NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada apa dengan Rian

Udara panas Jakarta langsung menyergap begitu pintu otomatis lobi Hotel Mulia terbuka. Abian melangkah keluar dengan angkuh, kacamata hitam sudah bertengger di hidungnya. Nana mengekor di belakang, tangannya sarat dengan tas dokumen dan tablet, berusaha menyeimbangkan langkah dengan hak sepatunya yang cukup tinggi.

"Pertemuan tadi lumayan," gumam Abian sambil menunggu mobil mereka dipanggil oleh petugas.

"Meskipun kamu tadi agak lambat sedikit saat menampilkan data kuartal kedua. Lain kali, sinkronkan otakmu dengan kecepatan bicara saya."

"Baik, Pak. Akan saya usahakan otak saya punya kecepatan transmisi," jawab Nana datar.

Namun, kalimat Nana menggantung di udara. Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil sedan mewah yang baru saja berhenti di jalur drop-off eksekutif. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria keluar dari sana.

Jantung Nana seolah berhenti berdetak. Postur itu, gaya rambut itu, bahkan cara pria itu membenarkan letak jam tangannya... itu Rian. Tapi Rian yang ini berbeda. Ia tidak memakai kaus oblong atau jaket kusam. Ia mengenakan kemeja slim fit yang tampak mahal.

Belum sempat Nana mencerna pemandangan itu, pintu sisi lain mobil tersebut terbuka. Seorang wanita keluar dengan pakaian yang sangat ketat sebuah gaun mini dengan potongan dada rendah yang cukup terbuka, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Wanita itu langsung menggandeng lengan Rian dengan mesra, dan mereka tertawa bersama sebelum melangkah masuk ke dalam lobi.

"Pak..." suara Nana bergetar, hampir tidak terdengar.

Abian, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sekretarisnya, mengikuti arah pandang Nana. Ia terdiam sejenak, lalu sebuah seringai dingin muncul di wajahnya.

"Wah, lihat itu. Sepertinya Samudra Cintamu sedang pasang dan membawa ikan jenis baru ke hotel bintang lima," sindir Abian. Suaranya tidak lagi sekadar pedas, tapi menusuk tepat ke ulu hati.

"Tampangnya boleh seperti tukang galon, tapi seleranya ternyata... cukup 'terbuka' ya?"

Nana tidak menjawab. Dunianya terasa berputar. Rian yang ia kenal adalah pria sederhana yang bahkan canggung untuk masuk ke mal mewah, tapi pria di sana tadi tampak begitu akrab dengan kemewahan dan... wanita itu.

"Pak, saya... saya boleh minta izin sebentar? Saya harus memastikan sesuatu," tanya Nana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Abian menaikkan sebelah alisnya, ia melipat tangannya di dada dengan gaya dominan.

"Izin untuk apa? Untuk menyusul mereka ke dalam dan membuat keributan yang akan mempermalukan nama perusahaan saya?'

"Hanya lima menit, Pak. Saya janji," pinta Nana, suaranya mulai serak.

Abian mendengus, ia menatap jam tangannya. "Dua menit. Saya tidak suka menunggu, apalagi untuk urusan remeh seperti memergoki kurir paket yang sedang menyamar jadi bangsawan gadungan. Kalau lewat dari itu, kamu pulang sendiri."

Nana tidak mempedulikan ancaman itu. Ia langsung membalik badan, mengabaikan rasa sakit di kakinya karena sepatu hak tinggi, dan berlari kembali masuk ke dalam lobi hotel yang dingin.

Di teras lobi, Abian berdiri memperhatikan punggung Nana yang menjauh. Ia bergumam pelan dengan nada yang sulit diartikan.

"Sudah saya bilang kan, Na... pada akhirnya, kamu akan menyesal."

Nana segera menuju meja resepsionis yang panjang dan megah.

"Selamat siang, Mbak. Bisa bantu saya? Pria yang baru saja masuk bersama wanita berbaju merah tadi... mereka menuju ke mana ya?" tanya Nana cepat, napasnya masih memburu.

Petugas resepsionis, seorang wanita dengan sanggul rapi dan senyum kaku, menatap Nana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia melihat napas Nana yang tidak teratur dan wajahnya yang panik.

"Mohon maaf, Ibu. Demi privasi tamu kami, kami tidak diperkenankan memberikan informasi mengenai keberadaan atau tujuan tamu di dalam hotel ini," jawab resepsionis itu.

"Tapi ini penting sekali, Mbak." desak Nana, suaranya sedikit naik karena cemas.

Resepsionis itu tetap bergeming, wajahnya menunjukkan ekspresi merendahkan yang samar.

"Sekali lagi mohon maaf. Jika Ibu tidak memiliki reservasi atau kepentingan resmi dengan tamu tersebut, saya tidak bisa membantu. Silakan Ibu menunggu di area lounge jika berkenan."

Nana merasa dadanya sesak. Diabaikan seperti ini di saat hatinya sedang hancur rasanya benar-benar menyakitkan.

"Mbak, tolonglah..."

"Ada masalah di sini?"

Sebuah suara bera memecahkan mereka. Itu Abian. Ia melangkah maju dengan tangan terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer di meja resepsionis.

Si petugas resepsionis yang tadinya kaku langsung menegakkan punggung. Matanya membelalak, dan wajahnya mendadak pucat pasi.

"P-Pak Abian? Selamat siang, Pak! Mohon maaf, saya tidak tahu Bapak sedang ada di sini."

Abian tidak membalas sapaan itu. Ia justru menatap tajam papan nama di dada petugas tersebut, lalu beralih menatap Nana yang tampak rapuh.

"Sekretaris saya sedang bertanya padamu, dan kamu menjawabnya seperti sedang bicara dengan pengemis?" ucap Abian, suaranya rendah namun sangat mengancam.

"Bukan begitu, Pak... saya hanya menjalankan prosedur privasi tamu....."

"Prosedur?" Abian memotong dengan tawa sinis yang pendek. Ia mencondongkan tubuhnya.

"Sepertinya kamu lupa atau mungkin manajemenmu kurang memberikan pelatihan. Biar saya ingatkan Saya adalah investor terbesar di hotel ini. Nama saya tercatat di barisan paling atas pemegang saham gedung tempatmu berdiri sekarang."

Resepsionis itu gemetar, tangannya di bawah meja mulai berkeringat dingin. "M-mohon maaf sekali, Pak Abian. Saya tidak bermaksud...."

"Berikan informasi yang diminta asisten saya. Sekarang. Atau besok pagi kamu bisa mencari pekerjaan baru di hotel melati yang tidak butuh prosedur privasi," perintah Abian tanpa ampun.

Resepsionis itu dengan cepat mengetik di komputernya, jemarinya bergetar hebat. "P-pria tadi... atas nama Bapak Rian dan pasangannya, mereka baru saja menuju lift ke arah executive lounge di lantai 20, Pak."

Abian menarik tubuhnya kembali, lalu melirik Nana yang masih tertegun melihat bagaimana bosnya itu dengan mudah meruntuhkan tembok birokrasi hotel bintang lima hanya dengan satu kalimat.

"Masih mau berdiri di situ dan menangis?" tegur Abian pada Nana.

"Ayo. Lantai 20. Saya ingin lihat seberapa hancur hatimu saat melihat si Tukang Galon itu menuangkan sampanye untuk wanita lain."

Meskipun kata-katanya tetap pedas, Abian tidak meninggalkan Nana. Ia justru berdiri di sampingnya, menunggu lift terbuka seolah-olah ia adalah tameng yang siap melindungi Nana dari kenyataan pahit yang menanti di atas.

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!