Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pertarungan Kai dan Viktor
Pesawat yang membawa Kai mendarat di sebuah bandara kecil di pinggiran kota Eropa Timur saat langit masih diselimuti kabut pagi. Udara dingin langsung menyergap begitu pintu pesawat terbuka. Kai melangkah turun lebih dulu, jas hitamnya rapi, ekspresinya tenang, tapi sorot matanya tajam dan dingin seperti baja. Di belakangnya, Ren dan beberapa anak buah setia mengikuti dengan langkah teratur.
Ini bukan perjalanan bisnis biasa. Ini adalah wilayah yang selama ini dikuasai oleh salah satu sindikat yang mulai berani bermain di belakangnya melanggar kesepakatan lama, memotong jalur distribusi, dan yang paling fatal mencoba menjual informasi internal organisasi Kai ke pihak lain.
Di dalam mobil hitam yang melaju menuju hotel, suasana sunyi menekan.
“Lokasi mereka sudah dipastikan?” tanya Kai pelan, suaranya datar tapi penuh tekanan.
Ren mengangguk. “Sudah, Boss. Mereka berkumpul di gudang tua dekat pelabuhan. Ada sekitar dua puluh orang bersenjata. Pemimpinnya, Viktor, juga ada di sana.”
Kai menyandarkan punggung, menatap keluar jendela. Pikirannya sempat melayang wajah Yuki yang tersenyum lembut, Ai yang tertawa saat digendongnya. Dadanya menghangat sesaat… lalu kembali membeku.
“Dia memilih mengkhianati,” ujar Kai dingin. “Berarti dia sudah siap menanggung akibatnya.”
Ren tahu betul nada itu. Jika Kai sudah bicara seperti itu, tidak ada ruang untuk negosiasi.
---
Malam harinya, mereka berkumpul di sebuah ruangan gelap di lantai atas hotel. Peta gudang, jalur masuk, dan posisi penjaga terpampang di layar.
“Kita masuk dari dua sisi,” kata Kai sambil menunjuk layar. “Tim A alihkan perhatian. Tim B ikut aku. Kita tidak datang untuk perang panjang. Kita datang untuk memberi pesan.”
Salah satu anak buah bertanya, “Kalau mereka melawan, Boss?”
Kai menoleh perlahan. Tatapannya membuat ruangan seketika senyap. “Kalau mereka melawan… pastikan tidak ada yang bisa mengulanginya.”
Tidak ada yang membantah.
***
Gudang itu berdiri kusam di tepi pelabuhan, diterangi lampu-lampu kuning redup. Bau besi dan air laut bercampur di udara. Dari kejauhan, suara ombak terdengar pelan, kontras dengan ketegangan yang mengendap di sekitar bangunan itu.
Tim A bergerak lebih dulu, memancing perhatian para penjaga di sisi timur. Beberapa suara tembakan pecah, cukup untuk membuat kekacauan kecil.
Di sisi lain, Kai dan timnya masuk dengan cepat dan senyap.
Satu per satu penjaga tumbang tanpa sempat berteriak. Gerakan Kai efisien, dingin, tanpa ragu. Bukan karena ia menikmati kekerasan tapi karena dunia ini mengajarinya bahwa ragu berarti mati.
Mereka akhirnya sampai di ruang utama gudang.
Viktor ada di sana, duduk santai di kursi besi, dikelilingi beberapa orang kepercayaannya. Saat melihat Kai masuk, wajahnya langsung berubah pucat.
“K-Kai…” Viktor berdiri setengah gugup, setengah sok tenang. “Ini… ini bisa kita bicarakan baik-baik.”
Kai melangkah maju perlahan. Suaranya tenang, hampir seperti sedang mengobrol biasa. “Kita memang sedang bicara. Tapi bukan tentang damai.”
Viktor menelan ludah. “Aku hanya… mencari peluang. Bisnis, kan? Tidak ada yang pribadi.”
Kai berhenti tepat di depannya. “Kau mencuri jalurku. Kau menjual namaku. Kau membahayakan orang-orangku.”
Matanya menyipit. “Dan yang paling bodoh… kau pikir aku tidak akan tahu.”
Salah satu anak buah Viktor mencoba mengangkat senjata.
Satu tembakan terdengar.
Tubuh itu roboh sebelum sempat berbuat apa pun.
Gudang kembali sunyi, hanya tersisa napas tertahan dan bunyi langkah sepatu Kai di lantai beton.
Viktor gemetar. “T-Tunggu… aku bisa kembalikan semuanya. Uang, wilayah, apa pun.”
Kai menatapnya tanpa emosi. “Ini bukan soal uang.”
Ia mencondongkan badan sedikit. “Ini soal contoh.”
Dengan satu isyarat tangan, anak buah Kai menyeret Viktor pergi.
Teriakan itu menggema sebentar… lalu menghilang, ditelan suara ombak dan mesin kapal di kejauhan.
***
Beberapa jam kemudian, Kai berdiri di balkon hotel, menatap kota asing yang berkilau di bawah. Ren berdiri tak jauh di belakangnya.
“Semua sudah beres, Boss. Jaringan mereka runtuh. Sisanya akan tunduk.”
Kai mengangguk pelan, tapi wajahnya tidak menunjukkan kepuasan.
“Bagaimana kabar dari rumah?” tanyanya.
Ren menjawab cepat, “Niko melapor. Sistem aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan. Yuki dan bayi baik-baik saja.”
Mata Kai sedikit melunak. Ia menghela napas panjang, seakan baru sekarang bisa benar-benar bernapas.
“Bagus,” katanya pelan. “Pastikan terus begitu.”
Ia mengepalkan tangan di saku jasnya.
Di luar, ia adalah Kai pria yang ditakuti, pemimpin yang tak mengenal ampun pada pengkhianat.
Tapi di dalam hatinya, ada satu hal yang terus mengikatnya keinginan untuk segera pulang… ke Yuki, dan ke anak kecil yang tanpa sadar sudah mengubah dunia gelapnya sedikit demi sedikit.
Dan ia tahu… konflik ini belum benar-benar selesai. Ini baru awal.aa
---
Pertarungan antara Kai dan Viktor tidak berhenti hanya di gudang itu. Meski Viktor dipukul mundur, harga dirinya hancur, dan sebagian besar jaringannya runtuh, satu hal masih tersisa di hatinya dendam. Bagi Viktor, kekalahan itu bukan akhir, melainkan awal dari permainan yang lebih kotor.
Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi lampu meja, Viktor duduk dengan wajah penuh memar. Tangannya mengepal, matanya merah oleh amarah yang belum padam.
“Kai pikir dia menang…” gumamnya dengan suara serak. “Dia pikir dia sudah menginjak kepalaku sampai ke tanah.”
Salah satu anak buahnya berdiri ragu di depan meja. “Boss, pasukan kita sudah berkurang banyak. Kita harus hati-hati.”
Viktor menatapnya tajam. “Justru karena itu kita harus menyerang dari tempat yang tidak dia duga.”
Ia tersenyum tipis, licik. “Keluarganya.”
Kata itu meluncur pelan, tapi penuh racun.
“Cari tahu di mana keluarganya. Istrinya. Anak itu. Orang tuanya. Aku mau mereka merasa takut seperti aku.”
Anak buahnya mengangguk, lalu segera bergerak. Beberapa jam kemudian, beberapa mobil melaju menuju kediaman Kai.
***
Di sisi lain, jauh sebelum bahaya itu benar-benar mendekat, Yuki sudah merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Meski berada di rumah yang aman, di balik sistem perlindungan berlapis, hatinya tetap berdebar tidak tenang.
Ren yang saat itu menjaga rumah, berdiri di ruang tengah sambil memeriksa laporan dari Niko di ruang kontrol bawah tanah. Layar monitor menampilkan kamera di berbagai sudut properti.
Yuki menggendong Ai dengan hati-hati, lalu berkata pelan, “Ren… aku punya firasat mereka akan mencari kami.”
Ren menoleh. “Aku juga berpikir begitu, Nyonya. Setelah apa yang terjadi pada Viktor, dia pasti tidak akan tinggal diam.”
Yuki terdiam sejenak, lalu matanya menatap sekeliling rumah yang luas dan rapi itu. Sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kalau mereka datang dan tidak menemukan siapa pun… mereka akan mengira Kai sudah memindahkan kami atau rumah ini sudah ditinggalkan,” ucap Yuki perlahan. “Bagaimana kalau kita… buat rumah ini terlihat seperti tidak berpenghuni?”
Ren mengerutkan kening. “Maksud Nyonya?”
“Kita buat terlihat seperti rumah kosong. Seperti tidak dirawat. Gelap, berantakan, seolah-olah sudah lama ditinggalkan. Itu bisa mengelabui mereka dari luar,” lanjut Yuki dengan suara masih gemetar, tapi matanya terlihat lebih tegas dari biasanya. “Sementara kita semua tetap aman di ruang bawah tanah.”
Ren terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Itu… ide yang bagus. Aku akan segera hubungi Gala dan tim lain.”
Tanpa menunda waktu, Ren menghubungi Gala, anak buah Kai yang selalu setia mendampingi ke mana pun Kai pergi.
“Gala, ini Ren. Siapkan semua orang. Ada kemungkinan anak buah Viktor akan bergerak ke rumah. Kita pakai rencana pengalihan. Semua bersiap masuk ke ruang bawah tanah sesuai prosedur.”
Suara Gala terdengar tegas di seberang. “Dimengerti. Kami akan bergerak sekarang.”
---
Di dalam rumah, suasana berubah menjadi sibuk tapi teratur. Para asisten dan anak buah Kai bergerak cepat, bukan dengan panik, melainkan dengan ketenangan yang lahir dari latihan dan pengalaman.
Beberapa orang mulai mematikan sebagian lampu, membiarkan sudut-sudut rumah tenggelam dalam bayangan. Yang lain membuka jendela tertentu, membiarkan daun kering dan debu masuk.
Ada yang menarik ranting-ranting pohon dan menaruhnya di dekat pagar, sebagian lagi menggeser pot besar hingga tampak seperti halaman sudah lama tak dirapikan. Daun-daun kering disebar di beberapa sudut teras. Tirai dibiarkan setengah terlepas, memberi kesan rumah itu kosong dan tak terurus.
Beberapa akar tanaman yang menjalar sengaja dibiarkan menutupi sebagian tembok luar, seolah-olah tidak ada yang peduli lagi dengan kondisi bangunan itu.
Dari luar, rumah itu perlahan berubah wajah bukan lagi kediaman megah dan terawat, melainkan bangunan sunyi yang tampak ditinggalkan.
Sementara itu, di dalam, Yuki menggendong Ai dengan erat. Bayi itu tertidur tenang, seolah tidak tahu bahwa dunia di sekelilingnya sedang dipenuhi ancaman.
“Tenang, sayang…” bisik Yuki lirih, menempelkan pipinya ke kepala kecil Ai. “Mama tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu.”
Ren mendekat. “Nyonya, sebentar lagi kita turun ke ruang bawah tanah. Semua sudah siap.”
Yuki mengangguk. “Terima kasih, Ren… sudah menjaga kami.”
Ren tersenyum tipis. “Itu tugas saya. Dan juga janji saya pada Tuan Kai.”
---
Tak lama kemudian, tim Gala tiba di area sekitar rumah, memastikan semua jalur aman. Setelah itu, satu per satu, para penghuni rumah Yuki, Ai, orang tua Kai, para asisten penting bergerak turun melalui akses rahasia di bawah rak dapur.
Pintu tersembunyi itu tertutup kembali dengan sempurna, seolah tidak pernah ada jalan masuk di sana.
Di bawah tanah, ruangan itu terang, hangat, dan penuh persediaan. Monitor CCTV menyala, menampilkan setiap sudut luar rumah.
Niko sudah duduk di depan layar, jarinya bergerak cepat di atas keyboard. “Sistem aman. Tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaan kita di sini.”
Ren mengangguk. “Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu.”
---
Keesokan harinya, mobil-mobil anak buah Viktor berhenti di depan rumah itu.
Mereka turun dengan waspada, senjata tersembunyi di balik jaket.
Salah satu dari mereka menatap bangunan itu dengan curiga. “Ini… rumah Kai? Kelihatannya seperti sudah lama kosong.”
Yang lain mengamati sekitar. “Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Lihat itubhalamannya berantakan.”
Mereka berjalan mendekat, memeriksa pintu, mengintip jendela yang tertutup debu. Tidak ada tanda kehidupan. Tidak ada penjaga. Tidak ada aktivitas.
“Sepertinya mereka sudah pergi,” gumam salah satu.
Di ruang bawah tanah, semua orang menahan napas, menatap layar monitor. Yuki memeluk Ai erat, jantungnya berdegup kencang.
Niko berbisik, “Mereka tertipu… untuk sementara.”
Di luar, setelah memastikan tidak ada siapa pun, anak buah Viktor akhirnya pergi dengan wajah kesal dan bingung.
Mereka tidak tahu… bahwa di bawah kaki mereka, orang-orang yang mereka cari sedang bersembunyi dengan aman, menunggu saat yang tepat.
Dan jauh di negeri lain, tanpa tahu detail kejadian ini, Kai berdiri menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari Ren tanpa sadar bahwa perang ini sudah mulai merambah ke arah yang paling ingin ia lindungi.