NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

“Arenica?”

Sontak Jeni berbalik menatap orang yang menyodorkan gelas kopi dingin tepat di depan wajahnya, terlihat Min Gyu hanya tersenyum penuh arti dan melepas pegangan gelas usai Jeni meraihnya.

“Ngapain duduk di sini sendirian? Gak takut diculik?” tanya Min Gyu.

Ia duduk di sisi Jeni sembari menyedot Americano Ice dan memperhatikan pasien sekitar yang berlalu lalang tidak jauh dari tempat mereka.

“Igee…kkumman gataseo,” ujar Jeni sambil memperhatikan pemandangan yang sama.

“Mwo? Nae manna?(Apa? Ketemu aku?)” sahut Min Gyu usai sekilas melirik Jeni.

“Termasuk itu,” ujar Jeni seraya tersenyum tipis, “tapi…lebih kearah seneng. Kupikir, aku gak bakal bisa ketemu temenku lagi.”

“Nugu? Echa?”

“Iya. Dia salah satu orang terbaik yang aku kenal. Bukan cuma dia. Firdha, Dokter Saputri, Dewinta. Kami orang-orang yang berusaha bertahan menghidupkan klinik kemaren. Karena Echa lolos PNS di Samboja dengan jarak cukup jauh dan Dokter Saputri yang juga lolos PNS walaupun tetap di Tenggarong, aku sempet mikir, apa iya, gak bakal ada yang berubah? Apa iya, bakalan ada waktu di mana kami bakal kumpul lagi kaya dua tahun lalu? Itu yang aku pikir pas 2025 mau habis.”

“Kamu ngerasa sendirian karena temenmu jauh dan gak ada suami?” sambar Min Gyu yang membuat Jeni sesaat meliriknya kesal.

“Kamu bahkan gak mau denger soal alasan kami pisah,” omel Jeni.

Hal itu pun membuat Min Gyu menghela napas dan menatap Jeni yang terlihat kesal.

“Buat apa buka luka lama untuk membahas orang yang gak tau arti membahagiakan,” ucap Min Gyu pelan, “semua orang punya luka masing-masing.”

Tampak Jeni menghela napas pasrah dan membuat Min Gyu tersenyum tipis. Mereka kembali diam cukup lama sembari kembali menikmati kopi masing-masing dan memandangi pasien yang masih menikmati jalan santai di malam yang cerah.

“Orang bilang, jangan tertawa terlalu keras, supaya gak nangis. Tapi, jangan nangis terlalu dalam, supaya bahagianya datang,” ujar Min Gyu.

“Tentang siapa?” tanya Jeni.

“Yang kamu pikir gak mungkin, Tuhan bisa kabulkan. Walaupun mungkin ada sedih mendalam yang harus ditanggung. Kamu sayang sama Echa, kamu anggap Echa tumpuanmu. Tuhan buat kalian bareng lagi dengan cara-NYA. Dia bawa pulang Zayn biar kalian bisa sama-sama lagi.”

“Ini kalo orang denger kaya aku sama Echa pacaran,” ujar Jeni dengan kening berkerut.

“Hahahaha…tapi, kalo dilogikakan memang gitu jalannya. Coba kamu pikir ulang seluruh ucapanku tadi. Ada yang salah gak?”

“Mmm…gak, sih,” sahut Jeni ragu, “di SMP dulu kami gak pernah sekelas tapi, saling tau. Bener-bener deket sudah di tempat kerja. Bisa dibilang, dia bahkan cuma tau aku setelah di tempat kerja tapi, dia selalu jadi yang paling ngerti walaupun dia sendiri pun hancur.”

“Sama aku gak bisa gitu?” tanya Min Gyu yang tiba-tiba menatapnya.

“A, apa?” tanya Jeni yang langsung mengalihkan pandangan.

“Sama aku, memang gak bisa ngerti? Aku juga lagi hancur hari ini. Hahaha…”

Kening Jeni pun berkerut dan merasa bingung namun, detik berikutnya dia hanya memanyunkan bibir usai Min Gyu mengusap puncak kepalanya.

“Kuantar pulang, yuk. Aku cape seharian di suruh-suruh Min Woo,” keluh Min Gyu yang kemudian beranjak dan mengulurkan tangannya.

“Haaa…ya, udah,” ujar Jeni yang lalu menyambut uluran tangan Min Gyu, “aku gak mau gandengan tapi.”

“Wae?!” tanya Min Gyu terkejut.

“Kita gak pernah bener-bener pacaran, kan? Cuma kebetulan sering ngobrol bareng,” sahut Jeni yang kemudian melangkah pergi.

Tampak Min Gyu tersenyum, sebelum kemudian mengiringi langkah Jeni yang terlihat berusaha menjauhinya.

“Apaan yang bikin kamu hancur?” tanya Jeni sambil terus menatap keluar jendela mobil.

“Gak ada. Aku cerita pun gak bakal ngubah apa-apa,” sahut Min Gyu yang membuat Jeni menatapnya.

“Apa? Mana bisa disimpulkan kalo belum cerita,” desak Jeni.

Tampak Min Gyu menghela napas dan langsung menepikan mobilnya.

“Mamaku meninggal hari ini. Udah itu aja,” ujar Min Gyu dengan senyum tipis, “aku mati rasa. Makanya aku bilang, cerita pun gak bakal ngubah apa-apa.”

Tertegun, Jeni bingung dan detik itu hanya bisa membisu menyaksikan sikap santai pria yang tengah menatap kosong di hadapannya.

“Orangtuaku cerai waktu umurku lima tahun. Yang kerja cuma Papa. Alasan cerai mereka pun lucu, karena gak bahagia satu sama lain. Sempet aku mikir, kalo mereka gak bahagia, ngapain lahirin aku. Berarti aku bukan alasan kebahagiaan mereka. Terus, Papa milih ninggalin rumah dengan tangan kosong karena masih ada pegangan aset perusahaan. Sementara, Mama yang cuma berpegang sama surat tanah dan rumah memutuskan buat pergi ke Itali. Dia bilang, bakal balik dan jemput aku di panti asuhan tempat dia nitipin aku, setelah usahanya sukses. Aku pegang janjinya. Aku sekolah, aku kuliah dengan bantuan beasiswa dan berhasil gabung sama perusahaan Min Woo di tahun 2012.”

Jeni diam, menunggu Min Gyu yang sempat menghela napas untuk kesekian kali.

“Aku penasaran, kenapa mengusahakan sesuatu harus lama banget. Aku nangis memikirkan banyak hal dan yang aku ingat, terakhir kali aku menangis saat duduk bangku kelas empat SD, pas pertama kali ikut latihan judo. Setelah semua fokusku teralih, aku gak pernah lagi ngerasakan sedih, bahagia dan perasaan lain. Sampai aku masuk ke SMP, aku belajar seluruh jaringan secara otodidak karena mau tau semua jawaban yang aku tanyakan ke diriku sendiri. ‘Di mana Papa?’, ‘Di mana Mama?’, ‘Kenapa gak ada kabar?’ dan banyak hal lain. Bahkan dengan perasaan yang sudah mati, aku mungkin mampu buat mukul perempuan yang kubenci sambil tertawa.”

Mendengar kalimat terakhirnya, Jeni sempat meneguk ludah kuat dan Min Gyu yang menyadari hal itu hanya tersenyum geli.

“Tapi, gak pernah aku lakuin,” ujarnya setengah geli, “bulan lalu aku ketemu Papa. Setelah sekian lama, ternyata selama ini Papa cuma netap di Korea sama keluarga barunya. Di 2017, waktu aku datang ke rumah sakit tempat Papa dirawat, keluarganya nyambut aku hangat. Istrinya bahkan nyebut aku anaknya. Tapi, abis aku pamit dan Papa minta maaf untuk semuanya, mereka hubungin aku dan ngabarin kalo Papa koma. Aku ganti nomorku, karena aku udah cape.”

“Jadi, sampai sekarang kamu gak tau lagi keadaan Papamu?”

“Tau. Papa meninggal di hari yang sama abis mereka ngabarin kalo dia koma. Tapi…aku udah lelah. Cuma ngehargain kalo itu Papa, aku datang ke pemakaman sama Min Woo dan cuma ngeliat dari jauh tanpa mereka tau.”

“Terus…Mamamu?” tanya Jeni ragu.

“Aku gak ketemu langsung. Cuma pas anak baru-nya ngehubungin aku kemaren, aku hack nomornya. Dan sebelum itu, aku angkat teleponnya, mereka bilang, kalo Mama mau ketemu aku. Mereka mohon tapi, aku…”

Jeni terdengar menghela napas pelan dan membuat Min Gyu tersenyum sinis.

“Di detik ini kamu pasti mikir aku egois,” ujar Min Gyu.

“Kalo dari POV orangtuamu, iya. Tapi, kalo dari POV-mu, gak salah sama sekali. Mereka hangat bersama keluarganya. Sementara, kamu bahkan gak ada yang meluk.”

“Aku bahkan tau Mama meninggal hari ini, karena denger bincangan anak baru-nya pas dia ngehubungin keluarga yang lain.”

“Mereka gak ngehubungi kamu?” tanya Jeni dengan kening berkerut.

“Ngehubungin. Ada 50 panggilan yang masuk. Tapi, aku biarkan,” ujar Min Gyu dengan tatap kosong.

“Gak salah, kok. Kamu cuma kangen Mamamu. Karena mau benci gimanapun, Mamamu tetep orang terbaik di dunia. Dia gak pernah ninggalin trauma mendalam di masa kecil, kaya nyakitin fisik ato hal lain. Mereka cuma pergi untuk sementara. Kita cuma gak tau jalan apa yang mereka tempuh sampai bisa melupakan bayi kecilnya. Karena, di saat terakhir, Mama nyari kamu.”

“Mama…sempet jual ginjal illegal di sana. Waktu tiba di Itali pun Mama masih sempet ngabarin lewat pengasuh di panti dan nitipin uang hasil jual ginjal dua minggu setelahnya.”

Tampak Jeni meneguk ludah kuat untuk kesekian kali, usai mendengar pernyataannya.

“Kamu tau dari mana Mamamu jual ginjal?”

“Kan, aku bilang, aku belajar jaringan dari SMP. Karena aku kehilangan kontak dengan Mama pas kelas tiga SD. Aku ngelacak sendiri semua info setelah belajar selama empat tahun, di kelas satu SMA. Dan ternyata, Mama kelelahan kerja karena cuma punya satu ginjal, dia kecelakaan, hilang ingatan dan nikah sama dokter yang ngerawat dia. Mau usaha kaya apa, karena aku pun gak punya duit, duit hasil jual ginjal itu sudah diserahkan ke panti untuk biaya hidupku selama di sana sampai lulus SMA. Tuhan amat sangat baik, aku dikasi jalan untuk nempuh pendidikan lebih tinggi jalur beasiswa bareng Min Woo.”

Ada senyum pahit yang terukir di sudut bibir Min Gyu hingga membuat Jeni yang sempat ragu, pada akhirnya merapat dan perlahan memeluknya.

“Han Min Gyu ini sudah dewasa. Tuhan sayang banget. Min Gyu bahkan tumbuh jadi orang yang sangat amat hangat. Mama, Papa pasti bangga.”

Mendengar seluruh ucapan Jeni dan tepukan pelan di punggungnya membuat pertahanan Min Gyu akhirnya runtuh setelah sekian tahun menjadi ‘robot’.

Dan untuk pertama kali setelah 22 tahun, anak anjing itu kembali membasahi kedua pelupuk matanya di tempat terhangat…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!