"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PERANG INTERNAL
Kegelapan yang menyelimuti kesadaranku bukanlah kegelapan biasa. Ini adalah ruang hampa yang sesak, sebuah koridor tanpa ujung di dalam labirin sinapsis otakk sendiri. Aku bisa merasakan setiap detak jantung raga Valerie, namun aku merasakannya sebagai penonton yang terikat di kursi baris belakang. Di depan kemudi mental itu, sesosok bayangan hitam dengan seringai yang sangat kukenali sedang mencengkeram kendali.
Zura.
“Rumah yang sangat nyaman, Dokter,” suara Zura bergema di setiap sudut tengkorakku. Suaranya tidak keluar melalui telinga, melainkan langsung berdenyut di dalam kesadaranku. “Tidak ada rasa sakit sakau, tidak ada paru-paru yang sesak. Begitu bersih. Begitu... berkelas. Aku rasa aku akan menetap di sini selamanya.”
“Keluar dari kepalaku, Zura!” aku berteriak dalam keheningan batin. Aku mencoba membayangkan diriku berdiri tegak, memvisualisasikan ruang interogasi yang bersih untuk mengisolasi keberadaannya. Namun, ruang itu retak. Zura membawa kekacauan, memori-memori kotor tentang gang-gang sempit dan jarum suntik mulai mengotori dinding putih pikiranku.
Di dunia nyata, raga Valerie kejang di atas meja operasi. Adrian Vane melangkah mendekat, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu yang sosiopat. Ia melihat kelopak mataku bergerak liar, sinkronisasi yang gagal telah menciptakan badai elektrik di dalam lobus frontalku.
“Lihat dia,” bisik Adrian pada Sang Ilmuwan yang meringkuk di sudut. “Dua kepribadian yang saling berebut wilayah. Ini lebih dari sekadar sains, ini adalah seni. Ilmuwan, siapkan penstabil saraf. Aku ingin sisi Zura yang menang. Valerie terlalu berbahaya jika dibiarkan memiliki raga ini kembali.”
Di ambang pintu laboratorium, Julian terhuyung. Darah mengalir dari luka di pelipisnya, menutupi satu matanya, namun tangannya yang memegang pistol tetap kokoh. Ia melihat raga Valerie yang sedang meronta, mendengar dua suara yang berbeda keluar dari mulut yang sama.
“Julian... tolong...” suara itu adalah suaraku, penuh penderitaan.
“Tembak saja dia, Julian! Dia sudah gila!” dan suara itu adalah Zura, penuh tipu daya.
Julian berdiri dalam keraguan yang mematikan. Adrian Vane memanfaatkan momen itu. Dengan gerakan yang sangat cepat bagi pria seusianya, Adrian mencabut pistol kecil dari saku jasnya dan menembak lengan Julian.
“Argh!” Julian tersungkur, senjatanya terlepas dan meluncur ke bawah meja operasi.
“Kau selalu menjadi pion yang lemah, Julian,” kata Adrian sambil melangkah perlahan menuju Julian yang terjatuh. “Kau jatuh cinta pada raga yang salah, dan sekarang kau akan mati di tangan sistem yang kau khianati.”
“Lihat itu, Valerie,” Zura mengejek di dalam pikiranku. “Pahlawanmu sudah tumbang. Adrian akan membunuhnya, dan setelah itu, dia akan menghapusmu. Kau hanya residu. Kau hanya sisa-sisa memori yang tidak diinginkan. Menyerahlah. Biarkan aku yang memegang kendali, dan mungkin aku akan memohon pada Adrian untuk membiarkan Julian hidup sebagai anjing peliharaan.”
“Kau tidak akan pernah bisa mengendalikan raga ini sepenuhnya, Zura,” kataku, mencoba menstabilkan fokusku. Sebagai psikolog forensik, aku tahu cara kerja trauma. Zura adalah personifikasi dari trauma dan adiksi. Untuk mengalahkannya, aku tidak bisa menggunakan kekerasan fisik; aku harus menggunakan bedah mental.
Aku mulai menggali. Bukan memori milikku, tapi memori milik Zura yang tertinggal saat proses inversi tadi. Aku mencari titik lemahnya. Di tengah kekacauan, aku menemukan sebuah fragmen: seorang gadis kecil yang menangis di pojok ruangan saat orang tuanya bertengkar. Ketakutan akan penolakan. Rasa tidak berharga yang ia tutupi dengan narkoba.
“Kau takut, bukan?” tanyaku pada Zura. “Kau pikir dengan memakai raga Valerie, kau akan menjadi terhormat. Tapi kau lupa satu hal, Zura. Raga ini tidak memberimu kehormatan. Kehormatan itu ada di sini, di dalam jiwa. Dan kau... kau hanyalah parasit yang ketakutan.”
“Diam! Kau tidak tahu apa-apa tentangku!” Zura berteriak, dan di dunia nyata, raga Valerie memukul meja operasi dengan keras, membuat peralatan medis berjatuhan.
Aku menyerang balik secara intelektual. Aku membanjiri kesadaran kami dengan memori-memori tentang dedikasi, tentang sumpah Hippokrates, tentang ribuan jam yang kuhabiskan untuk belajar. Beratnya integritas moral yang kumiliki menjadi beban yang terlalu berat bagi jiwa Zura yang rapuh.
“Raga ini memiliki memori otot tentang disiplin,” kataku tegas. “Tangan ini adalah tangan seorang dokter, bukan tangan pencuri. Kau tidak akan pernah bisa menggerakkannya dengan benar jika jiwamu tetap kotor.”
Di luar, Adrian Vane sudah berdiri di depan Julian, menodongkan pistol tepat ke dahi detektif itu.
“Ada kata-kata terakhir, Julian?” tanya Adrian dingin.
Julian menatap ke arahku, bukan ke arah pistol Adrian. “Valerie... aku tahu kau di sana. Jangan biarkan bajingan ini menang. Kau lebih kuat dari sampah yang ada di kepalamu!”
Suara Julian menembus kegelapan mentalku seperti mercusuar. Itu adalah jangkar yang kubutuhkan.
Aku mengunci keberadaan Zura dalam sebuah sudut sempit di pikiranku—sebuah teknik compartmentalization tingkat tinggi. Aku membayangkan diriku mencengkeram tangannya yang hitam dan mendorongnya ke dalam sebuah peti besi yang tak kasat mata.
“Ini bukan tempatmu!” teriakku.
Dengan ledakan energi saraf yang luar biasa, aku merebut kembali kendali atas saraf motorikku. Rasa dingin yang tadi menguasai tubuhku kini digantikan oleh api kemarahan yang terkendali.
Mata raga Valerie terbuka lebar. Bukan tatapan liar Zura, melainkan tatapan tajam dan dingin milik Dr. Valerie yang asli.
Tepat saat jari Adrian Vane mulai menarik pelatuk, aku melompat dari meja operasi. Gerakanku presisi, tanpa tremor, tanpa keraguan. Aku menyambar nampan logam berisi peralatan bedah dan menghantamkannya ke tangan Adrian.
Dor!
Peluru melesat ke langit-langit, menghancurkan lampu neon yang tersisa. Laboratorium itu kini hanya diterangi oleh pendar merah darurat yang berkedip-kedip, memberikan kesan neraka yang sesungguhnya.
Adrian terhuyung mundur, terkejut melihat "Zura" yang tadi meronta kini berdiri dengan postur seorang predator yang dominan.
"Valerie?" desis Adrian, suaranya mengandung sedikit nada ketakutan untuk pertama kalinya.
"Aku kembali, Adrian," kataku, suaraku kembali jernih, penuh dengan nada otoritas yang membuat Sang Ilmuwan di sudut ruangan mulai menangis ketakutan. "Dan aku membawa seluruh rahasiamu bersamaku."
Zura masih meronta di sudut pikiranku, mencakar-cakar dinding kesadaranku, namun aku menekannya dengan kekuatan kehendak yang tak tergoyahkan. Setiap kali ia mencoba bangkit, aku menggunakan rasa sakit dari luka-lukaku sebagai pengingat akan kenyataan.
Aku menendang pistol Adrian menjauh, lalu berdiri di antara dia dan Julian yang terluka. Aku memungut pisau bedah yang terjatuh di lantai.
"Kau pikir kau bisa memiliki kendali atas jiwa manusia, Adrian?" aku melangkah maju, memojokkan sang penguasa kota itu ke arah tabung inkubasi yang berisi prototipe raga lainnya. "Kau pikir kau bisa memecah belahku? Kau lupa bahwa aku adalah orang yang mempelajari pikiran monster seperti kau setiap hari. Aku tahu persis di mana titik saraf yang akan membuatmu lumpuh tanpa membunuhmu."
"Kau tidak akan berani," ancam Adrian, namun ia mundur hingga punggungnya menempel pada kaca tabung. "Klub 0,1% akan memburumu hingga ke ujung dunia. Kau tidak akan punya tempat untuk bersembunyi dengan wajah itu."
"Aku tidak butuh persembunyian," jawabku dingin. "Karena setelah malam ini, tidak akan ada lagi Klub 0,1%. Aku sudah mengirimkan seluruh basis data 'Proyek Regenesis'—termasuk daftar klien dan rekaman medis ini—ke server publik yang tidak bisa kau hapus. Protokol penghancuran diri yang kau aktifkan tadi? Aku sudah mengubahnya menjadi protokol siaran massal."
Wajah Adrian berubah pucat pasi. Ia menyadari bahwa kerajaan yang ia bangun di atas penderitaan orang lain sedang runtuh di depan matanya, dihancurkan oleh wanita yang ia anggap sebagai "produk gagal".
Namun, di dalam kepalaku, Zura tertawa lagi. “Kau pikir kau sudah menang, Valerie? Lihatlah ke bawah.”
Aku melirik monitor di belakang Adrian. Hitung mundur penghancuran diri laboratorium ini bukan lagi soal data. 05... 04... 03...
Sanatorium Blackwood tidak hanya akan menghapus data. Ia dirancang untuk meledak guna menutupi semua jejak fisik.
"Julian! Lari!" teriakku sambil menyambar lengan Julian yang terluka dan memaksanya berdiri.
"Bagaimana denganmu?" tanya Julian parau.
"Aku tidak akan membiarkan Adrian pergi begitu saja!"
Aku menatap Adrian Vane untuk terakhir kalinya sebelum ledakan pertama mengguncang lantai. Perang internal di kepalaku masih berkecamuk, raga asliku masih terasa asing, dan dunia di luar sana mungkin akan menganggapku sebagai hantu. Namun di tengah runtuhnya laboratorium bawah tanah ini, aku akhirnya tahu siapa diriku sebenarnya.
Aku bukan Zura, dan aku bukan sekadar "produk" Valerie. Aku adalah pembalas dendam yang baru saja lahir dari abu kehancuran.