Tatapannya jatuh ke Melati, sebentar saja, lalu turun ke lantai. “Terima kasih,” katanya pelan. Hampir terdengar seperti kebiasaan lama yang jarang dipakai.
Melati berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Sama-sama.”
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam datang perlahan. Mahendra dipindahkan ke kamar. Melati mengatur bantal, memastikan posisi tidurnya nyaman. Cokro berdiri di ambang pintu, tidak masuk, tidak pergi.
“Papa,” panggil Mahendra tiba-tiba.
Cokro mendekat. “Kenapa?”
“Kalau besok aku masih mual… aku nggak sekolah,” katanya cepat, seolah takut ditolak.
“Iya.”
Mahendra memejamkan mata, lega, setelah mendapatkan ijin.
Di dapur, Melati mencuci peralatan. Cokro datang belakangan, mengambil gelas, mengisi air. Saat ia meletakkannya di rak, lengannya kembali bersinggungan dengan lengan Melati, kali ini lebih jelas.
Keduanya berhenti, secara bersamaan.
“Maaf,” ucap Cokro spontan.
“Tidak apa,” jawab Melati, kali ini menatapnya.
Keduanya masih terdiam sama seperti kejadian awal, hingga pada akhirnya Melati membuka percakapan dengan singkat dan lembut.
"Aku mau ke kamar dulu," katanya lalu meninggalkan Cokro yang masih mematung.
Bersambung ....