Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Tanda Hitam dan Delapan Sayatan Darah
Langkah pertama dari rentetan panjang balas dendam tidak dimulai dengan ledakan atau pertumpahan darah yang bisa membuat gempar, melainkan dengan sebuah ketenangan yang terasa begitu ganjil.
Lunaris berjalan di koridor yang sepi. Jam masuk kelas juga masih cukup lama karena para guru mengadakan rapat mendadak untuk membahas beberapa hal yang terjadi.
Di koridor yang sepi itu, dari arah berlawanan Lunaris melihat Gavin berjalan sendirian.
Pemuda berandalan itu tengah berjalan sendirian di koridor belakang laboratorium fisika, sibuk memainkan ponselnya dengan senyum miring yang menyebalkan.
Lunaris melangkah maju, mencegat jalan pemuda itu.
Melihat siapa yang berdiri menghalanginya, Gavin menghentikan langkahnya. Awalnya, ada kilat kewaspadaan di matanya —mengira Lunaris datang untuk melabraknya sambil menangis histeris, atau mungkin mengancam akan melaporkannya ke komite disiplin.
Namun, mengingat jaminan perlindungan mutlak dari Bracia, kewaspadaan itu dengan cepat menguap, digantikan oleh arogansi dan tatapan merendahkan.
Senyum miring terbit di bibirnya saat melihat Lunaris berdiri di depannya.
"Wow, lihat siapa yang nyamperin gue," Kekeh Gavin, memasukkan ponsel ke saku celananya. Ia menatap Lunaris dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan yang membuat perut Lunaris mual. "Kenapa? Lo nyariin gue karena ketagihan sama belaian gue di toilet kemarin? Atau lo datang ke sini mau nawarin tubuh lo lagi? Gue sih dengan senang hati bakal nerima, mumpung di sini sepi."
Kata-kata tajam dan melecehkan itu ditembakkan tanpa ampun kembali menginjak-injak harga diri Lunaris yang sudah hancur.
Namun di luar dugaan Gavin, Lunaris sama sekali tidak menunduk, menangis, atau gemetar ketakutan seperti biasanya. Gadis itu berdiri tegak, raut wajahnya sedingin pualam. Matanya menatap lurus ke arah Gavin dengan kekosongan yang entah mengapa terasa... mengganggu.
Tanpa mempedulikan hinaan Gavin, Lunaris kembali melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Dengan gerakan yang teratur, tenang dan halus juga tak terduga, telapak tangan Lunaris menepuk pelan bahu kiri Gavin, seolah sedang membersihkan debu.
Di saat yang bersamaan, bibir Lunaris menggumamkan serangkaian kata dalam bahasa asing yang terdengar kuno dan serak, sebuah kalimat yang Sirius ajarkan beberapa menit lalu:
"Vocare poenam. Sanguis pro sanguine."
Gavin mengernyit, merasa sedikit merinding saat mendengar gumaman Lunaris. Gavin menepis tangan Lunaris dengan kasar. "Lo ngomong apaan sih, bangsat? Lo kesurupan?!"
Lunaris menarik tangannya, menatap Gavin dengan senyum tipis yang mematikan. "Hati-hati mulai sekarang, Gavin. Kematian mungkin lebih baik daripada apa yang bakal lo rasain."
Gavin terdiam sedetik sebelum akhirnya meledak dalam gelak tawa yang menggema di koridor sepi itu. Ia menganggap peringatan Lunaris hanyalah gertakan sambal dari seorang gadis lemah yang sedang putus asa.
"Lo ngancem gue? Hahaha, sinting lo ya," Gavin mencondongkan wajahnya, aura mengancam menguar dari tubuhnya. "Denger ya, cewek murahan. Lo mau lapor, lo mau ngancem, nggak akan ada yang peduli. Mending lo tutup mulut lo rapat-rapat, sebelum gue dan anak-anak bikin video part dua yang jauh lebih parah dari sebelumnya."
Setelah melemparkan ancaman balik itu, Gavin menabrak bahu Lunaris cukup keras dengan sengaja hingga membuat Lunaris sedikit terhuyung ke belakang dan melangkah pergi sambil terus tertawa meremehkan.
Lunaris tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Gavin yang menjauh dengan tatapan gelap. Tanda kutukan itu sudah ditanam. Pertemuan tadi sangatlah perlu; sebuah kutukan karma membutuhkan kontak fisik pertama sebagai medium pengikat jiwa antara si pendendam dan targetnya.
"Luar biasa," sebuah suara bariton terdengar dari balik bayangan loker.
Sirius muncul, melangkah dengan elegan mendekati Lunaris. Iblis itu memandangi arah perginya Gavin dengan senyum sarkas. "Aku harus memberikan pujian pada manusia itu. Dia adalah pelakunya, namun ia masih bisa bersikap sangat tenang dan bahkan mengancam korbannya menggunakan hinaan. Arogansi manusia memang tidak pernah gagal membuatku takjub."
"Jadi cuma nyentuh Gavin prosesnya udah selesai, kan? Kutukannya udah nempel?" tanya Lunaris dingin, mengabaikan pujian aneh Sirius.
"Sudah. Tanda kutukan itu sudah mengakar di jiwanya," jawab Sirius.
Namun, baru saja Sirius menyelesaikan kalimatnya, Lunaris tiba-tiba tersentak hebat. Gadis itu mendesis kesakitan, tangan kanannya refleks mencengkeram lengan kirinya.
"A-aw!" Lunaris meringis. Lengan kirinya mendadak terasa sangat panas dan perih, seolah ada besi pijar yang baru saja dicapkan di atas kulitnya.
Panik, Lunaris buru-buru menyingsingkan lengan kemeja seragamnya. Matanya terbelalak ngeri. Di atas kulit putihnya, perlahan-lahan muncul delapan garis horizontal dari atas dibawah lekukan sikut berjajar rapih hingga nyaris menyentuh urat nadi. Sayatan itu tidak dalam, namun cukup untuk mengeluarkan darah segar yang merembes pelan.
"Sirius... i-ini apaan?! Kenapa tangan gue..." napas Lunaris memburu, menahan rasa perih yang menjalar hingga ke urat nadinya.
Sirius menatap lengan Lunaris dengan raut wajah datar yang tidak menyiratkan simpati sedikit pun.
"Itu adalah tanda perjanjianmu," jelas Sirius tenang. "Kutukan karma bukanlah sihir gratis. Hukum pertukaran setara selalu berlaku. Garis itu menandakan jumlah orang yang ingin kau hancurkan. Lima berandalan, dua antek, dan satu ratu. Total delapan nyawa."
Sirius menyentuh pelan sayatan berdarah itu, membuat Lunaris mengernyit menahan sakit. "Anggap saja ini sebagai timbal baliknya. Kau menggunakan kekuatan kegelapan untuk menyiksa mereka, maka kau juga harus merasakan sebagian dari rasa sakit kutukan itu. Setiap kali satu targetmu hancur dan dendammu terbayar lunas, satu garis sayatan di lenganmu akan menghilang. Bersabarlah."
Lunaris menggigit bibirnya, menatap delapan garis merah itu. Rasa perih ini adalah harga yang harus ia bayar. Dan demi melihat mereka semua hancur, ia rela menanggungnya.
.
.
.
Bel tanda masuk akhirnya berbunyi, membelah kebisingan koridor dan memaksa para murid masuk ke sarang mereka masing-masing. Di kelas 3-2, suasananya jauh dari kata kondusif. Ruangan itu terasa gerah oleh gosip yang beterbangan layaknya lalat di atas bangkai.
Lunaris duduk di kursinya dalam diam. Namun, ada yang berbeda. Jika biasanya ia akan menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengan —berusaha menjadi tak kasat mata— kini gadis itu duduk tegak.
Punggungnya lurus, pandangannya terkunci ke depan, mengabaikan puluhan pasang mata yang terang-terangan menghujamnya dengan tatapan sinis dan jijik.
Video pelecehan itu masih menjadi pembicaraan paling panas di Sevit. Beberapa murid laki-laki di pojok belakang sengaja tertawa keras sambil memutar ulang potongan video di ponsel mereka, memastikan volumenya cukup tinggi untuk didengar oleh Lunaris.
Hinaan-hinaan verbal dilemparkan seolah-olah Lunaris bukan lagi manusia, melainkan objek tontonan yang kotor.
Di barisan paling depan, Aaron berkali-kali menoleh ke belakang. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang mendalam, tangannya gelisah meremas pulpen.
Ia ingin menghampiri Lunaris, namun posisinya sebagai "pahlawan" terasa lumpuh di tengah badai skandal ini.
Sementara itu, Bracia yang duduk di tengah, memandang Lunaris dengan senyum kemenangan yang dingin.
Sesekali Bracia melirik ke arah Aaron, dan setiap kali ia melihat pemuda itu mengkhawatirkan Lunaris, rahang Bracia mengeras. Kebenciannya pada Lunaris kini bukan lagi sekadar soal kasta, tapi juga kecemburuan yang membakar.
"Padahal gue udah bikin Lunaris hancur, tapi kenapa Aaron masih begitu peduli sama itu cewek sampah?" Batin Bracia.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Bu Gracia, guru sejarah yang terkenal galak dan memiliki standar moralitas yang kaku, masuk dengan langkah tegas.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Gracia dengan suara dingin.
"Selamat pagi, Bu," jawab kelas serempak, meski suasana masih terasa riuh.
Belum sempat Bu Gracia membuka buku absen, Tessa mengangkat tangan dengan gerakan dramatis. "Bu, maaf menyela. Tapi... apa sekolah kita memang sudah mengganti kurikulum jadi sekolah akting porno? Apa tidak masalah kalau ada 'artis' di kelas kita?"
Sontak, pertanyaan itu memicu gelak tawa ledakan. Ruangan kelas 3-2 seketika menjadi panggung sirkus yang menertawakan penderitaan seseorang.
Lunaris mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja, kuku-kukunya memutih saat ia menahan gejolak amarah dan perih yang baru saja terukir di lengan kirinya akibat kutukan.
"Apa maksud kamu, Tessa?" tanya Bu Gracia, meski dari kilat matanya, ia tahu persis arah pembicaraan ini.
Tessa melirik Lunaris dengan kerlingan meremehkan. "Maksud saya, sekolah kita ini sekolah elit, Bu. Kenapa ada murid yang ketahuan melakukan hal asusila tapi masih dibiarkan duduk manis di sini? Bukannya itu merusak reputasi sekolah dan mengganggu kenyamanan belajar kami yang 'masih waras'?"
Tawa kembali pecah, lebih keras dan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Bu Gracia berdehem, mencoba mengambil alih kendali. "Sudah, tenang semuanya. Untuk urusan itu, Ibu juga sependapat bahwa hal seperti ini tidak bisa ditoleransi. Kepala sekolah dan dewan komite sedang merapatkannya. Ibu pribadi berharap... sesuatu yang 'merusak pemandangan' bisa segera disingkirkan dari institusi ini."
Tatapan meremehkan Bu Gracia jatuh tepat di wajah Lunaris selama beberapa detik sebelum ia berpaling. "Sudahlah, jangan membuang waktu. Hari ini, Ibu ingin memperkenalkan anggota baru di kelas kita."
Bu Gracia menoleh ke arah pintu dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi sopan, hampir terlihat seperti tunduk. "Tuan Muda Valois, silakan masuk."
Seketika, pintu terbuka.
Langkah kaki yang tenang dan berwibawa menggema di lantai kelas yang hening. Sirius melangkah masuk dengan langkah santai tapi tetap bisa memancarkan wibawa yang mutlak, mengenakan seragam Sevit yang seolah didesain khusus hanya untuk tubuh tegapnya.
Begitu sosok Sirius muncul sepenuhnya, kelas 3-2 yang tadi ricuh karena hinaan, kini ricuh karena hal yang jauh berbeda.
"Hah? Itu kan cowok yang tadi pagi bareng si Lunaris!"
"Gila, ganteng banget! Dia manusia atau apa?"
"Tunggu, tadi Bu Gracia bilang apa? Valois? Keluarga Valois yang punya bank sentral dan estate itu?! Gue denger-denger keluarga Valois itu masih keturunan keluarga bangsawan."
"Gue juga denger katanya kelurga Valois bahkan jauh diatas level keluarganya Aaron dan Bracia."
Bisikan para siswi berubah menjadi jeritan tertahan. Mereka terpesona oleh fitur wajah Sirius yang terlalu sempurna untuk disebut nyata —terutama mata perak peraknya yang terlihat berkilauan di bawah lampu kelas.
"Perkenalkan dirimu, nak," perintah Bu Gracia dengan nada yang sangat lembut, sangat berbeda saat ia membentak murid lain.
Sirius menyapu pandangannya ke seluruh kelas dengan gaya tenang yang angkuh. "Sirius Valois," ucapnya singkat. Suara baritonnya yang dalam bergetar di udara, membuat beberapa siswi refleks memegang dada mereka. "Aku harap kita semua bisa berteman dengan baik."
Sikap cool dan misterius itu justru semakin memicu kehebohan. Cewek-cewek mulai bergosip heboh, mencoba menarik perhatian sang bangsawan baru.
Bracia sendiri tampak terpaku; meskipun ia benci siapa pun yang dekat dengan Lunaris, ia tidak bisa memungkiri bahwa aura Sirius jauh melampaui siapa pun di sekolah ini.
Lunaris hanya memandang Sirius dengan wajah datar. Di balik dadanya, ia merasa jengah. Ia tahu betul Sirius sedang menikmati semua perhatian ini—si iblis itu sedang tebar pesona dengan cara yang paling menyebalkan.
Di sisi lain, Aaron menatap Sirius dengan permusuhan terang-terangan. Instingnya berteriak bahwa Sirius adalah ancaman besar. Ia tidak suka bagaimana Sirius memandang kelas ini, dan ia jauh lebih tidak suka fakta bahwa Sirius memiliki koneksi misterius dengan Lunaris.
"Baiklah, Tuan Muda Sirius," Bu Gracia tersenyum manis. "Ibu sudah menyiapkan meja khusus di barisan depan, di sebelah kursi Ketua Kelas."
Bu Gracia menunjuk sebuah kursi kosong yang sangat strategis. Namun, Sirius sama sekali tidak menoleh ke arah kursi itu. Dengan langkah tenang, ia justru berjalan menuju barisan paling belakang.
Langkah kaki Sirius ngelewatin tempat duduk Gavin. Saat itu juga, Gavin yang tadinya sedang asyik menertawakan Lunaris, mendadak merasa udara di sekitarnya membeku. Bulu kuduknya berdiri tegak. Secara tidak sengaja, Gavin mendongak dan bersitataf dengan mata perak Sirius.
Mata itu... tidak terlihat seperti mata manusia. Di mata Gavin, pupil Sirius seolah membesar menjadi lubang hitam yang siap menelannya.
Gavin tersentak, napasnya tercekat, dan ia merasa seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Sirius hanya memberikan seringai tipis yang hanya bisa dilihat oleh Gavin, sebelum melanjutkan langkahnya.
Melihat Gavin mematung membuat Arthur yang duduk di sebelahnya sedikit heran.
"Heh, lo kenapa?" Tanya Arthur.
Gavin yang tersadar dengan kenyataan pun hanya menggeleng membuat Arthur mengerutkan dahi heran, tapi terlalu mslas untuk bertanya lagi.
Kembali pada Sirius yang kini berhenti tepat di sebelah meja Lunaris.
"Aku akan duduk di sini," ucap Sirius, suaranya terdengar seperti titah yang tak boleh dibantah.
Selama ini, Lunaris selalu duduk sendirian. Tidak ada yang mau berteman dengannya, apalagi duduk di sebelahnya. Kehadiran Sirius yang tiba-tiba memilih bangku "terbuang" itu membuat kelas kembali meledak dalam cibiran.
"Apa-apaan? Cowok selevel keturunan Valois duduk bareng pelacur?"
"Dia pasti kena pelet si Lunaris. Dasar murahan, pinter banget nyari mangsa tajir."
Lunaris menghela napas panjang saat Sirius menarik kursi dan duduk dengan santai di sampingnya. Ia bisa merasakan tatapan menusuk dari seluruh penjuru kelas, terutama dari Aaron dan Bracia.
Sirius menoleh sedikit ke arah Lunaris, mendekatkan wajahnya hingga napas dinginnya menyentuh telinga gadis itu. "Hai, salam kenal teman sebangku,"
"Lo bikin gue jadi bahan gosip lagi."
"Biarkan saja. Biarkan mereka berbicara apapun, aku bisa membuat mereka semua diam jika kau menginginkannya."
"Terserah,"
Sementara itu Gavin yang duduk di bangku depan Lunaris tempat lain, bersebelahan dengan Arthur. Entah kenapa dia merasa sedikit gelisah.
Tampaknya kutukan yang dikirim Lunaris mulai bekerja.
Saat Gavin sedang mencatat, ia merasakan tetesan air dingin jatuh tepat di tengkuknya. Ia mengusap lehernya, namun tangannya kering. Ia mendongak menatap langit-langit kelas, tapi tidak ada AC yang bocor di atasnya.
Perasaan gue aja kali, batinnya menepis.
Sepuluh menit kemudian, saat guru sedang menjelaskan materi di depan, Gavin sayup-sayup mendengar suara bisikan. Suaranya sangat pelan, basah, dan berada tepat di sebelah telinga kanannya.
"Murahan..."
Gavin tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Arthur yang sedang tidur bersedekap. "Heh, lo ngomong apa barusan?" bisik Gavin kasar.
Arthur membuka sebelah matanya, bingung. "Ngomong apaan? Gue dari tadi tidur, anjing."
Gavin mengerutkan kening. Ia menggosok telinganya, merasa sedikit tidak nyaman. Teror sepele itu mulai menumpuk.
Saat jam istirahat tiba, Gavin pergi ke toilet laki-laki sendirian untuk mencuci muka. Ia merasa suntuk dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin, air keran mengalir membasahi tangannya.
Gavin mengedipkan mata, dan untuk sepersekian detik, bayangannya di cermin tidak ikut berkedip. Bayangan itu justru tersenyum menyeringai ke arahnya dengan sudut bibir yang tertarik tidak wajar.
"Bangsat!" Gavin melompat mundur, menabrak pintu bilik toilet. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengusap matanya kasar dan menatap cermin itu lagi. Pantulannya kembali normal—wajahnya sendiri yang tampak sedikit pucat.
"Gue kurang tidur kayaknya," gumam Gavin, berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang.
Namun, kegelisahan itu mulai menggerogotinya. Saat ia kembali ke kantin dan duduk bersama teman-temannya, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Gavin membukanya. Itu adalah foto.
Sebuah foto ruang toilet tempat mereka menjebak Lunaris kemarin. Namun di foto itu, tidak ada Lunaris. Yang ada hanyalah Gavin, berdiri sendirian di sudut toilet, dengan sepasang tangan pucat berlumuran darah yang mencengkeram erat lehernya dari arah belakang.
Gavin tersedak minumannya. Ponselnya terlempar ke atas meja.
"Woi, lo kenapa, Vin? Kesurupan lo?" tegur Liam sambil tertawa.
Dengan tangan gemetar, Gavin mengambil kembali ponselnya untuk memperlihatkan foto gila itu pada teman-temannya. Namun saat layar itu menyala, foto tersebut menghilang tak berbekas. Tidak ada riwayat pesan. Tidak ada nomor tak dikenal. Kosong.
Keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengucur di pelipis Gavin. Ia menatap berkeliling kantin dengan napas memburu. Perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari sudut-sudut gelap sekolah mulai membuat dadanya sesak.
Kutukan karma baru saja dimulai, dan kewarasan Gavin adalah hidangan pembukanya.
lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
walau sebagian tentang kilas balik...
segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭