Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Rahang Callum mengeras. Tak menyangka orang-orang zaman sekarang seperti tidak berpendidikan. Mereka hanya bisa menghujat orang lain dengan kata-kata buruk.
Apa katanya tadi? Bertaruh 1juta kalau Callum dan Delanay akan cepat bercerai?
Cih! Gadis yang Callum lihat tadi bahkan masih berstatus pelajar. Bukan pelajar SMP atau SMA, tapi menerka dari buku modul di mejanya, Callum jelas tau gadis itu masih duduk di bangku kuliah. Jurusan seni dan desain.
Pantas saja, mulutnya begitu berseni. Bicaranya ngelantur.
Hanya bisa mengatai orang, padahal uang yang digunakan untuk bertaruh pasti milik orang tuanya. Dasar, bocah!
“Kak?” Panggilan Delanay membuat Callum menoleh.
“Eng, kita mau di mobil sampai kapan?"
Delanay sejak tiga menit lalu tidak berani buka suara. Dia cukup terkejut melihat raut marah Callum. Memang Callum sering marah-marah, bicara kasar, sampai mengumpat, tapi yang di restoran itu adalah pertama kali Delanay melihat amarah nyata seorang Callum.
Callum menghembuskan napas. Baru sadar mereka sedari tadi hanya mendekam di mobil. Memutar kunci, Callum lantas menginjak gas menuju jalan raya.
“Kemana?”
“Huh?” Delanay mengerjap.
Apanya yang kemana? Callum kan harus kembali ke kantor, sedangkan Delanay balik ke butik. Waktu makan siang bahkan sudah selesai. Mereka tidak boleh keluyuran lagi, atau Elara akan menanyainya macam-macam.
“Makan dimana?” desah Callum lelah. Delanay diam-diam mengidap penyakit lemot.
“Mau makan lagi?”
“Hm.” Callum butuh makan lagi. Isi piringnya belum tersentuh setengahnya gara-gara kejadian tadi. Callum juga yakin, Delanay belum puas menyantap baksonya. Ah, bakso. Mungkin Callum bisa mencari berita yang lebih ekslusif meski tidak elegan.
“Tapi kan kita harus kembali. Bagaimana kalau ada yang cari?”
“Tidak akan,” ucap Callum yakin. Setelah itu dia menginjak gas lebih kuat, menuju tempat tujuannya.
Delanay hanya mampu diam. Mengingat sikap Callum saat menolongnya, dia tidak bisa menolak keinginan pria itu.
Apalagi bayang-bayang Callum yang membelanya melekat begitu kuat. Bukannya ketakutan, justru Delanay merasa darahnya berdesir. Callum memang tampan. Dengan aroma jantan yang menguar kemana-mana, Delanay seolah terlindungi.
Ya Tuhan, sepertinya Delanay sudah terpesona pada suaminya itu.
“Besok malam, temani aku ke sebuah acara," ucap Callum tiba-tiba.
Mata Delanay mengerjap. “Acara apa?”
“Pesta bisnis." Callum tetap Callum. Singkat, padat, dan jelas.
“Pesta?”
Demi Tuhan, Delanay tidak pernah menghadiri pesta. Jarang-jarang dia keluar untuk berkumpul dengan orang lain.
Malahan ketika ada undangan pesta untuknya, Lauren sang ibu tiri akan mengganti Delanay dengan Silvy. Dan yah, George selalu membiarkan keputusan istri keduanya itu. Jadi, ini pertama kalinya undangan itu benar-benar harus dihadiri Delanay.
Tak mendengar jawaban, Callum memberi lirikan singkat. Wanita itu tampak berpikir keras.
“Kamu tidak mau pergi?”
“Ah,” Delanay menggeleng, “aku akan pergi."
Terdengar bagus.
Jujur, kalau bukan karena permintaan Clara, Callum memilih pergi ke pesta sendirian. Toh, dia terbiasa sendiri. Paling-paling akan mojok dengan Rayhan. Mengingat hanya pria itu yang jomblo. Leksan dan Sean pasti membawa gandengan.
Namun sekarang, Callum bukan lagi pria single. Dia pria beristri. Tentu istrinya harus ikut kemanapun dia pergi. Seperti hukum rimba.
“Besok, datanglah ke butik dengan Mama. Aku jemput pukul 8,” ingat Callum lagi.
Delanay mengangguk pelan. Meski merasa tidak perlu merepotkan Clara. Dia tinggal membeli gaun dari butik Elara, make up seadanya, semua selesai.
Tiba-tiba, Callum membelokan Porsche-nya ke pinggir jalan. Berhenti tepat di sebuah tenda biru yang biasanya berderet di sepanjang jalanan Jakarta Pusat. Sungguh, Callum mengajak Delanay makan di sini?
“Kok makan bakso?” Delanay agak ragu.
Apa Callum tidak takut masuk berita?
“Hm, keluarlah. Waktu kita tidak banyak.” Callum buru-buru membuka pintu dan memesan pada si abang penjual.
“Tiga porsi bakso lengkap, makan di sini. Minumnya es jeruk ya, Mas?”
“Siap, Den,” balas abang bertopi bucket warna hitam. Raut wajah rentanya tampak sumringah karena mendapat pelanggan seorang pria muda, tampan, dan terlihat berduit. Ini rejeki namanya.
Callum tanpa risih berjalan menuju kursi panjang. Membuat Delanay mau tak mau mengikutinya.
Tapi memang dasarnya aroma konglomerat. Kemanapun Callum pergi, dia akan selalu menjadi pusat perhatian orang. Lihat saja. Bagaimana beberapa pembeli menatap mereka—ah hanya Callum, lekat-lekat. Sejenis tatapan penasaran sekaligus kagum.
“Kak, apa nggak bahay-”
Dert~dert
Getaran ponselnya, membuat pertanyaan Delanay terpotong. Dia lantas merogoh saku tas.
Elara memanggil? Tumben.
Melirik sebentar pada Callum, tangan Delanay menggeser layar hijau. “Ya, El?”
“Lo dimana, Del? Kok nggak balik-balik?” Suara Elara terdengar khawatir.
“Ah, sori. Kami masih makan." Delanay menggumamkan terima kasih ke arah abang penjual yang dengan kilat mengantar pesanan mereka.
“Ini tempatnya deket kok. Nanti bentar lagi gue balik."
“Oh, oke. Tapi lo nggak ditinggal kakak gue di jalan kan, Del?”
Untung Delanay baru menuang saus, belum menyantap baksonya. Jadi, dia tidak akan tersedak mendengar tuduhan Elara.
“ Nggak kok. Kami lagi makan bakso."
“Hah? Bakso doang?” Nada suara Elara terdengar tidak percaya.
“Kok lama banget?”
“Itu-” Ucapan Delanay lagi-lagi terpotong, karena seseorang lebih dulu merenggut ponsel dari tangannya.
“Biarin dia makan dulu."
Sambungan langsung dimatikan. Yah, tentu saja biang keroknya adalah Callum. Pria itu cukup terganggu melihat Delanay sesekali menuang saus, sesekali menjawab telepon. Kapan makannya?
Sudah dari tadi ponsel Callum bergetar namun hanya dia abaikan. Delanay malah menjawabnya, mengulur waktu saja.
Melempar ponsel itu, Callum berkata, “Habiskan. Atau aku tinggal."
Bibir Delanay sekilas membulat. Lalu dengan terburu menyuap baksonya, dan....
“Ah!” Wanita itu menjerit kesakitan. Lidahnya terasa terbakar. Ternyata kuah bakso itu benar-benar masih mengepul. Dia lupa meniupnya lebih dulu.
“Ceroboh!" bentak Callum.
Sakit di lidahnya, air mata yang nyaris menetes, ditambah dengan rasa malu, Delanay rasa dia paket yang lengkap untuk dikatai ceroboh. Berusaha meredam rasa terbakar itu, justru Delanay tertegun.
Callum yang tadi membentaknya malah meraih wajah Delanay. Mendekatkan bibir dan pelan-pelan meniup lidah Delanay yang memelet keluar, demi mencari pasokan udara agar sakitnya berkurang.
“Ceroboh sekali. Pantas kamu dibilang beban keluarga. Memang dasar beban," omel Callum, masih dengan bibir dimonyong-monyongkan meniupi lidah Delanay.
Yang tak disangka, air mata Delanay menetes. Kian deras.
Pria ini tampan. Tapi bibirnya persis setan.
“Sakit?”
Delanay mengangguk.
Berbohong. Rasa sakitnya hanya sebentar. Sekarang tinggal rasa kasar dari tekstur lidahnya yang membuat Delanay masih bertahan dalam bingkaian tangan Callum.
"Makanya jangan ceroboh,” omel Callum lagi. “Sial, kamu memang pandai menarik perhatian orang.”
Dan benar saja, beberapa orang mulai berbisik ke arah mereka. Telinga Delanay bahkan menangkap kalimat 'cowoknya so sweet banget ya? Ganteng, perhatian lagi. Mau dong satu yang kayak gitu'
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih