NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #11: Dipergoki

Paviliun Heavenly Scents pagi itu sedang sepi. Para tamu semalam masih tertidur pulas akibat mabuk, dan para pelayan sedang menyapu lantai dengan malas.

Geun sedang duduk di balkon kamarnya, menikmati sarapan bubur abalon sambil menatap jalanan kota di bawah. Hidup terasa damai. Dia punya sisa lima tael perak lebih, perut kenyang, dan tidak ada orang yang mencoba membunuhnya.

Sampai dia melihat mereka.

Tiga sosok berjubah putih bersih berjalan anggun membelah kerumunan pasar seperti pisau membelah air. Orang-orang menyingkir memberi jalan dengan hormat.

Mereka berjalan lurus menuju pintu masuk Paviliun Heavenly Scents.

Geun tersedak buburnya.

"Mati aku," desisnya. "Sekte Ortodoks."

Dia mengenali seragam itu dari cerita-cerita pengemis tua. Putih-Biru dengan lambang Yin-Yang.

Sekte Wudang. Penegak moral dunia persilatan.

"Kenapa mereka ke sini? Apa mereka tahu aku di sini? Apa mereka tahu aku mencuri linggis?"

Otak Geun panik. Insting pertamanya adalah lari.

Geun melompat dari kursi, menyambar buntelan barangnya, dan berlari menuju jendela belakang.

Namun dia terlambat.

TOK. TOK. TOK.

Ketukan di pintu kamarnya terdengar sopan, berirama, terhormat, dan sangat tegas.

Itu bukan ketukan pelayan. Itu ketukan orang yang tahu ada orang di dalam.

"Tuan Muda yang ada di dalam," suara tenang terdengar dari balik pintu. "Maaf mengganggu istirahat Anda. Bolehkah kami masuk sebentar?"

Geun membeku di dekat jendela.

Dia menatap linggis berkaratnya yang tergeletak di pojok. "Apa aku harus loncat?" pikirnya.

Tapi ini lantai tiga. Kalau dia loncat dan kakinya patah, dia akan jadi sasaran empuk.

"Tuan Muda?" suara itu memanggil lagi. "Kami tahu Anda di dalam. Aura Anda... cukup unik."

Geun menghela napas panjang. Pasrah.

"Masuk saja! Tidak dikunci!" teriak Geun, sambil cepat-cepat duduk kembali di kursi dan memasang wajah "Tuan Muda Kaya yang Bosan".

Pintu terbuka.

Baek Mu-jin, Seo Yun-gyeom, dan Jang Min-seok melangkah masuk.

Ruangan itu seketika terasa penuh sesak. Aura mereka yang bersih dan berwibawa bertabrakan dengan aura Geun yang berantakan dan malas.

Nona Lili, yang masih di tempat tidur, menjerit kecil dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang terbuka.

Ketiga murid Wudang itu segera memalingkan wajah dengan sopan.

Pipi murid termuda, Jang Min-seok, terlihat memerah. Dia tampak malu saat tidak sengaja melihat Nona Lili.

"Maaf atas kelancangan kami," kata Baek Mu-jin sambil menangkupkan tangan hormat, matanya tetap tertuju pada Geun. "Kami mencari seseorang yang sesuai dengan deskripsi Tuan."

Geun menatap mereka dengan malas sambil mengorek kuping. "Siapa? Aku cuma pedagang kain dari selatan."

Baek Mu-jin tersenyum tipis.

"Pedagang kain biasanya tidak memiliki tangan kiri yang baru saja disambung paksa. Dan pedagang kain biasanya tidak memancarkan hawa panas Second Rate yang tidak stabil."

Geun berhenti mengorek kuping. "Sial. Mereka jeli." gerutunya dalam hati.

"Apa mau kalian?" tanya Geun, membuang sandiwaranya tuan muda bosan-nya. Suaranya berubah dingin. Kali ini dia bersandiwara sebagai praktisi haus darah.

"Namaku Baek Mu-jin, murid Sekte Wudang," kata Mu-jin memperkenalkan dirinya. "Kami mendengar rumor menarik tentang seorang pemuda di White Burial Valley. Seseorang yang dijuluki The Emaciated Demon atau Bone Demon."

Geun mendengus. "Nama yang jelek. Siapa yang bikin? Tidak kreatif."

Jang Min-seok, si murid termuda, maju selangkah. Matanya berbinar antusias menatap tubuh kurus Geun.

"Jadi benar itu kau? Kau yang membunuh Ketua Gang-dol?"

Geun mengangkat bahu. "Dia terpeleset. Jantungnya lemah. Kebetulan aku ada di sana."

"Kebetulan yang sangat presisi," sahut Seo Yun-gyeom sinis. "Menyerang titik Jiquan saat musuh sedang memompa energi internal secara maksimal bukanlah kebetulan, Tuan. Itu adalah pembunuhan terencana."

Suasana menegang.

Geun melirik linggisnya. Tiga lawan satu. Dia tidak tahu apa-apa soal ranah atau teknik bela diri, termasuk ranah nya sendiri dan ramah murid Wudang. Namun satu hal yang dia tahu, Sekte Wudang itu terkenal kuat.

"Dengar," kata Geun sambil berdiri. "Aku tidak cari masalah. Aku cuma numpang lewat. Urusanku dengan bandit itu sudah selesai."

"Kami tidak datang untuk menangkapmu," kata Baek Mu-jin menenangkan. "Kami datang karena... penasaran."

"Penasaran?"

"Dunia Murim itu luas, tapi teknik manipulasi tulang seperti yang diceritakan saksi mata sangatlah langka. Tidak, bahkan tidak pernah ada di sejarah Murim maupun Jianghu," jelas Mu-jin. "Sebagai sesama praktisi, darah kami berdesir mendengar ada ahli muda yang bisa melakukan hal mustahil."

Baek Mu-jin menatap Geun tajam, tatapan seorang pejuang yang menemukan lawan layak.

"Kami ingin mengundangmu untuk latih tanding. Duel persahabatan. Tanpa niat membunuh."

Geun melongo. "Hah? Duel? Kalian gila? Aku baru bangun tidur!"

"Dan aku tidak dapat untung apa-apa!" tambah Geun cepat. Ini poin terpenting.

Baek Mu-jin tersenyum penuh arti. Dia seolah sudah mendug jawaban ini.

Dia mengeluarkan sebuah kantong sutra kecil dari balik jubahnya dan meletakkannya di meja.

KLING.

Bunyinya berat. Lebih berat dari kantong 7 tael milik Geun.

"Di dalam sini ada 20 tael perak," kata Mu-jin santai. "Dan jika kau menerima tantanganku, aku juga akan melunasi semua tagihanmu di paviliun ini. Termasuk..." dia melirik Nona Lili sekilas, "...biaya hiburanmu."

Mata Geun membulat sempurna.

"20 Tael? Setara dengan 2 keping emas?Ditambah makan gratis dan menginap gratis?

Itu hidup mewah!"

"Kau serius?" tanya Geun, air liurnya hampir menetes.

"Seorang Wudang tidak pernah ingkar janji," jawab Mu-jin. "Satu kali duel. Sampai salah satu menyerah atau tidak bisa lanjut. Bagaimana?"

Otak Geun berputar cepat.

Karena dia tampaknya murid dalam Sekte Wudang, maka pasti dia kuat. Ditambah dengan teknik pedang Wudang yang terkenal. Tapi dia bilang persahabatan. Artinya dia tidak akan membunuhku. Paling cuma patah tulang dikit.

Patah tulang bisa sembuh. Tapi 20 tael itu abadi.

Geun menyeringai lebar, menampilkan gigi-giginya yang masih ada sisa bubur.

"Baiklah, Tuan Muda Wudang," kata Geun sambil menyambar linggis berbungkus kainnya. "Tapi jangan menangis kalau bajumu yang bagus itu kotor nanti."

Baek Mu-jin tertawa renyah. "Aku menantikannya."

"Di mana kita main?"

"Lapangan latihan umum di pusat kota," jawab Mu-jin. "Biar luas. Dan biar... adil."

Geun tidak tahu, bahwa "adil" versi Wudang artinya disaksikan ratusan orang.

Dia baru saja menyetujui pertunjukan publik yang akan mengukuhkan namanya di dunia persilatan, suka atau tidak suka.

"Ayo," ajak Geun semangat karena uang. "Selesaikan cepat, aku mau pesan bebek panggang habis ini."

Mereka berjalan keluar kamar.

Tiga bangau putih yang anggun, mengawal seekor gagak kurus yang tamak.

Pemandangan yang aneh, yang akan menjadi awal dari cerita besar yang lebih aneh lagi.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!